TINI SUKETI

TINI SUKETI
56. Ujian Mental Tini



“Jangan panggil Mas, panggil Pak aja.”


Sebaris kalimat itu bukan saran bagi Tini, melainkan sebuah perintah. Saat masuk ke ruangan Pak Wimar tadi, pria di seberangnya seakan tak menggubris. Namun, ternyata Tini salah. Saat Tini duduk, pria di depannya langsung mengangkat wajah dan meneliti tampilannya. Tak pernah Tini merasa segelisah itu.


“Saya Tini Su, agen asuransi X-Tra Large. Perusahaan yang dimiliki Pak Agus.” Tini menjabat tangan pria di depannya seraya mengerling ke arah Pak Wimar sesaat.


“Saya Dean Danawira Hartono, salah satu pemilik saham di sini. Saham terbesar dimiliki oleh istri saya.”


“Oh … sudah—”


“Udah. Udah menikah.” Dean tersenyum, melepaskan jabatan tangan dan kembali menautkan tangan di atas pangkuannya.


Tini tersenyum kecut. Belum apa-apa ia sudah sedikit kesal dengan laki-laki di depannya.


“Oya, namanya memang Tini Su? Kayanya—”


“Tini Suketi, Pak.”


“Oh, udah—”


“Sudah diduga, kan?” potong Tini gantian. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat berhasil membalas si pemilik saham itu.


Pak Wimar tertawa kecil. “Ayahnya Pak Dean ini kakak kelas saya di kampus. Beliau yang mengajak saya bergabung di Cahaya Mas. Tahun lalu, di rapat pemegang saham saya baru terpilih jadi direktur,” jelas Pak Wimar pada Tini.


Tini mengangguk-angguk mengerti meski sepenuhnya ia tak peduli siapa direktur perusahaan itu. Ia hanya peduli pada kabar baik apa yang akan disampaikan oleh Pak Wimar padanya.


“Agen asuransi? Total penjualan udah berapa banyak sejauh ini?” Dean memandang Tini dengan alis terangkat menunggu jabatan.


“Banyak, Pak. Untuk jumlah pastinya saya nggak bisa memperkirakan. Bapak tertarik membeli polis. Ada paket family yang paling menguntungkan. Untuk keluarga kecil, orang tua dan dua orang anak—”


“Anak saya empat. Yang bungsu baru dua bulan,” potong Dean.


“Wah ….” Tini melontarkan tatapan tak percaya.


Pak Wimar kembali tertawa. “Makanya harus hati-hati, ya. Pak Dean ini keliatannya masih single. Sering banyak yang naksir,” canda Pak Wimar.


“Pak Dean aman. Soalnya bukan tipe saya. Saya suka yang bercambang. Keliatan lebih gimanaaa gitu,” sahut Tini tertawa kecil.


“Oh, ya? Tanpa cambang anak saya empat. Yang bercambang belum tentu,” jawab Dean.


Tini seketika terdiam.


“Sepertinya saya harus memikirkan soal itu dari sekarang,” tukas Tini, menyelamatkan dirinya. Pria bernama Dean itu sepertinya bukan lawan bicara yang mudah buatnya. Ditambah posisinya yang merupakan pemegang saham, tampaknya memang mustahil mencari celah ucapannya.


“Memang udah seharusnya kamu memikirkan hal itu. Pria itu gagahnya bukan dari masalah cambang. Tapi dari kemauannya bekerja keras, memperjuangkan wanita yang dicintainya, juga soal kesetiaannya. Mbak Suketi harus memikirkan hal itu.”


Tini merapatkan gigi. Walau tak bermaksud menyindirnya, tapi semua kata-kata Dean terasa menampar begitu keras.


“Oh, ya … panggil Tini aja, Pak.” Tini mengingatkan pria di seberangnya.


“Memangnya kenapa kalo saya panggil Suketi? Itu nama Mbak juga, kan?” Dean mengerucutkan bibirnya memandang Tini.


“Iya, benar …,” sahut Tini sedikit lemas. Ia merasa energinya sudah terkuras setengah. Padahal ia baru berada di ruangan itu tak sampai setengah jam.


“Saya akan beli polis kamu untuk istri dan semua anak-anak saya,” ujar Dean.


“Terima kas—”


“Saya belum selesai ngomong. Selebihnya dengar penjelasan dari Pak Wimar. Yang akan disampaikan ini menurut saya sangat bagus untuk kamu. Peluang besar. Yang penting, keputusan kamu harus tepat.” Dean menoleh pada Pak Wimar dan mengangguk.


“Oh, ya, minum dulu.” Pak Wimar menunjuk teh dan air mineral yang baru diangsurkan Reza ke hadapan mereka.


Tini mengangguk kecil dan langsung menyambar sebotol air mineral dan mengisinya ke sebuah gelas kosong. Ia menghabiskan lebih dari setengah botol air mineral dan napasnya sedikit terengah-engah.


“Pak Dean ini memiliki kantor advokasi sendiri. Beliau lulusan magister hukum California. Orang tuanya pengusaha tambang di Kalimantan. Punya perkebunan sawit juga seperti saya. Nah, harusnya beliau ini bisa dengan mudah melanjutkan usaha orang tuanya. Tapi beliau memilih bekerja sesuai passion-nya. Pengacara,” terang Pak Wimar.


“Memang sudah seharusnya. Pas! Memang cocok sekali. Mubazir kalau nggak,” sahut Tini spontan.


Dean menoleh dan menaikkan sebelah alisnya memandang Tini.


“Mubazir kalau kemampuan memberi motivasi luar biasa seperti tadi tidak dimanfaatkan,” sambung Tini langsung.


Mendengar hal yang diucapkan Tini, Dean menyipitkan matanya tak percaya.


“Kamu ini mengingatkan saya sama seseorang,” ujar Dean, menoleh pada Pak Wimar meminta pria itu kembali melanjutkan.


“Saya punya tawaran untuk Mbak Tini. Tempo hari sewaktu saya ngeliat Mbak Tini di lobi, saya kepikiran dengan satu posisi yang pas di perusahaan ini. Sama-sama marketing, tapi yang ini beda dengan memasarkan polis asuransi. Marketing Communication.”


“Tapi saya cuma lulusan SMA, Pak,” potong Tini.


“Dunia marketing itu bukan hanya dipelajari dan diterapkan seusai memperoleh pendidikan. Buat saya, marketing itu bakat yang memerlukan kejelian. Di sini Mbak Tini bukan wajib menjual, tapi mengelola pelanggan lama. Cahaya Mas itu produknya semua yang berkaitan dengan kelapa sawit. Minyak goreng, sabun, margarin, sampo, sampai biodiesel. Kalau Mbak Tini mau bergabung, nantinya akan ada kepala bagian yang membawahi. Saya cuma … mau Mbak Tini mendapat hasil maksimal. Cahaya Mas ada beberapa pelanggan baru yang berpotensi untuk Mbak Tini follow up.” Pak Wimar menghela napas panjang usai mengatakan hal itu.


“Jadi saya harus mengundurkan diri?” tanya Tini pada Pak Wimar.


“Kalau Mbak Tini berminat,” sahut Pak Wimar.


“Pendidikan saya nggak masalah?” tanya Tini lagi.


Pak Wimar menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Tidak masalah,” ucap Pak Wimar.


“Penghasilannya?” tanya Tini mulai bersemangat.


“Rahasia. Yang jelas memuaskan,” sahut Dean. Tini menoleh padanya. “Menurut arti defenisi kata memuaskan itu adalah memenuhi, menuruti sampai puas. Mbak Suketi bisa membayangkannya lebih dulu.” Dean tersenyum jumawa.


Tini berpikir-pikir. Bagaimana caranya berpamitan pada Agus. Ia sudah menganggap pria itu adalah atasan sekaligus rekan kerjanya yang bawel. Walau begitu, Tini menikmati bekerja dan menimba ilmu dari Agus. Ia sudah belajar banyak hal sejak bekerja sebagai agen asuransi di perusahaan Agus.


“Mmmm … soal asuransi tadi bagaimana, Pak?” Tini memandang Dean. “Tadi katanya mau beli polis. Bisa nggak kalau yang itu duluan saya kerjain. Bapak bisa tanda tangan polis—”


“Saya ambil polis dari kamu kalau kamu terima tawaran Pak Wimar. Bonusnya pasti cash dan luar biasa.” Dean tersenyum lebar sampai matanya menghilang.


Tini mendengus. Pengacara di depannya ternyata licik sekali. Agus memang terkadang menyebalkan karena kecerewetannya. Tapi ia masih bisa berkelit dan menyisipkan sedikit pengaruhnya atas keputusan-keputusan Agus. Sangat berbeda dengan pria yang duduk menyilangkan kaki di depannya.


Angkuh sekali, pikir Tini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana laki-laki itu bersikap pada istrinya di rumah. Istrinya pasti mengalami tekanan batin parah. Tini bergidik.


“Gimana, Mbak Suketi? Perlu berapa hari untuk mengambil keputusan?” tanya Dean, menelengkan sedikit kepalanya menunggu jawaban Tini.


Suketi …. Suketi …. Baru kali ini ada orang yang bersikeras memanggilnya Suketi.


“Saya kabari paling lama lusa. Bisa, Pak?” Tini membalas tatapan Dean.


“Dua hari ke depan?” Dean mencibir. “Not bad-lah,” sambungnya mengangkat bahu.


To Be Continued


Buat ebo-ebo yang belum kenal sama Pak Dean baca Cinta Winarsih, ya …. Terus lanjut ke Genk Duda Akut. Boebo nggak bakal nyesel kenal doi.