
Teringat akan perjuangan buru-buru pergi dari rumah karena takut kehabisan sembako murah, itulah perasaan Tini saat mengawali percintaan pertamanya di ranjang bersama Wibi.
Malam yang gaduh, nyaris tanpa peluh. Seperti memuaskan dahaga saat haus melanda. Wajahnya merona karena ia tak perlu waktu lama meraih kepuasannya. Begitu pula dengan Wibi yang seketika berhenti setelah menyentak tubuhnya.
Keduanya berpandangan dan ingin merasa malu. Namun, sepertinya perasaan malu bukan prioritas malam itu. Tersingkirkan sejenak oleh gejolak naffsu. Dalam pikiran mereka hanya ada, ‘aku dan kamu.’
“Musiknya masih lanjut,” kata Wibi untuk memecahkan keheningan di antara mereka. Seraya memindahkan sedikit posisi tubuh Tini dari atasnya. Tini pun beringsut.
“Aku keluar dulu, mau ngeliat sapa tau ada yang nyariin,” ucap Tini beralasan.
Sebenarnya semalaman berada di atas tubuh Wibi pun, Tini bersedia. Tapi perasaan dihantui dan dikejar-kejar karena tak hadir ke depan membuatnya gelisah. Apalagi di desanya, sebagian orang masih menjalankan kebiasaan datang ke resepsi apa pun di malam hari. Alasannya siang dan sore hari sibuk.
Wibi memegangi kedua tangan Tini untuk turun dari atas tubuhnya. Tak lekang menatap sepasang dada yang memaksanya dirinya harus jujur kalau saat itu belum cukup. Tini mengenakan pakaiannya tanpa menoleh. Ia pun cepat-cepat membereskan bawahannya.
“Aku mau buka pintu,” ujar Tini, menoleh pada Wibi dengan maksud agar suaminya itu bersiap kalau ada yang menjenguk ke dalam. Wibi kembali duduk di tepi ranjang dan mengambil hanger berisi set pakaian yang malam itu sangat berat sekali untuk digunakan.
Sedetik pintu di kamar dibuka Tini, Evi langsung menyongsongnya dari pintu depan.
“Oh, selesai juga. Aku cuma mau bilang, kalau nggak mau keluar lagi enggak apa-apa. Di depan udah pada asyik sendiri. Kamu juga udah asyik sendiri,” kata Evi.
“Ngaco kamu,” sahut Tini.
“Halah, enggak apa-apa. Tadi sebelum pulang, Mas Heru ngasi dua iket duit pecahan dua puluh ribu baru buat saweran. Mas Bara katanya bayar biaya ekstensi hiburan dan tambahan buat tiga biduannya. Semuanya seneng. Biduannya sampe bilang mau kasi bonus bawa ular buat nari tengah malam. Mas Bara bilang bawa apa aja yang penting heboh,” jelas Evi tertawa-tawa.
“Kok, tumben si ‘Astaga’ itu mentolerir hal-hal aneh?” Tini balik bertanya seraya tertawa. “Jadi, aku bisa kembali melanjutkan tugasku di dalam?” tanya Tini.
“Sak karepmu (terserah kamu), Mbak. Aku juga mau beres-beres di depan. Aku liat Mas Heru juga nyawer pemuda-pemuda yang jagain parkiran. Keren, ya, Mas Heru itu. Tapi aku tetep suka yang licin,” tambah Evi.
“Nanti kalau udah selesai kuliah, cari kerja di kota cari yang licin. Kalau nggak nemu, kamu pacarin keramik aja.” Tini mendorong tubuh Evi yang sedang ancang-ancang mau mencubitnya.
“Eh, iya. Dayat mana? Jangan dibiarin main jauh-jauh, Vi.” Tini kembali membuka pintu.
“Dayat lagi duduk di kursi penerima tamu. Ketemu tamu cewe cantik. Kayaknya lagi ngobrol,” jawab Evi.
“Semua-semua digombalin,” gerutu Tini, menutup pintu kamar.
Pintu kamar ditutup dan Wibisono langsung mendongak.
“Evi bilang nggak apa-apa kalau nggak ke depan lagi,” lapor Tini.
“Oh, nggak apa-apa?” Wibi langsung mencampakkan hanger di tangannya.
“Tapi buka sanggulku dulu, Mas. Kepalaku udah sakit. Aku kepingin mandi biar seger,” ucap Tini, berjalan menuju Wibi dan duduk di lantai membelakangi suaminya.
Bayangan soal malam pertama impian kembali menyeruak di pikiran. Dalam batin Tini, masih ada harapan. Mandi keramas dengan rambut tersisir rapi dan aroma sabun sepertinya bisa diwujudkan. Tini duduk membelakangi Wibi yang membuka banyak jepitan di kepalanya, dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Aduh,” pekik Tini kemudian.
“Yang atas memang aku biarkan tumbuh subur. Yang lain enggak, kok.” Tini tertawa.
Membuka sanggul itu ternyata cukup memakan waktu dan membuat rambut asli Tini berdiri bagai surai singa jantan.
“Kusut banget,” kata Tini berdiri di depan kaca. Ia tadi sempat membubuhkan bedak bayi ke rambutnya agar mudah disisir. Wibisono yang dimintanya membubuhkan bedak, tak sengaja menaburkannya sangat banyak. Alhasil hampir seluruh rambut Tini memutih.
“Kalau udah keramas pasti jadi bagus lagi. Rambut kamu lurus dan tebal. Aku suka,” kata Wibisono.
Tini sedikit tersipu karena pujian sederhana suaminya. “Ya, udah. Aku mandi dulu, ya. Biar seger,” ucap Tini, meletakkan sisir di meja rias.
“Jangan—jangan,” cegah Wibi menarik Tini ke tepi ranjang. “Keramas bisa besok. Nanti kamu masuk angin. Ini udah malem. Mending tidur aja.” Wibisono memeluk Tini dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang.
“Bayanganku itu malam pertama aku bisa tampil ayu dan feminim. Enggak kayak tadi, pakai sanggul. Sekarang rambutku malah tegak berdiri dan putih mirip singa tua. Kepinginnya mandi dulu,” cetus Tini.
Wibisono berguling dan memindahkan posisi mereka. Ia kini menindih tubuh Tini dan menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh istrinya.
“Aku enggak ada masalah dengan rambut kamu.” Wibisono mengusap kepala Tini.
Ya, sudahlah kalau memang tidak masalah pikir Tini. Selama malam pertama itu tak ada dokumentasi, rasanya rambut singa dan sanggul itu hanya tertoreh dalam ingatan.
Wibisono kembali mencium Tini, mengulangi hal yang tadi dimulai mereka dengan terburu-buru.
Suara musik berdentum-dentum menembus dinding kamar. Namun, Tini mulai memejam, menikmati sentuhan tangan tegap berisi yang mulai menjalar di tubuhnya. Menikmati cara jemari sang suami menarik tali piyama dan mengangkat gaun tidurnya melewati kepala. Pemandangan yang terhampar usai pakaiannya tersingkap, perlahan membuat ciuman Wibisono berpindah.
Persetan dengan rambut singa putihnya, Tini memejamkan mata menikmati kecupan-kecupan Wibi di dadanya. Menggaruk bagian belakang kepala pria itu dan menyisipkan jemarinya di rambut lurus Wibi yang selama ini belum pernah disentuhnya.
Mereka berdua terhanyut dengan latar musik dangdut. Saling menanggalkan pakaian satu dan lainnya. Saling menyentuh dan menyusurkan tangan ke tubuh satu sama lain seakan berkenalan.
“Enggak mau disentuh dulu?” tanya Wibi tiba-tiba. Membuat mata Tini melebar dan terkesiap dengan pertanyaan itu. Kepalanya terangkat dan menunduk ke bawah.
“Ha?” Mata sayu Tini menatap Wibi pura-pura tak mengerti. Pria itu lalu kembali menyesap dalam bibirnya, meraih dua tangannya dan meletakkannya ke sekeliling pinggang. Meminta Tini untuk merengkuh tubuhnya.
Dengan segenap hati, malam itu Tini ingin menuntaskan rasa penasarannya karena tawaran. Wibi ingin disentuh. Tini menggeser tangannya dari pinggang Wibi. Menyelipkan telapak tangannya menyentuh yang ingin disentuh.
Sejurus kemudian erangan tipis nyaris terdengar bersamaan meluncur dari mulut mereka. Tangan Tini tiba menyentuh Wibi di bawah sana. Tatapan mereka terpaut dan Wibi menggigit bibir bawahnya.
Sentuhan itu tak bisa terlalu lama, karena kembali membawa getaran ketidaksabaran di tengah mereka. Untuk kedua kalinya, Wibi menyatukan tubuhnya dan Tini. Menikmati setiap helaan napas kasar dan erangan halus seiring dengan gerakan teratur yang dibuatnya.
Hingga akhirnya musik yang berkumandang gaduh di luar seakan menjadi musik latar untuk yang terjadi di dalam kamar. Semakin gaduh, semakin riuh. Tini sedang terbang ke langit ke tujuh. Dan tak lama kemudian Wibi menyentak tubuhnya berkali-kali dengan dahi bertitik peluh.
Malam itu cukup sampai di situ. Keduanya kenyang, mengantuk, lelah dan terpuaskan. Mereka tidur nyenyak sambil berpelukan. Tak peduli bagaimana dengan rupa dan penampilan. Satu hal yang Tini yakini bahwa kini ia tak lagi sendirian. Ada Wibisono yang akan menjadi teman. Mengisi kekurangan dan berbagi segala kelebihan.
To Be Continued