TINI SUKETI

TINI SUKETI
57. Hari Mengeluh



“Oke … kalau begitu kita tunggu jawaban dari Mbak Tini,” ucap Pak Wimar.


Tini baru membuka mulut hendak menjawab perkataan Pak Wimar, tapi seseorang sudah menyela.


“Sebenarnya saya sedikit heran dengan dua hari yang diminta. Dengan Grup perusahaan sebesar ini, Mbak Suketi masih perlu mempertimbangkan. Artinya memang belum terlalu jeli menilai peluang. But, it’s okay-lah. Saya anggap itu hak azasi dalam menentukan pilihan dan berpendapat,” beber Dean, mengangkat bahu sambil mencebik bibirnya.


“Saya kira dua hari masih oke. Kita masih bisa tunggu Mbak Tini. Ada proyek baru yang harus Mbak Tini langsung kerjakan.” Pak Wimar tersenyum sembari mengangguk-angguk ke arah Tini.


Tini kembali membuka mulutnya.


“Nanti tim Marketing Communication yang baru tolong nama-namanya di-forward ke saya, ya, Pak. Saya pengen ngasi tambahan untuk sistem marketing baru. Pelatihannya saya yang pegang. Seminggu ke depan, saya ada jadwal kosong. Kasus di kantor belum ada yang mengharuskan saya ke pengadilan. Sedang banyak klien yang urus perizinan dan akuisisi aja,” jelas Dean.


“Boleh, De—boleh. Saya seneng banget kalau Dean mau pegang langsung masa trainee tim Mar-Comm yang baru.” Pak Wimar tertawa-tawa bahagia.


“Oke, kalau gitu saya juga langsung mau balik ke kantor. Bulan depan rapat pemegang saham tahunan, kan? Saya yakin Pak Wimar pasti terpilih lagi,” ucap Dean.


“Maaf, ya, De …. Hari ini kamu jadi repot datang ke sini. Karena salah satu pemegang saham harus hadir di rapat pembahasan program. Saya ngerasa ada yang kurang kalau salah satu pemegang saham nggak hadir. Anggi apa kabar?” tanya Pak Wimar.


Dean berdiri dari kursinya, diikuti oleh Pak Wimar dan Tini yang masih menyimak percakapan di depannya.


“Mbak Anggi baik. Masih di Belanda. Kayaknya udah betah di sana. Mama bilang, itu namanya resiko punya anak perempuan. Bakal dibawa jauh sama suaminya. Makanya saya juga harus siap-siap.” Dean tertawa.


Pak Wimar tertawa. Langkah kakinya mengiringi Dean yang menuju ke arah pintu.


“Saya juga permisi, Pak. Saya mau ke kantor saya dulu. Terima kasih atas tawarannya, Pak. Saya pasti kabari paling lama dua hari lagi.” Tini mengulurkan tangannya pada Pak wimar, lalu ke Dean.


“Jangan pamit sekarang. Kita masih ketemu di lift, karena saya mau turun ke bawah. Kalau jabat tangan sekarang, kamu nggak boleh satu lift sama saya.” Dean melangkah keluar ruang Pak Wimar.


“Baik, Pak.” Tini mengikuti apa yang diucapkan pemegang saham itu untuk menghemat energinya.


Kecanggungan kembali melanda Tini. Tapi kali ini penyebabnya bukan karena masalah naksir seorang pria. Ia berada di lift hanya berdua dengan pria pemilik saham yang dipanggil dengan sebutan Pak Dean. Seluruh lift dipenuhi aroma parfum pria di depannya. Ia berdiri satu langkah di belakang Dean dan harus mendongak jika mau melihat bagian kepala pria itu.


“Ehem, Mbak Suketi ke sini naik apa?” tanya Dean tanpa menoleh. Tatapannya tetap tertuju pada pintu lift yang masih tertutup rapat di depannya.


“Naik ojek, Pak.” Tini menjawab dan pandangannya hanya bisa melihat bagian belakang lengan pria di depannya. Jawabannya juga sama datar dengan nada suara pria itu. Padahal andai saja yang bertanya itu manusia serius lainnya seperti Bara, Tini masih bisa bercanda dengan menjawab, ‘naik delman istimewa kududuk di muka’ untuk mencairkan suasana. Tapi pria yang berada di depannya terlalu kaku dan serius.


“Rumahnya daerah mana?” tanya Dean lagi. “Oh, ya. Saya cuma nanya. Enggak ada maksud buat menawarkan tumpangan,” tambah Dean.


Tini hampir mengumpat saat mendengar perkataan itu. “Rumah saya di daerah Selatan, Pak. Jalan besar di sebelah Mall Potas. Saya tinggal di kos-kosan,” jawab Tini.


“Oh, di kos-kosan,” sahut Dean masih dengan nada datar.


“Iya, Pak. Kos-kosan yang pintunya diangkat dulu baru bisa rapat. Untung nggak perlu pake moderator rapatnya.”


“Ohhh ….” Dean hanya sedikit mengangguk tanda mengerti.


Maksud hati ingin mencairkan suasana. Tapi ternyata candaan receh dari Tini tak berlaku buat Dean.


“Kamu suka dengan dunia marketing?” tanya Dean. Pintu lift terbuka dan ia melangkah keluar.


Tini yang merasa percakapan mereka belum selesai, ikut menjajari langkah kaki Dean sedikit terburu-buru. Satu langkah kaki Dean senilai dengan tiga langkah kaki Tini.


“Awalnya saya nggak suka. Tapi ternyata saya ada bakat terpendam,” ujar Tini membanggakan dirinya. “Yang ngomong gitu bos saya yang sekarang,” tambah Tini lagi.


“Bos di sini belum tentu ngomong gitu. Makanya kamu harus buktikan. Memangnya cita-cita kamu apa?” tanya Dean.


Semua-semua ditanya, pikir Tini.


“Cita-cita saya sama seperti Bapak saya. Direktur Pertamina,” jawab Tini asal. Karena ia memang tak pernah punya cita-cita. Dulunya ia hanya bercita-cita ingin menjadi istri Coki si Mantri Sapi.


“Oh, Direktur Pertamina? Bapak kamu Direktur Pertamina?” Dean keluar gedung dan berdiri di teras.


“Bukan, Pak. Sama seperti saya. Cuma cita-cita aja. Sama-sama kepingin jadi Direktur Pertamina,” jawab Tini kalem.


Dean menghela napas panjang dan menoleh pada Tini. Dengan rahang yang dirapatkan, ia menjawab, “Lumayan kreatif. Saya tunggu dua hari lagi. Semoga bakat kamu berguna.” Dean langsung memutari mobil Range Rover hitam yang baru saja dibawa ke depan teras oleh seorang petugas parkir valet.


“Semua-semua ditanyain—semua-semua ditanyain. Kenapa nggak sekalian aja ari-ariku ditanem di mana ditanya. Ganteng, tapi auranya kayak aura mau magrib.” Tini menggerutu meninggalkan teras gedung menuju ke tepi jalan.


Seharian itu Tini melewati sisa jam kerjanya dengan banyak melamun, penuh kebimbangan. Ia ingin menyanggupi tantangan Pak Wimar, tapi ia bingung bagaimana mengatakannya pada Agus. Ada perasaan tak tega terselip untuk meninggalkan pria itu.


Ternyata, kebimbangan Tini berbuntut pada semangatnya mencari tahu soal Wibisono. Biasanya sepuluh menit sekali, Tini berharap Wibisono menghubunginya.


Tini pulang ke kandang ayam dengan bahu turun dan langkah lunglai. Kali ini penyebabnya bukan karena pria, juga bukan karena tak ada calon nasabah. Hanya kegalauannya memilih pekerjaan.


“Kok, gitu muka kau?” tanya Mak Robin yang pertama kali ditemui Tini di depan kamarnya.


“Kenapa memangnya muka aku?” Tini balik bertanya. “Muka kamu kenapa? Kusut juga. Kalau karena usia, nggak mungkin sekusut itu.” Tini tertawa seraya langsung menarik kursi kosong dan duduk membelakangi halaman. Ia kembali menghela napas panjang.


Asti dan Boy datang berduyun-duyun dari kamar seberang, juga langsung menarik kursi plastik.


“Kenapa kalian?” tanya Tini, memandang raut Asti dan Boy yang juga sama kusutnya.


“Nyai mau naikin harga sewa kamar,” sahut Asti. “Padahal liat sendiri gimana. Semuanya pada rusak, tapi belom ada yang diperbaiki.”


“Iya, pintu kamar mandi kuncinya rusak, terus dibongkar nggak diganti yang baru. Jadi bolong gitu, cuma disumpel2 kresek item. Tiap aku mpup berasa dianiaya,” kesal Boy.


“Mana harganya naik banyak kali. Pening kepalaku dibuatnya. Aku kira, selama ini aku jadi tempat penitipan kunci, sewaku dikasi diskon. Enggak juga rupanya. Kurang ajar,” umpat Mak Robin.


“Itu hukuman untuk orang yang ngerjain apa-apa selalu mengharap imbalan. Rasain kamu,” tukas Tini terkikik.


“Diam muncung kau!” maki Mak Robin pada Tini.


“Itu kompor gas juga rusak. Mana regulatornya harus ditimpa ulekan,” tambah Asti dengan wajah kesal.


“Jangan lupakan pompa air!” seru Dara tiba-tiba muncul dari kamar. “Pompa air udah kayak ikan. Harus dipancing baru nyala,” sambungnya kemudian.


Semua mengangguk-angguk setuju.


“Hidup itu berat, ya. Sekarang rasaku, kok, agak berat. Dulu … waktu masih ada ibuku, sesulit apa pun, semuanya jadi terasa mudah.” Tini menerawang menatap jendela kamar Mak Robin.


“Bener, Mbak.” Asti yang juga sudah tak punya ibu mengangguk menyetujui.


“Padahal aku kerja bukan mau kaya yang gimana banget. Aku cuma mau bikin tetanggaku melek. Yang dulu sepele, melek liat nasib aku yang berubah. Apa perlu aku buka mata tetanggaku pakai linggis aja?” Tini lalu tertawa terbahak-bahak.


Semuanya menggeleng. “Jangan, Mbak.” Asti cepat-cepat menepuk bahu Tini.


Tanpa mereka sadari seorang pria sejak tadi melambai-lambai dari arah pagar. Karena tak ada yang menggubris, pria itu melangkah masuk ke halaman. Pria itu langsung mendekat ke belakang kursi Tini.


“Permisi, Dik … mau tanya.” Pria itu menepuk bahu Tini.


Tini seketika menoleh ke belakang. Wibi berdiri dan tersenyum tipis memandangnya. Ternyata pertemuan Wibi dengan para penghuni kandang ayam, turut meningkatkan sense of humour pria itu.


“Eh, Mas! Mas, abdi negara, yah?” Tini balik bertanya pada Wibi untuk menanggapi candaan pria itu.


Semua penghuni kos ikut terdiam menunggu apa yang akan dikatakan Wibisono.


“Memangnya kenapa?” Wibi sedikit bingung, namun tersenyum.


“Biasanya yang manggil ‘Dik’ itu abdi negara, Mas.” Tini tertawa pelan seraya menutup mulutnya.


Semua penghuni kos yang melihat hal itu, seketika membuang muka jauh-jauh.


To Be Continued


Ini udah banyak ya ebo-eboooo ....


Njuss nongkrong dulu.


Jangan lupa di-like