
Saat Dayat tengah berdiri di depan meja keluarga Santoso, seorang pria baru saja naik ke pelaminan. Pria itu memiliki tinggi yang sama dengan Wibisono. Bentuk tubuhnya pun nyaris sama berisi dan tegapnya. Namun, meski memiliki kesamaan hingga ke cambang yang merambat di kedua sisi para pria itu, antara tamu yang baru saja naik dan Wibisono, memiliki perbedaan yang sangat kontras. Wibisono tampan dan gagah dengan wajah lokalnya, sedangkan Jono yang baru hadir, tampan khas timur tengahnya.
Jono hadir siang menjelang sore itu ditemani oleh tiga rekan kerja yang katanya mau jalan-jalan ke Yogyakarta. Mereka semua menyinggahi resepsi Tini dan ikut duduk menikmati sajian.
“Tini, congratulation. Selamat.” Jono menjabat tangan Wibi dan Tini dengan senyum tulus.
Tini sedikit terkejut dengan kehadiran Jono yang ia kira datang ke sana sendirian. Ia hampir saja mengira kalau Jono masih tergila-gila padanya. Untung saja Jono cepat-cepat melanjutkan ucapannya, “Selama dua tahun bertugas di Jakarta, aku tidak pernah jalan-jalan ke Yogyakarta. So … Before returning to my country, I'd like to visit that city. (Sebelum kembali ke negaraku, aku ingin mengunjungi kota itu.)”
Tini meminta fotografer resepsi untuk memotret mereka semua. Entah kapan lagi Tini bisa bertemu dengan pria asing baik hati itu. Baginya, berkenalan dengan Jono turut menambah wawasannya soal mendapatkan kepercayaan dari calon klien. Sedikit banyak Jono mengajarkannya soal kesabaran membujuk klien.
Ketika Jono turun dari pelaminan, pria itu sempat berpapasan dengan Evi. Gadis itu mengernyit dan kembali mendekati Tini untuk meminta penjelasan soal siapa pria asing yang baru naik.
“Ada apa lagi?” tanya Tini yang sudah menebak apa yang akan ditanyakan Evi.
“Kamu udah tau aku bakal nanya apa, tapi masih nanya. Harusnya langsung jawab,” kata Evi.
“Aku, kan, kayak ibu-ibu. Meski udah tau itu apa, tapi tetep harus nanya ‘Ini apa?’. Enggak afdol kalau nggak ngucapin itu dulu.” Tini terkikik.
“Jadi, itu siapa?”
“Itu Jhon Omaar. General Manager hotel JM. Warriot. Bule Amrik-Arab. Dia pernah deketin aku. Kenapa? Kamu suka yang blasteran?” tanya Tini seraya terkekeh.
“Pasti berbulu di mana-mana. Kayaknya aku lebih suka yang licin kayak gitu,” ujar Evi, memandang ke meja Dean.
“Boleh cari yang begitu, tapi jangan yang itu. Itu dijadikan contoh aja. Tapi kamu yakin nggak bakal repot sama yang begitu? Aku ngeliatnya aja udah capek. Kebayang aku tidur siang nggak bisa sambil pake bedak dingin,” bisik Tini, memandang Dean.
“Tidur sama suamimu juga jangan pake bedak dingin, Mbak. Cukup kami aja yang ngeliat rupamu bangun tidur siang pake bedak dingin.” Evi menggeleng tak setuju.
“Udah—udah, sana turun. Kamu ganggu percakapan dengan suamiku aja. Aku sedang manja-manjaan.”
“Aku nanya karena ibu-ibu di bawah pada sibuk nanyain aku. Aku harus mengantongi informasi yang cukup untuk menjawab semua pertanyaan mereka. Bule Amrik-Arab. Oke, aku ngerti.”
Usai mendengar keterangan soal siapa Jono, Evi kembali turun dari pelaminan. Di deretan meja depan, Tini melayangkan pandangannya seraya mencibir pada Dayat. Adiknya terlihat menyunggingkan senyum satu sisi yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Itu adalah khas Dayat tiap melihat gadis cantik dan ingin mengajaknya berkenalan.
“Itu mantan bos kamu juga?” tanya Wibi sesaat setelah Evi turun.
“Klien nasabah asuransi, Mas. Ngambil produk tambahan untuk karyawan hotelnya. Orangnya baik. Masa tugasnya di Indonesia sudah habis dan dia mau balik ke Dubai, katanya.”
Wibisono mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan istrinya.
“Kamu lagi ngeliatin siapa?” Wibisono ikut memandang ke mana Tini sedang menatap. “Oh … Dayat.” Wibisono tertawa kecil.
“Iya, ngeliat Dayat. Liat itu gayanya. Kemarin katanya mau fokus kuliah dan mutusin cewek-cewek di sini. Sekarang udah mepetin tamu. Mata keranjang dan nggak konsisten,” gerutu Tini.
“Biarin aja. Dayat sedang mencari jati diri,” ujar Wibisono.
“Mencari Puput yang hilang aja dia males, apalagi mencari jati diri.” Tini masih memandang adiknya.
Wibisono kembali tergelak mendengar jawaban Tini yang selalu berbeda dengan wanita-wanita yang dikenalnya selama ini.
Asih yang baru mendapat gombalan pertama dalam hidupnya, hanya diam. Musdalifah, istri Santoso terlihat mencibir. Ia sudah hafal bentukan pria-pria sejenis Dayat. Meski tak suka mengakui, akhirnya dia dipersunting oleh pria semacam itu.
“Hampir dua puluh tahun,” jawab Dayat.
“Kamu panggil Asih ini dengan sebutan Mbak aja. Asih udah dua puluh satu. Dia cocoknya sama yang lebih dewasa,” kata Musdalifah.
“Siapa bilang usia menjadi patokan dalam kebahagiaan hubungan? Pada dasarnya wanita bukan membutuhkan pria tua, tapi pria yang dewasa pemikirannya. Asih boleh mempertimbangkan,” kata Dayat kembali tersenyum.
Santoso terkekeh-kekeh senang. Ia lalu melirik ke meja sebelah tempat di mana Dean sedang duduk dan baru selesai menikmati hidangan.
“Ayo, saya kenalin ke Pak Dean. Sekarang belum waktunya kamu ngecengin cewe. Belum ada modal,” kata Santoso pada Dayat.
“Aku nganggap wajahku ini sebagai modal awal, Pak San.” Dayat menunjuk wajahnya.
“Bolehlah, tapi itu belum banyak. Jangan ngomong kaya gitu di depan Pak De. Nanti kamu bakal denger jawaban yang paling benar tapi nggak enak.” Santoso berdiri dari kursi dan berjalan ke meja sebelahnya.
“Pak, ini adiknya Mbak Suketi yang saya ceritakan kemarin. Namanya Hidayat,” ucap Santoso pada Dean.
“Hmmm, Dayat.” Dean menyambut uluran tangan Dayat padanya. “Adiknya Suketi, ya?” tanya Dean, memandang Dayat lekat-lekat dengan teliti.
“Benar, Pak.” Dayat mengangguk dengan elegan.
“Kandung?” tanya Dean lagi.
“Saya meyakini kami bersaudara kandung. Tapi karena rupa kami sedikit berbeda, saya nggak heran kalau banyak orang meragukan soal itu. Saya anak laki-laki satu-satunya dan kebetulan anak bungsu. Jelas saya yang paling ganteng di rumah.”
“Oh, bukan soal itu. Kalimat saya belum selesai. Kalau saudara kandung, ya cocok sekali. Malah saya heran kenapa orang banyak meragukan soal itu. Entah kenapa, kamu memang mirip Suketi,” sambung Dean.
“Tuh, kan. Apa saya bilang … kamu jangan ngomong gitu dulu.” Santoso tertawa. Mendengar perkataan Dean dan Santoso, Dayat ikut-ikutan tertawa demi menyamakan suasana di antara mereka.
Dean bertukar pandang dengan istrinya. Winarsih seperti akan mengatakan sesuatu dan Dean langsung menunduk dan meletakkan telinganya di depan bibir sang istri.
“Mas, jangan jahil. Kasian. Dia masih remaja,” bisik Winarsih.
Mendengar perkataan itu, Dean gantian berbisik di telinga istrinya. “Dia ini punya potensi jadi pengacara hebat. Kalau dia selesai kuliah dengan nilai memuaskan, aku jamin bakal terima dia di Danawira’s. Sekarang kami cuma sedang menguatkan mentalnya,” ucap Dean, melempar terkekeh-kekeh. Winarsih mencibir mendengar jawaban suaminya.
Candaan-candaan itu ternyata membuat Dean beradu pandang dengan seorang pria di meja yang letaknya sejajar. Alis Dean mengernyit berusaha mengingat. Pria itu terlihat berbisik dengan pria di sebelahnya. Tak lama, pria yang beradu pandang dengan Dean itu berdiri dan berjalan beberapa langkah menghampirinya.
“Kita pernah ketemu, kan? Kalo nggak salah di Beer Garden,” ucap Bara tersenyum pada Dean.
“Iya—iya, kita pernah ketemu. Beer Garden.” Dean mengernyit dan samar-samar mulai mengingat. Saat matanya berbinar menandakan ingatan itu sudah jelas, pria di depannya kembali berusaha menyegarkan ingatan.
“Kita duduk sebelahan meja sewaktu ada …. Ada insiden ‘Uuuuuuu’ Mas bareng temen-temen juga. Bener, kan?” Bara mau menegaskan soal pelanggan wanita yang menjadi pusat perhatian mereka di sana. Gadis cantik dengan pakaian ketat berwarna merah yang dipanggil temannya dengan sebutan 'Cinta'. Namun, menyadari pria di depannya sedang duduk bersama sang istri, Bara harus menyamarkan penjelasan itu.
Dean sudah ingat persis kejadian yang baru disebutkan. Sekarang dia sedang membasahi bibirnya dan melirik sang istri. Berharap kalau Winarsih tak terlalu menanggapi soal kata ‘Uuuuu’ yang diucapkan lawan bicaranya.
Dean berdiri dari kursinya. “Saya Dean Danawira. Dan saya tebak, Mas yang duduk di sebelah sana pasti yang kemarin juga ikut ke Beer Garden,” ucap Dean mengulurkan tangannya pada Bara dengan dagu menunjuk ke arah Heru yang juga sedang melemparkan senyuman
To Be Continued