TINI SUKETI

TINI SUKETI
129. Hidup Tini Sekarang



“Jadi, sore nanti aku nunggu Mas jemput?” tanya Tini, mengeluarkan selembar kemeja dan jeans milik Wibi dari dalam lemari. Ia lalu berdiri di belakang Wibi seakan menunggu sesuatu.


“Iya. Berangkatnya sama-sama. Cuma ke kos-kosan aja, kan? Enggak ada ke mana-mana lagi?” Wibi melepaskan handuk dan meraih selembar pakaian dalam.


Tini berdiri memandangi bagian belakang tubuh Wibi tanpa menjawab. Pertanyaan Wibi lewat begitu saja di telinganya.


“Tin …?” Wibi menoleh ke belakang. “Aku kira kamu diem kenapa,” ucap Wibi, melihat ke mana arah pandangan istrinya.


“Menikmati keindahan pemandangan sebuah pernikahan, Mas.” Tini tertawa. Wibi juga ikut tertawa mendengar jawaban itu. “Berangkat jam berapa?” tanya Tini, duduk di tepi ranjang masih memandangi suaminya.


“Hmmm ….” Wibi menoleh ke jam dinding. “Kalau ikut aku ke kantor baru dulu, gimana? Terus kita makan siang bareng dan abis makan siang aku anter ke kos-kosan. Sementara kamu ketemu temen kamu dan beres-beres barang, aku ada janji sama biro jasa yang biasa ngurus visa. Kalau gitu aja, gimana?” Wibi mengambil kemeja yang disodorkan Tini padanya.


“Apa aja dan ke mana aja, Mas. Aku mau,” sahut Tini. Wibi mencubit pelan pipi Tini seraya tersenyum.


“Aku ke rumah Dijah sebentar, ya. Mau ngajakin dia ketemuan di kandang ayam. Biar rame, Mas.” Mata Tini berbinar-binar mengatakan hal itu.


Wibisono mengangguk. “Iya. Boleh. Aku siapin berkas-berkas yang mau aku bawa nanti,” jawab Wibi.


“Kalau gitu aku pergi sebentar,” ucap Tini, memeluk punggung Wibi kemudian berlari keluar kamar.


Mereka sudah selesai sarapan. Pagi tadi, Tini membuat nasi goreng dan telur dadar. Wibi sudah kenyang, sudah mandi dan sedang bersiap-siap ke kantor barunya.


Sekarang untuk mengajak Dijah datang ke kandang ayam tak perlu repot mengirimkan pesan dan bersabar menunggu Dijah membalasnya. Ia bisa langsung berjinjit di pagar Dijah dan memencet bel berkali-kali untuk menganggu temannya itu.


Lima menit saja, Tini sudah tiba di depan pagar rumah Dijah. Tangannya meraba bel dan menekannya berkali-kali. Ia berjinjit tapi tak bisa melihat ke dalam pagar karena mengenakan sandal jepit. Ia ingin memastikan apakah Bara sudah berangkat kerja atau belum. Pagi itu dia berniat merayu Dijah agar sore nanti, temannya itu bisa ikut datang ke kos-kosan kandang ayam.


“Diiijaaah,” seru Tini, memanggil karena belnya belum direspon. “Diiii—”


“Heh! Aku udah denger,” kata Dijah, buru-buru mendekati pagar sambil menggendong Mima yang wajahnya belepotan bedak.


“Muka Mima memang begini modelan pakai bedaknya?” tanya Tini, memandang wajah Mima.


“Ya, ini karena teriakan Budhe Tini,” kata Dijah, mengusap wajah Mima demi merapikan bedak di wajah balita itu.


“Jah, siang nanti aku mau ke kos-kosan. Kamu enggak ikut ke sana? Kamu datengnya sore aja, enggak apa-apa. Boy sama Asti juga baru pulang sore. Aku udah kabari mereka. Siang ini aku beresin barang. Sorenya kita santai,” ajak Tini dengan suara berbisik.


“Kamu nggak masuk?” tanya Dijah saat pintu pagar sudah terbuka.


“Enggak usah. Aku sebentar aja. Mas-mu belum berangkat kerja, kan? Itu motor dan mobilnya masih ada,” kata Tini, menunjuk ke dalam pagar dengan mulutnya.


“Iya, baru selesai mandi. Sebentar lagi juga berangkat. Nanti aku ngomong sama Mas-ku dulu.”


“Iya, ngomong sana. Nanti bilang aja perginya naik taksi, pulangnya minta jemput sekalian. Biar Mas-mu kerja bawa mobil. Enggak naik motor nungging itu,” saran Tini.


“Ehem! Budhe …. Boleh juga sarannya, yaaa. Pagi-pagi udah ngatur strategi,” seru Bara dari pintu dapur yang berbatasan langsung dengan carport.


“Hahaha ….” Tini tertawa karena terkejut. “Yo uwis, Jah. Aku pulang dulu. Karena Mas-mu udah denger, kamu nggak perlu repot-repot ngomong.” Tini setengah berbisik, lalu tertawa.


Menjelang pukul sembilan, Tini ikut pergi bersama suaminya. Dia masih memanfaatkan dua hari sisa izin yang didapatnya dari kantor dengan memanfaatkan jatah cuti tahunan berikutnya.


“Kamu, kan, belum pernah ngeliat kantor aku yang baru. Sekalian aku kenali ke karyawan. Karyawannya belum banyak, karena kantor ini sudah beroperasi untuk ngurus permohonan visa dari konsumen di Surabaya. Sekalian dikit-dikit jual paket tour yang kita punya,” jelas Wibi dalam perjalanan.


Tini mengangguk. Mau diperkenalkan pada para karyawan saja, sudah membuat hatinya hangat. Ditambah penyisipan kata ‘kita’ membuat Tini menoleh pada Wibisono dengan tatapan sendu.


Sekian lama tak pernah bertanya soal nama tour travel milik Wibi, pagi itu Tini menatap satu buah ruko yang terletak di barisan tower perkantoran. Nama kantor itu adalah W Tour&Travel.



Saat Tini masuk, hanya ada tiga orang di kantor itu. Seorang laki-laki dan dua orang perempuan.


“Pagi …,” sapa Wibi.


Tiga orang yang sedang melakukan aktifitas berbeda pun sontak mendongak dan menatap pintu.


“Pagi, Pak,” sahut tiga orang di sana nyaris bersamaan.


“Semuanya …. Perkenalkan ini istri saya. Kemarin sewaktu resepsi pasti sudah ketemu saat istri saya dalam busana putri keraton. Nah, hari ini saya kenalin lagi,” kata Wibi. Tini tersenyum malu-malu sambil memeluk lengan suaminya.


Perkenalan pagi itu pun berlangsung hangat dan dibanjiri basa-basi soal tinggal di mana, dan moda transportasi apa yang digunakan masing-masing karyawan mencapai kantor.


Wibi menggandeng Tini ke kantornya di lantai dua seusai sesi perkenalan itu berakhir.


“Kalau sedang di Jakarta, kantor suamimu di sini, ya, Tin. Kalau aku ke Surabaya, itu artinya aku punya urusan yang nggak bisa diwakilkan. Karena aku berusaha bolak-balik seminimal mungkin. Bukan cuma karena aku nggak mau sering-sering ninggalin kamu, tapi karena capek. Udah tua." Wibi tertawa.


Tini duduk diam mencermati perkataan suaminya. Pandangannya menatap berkeliling ruang kantor sederhana yang merupakan rumah kedua suaminya.


“Jadi semuanya dua cabang, ya, Mas?” tanya Tini. Wibi sudah duduk di kursinya, mengeluarkan kertas-kertas dari dalam tas yang dibawa dari rumah.


“Iya. Punya kita dua cabang, Tin. Tapi kita juga punya banyak travel-travel kecil yang kerja sama dengan kita. Makanya … kalau kamu nanti udah capek kerja di Cahaya Mas—” Wibi menggenggam tangan Tini, lalu melanjutkan “kamu bisa bantu aku di sini. Tapi untuk sekarang kamu santai aja. Kamu sedang di puncak semangat-semangatnya kerja. Aku nggak mau ganggu soal itu. Karena … aku tau rasanya saat sedang semangat dan produktif.”


Siang itu Wibi mengajak Tini makan siang di restoran yang terletak di gedung yang sama.


“Abis makan siang, langsung aku anter ke kos-kosan, ya. Barang yang mau dibawa banyak?” tanya Wibi seusai makan siang. Mereka sedang menunggu pelayan membawakan tagihan ke meja mereka.


“Enggak, Mas. Aku mau bagi-bagikan ke temen yang perlu. Kayak magic com Dijah yang aku warisi, aku mau wariskan ke Asti. Biar Asti nular jadi pengantin juga," jelas Tini, menggaruk-garuk lengan Wibi, lalu bersandar manja.


“Oh, biar nular harus diwarisi magic com?” Wibi terkekeh.


Tini mengangguk. “Magic com Dijah udah terbukti khasiatnya, Mas.”


To Be Continued