TINI SUKETI

TINI SUKETI
40. Minggu Pagi



Belakangan, Tini, Mak Robin, Asti dan Boy sangat jarang bisa berkumpul bersama di sore hari. Sejak Asti berpacaran dengan Bayu, gadis itu pasti akan keluar bersama kekasihnya hampir di setiap Sabtu dan Minggu sore. Malah kadang-kadang dari Sabtu pagi Asti sibuk dengan kegiatan kantor.


Kegiatan karyawan The Term cukup banyak. Rata-rata semuanya dipenuhi dengan kegiatan olahraga. Terkadang Asti pergi dari kos-kosan membawa raket. Terkadang gadis itu memeluk bola voli. Sampai suatu kali Tini berpapasan dengan Asti di kamar mandi, saat langit masih gelap dan hari itu adalah hari Minggu.


“Udah bangun kamu jam segini? Mau ke mana lagi?” tanya Tini dengan wajah yang masih sangat mengantuk.


“Untuk pertanyaan pertama kayaknya lebih cocok kalo aku yang nanya. Mbak Tini, kok, bangun jam segini?” Asti balik bertanya.


“Kebelet pipis aku,” sahut Tini, menguap selebar-lebarnya. “Kamu mau ke mana?” ulang Tini.


“Hari ini kantorku ada pertandingan bola basket antar divisi. Mas Bayu ikutan,” jawab Asti.


“Dua minggu yang lalu bulu tangkis, seminggu yang lalu bola voli. Minggu ini bola basket. Udah kayak atlet olimpiade aja.” Tini menggeleng kecil, kemudian berlalu dari depan pintu kamar mandi. Asti yang memang akan langsung berangkat menjajari langkah kaki Tini.


“Sore ini ke mana?” tanya Asti pada Tini.


“Enggak ada. Aku nggak punya pacar yang bawa aku keliling-keliling naik motor dan nonton ke bioskop. Aku mau nemenin Mak Robin aja. Mau meresapi arti kesendirian,” cetus Tini.


“Nanti sore aku nggak pergi ke mana-mana. Kita ngerujak, yuk. Mas Boy dan Dara juga nggak ke mana-mana.” Asti menggandeng lengan Tini. Mengatasi rasa bersalahnya pada sahabat-sahabatnya di kos-kosan.


“Apa urusannya Boy sama Dara? Sejak ada temen baru, Boy sekarang melupakan duet-duet kami di malam panjang. Benci aku,” kata Tini.


“Dara itu bantu Mas Boy di outlet yang baru. Dia masih kuliah. Lebih muda dari aku. Biarin aja, siapa tau jodoh sama Mas Boy,” ujar Asti di depan pintu kamar Tini.


“Apa iya bisa jodoh? Kayaknya mereka ketuker gitu. Boy yang gadis, Dara perjaka. Mereka kayak ketuker daerah pembengkakan,” ucap Tini berpikir-pikir. “Namanya juga ketuker kayaknya,” sambung Tini lagi.


“Biarin aja. Bukannya bisa saling melengkapi?” Asti tertawa kecil. “Aku berangkat dulu, ya. Pokoknya nanti sore jangan ke mana-mana. Bilang juga ke Mak Robin. Jangan ke luar negeri naik motor.” Asti melambai dan berjalan menuju pagar.


Pagi itu, Tini berniat kembali melanjutkan tidurnya, tapi apalah daya suara dari kamar Mak Robin membuatnya masih terjaga sampai langit terang. Alhasil, dia menelungkup di ranjang dan kembali membuka-buka salinan berkas yang diberinya pada Wibi kemarin.


“Bersinkan dulu rembes* kau ke kamar mandi. Nanti kusuruh mandi jam segini, rugi kali kau rasa.” Mak Robin sudah jelas sedang mengomeli anaknya.


(*rembes : ludah kering di pipi)


Soal Dara yang tinggal mengisi kamar bekas Dijah, Tini sebenarnya tak ada perasaan khusus soal tak menyukai gadis itu. Tini merasa sejak kehadiran Dara di antara mereka, lagi-lagi ia kehilangan teman. Boy dinilainya terlalu cepat akrab dengan Dara. Ia merasa tersingkir. Tapi Mak Robin mengatakan itu semua hanya perasaannya saja.


Tini menyebut Dara adalah ratu mengeluh. Gadis itu selalu bisa menemukan hal untuk dikeluhkan. Banyak nyamuk, berisik, bantal yang kurang enak, bekas luka gigitan nyamuk yang tidak hilang, pagar kos-kosan yang letaknya miring, pohon jambu yang jarang berbuah, hutan Indonesia yang mulai berkurang, komodo yang terancam punah, Kutub Utara yang perlahan mencair karena pemanasan global, sampai mengeluhkan bensin yang mahal di Papua.


Dan Asti mulai ikut-ikutan meniru Dara. Mas Bayu yang terlambat jemput, Bayu yang kurang mahir pakai sumpit, Bayu yang tidur sulit dibangunkan, Bayu yang kadang keseringan nongkrong dengan temannya. Tini kesal. Suatu hari Asti tertimpa sial karena acara mengeluh bersama Dara harus bubar karena Tini pulang cepat dari kantor.


“Entah, ya, Ra. Aku ngerasa kadang-kadang bukan prioritas buat Mas Bayu. Kalo dia udah nongkrong dengan temennya, pasti lupa nelfon dan ngasi kabar.” Keluhan Asti yang terdengar oleh Tini.


Tini yang sedang berada di kamar, segera bangkit dan berdiri di ambang pintu.


“Heh, Asti! Memangnya kamu mau setiap jam, setiap saat ditunggui terus sama si Bayu? Itu pacaran atau jagain lilin ngepet? Dapet pacar baik, tapi ada aja yang dikeluhkan. Nanti dapet tipe kayak Gatot setan, bisa-bisa kamu bingung mau ngeluh mulai dari mana.” Tini masuk menutup pintu kamarnya.


Asti dan Dara terdiam di teras. Sejak saat itu Asti tak berani mengeluhkan apa-apa lagi soal apa pun.


Mak Robin dan Tini adalah makhluk kos-kosan yang tersisa dari siang hingga sore hari itu. Dijah yang dihubungi untuk ikut acara ngemil sore, ternyata tak bisa ikut hadir. Dijah sekeluarga pergi menghadiri pernikahan anak sepupu ibunya Bara.


Setiap keluar kamar, Tini selalu bertemu pandang dengan Mak Robin. Mereka saling melemparkan tatapan bosan.


“Aku mau duduk di luar. Sekarang kau ajalah yang masuk. Bosan kali aku nengok kau seharian,” kata Mak Robin.


“Ya, podo. Me too. Aku juga. Ya, udah. Aku masuk dulu. Setengah jam lagi kamu yang masuk, aku keluar. Jadi kita nggak bosen kalo mesti ketemu sore nanti.” Tini kembali masuk menutup pintu kamarnya.


Sore yang dinanti-nantikan itu pun akhirnya tiba. Asti tiba di kos-kosan pukul empat sore dengan dua bungkusan di tangannya. Selang sepuluh menit, Boy muncul bersama Dara membawa paper bag yang bisa dipastikan berisi roti bakar SEEMPUK SETUMPUK. Sumbangan Boy tak jauh-jauh dari soal rotinya. Penghuni lantai satu sudah nyaris menderita ke'roti'an karena Boy tak pandang waktu memberikan rotinya.


Mau pagi siang sore atau malam hari, buah tangan Boy selalu produk rotinya. Alasan Boy katanya dia harus memaksimalkan penggunaan produk dagangannya.


“Sini—sini bawa ke sini semua makanan yang ada di tangan kelen. Tengok-tengokan sama si Tini setengah hari ini ternyata gak kenyang,” seru Mak Robin dari kursi plastik singgasananya.


Boy dan Asti menarik kursi menghadap jendela kamar Mak Robin. Tini sudah duduk sejak tadi. Rambutnya sudah basah dan disisir lurus.


“Aku duduk di mana?” tanya Dara, berdiri memandang kursi-kursi yang sudah ditempati. Dua kursi kosong tertumpuk di dekat jendela Tini.


“Duduk di mana, ya? Ayo cepet cari. Bisa kacau hidup kamu kalau nggak ketemu kursi.” Tini menyahuti pertanyaan Dara dengan wajah sangat serius.


Dara cemberut, tapi kemudian pergi mengambil satu kursi di dekat jendela Tini. Gadis itu memegang kursinya dan masih berdiri berpikir di mana dia akan meletakkan kursi itu.


“Aku taruh di mana ini?” tanya Dara lagi.


“Di tengah halaman sana lebih luas. Pemandangannya lebih bagus. Keliatan dari berbagai enggel (angle/sudut). Itu saranku,” jawab Tini lagi.


To Be Continued


Yang like bab ini saya doakan diberi kesehatan dan kebahagiaan berlimpah. Panjang umur serta dicukupkan semuanya.


scroll ke bawah lagi ....