TINI SUKETI

TINI SUKETI
95. Saatnya Serius



Jantung Tini berdebar tak karuan. Adrenalinnya seperti dipompa paksa. Berdebar karena mencondongkan tubuhnya menyambut tangan Wibi yang melambai dari depan. Juga berdebar karena khawatir tukang parkir atau keluarganya keluar dari dalam bank.


Dengan segala hal yang sudah diberinya alasan dalam kepala, Tini mencondongkan tubuh. Dua tangannya menyambut tangan Wibi yang melambai ke belakang dari dua sisi jok. Pria itu tersenyum menatapnya dari kaca spion. Saat tangan mereka bersentuhan, Wibi tertawa kecil seraya menarik tangannya mendekat.


“Sun pipi aku, dong. Aku lagi butuh semangat,” pinta Wibi, menelengkan kepalanya ke kiri agar Tini bisa menjangkaunya.


Cuma cium pipi saja, pikir Tini. Pasti tak akan lama. Tanpa berpikir panjang lagi, Tini juga menelengkan kepalanya ke kiri dan sedikit bangkit dari duduknya. Cup! Tini mendaratkan ciuman ringan di pipi kiri Wibisono.


Meski ciuman ringan, lututnya sudah terasa lemas. Sepertinya ia memang sudah semakin tua. Begitu saja, tapi ia sudah tak berdaya.


“Kurang. Satu lagi,” pinta Wibisono kembali tertawa kecil.


“Nanti ada yang ngeliat,” kata Tini sedikit khawatir. Dua tangannya tertahan melingkari leher Wibisono dari belakang jok pengemudi.


Wibi lalu melepaskan tangan kanan Tini dan sedikit menggeser duduknya ke kiri. Tangan kirinya masih memegang tangan kiri Tini dan meletakkan tangan itu di atas perutnya. Ia melihat wajah Tini sudah merona dan semakin salah tingkah. Wanita yang mau menyewa pihak keamanan untuk menjaga kamar pengantinnya, ternyata merona hanya karena menyentuh perutnya. Wibi jadi semakin bersemangat menggoda calon istrinya.


“Aku bisa ngeliat kalau Bapak dateng. Aku juga kepingin mesra-mesraan sedikit. Besok kita udah ke Jakarta. Kamu pasti sibuk dan aku juga sibuk. Ada dua rumah di sekitaran rumah Bara yang mau ditunjukkan agen properti. Kalau rumahnya oke, aku langsung beli. Biar mobil bisa aku taruh di sana. Aku balik naik pesawat aja. Belum apa-apa, aku udah ditagih buat pertemuan keluarga besar. Katanya dua bulan lagi itu enggak lama.” Wibi menarik napas panjang dan menghelanya. Dua tangannya mengusap tangan kiri Tini yang berada di atas perutnya.


Sedangkan Tini, menumpukan dagunya di sandaran jok dekat bahu Wibi. Suara Wibi sangat merdu di telinganya. Semua hal yang diucapkan pria itu adalah tentang mereka. Rencana-rencana Wibi untuk hidup mereka.


“Karena kita berjauhan ... semua-semuanya pakai transfer aja, nggak apa-apa, kan, Tin?” tanya Wibi, menggeser duduknya dan menatap wajah Tini yang berjarak dua sentimeter dari hidungnya.


“Enggak apa-apa, Mas.” Tini sedikit gelagapan karena tiba-tiba jarak Wibi sudah begitu dekat. Ia khawatir tak wangi, tak cantik, dan khawatir kalau Wibi melihat bruntusan kecil-kecil di pipinya. Walaupun tak banyak, tapi itu cukup membuatnya minder.


Wibi memutar tubuhnya. Menarik lengan Tini semakin mendekat dan mencium bibir wanita itu. Sepertinya semakin sering berciuman dengan Tini, membuat kegiatan itu semakin dirindukannya.


Mereka saling mencondongkan tubuh. Berciuman dari pembatas jok depan dan belakang. Wibi mengusap lengan Tini dengan lembut. Membawa lengan itu naik ke lehernya dan berdiam di sana sejenak. Ciuman pagi menjelang siang itu cukup lama.


Wibi sengaja tak memejamkan matanya terlalu lama. Ia tahu kalau Tini pasti terhanyut. Setidaknya, salah satu di antara mereka harus tetap sadar untuk melihat keadaan. Mencuri ciuman di sela waktu padat bersama keluarga, ternyata merupakan tantangan tersendiri.


Wibisono melepaskan ciuman mereka. Saat matanya menangkap sosok Pak Joko keluar dari pintu kaca bank. Wibi menyempatkan diri kembali menyodorkan pipinya, demi meminta satu ciuman bonus.


Perjalanan hari itu terasa melegakan hati semua anggota keluarga Tini. Pak Joko lega karena sekarang memegang uang tunai yang rencananya akan dia pergunakan untuk membeli cat, papan dan triplek untuk memperbaiki kamar-kamar di rumah. Di ruang tunggu tadi, pria itu sudah mengatakan rencananya pada Evi dan Dayat.


Wibisono menghabiskan satu malam terakhir di rumah Tini. Hari itu Wibi memaksa Tini untuk tidak memasak. Ia membawa keluarga calon istrinya makan di sebuah restoran besar di pusat kota.


Malam hari saat Tini sedang berada di dapur menyiapkan bumbu nasi goreng untuk esok pagi, Wibisono datang menemuinya.


“Udah selesai? Aku mau nanya sesuatu,” kata Wibi.


“Udah—udah,” sahut Tini, menyimpan mangkok kecil berisi bumbu ke dalam kulkas. “Apa itu, Mas? Aku kok deg-degan. Mas nggak mau bilang yang macem-macem, kan? Aku khawatir Mas Wibi berubah pikiran setelah liat keluargaku,” kata Tini dengan wajah yang memang menunjukkan kekhawatiran.


“Kamu, kok, ngomong gitu, Tin? Aku udah 36 tahun. Ayo, kita ngomong di belakang. Dayat nonton tv, Bapak di kamar, Evi juga di kamar. Dan Puput kayanya udah tidur,” beber Wibisono selengkap-lengkapnya soal semua anggota keluarga di rumah itu.


Walau Tini tuan rumah di sana, tapi kali itu Wibisono yang menuntun Tini ke belakang. Menarik dingklik kecil dan potongan kayu sebagai alas mereka duduk. Punggung mereka menyandari dinding luar dapur sebelah kanan.


“Mas, mau ngomong apa?” tanya Tini tak sabar. Ia memiringkan tubuhnya memegang lutut Wibi yang menekuk di sebelahnya.


“Aku mau nanya. Kamu mau minta apa sebagai mas kawin?” Wibi melingkarkan tangannya di sekeliling bahu Tini.


“Ha? Mas kawin? Aku nggak ada mikir macem-macem, Mas. Aku mikirnya kawin aja,” kata Tini. “Eh, maksudnya, aku mikir nikah aja. Enggak macem-macem.” Tini memperbaiki ucapannya.


“Kamu minta apa aja, selama aku sanggup, aku kasi. Untuk rumah di Jakarta, aku beli pakai uang sendiri. Usaha travelku udah lebih dari sepuluh tahun. Modalku untuk menikahi seorang perempuan, sudah cukup. Meski nggak berlebihan, aku ada, Tin. Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak. Kamu mau minta apa?” tanya Wibisono lagi.


Tini berpikir-pikir. Apa yang paling diinginkannya selama ini. Bukit di belakang rumah Coki yang letaknya persis di belakang rumah tetangga depannya? Tanah yang melandai sampai ke belakang ruko di tepi jalan. Dengar-dengar harga permeternya belum naik, tapi itu bisa ratusan juta. Sekitar … empat ratus juta? Lima ratus juta? Menikahinya Wibi harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk mas kawin? Tini menggeleng. Dia harus tahu diri.


“Terserah Mas aja. Sesanggupnya Mas Wibi. Aku terima apa aja. Mas Wibi udah menerimaku apa adanya, aku udah bersyukur.” Tini memeluk lutut calon suaminya di bawah cahaya bohlam kuning lima watt. Ia menumpukan dagunya di puncak lutut Wibi dan tersenyum tulus memandang pria itu.


“Apa aja?” tanya Wibi memastikan.


“Apa aja, Mas. Apa aja aku terima.”


To Be Continued