TINI SUKETI

TINI SUKETI
55. Harinya Tini



Jika ditanya kapan masa paling bahagia dalam hidup Tini selama berada di kos-kosan, mungkin ia akan mengatakan kalau malam itulah saatnya berbahagia.


Baru kali itu seorang pria ganteng yang memenuhi spesifikasinya datang mengunjungi kos-kosannya yang ajaib. Juga bertemu dengan teman-temannya yang ajaib.


Wibisono yang tadinya dikira akan mampir sebentar saja, ternyata betah berada di kos-kosan kandang ayam. Tini tidak terganggu dengan kehadiran pria itu. Ia hanya sedikit cemas kalau semakin lama Wibisono berada di sana, kehidupan mereka yang sebenarnya akan terkuak.


Lagipula, Tini kasihan melihat Mak Robin yang harus menahan ritual menjeriti Robin. Wanita itu berkali-kali hanya bisa mendelik pada anak laki-lakinya. Robin pun sepertinya tahu kalau posisinya saat itu sedang berada di atas awan karena mereka kedatangan tamu.


Mak Robin terlihat tertekan karena sering merapatkan giginya seraya mengatakan, “Jangan kejajangan* kau! Kuputarkan pahamu itu nanti!” Robin hanya tertawa-tawa dan tetap melanjutkan kebebasannya berekspresi.


(*Kejajangan \= kolokan)


Boy sudah menyumbangkan lebih dari tiga buah lagu. Asti dan Bayu sudah pergi ke simpang membeli gorengan dan kembali lagi untuk menambah cemilan mereka. Tini sudah mulai lelah memasang mode anggun feminin. Jadi, ketika Wibisono mengatakan, “Tin, udah malem banget ternyata. Enggak berasa, ya, duduk lama di sini. Aku balik ke hotel dulu.” Semua orang yang berada di sana seketika berdiri dari kursinya. Wibisono sampai sedikit terlonjak.


“Oh, iya. Memang nggak berasa udah malem. Ya, udah kalau mau pulang ke hotel. Betah kelamaan juga bahaya,” ujar Tini terkikik.


“Permisi dulu, semuanya. Mampir lain kali, masih boleh, kan?” tanya Wibisono seraya tertawa.


Serempak mereka semuanya mengangguk dan berkata, “Boleh—boleh.”


“Aku antar ke depan, ya, Mas.” Tini berjalan ke halaman.


“Jangan—jangan. Aku sendiri aja. Di depan banyak ojek pangkalan. Entar kamu baliknya sendirian bisa digodain,” kata Wibisono tertawa pelan.


“Oh,” ucap Tini menutup mulutnya terkesima. Andai Wibisono mengetahui kalau ojek pangkalan itu tak ada lagi yang berani mengatakan hal macam-macam padanya, apa tanggapan pria itu?


Setelah melambai-lambaikan tangannya beberapa saat, Wibisono menghilang di balik tembok pagar kos-kosan. Semua orang yang tadi berdiri, seketika kembali menghempaskan dirinya ke kursi masing-masing. Mereka semua serentak menghela napas panjang karena merasa lega.


“Kok, serius sekali kurasa si Wibisono itu, Tin?” tanya Mak Robin.


“Bukannya sekarang aku memang harus memilih pria yang serius, Mak? Aku udah capek menjalin hubungan yang kayak bercandaan. Lagipula aku sama Wibisono belum ada hubungan apa-apa, kok. Dia nembak aku, ya, aku terima. Kalau enggak, ya, mudah-mudahan dia nembak.” Tini tertawa terbahak-bahak.


“Kau pun sok cantik kali di depan dia. Jadi diri kau sendiri ajalah. Ngapain kau kaku-kaku kali?” sergah Mak Robin.


“Ya, aku mau jadi diriku sendiri. Tapi, kan, nggak mungkin langsung dibuka semua di depan Wibisono. Ibarat kamu mandiin bayi, Mak. Enggak mungkin langsung disiram air dingin. Bisa mati anakmu. Pakai air hangat dulu, pelan-pelan. Kamu ini kadang cuma menang di rambut putih aja,” omel Tini pada Mak Robin.


“Ah, pande kali muncung kau cakap.” Mak Robin menendang kursi Tini yang berada di depannya.


“Mulutku ini nggak cuma ngomong aja pinternya. Yang lain juga pinter,” balas Tini.


“Ganteng, ya, Mbak …. Gagah gitu,” ucap Asti tiba-tiba.


“Bayu mana?” tanya Tini sedikit terkejut karena Asti bisa mengatakan hal itu.


“Mas Bayu udah pulang barusan. Keasikan ngobrol sampe ada yang pamit nggak denger,” kata Asti.


“Pantes bisa ngomong gitu,” ucap Tini. “Ganteng, As. Tapi belum jadi pacarku,” lanjut Tini.


“Robiiiin! Masuk kau! Udah pulang tamunya. Udah siap hari raya kau!” jerit Mak Robin pada anaknya.


Mendengar hal itu, Robin yang tadi berjongkok di bawah pohon jambu, langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.


“Ganti dulu bajumu! Cuci muka, cuci kakimu dulu!” Teriakan itu lalu menyusul dari mulut Mak Robin.


“Berisik, ya!” seru Tini.


“Kalo bisa sama Mas Wibi aja, Mbak.” Asti memijat bahu Tini.


“Aku bisa-bisa aja, As. Dianya yang bisa atau enggak, aku nggak tau. Apalagi menurut terawanganku, tongkat estafet Wibisono kayaknya panjang.” Tini terkikik menutup mulutnya.


“Ih, apa, sih …. Mbak Tini ini semua ujung-ujungnya ke sana. Jangan ngomong yang kayak gitu, Mbak. Geli aku,” tukas Dara.


Tini menoleh pada gadis itu. “Boy! Kamu yang usir dia? Atau aku?” Tini menunjuk Dara. Boy terkekeh melihat kekesalan Tini.


“Kamu itu nggak usah sok ngomong geli. Kenyataannya perempuan lebih sering ngomongin yang geli-geli ketimbang kaum laki-laki. Perempuan itu nafsunya lebih besar. Makanya disebut hawa naafsu, bukan Adam naafsu. Kalau nggak mau denger, pergi sana! Jangan kebiasaan nggak suka denger omongan orang, tapi malah orang yang disuruh diem. Harusnya kamu yang pergi atau tutup telinga.”


Dara seketika terdiam. “Maaf, Mbak Tini …. Aku nggak maksud apa-apa. Mbak Tini jangan marah,” kata Dara.


“Aku nggak marah sama kamu. Buat apa? Aku ngasi tau kamu kayak gitu biar kamu nggak gitu lagi di depan orang lain. Enggak semua orang bisa ngomong to the point kayak aku. Aku mending ngomel ketimbang diemin orang. Udah males masukin orang menempati ruang di kepalaku. Isinya udah berjejal masalah. Tuh, kan, aku jadi inget sama bayaran kuliah Evi.” Tini kembali bersandar lemas di kursi plastiknya.


“Memangnya kenapa lagi? Butuh uang lagi untuk Evi?” tanya Boy lagi. Semua yang di sana bersandar ingin mendengar cerita Tini yang memang jarang bisa diketahui seluruhnya.


“Iya, buat biaya meja hijau,” sahut Tini,


“Minta bantuan Wibi?” usul Boy.


“Gendeng! Emoh! Urusan bapakku sebenarnya. Wibisono bukan bapakku. Dia cukup jadi imamku aja,” kata Tini tertawa.


“Halaaaah ….”


“Amin nggak, Boy?” tanya Tini, menendang kursi Boy.


“Amin, Tin. Maksa! Jadi kamu mau apa sekarang?” Boy masih memangku dua mic-nya,


“Besok aku mau nemuin Pak Wimar. Sekarang aku mau nyanyi dulu,” jawab Tini. “Sini mic-nya, puter lagu kebangsaan tanggal tua.”


Tak perlu diminta dua kali, Boy sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tini. Ia langsung mengambil ponselnya dan mencari lagu. Sejurus kemudian musik mengalun. Dan Boy berbisik pada Dara, “Kami biasa menyanyikan lagu ini berduet. Ini lagu masa nggak ada duit. Biar saling mengingatkan.”


“Denger aja lagunya,” sahut Boy, menyalakan mic untuk dirinya sendiri.


Tini :


Tanpa bekerja hidupku susah


Ku ingin kaya, dan hidup mewah


Banyak hartaku… Banyak uangku…


Semua yang kuingin ′kan terpenuhi


Oh… Apa usaha… ku…


Apa dayaku…


Boy :


Jangan melamun, dan mengkhayal


Jangan turutkan, hawa nafsumu


Kerja wiraswasta, hidup sederhana Niscaya hidupmu 'kan tenang, bahagia Oh...


Tini :


Apa usaha... ku... Apa dayaku...


′Kan jadi pedagang, tidak punya modal 'Kan jadi petani, tidak punya sawah Ingin jadi pegawai, tak ada lowongan Mungkinkah, ku menjual anggota tubuhku


Sebelah mataku, atau ginjalku


Oh... Siapa mau membeli...


Organ tubuhku...


Boy :


Anggota badan, ‘kurnia tuhan


Jangan kau jual, jangan gadaikan


Kerja wiraswasta, hidup sederhana


Niscaya hidupmu kan tenang, bahagia


Tini :


Oh… Takkan ku jual…


Organ tubuhku…


(Jangan Jual Ginjalmu - Nasida Ria)


Mak Robin menggelengkan kepala saat melihat Boy dan Tini bernyanyi bersahut-sahutan. “Memang luar biasa drama hidup kelen,” katanya.


***


Walau asistennya Pak Wimar mengatakan pada Tini untuk datang pukul sepuluh pagi, tapi Tini sudah sampai di gedung perkantoran itu pukul sembilan. Ia tak ingin melewatkan satu momen pun. Rasa penasarannya sudah meluap-luap ingin mendengar kabar baik dari Pak Wimar.


Tini menunggu di lobi gedung sambil memperhatikan semua karyawan yang lalu-lalang. Sejak tadi pikirannya tak henti untuk terkagum-kagum dengan para pekerja di sana yang semuanya berjalan terburu-buru. Seolah semua tak ingin kehilangan waktu sedetik pun.


“Mbak Tini, ayo, ikut saya ke atas. Pak Wimar sudah berada di ruangannya.” Reza berdiri mempersilakan Tini mengikutinya.


Sambil berjalan, Tini mengecek penampilannya sekilas. Ia merasa sudah cukup rapi. “Pak Wimar sendirian, Mas?” tanya Tini saat ia dan Reza berjalan di lorong.


“Pak Wimar sedang berdua dengan salah satu pemilik saham Grup Cahaya Mas. Mungkin beliau juga mau mendengar sesuatu dari Mbak Tini,” ujar Reza tersenyum.


Reza mengetuk pintu dua kali, kemudian langsung menekan handle-nya. “Pak, Mbak Tini ….” Reza membuka pintu lebih lebar.


“Nah, ini orangnya sudah sampai. Ayo, mari duduk di sini.” Pak Wimar berdiri dari duduknya.


Tini berjalan mendekati seperangkat sofa tempat di mana Pak Wimar duduk di kursi tunggal. Saat mendekati sofa, Tini mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang duduk menyilangkan kakinya dengan elegan. Pria itu tak mengangkat wajahnya, hanya melirik sekilas padanya dengan raut wajah datar.


“Mbak Tini, perkenalkan ini—”


Pria yang duduk di seberang Tini langsung mengulurkan tangannya, memotong ucapan Pak Wimar. “Jangan panggil Mas. Panggil Pak aja—”


To Be Continued


Ini cukup panjang ya ebo-eboooo, jangan lupa likenya


Mmuaaah