
Tini menginginkan keromantisan. Tapi tidak seperti ini. Ia ingin bertemu Wibi, tapi tidak dalam kondisi seperti itu. Tidak di bawah tatapan manusia-manusia penuh rasa ingin tahu yang akan membuatnya tak berkutik.
Rasa-rasanya Tini ingin pura-pura pingsan. Tapi melihat kondisi jalan gang yang berlubang dan di dekat kakinya ada genangan air, ia mengurungkan niatnya.
“Kalian nggak ada yang mau melakukan sesuatu?” bisik Tini pada empat orang di dekatnya.
“Enggak ….” Jawaban semuanya nyaris serentak.
“Besok kamu harus bangun pagi-pagi, Boy. Jemuran kamu, As? Cewe yang kamu telfon tadi jangan sampe nunggu, Yat. Kamu nggak masak nasi untuk Dayat laper tengah malem, Vi?” Tini menoleh berkeliling pada empat manusia di dekatnya.
Lagi-lagi semuanya menggeleng serentak. Tini merapatkan mulutnya. “Kurang ajar semuanya,” bisik Tini. Semuanya mengangguk dan tetap berdiri di sana. Menunggu Wibi yang datang mendekati mereka.
“Kok, udah di sini? Katanya—”
“Masih ada dokumen yang belum lengkap untuk pendirian cabang. Sekalian aku ke sini. Mumpung lusa udah akhir minggu,” ucap Wibi.
“Oh, aku kaget, Mas.”
“Keliatan kagetnya. Malem ini kamu ….” Wibi berdiri selangkah di depan Tini dan memandang wanita di depannya dari ujung rambut ke ujung kaki. “Kamu natural banget,” sambung Wibi.
Empat orang di belakang Tini langsung membekap mulut mereka semua.
“Pake daster, ya …,” goda Wibi tersenyum simpul.
“Iya, Mas. Mau pakai kebaya nunggu hari spesial aja,” sahut Tini.
Wibi tergelak. “Bisa aja …,” ucap Wibi masih terkesima memandang Tini. Lalu pandangannya berpindah pada empat orang di belakang Tini. “Ini siapa? Teman baru?” tanya Wibi.
“Kita masuk ke dalem aja, ya. Kelamaan di tengah gang ini nanti dikira orang PU mau ngaspal jalan.” Tini menarik lengan Wibi agar mengikutinya.
Empat orang di belakangnya juga seketika berbalik dan kembali berjalan menuju kos-kosan. Melihat empat orang di depannya melangkah, giliran Tini melambatkan langkahnya. Namun, empat orang di depannya pun ikut melambatkan langkah.
Tak sabar akan hal itu, Tini menyeret lengan Wibi dan menerobos empat orang yang berada di depan mereka menyerupai pagar betis.
“Pinggir—pinggir, kami berdua mau lewat.” Barisan itu pun seketika menyeruak bubar. Wibi setengah sadar saat diseret Tini masuk ke halaman kos-kosan dan tiba di depan pintu kamar. Ia menarik kursi plastik dan mendudukkan Wibi di sana. “Fiuhh,” ucapnya, menatap ke arah pagar tempat di mana empat orang masuk dengan raut pura-pura tidak tahu. Ia juga menarik satu kursi untuknya sendiri dan menghempaskan tubuhnya.
“Aku buka sepatu dulu,” kata Tini. Dan ia membuka sepatu olahraganya di bawah tatapan terpukau Wibisono. “Aku seharian capek pakai sepatu tinggi di kantor. Mau pakai yang rata, tapi sama aja. Kulitnya sering bikin lecet. Ini paling nyaman,” ujar Tini membela diri.
“Keren, kok. Aku suka wanita yang nyaman dengan dirinya sendiri. Apa adanya,” ucap Wibi dengan lembut. Tatapannya menyapu wajah Tini yang belum pernah dilihatnya seperti itu.
“Abaikan alisku,” kata Tini. “Alisku memang tipis nggak ada rambutnya. Jadi aku sisakan sedikit buat disesuaikan dengan jaman. Kalau jaman alis tipis, aku bikin tipis. Kalau jaman tebal, ya, aku tebalin. Intinya mukaku kayak gini. Kok, aku jadi capek banget, ya.” Tini memang terlihat terengah-engah saat menjelaskan itu.
“Enggak apa-apa, Tin. Yang penting kamu nyaman,” kata Wibi tersenyum. Ia lalu menggamit tangan Tini yang berada di pegangan kursi.
“Ehem!” Dayat berdeham. Ternyata ia dan Evi sudah tiba di depan teras.
“Oh, ya, Mas …. Ini adik bungsuku. Namanya Hidayat. Sesuai namanya. Dulu almarhumah ibuku memberinya nama Hidayat karena bener-bener kepingin anak laki-laki.” Tini melambaikan tangannya memanggil Dayat. Pemuda itu langsung mendekati Wibi dan menyambut uluran tangan pria itu.
“Jawab, Vi. Jelaskan tupoksi kamu. Tugas pokok dan fungsi,” kata Tini.
Wibi lagi-lagi tergelak.
“Aku Evi, Mas. Nama Mas, siapa? Kami berdua nggak tau. Mbak Tini belum pernah cerita. Mungkin belum sempat karena kami baru sampai kemarin di sini. Niatnya mau jengukin Mbak Tini,” kata Evi.
“Namaku Hapsoro Wibisono. Panggil Mas Wibi aja. Ayo, duduk dulu. Masa ngobrol sambil berdiri,” kata Wibi, menarik dua kursi yang berada tak jauh di sisi kanannya.
“Duduk, Yat.” Evi mencolek lengan Dayat agar duduk di sebelah Wibisono. “Aku segera nyusul, Mas. Aku ke dalem dulu buatin minum.”
“Enggak usah repot-repot,” kata Wibi.
“Enggak repot, kok. Tehnya teh celup. Enggak metik sendiri,” jawab Evi. Wibi kembali tertawa mendengar jawaban Evi. Evi mengambil kunci kamar dari dalam tas Tini dan masuk ke dalam.
Dayat duduk dengan canggung di sebelah Wibisono. Ia tak pernah berkenalan dengan pria mana pun kekasih kakak-kakaknya. Di kampungnya dulu, Dayat hanya melihat Tini berboncengan ke sana kemari dengan Coki. Namun pria itu tak pernah berkenalan secara resmi dengannya. Mengobrol dengan Coki pun ia tak pernah.
“Kemarin naik apa ke sini?” tanya Wibisono.
“Naik Bus, Mas.” Dayat tersenyum dan sedikit mengangguk saat menjawab. Resmi sekali pikirnya. Ia merasa seperti sedang ditanyai kepala sekolah.
“Dayat masih sekolah?” Wibi memandang Dayat dengan penuh perhatian.
Dayat duduk tegak seperti sedang wawancara kerja. “Sekarang sedang menganggur, Mas. Udah hampir dua tahun tamat SMA. Rencana tahun ini mau ikut tes lagi masuk ke universitas negeri. Biar lebih murah. Sekalian nunggu Mbak Evi selesai kuliah. Kata Mbak Tini, ganti-gantian kuliahnya. Dia nggak sanggup kalau semua kuliah bersamaan. Banyak biayanya,” kata Dayat meringis.
Wibi tertegun memandang Dayat. Ia lalu memutar kepalanya menoleh ke arah Tini. Bersamaan dengan itu, Evi keluar dari kamar membawa nampan kecil berisi dua gelas teh manis. Tini menyibukkan diri dengan mengulurkan tangan mengambil nampan itu. Tapi ternyata Evi langsung membawanya ke depan Wibisono.
“Niki unjuk'ane kangge Mas Wibi kaliyan Mbakyu kulo. Nembe sepisanan niki kulo ndamel unjukan kangge tiyang jaler ingkang dateng wonten Mbak Tini. Kulo Evi Mas, adik namung setunggal ingkang estri. Kulo niki tiyang dusun, Mas, mboten saged basa basi . Nggih supados Mas Wibi ngertos menawi Mbak Tini meniko sampun kadhos Ibu kangge Adik-adikke." Evi duduk di kursi plastik dan memangku nampan. Mengangkat satu gelas berisi teh hangat dan mengangsurkannya pada Wibi.
(Ini teh untuk Mas Wibi dan Mbakku. Ini baru pertama kali aku buat teh untuk pria yang datang mengunjungi Mbak Tini. Aku Evi Mas, adik perempuan satu-satunya. Kami orang desa yang nggak bisa basa-basi. Tapi, buat Mas Wibi tau, kalau Mbak Tini ini adalah pengganti ibu bagi kami.)
Tini menunduk saat Evi mengatakan hal itu. Perkataan Evi terdengar sangat menyedihkan di telinganya.
"Mbak Tini niku mpun ngopeni adhi-adhine ngantos pontang-panting kurang luwihe nggeh ngoten. Kulo ngertosi Mbak Tini niku mboten saged sempurno. Nanging kulo nggih ngertos Mbak Tini niku sampun tumindak ingkang bechik kangge adik-adike. Kulo niku sayang banget kaliyan Mbak Tini. Kulo namung nyuwun kaliyan Mas Wibi niku gadah niatan ingkang tenanan kalih Mbak Tini.” Evi mengangkat satu gelas lainnya dan memberikannya pada Tini.
(Mbak Tini membesarkan kami dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami tau Mbak Tini nggak sempurna. Tapi kami tau Mbak Tini selalu melakukan yang terbaik untuk kami berdua. Kami sayang Mbak Tini. Kami harap Mas Wibi niatnya serius sama Mbak kami.)
“Kowe ki omong opo to? Ora enthuk ngono, lho. (Kamu ini ngomong apa? Enggak boleh gitu.) Tini mengibaskan tangannya ke arah Evi. Meski begitu, ia menyusut sudut matanya yang digenangi air mata.
Dayat hanya menunduk memandang sepasang sandal kulit yang dikirimkan kakaknya sebulan yang lalu ke kampung. Saat itu ia mengatakan kalau sudah tak punya sandal bagus lagi. Dan Tini langsung mengirimkan dua pasang sandal untuk ia dan bapak mereka.
" Aku wis ngerti, Mbak. Aku mung omong sik sakbenere. (Aku udah tau. Aku cuma ngomong yang bener.)” Evi ternyata juga berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.
To Be Continued
Catatan : Kalau ada typo, nanti diperbaiki.