TINI SUKETI

TINI SUKETI
44. Efek Puasa Rokok (2)



Walau tak mengerti dengan apa yang dimaksud Tini, Dwi mengikuti perintah seniornya.


Setelah memastikan Dwi dan gadis pelamar itu masuk ke dalam, Tini merendahkan suaranya berbicara pada Mira. “Mbak liat gadis tadi?” tanya Tini dengan raut serius.


Mira mengangguk. “Memangnya kenapa?” tanyanya, menatap Tini ragu-ragu.


“Wanita itu tadi calon istrinya Pak Agus,” kata Tini setengah berbisik.


“Yang mana? Yang tadi?” Mira menunjuk ke arah pintu dengan pandangan tak percaya.


Tini mengangguk. “Itu calon istrinya. Dijodohin sama ibunya. Gadis itu nggak mau. Tapi Pak Agus pendekatannya gencar. Demi membahagiakan hati ibunya,” tukas Tini. Persetan dengan Agus nanti, pikirnya. Urusan seorang mantan pacar yang sudah jadi janda dan kembali mencari Agus terasa membuat hatinya tak nyaman.


Mungkin orang akan mengatakan ia dengki. Tapi ia memang tak rela Agus hanya dijadikan sebagai tempat kembali. Batinnya berperang. Dijah juga seorang janda, pikirnya. Tapi Dijah beda. Dijah beda pokoknya. Berkali-kali Tini menegaskan pada dirinya kalau ia melakukan hal itu bukan karena menyukai atau menginginkan Agus. Ia hanya ingin Agus mendapat seseorang yang lebih baik dari sekedar mantan pacar yang mengajak kembali.


“Saya boleh minta nomor kontaknya?” tanya Mira.


“Besok aja balik ke sini lagi. Saya nggak berani ngasi nomornya sekarang,” kata Tini akhirnya.


Entah apa yang terjadi esok hari, Tini tak mau terlalu memikirkannya. Besok ia bisa berkelit soal salah bicara. Walau dengan wajah penuh keraguan, siang itu Mira meninggalkan kantor Agus dengan menumpangi sebuah taksi.


Acara makan siang memanfaatkan kupon gratisan lenyap seketika. Ia kembali masuk ke dalam menemui Dwi dan gadis yang baru saja dibawa masuk oleh bawahannya. Kantor Agus itu hanya terdiri dari dua bangunan ruko tiga tingkat yang disatukan. Tini tahu kalau Agus bekerja giat siang-malam untuk perusahaannya itu. Itu pula sebabnya Agus sampai terlambat menikah. Tini tak percaya Agus belum menikah karena wanita yang baru saja pergi meninggalkan kantor itu.


“Nama kamu siapa?” tanya Tini pada gadis yang sedang duduk di kursi seberang mejanya.


“Ayu, Mbak,” jawab gadis itu.


“Nama lengkapnya?”


“Parasayu,” jawab gadis itu.


“Oh,” gumam Tini. Seketika dia merasa beruntung kalau orang tuanya tidak senarsis itu saat memberinya nama. Hidupnya dengan menyandang nama Tini sudah cukup sulit. Bagaimana kalau orang tuanya memberi nama ‘Parasayu’ tapi kenyataannya jauh dari harapan. Tini menghela napas.


“Kamu ngelamar kerja, kan?” tanya Tini, mengulurkan tangannya meminta amplop cokelat dari tangan Ayu.


Ayu menyerahkan amplop itu. Tini mengambil dan tak membukanya.


“Kamu udah punya pacar?” tanya Tini, menatap Ayu..


Ayu menggeleng. “Belum, Mbak.”


“Oke, kamu diterima. Besok mulai bekerja masuk pukul 08.00 pagi. Hari ini pergi ikut makan siang sama Mbak Dwi yang ini. Kamu masuk di tim saya mulai besok.” Tini mengibaskan amplop cokelat di tangannya mengusir Dwi dan Ayu.


“Boleh. Pergi makan sekarang. Ajak temen baru kamu. Selera makanku bener-bener menguap,” kata Tini. “Jangan lupa telepon Bowo dan Surat, kalau berani kelayapan di luar kantor sesudah urusan dengan nasabah selesai, jangan lupa beli asuransi jiwa untuk diri sendiri.” Tini kembali mengibaskan tangannya.


“Baik, Mbak,” sahut Dwi, tertawa kemudian meraih ponsel untuk mengirimkan pesan peringatan pada kedua temannya.


Seperginya Dwi dan Ayu, Tini kembali melamun di mejanya. Tidak meroko membuat isi kepalanya terasa amburadul. Mengusir mantan Agus yang jelas-jelas bukan haknya. Ia hanya kesal. Titik. Itu saja, pikirnya.


Sedang asyik membela diri, Tini dikejutkan dengan getar ponsel di sakunya. Saat ia lihat, nama Wibisono terpampang di layarnya.


Wajah Tini biasa saja melihat nama Wibisono. Hanya urusan pekerjaan dan ia tak boleh terlalu larut dalam perasaan seperti pesan Boy dan Asti padanya.


“Ya, halo? Dengan Tini Su—”


“Iya—iya, tau. Dengan Mbak Tini Su agen asuransi dunia beserta isinya, kan?” Terdengar suara tawa renyah Wibi di seberang telepon.


Tini semakin lemas. “Ada apa, Mas? Sore ini nggak jadi, ya?” Tini benar-benar menyiapkan hatinya untuk itu. Pria yang menelepon di waktu yang sangat awal di waktu janji temu yang sebenarnya, berkemungkinan besar pasti membatalkan janji, atau memundurkan waktunya.


“Mbak Tini lagi di mana?” tanya Wibi.


“Kenapa?” tanya Tini, membenarkan letak duduknya dengan gelisah.


“Kita, kan, janji ketemunya sore. Tapi aku sekarang lagi ada di deket kantor Mbak Tini. Gimana kalo kita ketemuan lebih awal? Aku tadi baru aja dipinjemi mobil sama Heru. Dianya sibuk, aku diminta jalan-jalan sendiri dulu,” kata Wibi tertawa.


“Kebetulan lagi ada di sekitar kantorku?” ulang Tini meyakinkan dirinya.


“Iya, kebetulan aja. Jadi … ketimbang terlalu sore. Gimana kalo sekarang aja. Itu juga kalo Mbak Tini nggak terlalu sibuk.” Wibi kembali tertawa.


“Oh,” ucap Tini dengan anggun. “Sebenarnya ada pekerjaan sedikit lagi. Tapi kalau Mas Wibi udah di deket sini, apa boleh buat? Kasian kalau jalan sendirian di kota orang. Mas Wibi, kan, pendatang. Hihihi.” Tini tertawa membekap mulutnya.


“Oke, lima menit lagi aku nyampe di depan kantor, ya.”


Setelah berbasa-basi singkat menutup telepon. Tini memandang ponselnya dengan mata membelalak.


“Oh, my God! Sedang kebetulan lagi ada di sekitar sini? Babak sandiwara usang mana yang kamu mainkan, Mas? Aku udah hapal tiap adegannya. Langit bumi bersaksi, hari ini untuk kali pertama Tini Suketi menerima modus dari seorang pria bercambang.” Tini tertawa terkekeh sendirian.


To Be Continued


Jangan lupa dilike juga ya.


Yang rajin ngelike karya penulis di novel mana pun, njuas doain gak akan naik berat badan meski makan dua piring nasi dan langsung tidur.