
Sebelum memulai perjalanan ke Desa Cokro, Tini dan kedua adiknya sudah berkasak-kusuk di balik mobil. Perjalanan ke kampung halaman mereka akan memakan waktu lebih kurang lima jam dengan mobil kalau ditempuh non-stop. Evi sudah menyobek sebungkus obat anti mabuk perjalanan, dan Dayat memegang sebotol kecil air mineral. Semua itu untuk Tini.
“Kalian ini udah kayak mau meracuniku aja,” cetus Tini saat meneguk obat anti mabuk itu.
Meski sempat protes kecil, akhirnya Tini berhasil meneguk obat itu tanpa masalah.
Perjalanan di mulai dan sebelum melajukan mobilnya dari depan hotel, Wibi memberikan jaketnya pada Tini untuk didekap. Katanya, “Aku nggak ada bantal kecil di mobil. Baru kali ini perjalanan lumayan jauh bawa keluarga. Jadi, pakai ini dulu, ya. Nanti lain kali aku beli bantal buat kamu.”
Perhatian itu sederhana saja. Tapi sepertinya sudah berhasil menghilangkan setengah mabuk perjalanan Tini. Terbukti Tini mampu membuka matanya di satu jam pertama perjalanan itu.
Evi diam di belakang kursi Wibi yang sedang menyetir. Gadis itu menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Matanya ikut mengantuk karena laju mobil dan deru AC. Tapi ia merasa sayang untuk tidur dan melewatkan pengalaman yang tidak setiap hari diperolehnya.
Sedangkan Dayat, sedang mendemonstrasikan hal baru yang diajarkan Wibisono padanya. Menyambungkan perangkat ponselnya ke audio mobil dengan bluetooth. Pemuda itu memutar lagu-lagu favoritnya untuk dinyanyikan sepanjang perjalanan. Hampir semua lagu-lagu populer dari negeri jiran dinyanyikannya. Alhasil, perjalanan itu lebih menyerupai perjalanan dari Kuala Lumpur ke Malaka.
Tini merasa terganggu karena matanya sudah mulai terkantuk-kantuk. Namun karena melihat Wibisono sepertinya ikut menikmati, ia mengurungkan niat untuk menjejali mulut adiknya dengan tisu. Untungnya energi Dayat tak cukup lama bertahan. Pemuda itu terkapar setelah satu setengah jam mengolah vokalnya yang cukup memprihatinkan.
Berangkat pukul enam pagi, membuat perjalanan itu terasa lebih cepat. Sebelum jam makan siang, Evi sudah menepuk mulut Dayat yang ternganga.
PLAKK
“Ada apa—ada apa?” Dayat gelagapan menyapu wajahnya.
“Ada tugu Desa Cokro. Kamu tau sejarahnya?” goda Evi pada Dayat yang celingukan sambil mengucek-ngucek matanya.
“Tau. Itu tugu perjuangan untuk mengenang pahlawan yang diberondong peluru di simpang jalan. Tugu itu juga sebagai pertanda buat aku,” gumam Dayat.
“Pertanda apa?” tanya Evi.
“Pertanda aku udah kembali ke alamku yang sebenarnya. Mimpi telah berakhir. Dan hiburanku kembali ke pos ronda dan sebuah gitar tua,” ujar Dayat, menatap ke jalanan lurus yang membawa mereka ke rumah.
“Tapi gitar itu membuat kamu dikenal sebagai pemuda paling romantis di Desa Cokro. Jangan lupa,” timpal Tini yang baru saja menegakkan tubuhnya.
“Aku kira nggak bangun lagi,” gumam Dayat, memandang Tini dari kaca spion. Ia langsung menjauhkan tubuhnya dari jok yang ditempati Tini karena melihat kakaknya sudah menggertakkan giginya.
“Jalan yang sebelah kiri ini, Mas. Belok langsung lurus aja,” kata Dayat, menunjukkan jalan yang berada beberapa meter di depan mereka.
Jalan menuju gang rumah Tini masih di penuhi kebun pisang di sisi kanannya. Di sebelah kiri terdapat tiga ruko yang menghadap ke jalan raya. Kata Dayat, ruko itu baru saja dibangun beberapa bulan yang lalu dan masih kosong.
“Kok, yang sebelah sini nggak dibangun ruko sekalian?” tanya Tini, menunjuk hamparan kebun pisang di sebelah kanan mereka.
“Mungkin harganya belum cocok, Mbak. Tau sendiri kalau Mbah itu pelitnya gimana.” Evi menyahuti sambil melihat pepohonan pisang di sisi kanannya.
“Jadi kamu ambil aja?” tanya Wibisono, memandang Tini.
“Iya. Aku ngambil sedikit untuk masak ikan atau bikin kue. Paling banyak satu pelepah. Aku pernah minta malah dimarah-marahi. Kesel aku. Sama daun pisang aja pelit. Kayak matinya bakal dibungkus daun pisang aja,” sungut Tini, membela dirinya seraya memandang Wibisono yang tertawa kecil.
“Hidup di desa itu turut mengasah ilmu bertahan hidup yang unik, Mas. Tapi ladang pisang itu sekarang juga menjadi legenda karena--"
PLAKK
Satu tepukan pada paha Dayat yang baru dilayangkan Evi, berhasil membungkam mulut pemuda itu. "Mau kalem? Mau santai nggak banyak omong? Yang barusan itu apa? Ngelindur?" omel Evi pada adiknya dalam bentuk bisikan.
Kenangan Tini terbang ke enam tahun yang silam. Soal memanfaatkan tanaman pisang milik orang tua pincang yang pikun. Mbah yang mengaku pernah terlibat perang Vietnam, tapi terlalu pelit kalau diminta daun pisangnya barang selembar dua lembar untuk memasak. Karena kepelitannya itu, Tini lebih suka menjarah tanpa izin.
“Di depan sana, kita belok ke kiri, Mas.” Dayat kembali memberi aba-aba pada Wibisono yang melajukan mobil dengan santai. Tangan kiri Dayat mencolek bahu Tini saat ia menoleh ke gang di sebelah kanan. Beberapa meter sebelum gang rumah mereka, ada dua gang yang letaknya berhadapan. Dua gang itu merupakan titik balik dalam kehidupan Tini. Gang rumah Coki di sebelah kiri, dan gang rumah Siti Kusmini di sebelah kanan.
“Itu Pak Paijo! Itu Pak Paijo!” pekik Tini dari dalam mobil. Pria yang dimaksudkan Tini itu sedang mengendarai motornya di depan mereka. Sepertinya pria itu sedang membonceng pelanggannya yang merupakan salah satu tetangga Tini.
“Siapa Pak Paijo?” tanya Wibisono, melambatkan laju kendaraannya.
“Sohibnya Mbak Tini, Mas. Tukang ojek pangkalan di simpang,” jawab Evi ikut memandang ke depan.
"Sohibnya anti-mainstream," goda Wibisono, melirik Tini.
"Sampai detik ini, cuma Pak Paijo yang belum mengecewakan aku. Kamu sedang on process, Mas." Tini menahan senyumnya saat mengatakan hal itu. Wibi kembali menyapu kepala Tini dengan senyum kecil. Dayat dan Evi di belakang ikut saling menyapu kepala satu sama lain dan terkikik-kikik.
“Itu Mas, rumah kami di sebelah kanan.” Dayat menunjuk rumah yang beberapa waktu ditinggalkannya.
Rumah mereka tak memiliki pagar. Di depan rumah hanya ada tanaman teh-tehan yang tingginya sebahu orang dewasa. Tanaman itu memanjang menutupi bagian depan rumah dan melengkung ke balik jendela ruang tamu, hingga bagian teras rumah itu cukup terlindung. Setiap tamu yang datang, harus melewati bagian depan jendela kamar Dayat dan bapaknya. Sepeda motor mereka biasanya hanya diparkir di teras rumah setiap malam.
Jantung Tini sedikit berdebar saat Wibisono menghentikan mobil di luar pagar tanaman. Dari dalam mobil ia melihat Pak Paijo menurunkan penumpangnya dan menatap heran ke arah mobil.
“Aku turun duluan, Mas,” tukas Tini, melompat keluar dari mobil dengan maksud menyapa Pak Paijo lebih dulu.
“Pak!” seru Tini, mendekati Pak Paijo. “Pripun kabare Pak?”(Apa kabar, Pak?)
Tini mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pak Paijo perlu waktu beberapa detik untuk mengenali Tini yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
To Be Continued