TINI SUKETI

TINI SUKETI
79. Hebohnya Hari Tini



Evi dan Dayat sempat terheran-heran. Setibanya di rumah Dijah, kakak mereka langsung lenyap. Yang menyambut mereka hanya Bara bersama putrinya.


“Hei, cantik! Sama bulik, yuk!” Evi mengulurkan tangannya pada Mima di depan pintu.


Bara memandang wajah Mima menantikan reaksi balita itu. Wajah Mima ragu, namun kemudian secara mengejutkan, Mima menyambut uluran tangan Evi. Sejurus kemudian bayi itu sudah berada dalam gendongan Evi.


“Mima mau, tumben.” Bara setengah tertawa melihat putrinya yang jarang mau digendong orang lain ternyata mau saat digendong Evi. “Padahal sama Budhe Tini nggak pernah mau,” tambah Bara dengan suara pelan seraya melihat Wibi menutup pintu pagar.


“Coba sama aku,” kata Dayat, mengulurkan tangannya pada Mima. Ternyata, Mima langsung melengos.


Evi tertawa. “Sekarang kamu buktikan sendiri, kan? Di antara kita bertiga, cuma wajahku itu yang punya aura tajam dan terpercaya,” tukas Evi. Gantian Dayat yang melengos. Bara tertawa melihat keributan kecil kakak-adik itu.


Melihat kedatangan Wibisono tadi, Bara terkejut. Pria itu datang sendiri saja dia mungkin terkejut. Apalagi kalau datangnya bersama Tini dan adik-adiknya. Bara langsung menghubung-hubungkan kedatangan Wibisono dan Tini dengan ucapan Tini soal ‘Pakdhe baru’. Apa Wibisono yang dimaksud oleh Tini?


Naluri wartawan Bara mulai bekerja. Apalagi saat melihat Tini dan Dijah sedang berbisik-bisik memunggungi ruang tamu sambil terkikik dan saling dorong. Rasa penasarannya semakin bergejolak. Walau Mima sudah anteng berada dalam gendongan Evi, tapi Bara harus sanggup menahan keingintahuannya itu sementara waktu. Dia harus meladeni Wibisono lebih dulu.


“Mas Wibi, apa kabar? Aku kira udah balik ke Surabaya,” sapa Bara mengulurkan tangannya pada Wibi di depan pintu.


“Memang udah balik, Ra. Tapi balik lagi ke sini. Masih ada urusan yang belum selesai,” kata Wibisono.


“Urusan yang belum selesai? Oh, ngerti aku,” sambut Bara langsung.


Wibisono tersenyum.


“Masuk, Mas. Ayo, kita duduk di ruang tv aja. Biar santai ngobrolnya,” ajak Bara melangkah ke dalam.


Dayat dan Evi duduk di sofa sambil menggoda Mima yang ternyata cepat akrab dengan Evi. Dayat masih sedikit mendongkol, karena Mima berkali-kali mau digendongnya namun masih membuang muka.


Bisik-bisik Tini dan Dijah sudah berhenti saat orang-orang masuk ke ruang televisi. Bara membawa Wibisono duduk ke sofa yang berada di sisi kanan televisi.


“Ayo, Mima … sama Budhe, yuk.” Tini ternyata belum belajar dari kejadian sebelumnya. Tangannya masih terulur pada Mima. Balita itu hanya memandang wajah Tini. Namun Mima malah menyandarkan kepalanya pada Evi.


Evi tertawa terkekeh-kekeh. “Fixed kalian ini saudara kandung tanpa tes DNA,” cetus Evi memandang Tini dan Dayat yang mendengus ke arahnya.


“Jah, ayo, temenin aku ke dapur bikin teh.” Tini menyenggol siku Dijah yang berdiri di dekatnya.


“Mbok Jum lagi bikinin teh. Kamu di sini aja,” kata Dijah. Tini mendelik, kembali menyenggol siku Dijah agar mengerti maksudnya. “Oh,” sambung Dijah, lalu menyeret Tini ke dapur.


“Kamu nggak peka banget. Yang mau aku omongin ini sebenarnya banyak banget. Tapi waktu semakin terbatas. Pandangan Mas-mu juga udah penasaran banget. Pasti kalau aku pulang, kamu bakal diwawancarai,” kata Tini dengan raut serius.


“Kok, bisa, Tin? Itu temennya Mas Heru, kan? Kok bisa-kok bisa? Cerita, Tin! Kamu udah nonton ke bioskop? Udah ciuman?” cecar Dijah.


“Ngapain ke bioskop? Aku nggak suka nonton. Nanti lagi asik-asik nonton, dari belakang suka ada yang nendang. Tendangannya kuat kayak bayi tujuh bulan di perut. Kalau ciuman udah, Jah. Aku dicium, Jah. Bayangin, aku yang dicium! Biasanya aku yang nyosor-nyosor. Ya, ampun, astaga, semua kata-kata Mas-mu aku pinjem, Jah. Aku mau ke Surabaya lusa. Diajak ketemu keluarganya. Doain, Jah! Aku bagiin seragam warna pink! Mima juga harus pake pink! Aku udah bayangin bawa Wibisono ke kampungku. Aku harus berterima kasih sama Siti Kusmini. Dia itu pahlawan dalam hidupku. Mau memungut dan mendaur ulang si Coki sapi!” Tini sampai gelagapan menceritakan hal itu.


“Kamu jangan bikin aku makin berdebar nggak karuan, Jah. Kalau diajak kawin malem ini, aku mau. Kamu jangan—"


Mbok Jum masuk ke dapur dan langsung membuka lemari untuk menyiapkan minuman tamu. Tini dan Dijah sedang berdiri di depan bak cuci piring. Kepala mereka seketika menoleh ke arah Mbok Jum. Percakapan mereka terhenti.


“Mbok, biar Tini aja yang bikin tehnya. Soalnya tamu spesial. Mbok istirahat aja,” kata Dijah. Tini mengangguk.


“Ya, udah. Aku bikin tehnya Mas-ku dulu. Aku bikin yang paling enak. Enggak cuma pake teh dan gula. Tapi juga pakai cinta sejati dari hati.”


Tini merasa pertemuannya bersama Dijah hari itu belum cukup memuaskan. Masih banyak hal yang perlu disampaikannya, tapi karena keterbatasan waktu, Tini pamit pulang setelah berjanji akan mengabari Dijah soal perkembangan beritanya.


“Evi dan Dayat bisa langsung beres-beres baju. Sabtu kita berangkat. Mas udah beli tiket buat kita semua. Nanti, sepulangnya dari Surabaya, Mas bakal nganter kalian sampe ke kampung. Sekalian Mas juga mau ketemu sama Bapak.”


Perkataan Wibisono itulah yang membuat Tini dan adik-adiknya berunding malam itu. Besok adalah waktu terakhir Tini training di kantor. Lusanya mereka akan berangkat ke Surabaya. Tugas itu saja sudah cukup membebani mereka dengan persiapan dan dugaan-dugaan hal apa yang bakal mereka hadapi di Surabaya. Lalu tiba-tiba Wibi mengatakan akan langsung mengantar Evi dan Dayat sampai tiba di kampung. Kepala mereka langsung membayangkan soal rumah dan bapak mereka.


“Bapak bakal gimana, ya? Apa Bapak nemuin Mas Wibi sambil memeluk Puput VI di tangannya? Perasaanku nggak enak,” kata Evi.


“Kayaknya enggak. Kemungkinan besar Puput VI akan tetap berada di halaman belakang. Bisa jadi Mas Wibi yang harus ngomong sama Bapak saat Bapak lagi ngasi makan Puput. Menurutku itu lebih masuk akal,” ucap Dayat.


“Aku juga bayangin rumah kita penuh jejak kaki Puput. Selama kita tinggalkan, Puput tidur di kursi depan. Bukan di kandang.” Evi mengusap lengannya bergidik ngeri.


“Pas Mas Wibi masuk, dia kaget. Ini rumah atau kandang ayam,” tukas Dayat terkekeh.


“Mas Wibi udah masuk kandang ayam. Kita juga. Ini, kan, kandang ayam.” Evi ikut tertawa.


“Diam kalian semua!” pekik Tini tiba-tiba. “Sibuk ngurusin Bapak, ngurusin Puput. Kalian apa nggak tau, aku lagi sibuk memikirkan hal yang lebih penting?” tanya Tini pada dua adiknya.


“Apa?!” Evi dan Dayat bersamaan menoleh kakaknya.


“Aku mabuk perjalanan. Naik pesawat aku mabuk. Nanti dari Surabaya ke kampung bisa jadi Wibisono bawa mobil. Bisa pingsan aku. Aku bakal kehilangan memori perjalanan itu karena aku bakal nggak sadarkan diri sepanjang jalan,” ujar Tini dengan wajah muram.


“Nanti aku bantu video-in. Mbak Tini bisa tonton pas udah siuman,” ucap Dayat menepuk-nepuk lengan kakaknya.


“Aku bantu cerita aja. Nanti aku ceritakan semua kemesraan Mas Wibi selama kamu pingsan,” tambah Evi.


To Be Continued


Kalau ada typo, dimaklumi sesaat, ya. Karena sebelum update, saya baca lagi, kok. Tapi kadang masih ada kesalahan. Itu artinya saya hanya manusia biasa. Saya kadang mengejar waktu update. Dan mementingkan update lebih dulu.


Maaf kalau typo saya mengganggu kenyamanan membaca. Setelah update, saya baca lagi. Kalau ada kesalahan, langsung saya ubah. Tapi ... ada yang namanya sistem review. Tidak bisa langsung berubah, Boebooo tersayang. Tergantung sistem berubahnya kapan.


Kalau typo saya sangat mengganggu, maafkan saya ya .... Tapi tentunya, tulisan saya yang bagus masih lebih banyak dibanding typo saya.