TINI SUKETI

TINI SUKETI
54. Gombal Halus Tini



Tini tak tahu apa yang dipikirkan Wibi tentang kos-kosan kandang ayam. Yang penting dia sudah memberi kode kepada Mak Robin kalau yang ikut bersamanya hari itu bukan orang sembarangan.


“Malam, Mbak Tini …,” sahut Asti atas sapaan Tini barusan pada mereka. Ternyata Asti langsung menangkap maksud Tini. Bayu ikut mengangguk dan tersenyum pada Tini.


Sedangkan Mak Robin masih ternganga. Lalu, “Sehat kau?” tanya Mak Robin.


“Berkat doa Mak Robin aku sehat-sehat,” jawab Tini, mengangguk kecil. “Mas Wibi duduk di sini dulu, ya. Katanya tadi haus, aku ambil air minum dulu.” Tini menggeser satu kursi ke depan jendela kamarnya.


“Makasih,” sahut Wibi, duduk di kursi plastik seraya mengedarkan pandangannya.


“Mas ini temennya Mbak Tini, ya?” tanya Asti yang memang baru mengetahui sekilas soal Wibi. “Temennya Pak Heru juga?” Asti memberondong dengan pertanyaan.


Tini yang berada di dalam kamar, menyibak kain jendelanya untuk melihat reaksi Wibi. Namun, ia langsung menutup kain jendela karena hanya bisa melihat belakang kepala Wibi. “Salah posisi,” gumamnya.


“Oh, kawan si Heru juga,” ucap Mak Robin.


“Iya, kenalin …. Saya Wibisono. Temannya Heru dan Agus. Bara juga,” ujar Wibi, mengulurkan tangannya pada Mak Robin, Asti dan Bayu.


Boy yang penasaran namun tak ada alasan bergabung untuk mencari tahu, mulai bernyanyi. Kali ini Boy bernyanyi tanpa iringan musik.


“Buat Bunda yang hari ini terlihat sangat bahagia, saya persembahkan sebuah lagu sederhana.” Boy menaikkan volume suaranya.


“Apa, sih, Mas? Berisik,” omel Dara yang duduk di sebelah Boy.


“Sebentar,” sahut Boy. “Buat Bunda di kamar seb—” Boy lagi-lagi terdiam. Wibi menoleh ke arahnya dengan raut serius.


“Kok diem?” tanya Dara.


“Itu Wibisono yang tempo hari diceritakan Tini, kan? Kok orangnya serem, ya? Serius banget kayaknya,” tukas Boy, mengurungkan niatnya untuk bernyanyi.


Di dalam kamar, Tini menyadari kalau Boy kembali terdiam. Tumben-tumbennya Boy bisa diam saat memegang mic.


Tini berganti pakaian dan keluar kembali membawa botol air minum dan sebuah gelas. Malam itu meski belum sempat mandi ia keluar dengan mengenakan terusan batik sepanjang lutut.


Saat Tini keluar, Wibi menarik sebuah kursi sebagai tempat Tini duduk.


“Makasih, Mas. Ini minumnya,” kata Tini, menyodorkan gelas dan langsung menuangkan air saat gelas itu berada di tangan Wibi.


“Waaahhh ….” Asti tak sengaja berdecak terkagum-kagum saat melihat keluwesan Tini.


“Parah juga efek berenti merokok,” bisik Mak Robin. Asti terkikik dan Bayu langsung mencolek lutut gadis itu untuk memintanya jangan tertawa.


Wajah Wibisono yang serius ikut membius suasana di tempat itu.


“Boy, nyanyi dong. Jadi sepi banget,” pinta Tini tersenyum pada Boy.


Boy tersenyum janggal pada Tini. Lalu ia menurunkan volume suara speaker-nya dan mulai melantunkan lagu sendu.


Lelah, lelah hati ini


Menggapai hatimu tak jua menyatu


Lelah, lelah hati ini


Bagaimana kelak ku akan


Melangkah di sisimu


Selayaknya kau coba


Menyibakkan tirai kasih kita


Begitu jauh kurengkuh hatimu


Di seberang jalanku


(Rafika Duri – Tirai)


“Bah! Kok kayak gitu pula lagu si Boy?” Giliran Mak Robin yang terheran-heran.


“Mas, udah kenalan dengan temen-temenku?” Tini duduk sangat rapi sambil memegang botol minuman yang dibawanya tadi.


“Udah, seneng banget bisa ke sini,” ucap Wibi.


“Si Heru pun dulu bilang kayak gitu. Ada apa rupanya di kandang ayam ini?” Mak Robin menoleh pada Asti.


“Ya, ada Mak Robin, ada Boy, ada Asti,” jawab Tini lalu tertawa kecil.


“Mak Robin udah lama tinggal di sini?” tanya Wibi, memulai pembicaraan.


Mak Robin masih membuka mulutnya. Tini sudah memotong, “Udah. Mulai kos-kosan kandang ayam gali pondasi, Mak Robin udah di sini.” Tini tersenyum pada Wibi.


“Ah, mata kau itu!” umpat Mak Robin.


Mendengar hal itu Wibi tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai ia memukul pelan lutut tini. Lalu tangannya memijat bahu Tini dengan lembut.


Tini terkesima. Makian Mak Robin padanya ternyata membuat Wibi menghiburnya dengan cara seperti itu. Diam-diam di dalam hati, Tini berharap agar Mak Robin kembali memakinya.


Mak Robin sepertinya mengerti apa yang sedang dipikirkan Tini. “Senanglah kau, ya …,” gumam Mak Robin.


“Kalau Asti ini yang kerja di kantor Heru?” tanya Wibi pada Asti.


Lagi-lagi pertanyaan itu dijawab oleh Tini, “Iya, Mas. Asti ini cctv-nya Dijah, istri Bara. Kalau ada berita apa pun di kantor, cewek-cewek magang baru, Asti ini informannya Dijah,” jelas Tini.


“Kalau ini … pacar Asti?” Wibi memandang Bayu.


Bayu tertawa. “Aku Bayu, Mas. Kapan main ke kantor? Biar kenalan sama yang lain. Di kantor seru,” kata Bayu.


“Boleh--boleh, Bay. Nanti aku ngomong ke Heru." Wibi mengangguk. "Kalau yang itu?” Wibi menunjuk Boy.


Boy yang sejak tadi berharap agar dipanggil untuk bergabung, seketika menghentikan nyanyiannya.


“Itu biduan Pantura yang banting setir jualan roti bakar,” sahut Tini.


“Jangan gitu Bunda Tini … aku ini cctv juga. Pengawas orang yang sedang usaha buat berenti merokok. Kemarin malam—”


“Boy … ayo sini gabung!” panggil Tini yang sedikit cemas Boy akan membeberkan soal program berhenti merokoknya dengan pengeras suara.


Boy yang memang sejak tadi berharap dipanggil untuk bergabung, buru-buru mengajak Dara mengangkat kursi plastik mereka masing-masing.


“Kebiasaan mulutmu,” desis Tini saat ia berdiri menggeser kursinya memberi ruang untuk kursi Boy.


Boy tak mempedulikan Tini. Ia hanya mencibir dan memajukan letak kursinya agar bisa melihat Wibi dari dekat.


“Tini ini jago nyanyi, Mas. Kita biasa sering duet kalo malem Minggu. Tapi sekarang Tini sedang menyalakan mode anggun feminin kayanya,” tukas Boy, melirik Tini yang membulatkan mata menatapnya.


“Bisa nyanyi, Tin?” tanya Wibi, menepuk pelan lutut Tini.


Seketika Tini bagai tersengat aliran listrik. Duduknya menjadi lebih tegak.


Boy berdiri berpura-pura meregangkan pinggangnya. “Tin,” panggil Boy agar Tini mendongak menatapnya. “Lagu Siaga,” bisik Boy, menyodorkan mic seraya mengedipkan matanya.


Tini yang tadi sedikit bingung, akhirnya mengerti maksud Boy. Itu adalah lagu yang sering ia nyanyikan saat melihat laki-laki tampan melintas di depan gerobak roti bakar SEEMPUK SETUMPUK.


“Aku boleh nyanyi, Mas?” tanya Tini, memandang Wibi.


“Kok emosi aku nengok si Tini,” bisik Mak Robin lagi. Asti kembali terkikik di balik punggung Bayu.


“Ayo, aku mau denger.” Wibi mengangguk.


“Aku kasi sample dikit. Kalau suka boleh rikwes lanjut,” ucap Tini kembali tersenyum pada Wibi.


“Lama kali pun,” omel Mak Robin.


“Sabar, Mak …. Kamu kangen banget dengan suaraku kayaknya.” Tini terkikik.


Kau laki-laki pujaanku


Selalu bersama arungi samudera hidup.


Dalam biduk rumah tangga


Kau tak ganteng tapi gagah


Penuh perhatian dan kasih sayang


Kau selalu siaga


Siap antar jaga


Selama anakmu dalam kandunganku


Suamiku … kau siaga selalu


Suamiku … itu yang kita mau


Kau lindungi aku dan bayimu


Sayang aku makin cinta kamu ….


(Iklan Suami Siaga)


Boy dan Asti tersenyum-senyum. Begitu pula Wibi. Pria itu mengatupkan bibirnya menahan senyum. Bayu nyaris tertawa melihat hal itu. Sedangkan Mak Robin mendengkus sebal. “Pandeee kali muncung kelen, ya!” katanya.


“Udah, Boy! Aku malu,” ucap Tini, mengembalikan mic lalu menangkup kedua pipinya. Mak Robin semakin mendengus.


Saat Tini sedang menstabilkan rona merah wajahnya, ia melihat ponselnya yang bergetar di pangkuannya.


“Eh, sebentar Boy. Jangan nyanyi dulu. Aku terima telfon.” Tini menunjukkan ponselnya.


Wibi ikut memandang Tini yang berada di sebelahnya.


“Halo? Oh, Mas Reza. Iya, ini dengan Tini. Besok? Jam berapa, ya, Mas?—baik. Pak Wimar ada penawaran untuk saya? Soal apa? Kok, saya jadi berdebar. Mau ngasi saya nasabah besar? Wah, saya jadi nggak sabar nunggu besok.” Tini tertawa kecil.


Wibi yang tadi memandang Tini, seketika mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Nasabah pagi tadi?” tanya Wibi langsung seusai Tini bertelepon.


“Oh, bukan. Bukan si Hamit gendeng. Ini yang lain. Pak Wimar namanya. Pak Wimar ini punya kebun sawit di mana-mana. Tapi bergabung di satu perusahaan induk di Jakarta. Kalau nggak salah nama perusahaannya Grup Cahaya Mas. Pak Wimar itu direkturnya.” Tini merasa harus menjelaskan sedetilnya pada Wibi. Ia mulai khawatir kalau laki-laki itu salah paham.


“Grup Cahaya Mas? Nama perusahaannya nggak asing,” gumam Wibi.


To Be Continued