
“Mas, siang ini Mas nggak ada rencana ke luar, kan?” Tini menghampiri Wibisono yang sedang membersihkan bagian dalam mobilnya.
“Enggak ada. Memangnya kenapa? Kamu ada perlu mau ke luar?” Wibi menghentikan pekerjaannya dan menoleh pada Tini.
“Enggak ada juga. Asti dan yang lainnya mau dateng. Mau nganter kartu undangan. Resepsinya sama Bayu. Harusnya resepsi dua bulan lalu. Tapi diundur ke bulan depan. Katanya nunggu kakaknya Bayu yang di luar pulau bisa cuti lama. Oh, iya, nanti Dijah ke sini juga. Aku mau masak cemilan,” kata Tini.
“Ya, udah. Kita tunggu mereka. Masak cemilan yang banyak. Nanti aku beli cemilan untuk anak-anak,” kata Wibi.
Tini mengangguk dan kembali masuk ke rumah. Ia menyiapkan bahan untuk membuat bakwan dan pisang goreng untuk teman-temannya. Tini juga sedang merendam bihun untuk memasak mi goreng buat tambahan.
Tini meracik sayuran di dapur dengan setengah melamun.
Sudah hampir enam bulan menikah, namun tanda-tanda kehamilan belum juga menghampirinya. Wibi memang terlihat santai saja. Tapi saat melihat Wibi bermain bersama anak-anak sahabat atau pun keponakannya, Tini terenyuh. Suaminya begitu menyukai kanak-kanak.
Hidupnya sekarang jauh lebih baik dalam hal keuangan. Ia tak perlu lagi memikirkan soal mengencangkan ikat pinggang agar uang pegangan cukup sampai akhir bulan.
Dayat sudah memasuki masa kuliahnya dan menjadi generasi paling mewah di keluarga Joko Sansoko. Dayat disubsidi penuh oleh Evi yang sudah bekerja di perusahaan asing sebagai seorang admin. Pak Joko masih mengirimkan uang untuk belanja toiletries anak bungsunya. Sedangkan Tini sesekali memberi Dayat uang jajan, walau pemuda itu sering menolak dan selalu berhasil dipaksa menerima dengan mudah.
“Namanya rejeki. Enggak baik kalau ditolak. Akan menyakiti pemberinya.” Begitulah alasan Dayat.
Tini mensyukuri hidupnya. Mensyukuri suami yang sayang padanya, keluarga suami yang baik, keluarganya yang rukun, serta mensyukuri terpenuhinya semua kebutuhan keluarga mereka.
Tapi … Tini menginginkan seorang anak hadir dalam pernikahannya.
Ajakan Wibisono pulang menjenguk Pak Joko ke Desa Cokro bulan lalu pun, menambah kekesalan di hati Tini.
Seperti biasa, omongan usil manusia tak pernah ada habisnya. Ketika tak kunjung menikah, siang malam tetangga bertanya kapan menikah. Seolah status kesendirian seseorang merupakan beban para tetangga juga.
Ketika sudah menikah, tuntutan pun berubah menjadi soal keturunan. Dengan alasan bermacam-macam. Mulai dari soal rumah yang sepi kalau tak ada anak, soal buat apa punya uang banyak kalau bukan untuk anak, sampai soal suami yang bakal melirik wanita lain kalau tak juga memiliki keturunan.
Hari pertama pulang ke kampung, sudah membuat Tini menggerutu.
“Cari uang banyak-banyak buat apa kalau nggak ada anak? Uang, kok, ditanya buat apa. Kalau uangnya ada, nggak perlu bingung buat apa. Yang bingung itu kalau nggak ada uang. Lagian perkara uangku mau dibuat apa, kok, dipikirin. Mau aku bikin bahan bakar api unggun juga itu uangku. Repotnya ngurusin urusan orang lain.”
Ternyata omelan Tini saat masuk ke rumah didengar oleh Wibi. Suaminya itu datang menghampiri dan memeluknya dari belakang. Sepertinya Wibi mendengar percakapan Tini dan tetangganya di jalan depan rumah.
Puncak kekesalan Tini saat berada di kampungnya terjadi saat ia berpapasan dengan Siti di depan mini market AlfaIndo. Siti mengendarai sepeda motor dan baru memarkirkannya. Sedangkan Tini, baru saja mendorong pintu kaca dan keluar dengan dua kantong belanjaan. Kebetulan isinya bukan minyak goreng. Tini sudah tak berharap untuk bisa membeli minyak goreng murah karena lima menit dipajang, semua minyak goreng langsung diserbu ibu-ibu. Karena minyak goreng habis, mini market pun sepi.
“Belum hamil, Tin?” tanya Siti dengan nada ramah namun menyakitkan.
Tini menoleh ke mobil di mana Wibisono menunggunya. Ia belanja ke mini market ditemani suaminya, karena memang ia tak bisa mengendarai apa pun selain sepeda.
“Belum, Sit,” jawab Tini dengan senyuman sewajar mungkin. Malu rasanya kalau sampai Wibi tahu apa yang ditanyakan oleh mantan calon madunya dulu.
“Akibat nikah udah nggak segel lagi, jadi dikasi keturunan lama sama Tuhan. Itu namanya hukuman.”
Tini menarik napas dan kembali tersenyum, “Kamu kayaknya udah punya kepercayaan penuh dari Tuhan untuk menentukan mana-mana aja hukuman untuk manusia. Udah jadi tangan kanan Tuhan sekarang?"
“Ya, karena nggak segel lagi. Suamimu dapet bekas,” sahut Siti.
“Aku nggak segel lagi, tapi dapet suami baik-baik dan hidupku jauh lebih lumayan dari kamu. Memangnya kenapa? Kamu iri? Udah ngasi segel dapetnya yang kayak gitu? Jadi, maunya kamu, aku dapetnya laki-laki gimana? Gelandangan? Atau preman pasar? Atau pengangguran yang seharian kerjanya tidur di rumah dan malemnya nyetak anak tanpa mikir gimana nyekolahinnya?”
“Jangan potong aku bicara. Makin ke sini omonganmu udah kayak Tuhan aja. Masih ada aja perempuan yang ngomong ke perempuan lain kayak kamu ini. Memaklumi playboy, memaklumi Casanova yang celap-celup-celap-celup, tapi berisik ngomong soal segal-segel-segal-segel. Pergi jalan-jalan ke kota. Minta suamimu ngajakin kamu piknik. Biar kamu tau kalau langit biru itu nggak cuma ada di desa ini aja. Mulutmu itu primitif!” sergah Tini. Dua langkah meninggalkan Siti di depan pintu kaca mini market, Tini kembali berbalik.
“Oh, iya. Jangan ngomong soal perempuan bekas. Otakmu juga kurasa bekas, makanya bisa ngomong kayak gitu. Kamu sehat-sehat, ya. Rawat diri kamu dan keluargamu yang baik. Fokus ke mereka aja. Enggak usah terlampau memusingkan urusan orang lain. Aku mau kalian sekeluarga selalu sehat-sehat. Biar kita bisa selalu berbagi kabar-kabar baik.”
Tini meninggalkan Siti dan masuk ke mobil. Saat itu Wibisono langsung bertanya dan Tini sudah menebak kalau suaminya pasti menyimak apa yang terjadi di depan mini market.
“Itu … siapa?” tanya Wibi waktu itu.
“Itu temenku yang hamil sama mantanku, Mas. Mungkin Mas lupa. Tapi dia pernah melintas di resepsi kita, sewaktu masih hamil besar. Itu hamil anak ketiganya. Sekarang pasti baru lahiran. Tapi dia pergi ke mini market sendirian,” jelas Tini, memandang ke balik pintu kaca mini market.
“Temen seumuran?” tanya Wibi.
Tini menggeleng. “Kayaknya lebih muda dua tahun dari aku, Mas.”
“Kasian …,” gumam Wibi sambil memundurkan mobilnya.
“Kasian kenapa?” tanya Tini.
“Kasian karena keliatan terlalu capek. Kirain seumuran Mbak Vita,” jawab Wibi kalem.
Memang benar, sejak melihat Tini berbicara dengan wanita di depan pintu mini market, Wibi mengira lawan bicara Tini adalah seorang wanita yang berusia jauh di atas istrinya. Penampilannya seperti Mbak Vita, kakaknya yang berusia empat puluh tahun lebih. Demi istrinya, Wibi tak merasa bersalah mengatakan hal yang dirasanya memang sedikit jahat untuk wanita lain.
Tini hanya diam menyusun kantong belanjaannya ke jok belakang.
“Aku jadi agak nyesel ngajak kamu ke kampung karena dua hari aja tapi udah bikin kamu sebel terus. Kenapa orang-orang pada gitu, ya, Tin? Padahal aku happy-happy aja. Aku menikah karena mau hidup sama kamu. Kalau memang kita ditakdirkan hidup berdua terus sampai tua, aku nggak apa-apa. Aku cuma mau meyakinkan kamu agar kamu nggak perlu terganggu dengan omongan orang,” jelas Wibi.
“Minggu depan kita ke dokter, ya, Mas?” Tini memeluk lengan suaminya.
“Ayo, boleh. Cari dokternya di mana. Aku manut,” sahut Wibi.
Ucapan Wibi saat itu sangat sederhana. Tapi berhasil membuat rasa percaya diri Tini kembali tumbuh.
Tini sudah selesai meracik sayuran dan memanaskan minyak goreng. Gorengan bakwan pertama baru saja diangkat saat Wibi masuk ke dapur menghampirinya.
“Udah masak? Aku mau nyobain. Wanginya udah nyampe ke depan,” kata Wibi, mengambil dua lembar tisu dan mencomot satu bakwan panas.
Tak lama, terdengar langkah kaki menuruni tangga. “Aroma apa yang udah bikin langkah kakiku tergerak turun?” Dayat melongokkan kepala dari pengamatan tangga.
“Ayo, Yat. Kita harus uji coba sebelum memantaskannya untuk disajikan ke tamu.” Wibi duduk di kursi makan dan meniup-niup bakwannya.
Dayat menyusul mencomot bakwan dan langsung menggigitnya. "Ini bukan bakwan," kata Dayat, sibuk memindahkan bakwan panas di dalam mulutnya.
"Jadi apa?" tanya Tini, berkacak pinggang memegang sutil.
"Na-nas. Ini namanya nanas. Soalnya nanas banget di mulut," jawab Dayat.
"Garing," sahut Tini kembali melanjutkan pekerjaannya.
To Be Continued