
Sebelum jam makan siang, Tini semakin resah karena belum menemukan alasan yang tepat untuk izin selama dua hari di Minggu berikutnya. Deadline tugas training esok hari. Tapi tugasnya sudah diketik rapi dan dicetaknya pagi tadi di ruangan serba guna di kantor itu.
Tini sudah mempertimbangkan untuk meminta izin pada Dean. Di antara semua atasan di kantor itu, hanya Dean yang termasuk sering berbicara dengannya. Dua peserta training sudah keluar untuk makan siang. Sedangkan Tini, menunduk memegang kertas di pangkuannya sambil sesekali melemparkan tatapan pada Dean yang masih sibuk menggulir layar tabletnya.
Tini berdeham pelan, lalu mengatupkan mulutnya. Berdeham pelan lagi, lalu merapikan kertas di pangkuannya. Lalu ….
“Kamu mau ngomong apa?” Tiba-tiba Dean mengangkat pandangannya menatap tajam pada Tini.
Tini tersentak dan memegang dadanya. “Kaget,” gumam Tini. “Maksudnya, Pak?” Tini menatap Dean dengan sedikit berdebar.
“Kok, malah nanya saya?” Dean melemparkan tatapan menyelidik ke arah Tini. “Kamu mau izin? Mau apa? Ke mana?” tanya Dean.
“Enggak, kok, Pak. Saya cuma mau ngasi tugas ini,” ucap Tini, mengangsurkan kertas yang sejak tadi dipangkunya.
Dean mengernyit dan mencebik bibirnya. “Yakin? Cuma ini?” Dean melambaikan kertas di tangannya.
“Ilmu Bapak memang luar biasa,” ucap Tini terkesima.
“Oh, ini bukan ilmu saya. Tapi ilmu ibu saya,” cetus Dean.
Tini heran akan jawaban itu, tapi dia tak peduli ilmu itu berasal dari siapa. Ini adalah kesempatannya. “Minggu depan saya mau izin dua hari—”
“Mau ke rumah calon mertua?” tebak Dean.
“Iya, Pak. Gimana, Pak? Boleh, Pak? Apa itu nantinya mempengaruhi nilai saya selama masa training. Kalau bisa dibilang, dua-duanya penting, Pak. Pekerjaan ini hubungannya dengan keuangan saya. Untuk keluarga. Yang satunya demi masa depan saya. Saya khawatir nggak bisa …. Aduh, saya jadi nggak enak mau permisi. Enggak enak juga, kok, malah jadinya curhat.” Tini meremaas kedua tangannya dengan gelisah. Ia memang merasa tak enak. Sudah diberi kesempatan bekerja di tempat bagus dengan rekomendasi orang dalam, tapi malah terkesan banyak tingkah.
“Saya pribadi nggak masalah kalau kamu permisi tidak lama. Sebagai karyawan baru, kamu belum memiliki hak cuti. Tapi lagi-lagi kamu saya beri keistimewaan. Berikan saya sesuatu yang membuat kamu berhak mendapat keistimewaan itu. Kalau kerjaan kamu bertumpuk sekembalinya dari cuti singkat, gimana?” Dean memutar sedikit kursinya dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Kalau kerjaan saya bertumpuk?” Tini balik bertanya.
Dean mengangguk dengan bibir dicebikkan.
“Kalau kerjaan saya bertumpuk, ya, saya jejer, Pak. Kalau dijejer nggak bertumpuk,” jawab Tini dengan wajah optimis.
Dean menjentikkan jarinya di depan Tini. “Luar biasa. Saya suka cara kamu. Jangan lupa kabari saya hasil pertemuan keluarga itu. Kamu harus benar-benar mempraktekkan apa yang udah kamu pelajari.” Dean bangkit dari duduknya seraya meraih ponsel dan tablet.
“Oke, Suketi … nanti saya yang info ke Pak Wimar. Jangan lebih dari tiga hari. Setelah cuti singkat itu, kamu harus bisa memberi hasil luar biasa untuk tugas pertama kamu nanti. Saya permisi dulu,” ujar Dean, melenggang keluar ruangan setelah menepuk debu di kedua siku jasnya.
“Wah … luar biasa,” bisik Tini. “Dia nerima jawabanku dengan lapang dada. Padahal jawabanku cuma asal ngomong.” Tini menatap pintu ruangan yang perlahan menutup.
Itu adalah masalah terbesar bagi Tini. Usai melalui hal itu, seharian Tini merasakan tubuhnya lebih ringan. Perutnya terasa geli oleh ulah sekumpulan kupu-kupu yang sedang menantikan Wibi dan adik-adiknya datang menjemput ke kantor baru.
Kalau Wibisono menanyakan padanya nanti dia mau ke mana hari itu. Tini seratus persen akan mengatakan kalau ia ingin menyambangi Dijah ke rumahnya.
Dan dugaan Tini tidak meleset.
“Seharian ke mana aja?” tanya Tini saat masuk ke mobil. Dayat sudah melambai-lambai padanya sejak mobil itu mendekat ke teras gedung. Sedangkan wajah Evi menyambutnya dengan senyum sumringah dari jok belakang. Tini penasaran setengah mati akan hal yang sudah dilalui adik-adiknya setengah hari itu.
“Liat Monas, Mbak!” ujar Dayat dari belakang.
“Seneng. Tapi lebih seneng lagi kalau liat Mbak Tini bersanding sama Mas Wibi.”
Hampir saja Tini mengeluarkan kata ‘kampret’ untuk menanggapi ucapan Dayat. Tini hanya diam merona. Ingin memukul Dayat tapi pemuda itu segera menggeser duduknya lebih menjauh. Dayat memang sudah sangat mahir menerka serangan fisik yang sering dialamatkan oleh kedua kakaknya.
“Kita mau ke mana? Kamu udah laper? Apa kita makan dulu?” tanya Wibi pada Tini.
“Ke rumah Dijah, Mas. Aku udah janji sama Dijah mau ke rumahnya. Kemarin Dijah dateng sama Mas Bara, terus ngajakin Evi dan Dayat ke rumahnya. Gimana?” tanya Tini memandang Wibi.
“Kok, gimana? Ya, ayo. Aku juga suka ngobrol sama Bara,” jawab Wibi mulai menjalankan mobilnya. “Apalagi kamu udah janji ke Dijah,” sambung Wibi.
Memang sudah janji, tapi Tini belum ada memberi tahu Dijah soal kedatangan mereka hari itu. Tini segera mengambil ponselnya dari kantong jas.
‘Jah, kowe nang umah to? Aku gek nang ndalan meh rono karo Evi lan Dayat. Trus karo rahasiaku sing ndek wingi kae.’ (Jah, kamu di rumah kan? Aku jalan menuju ke sana sama Evi dan Dayat. Juga sama rahasia yang kemarin.)
Selang lima menit, saat ponsel masih berada di dalam genggaman Tini, Dijah langsung membalas.
'Oh rahasiane teko digowo wae. Aku nang umah. Yo wes ndang rene. Tak tunggu. (‘Oh rahasianya langsung dibawa. Aku di rumah. Ya udah, aku tunggu’)
Semangat Tini sedang menggebu-gebu. Perjalanan ke rumah Dijah yang biasanya dirasa tak pernah lama, hari itu semakin terasa lama. Ia tak sabar untuk memamerkan rahasianya pada Dijah. Dalam hati kecilnya, Tini juga berharap kalau Bara sudah berada di rumah. Ia ingin Wibi sedikit lebih sibuk sementara ia dan Dijah bertukar kabar.
“Aku turun duluan mau manggil Dijah, Mas.” Tini turun dari mobil sesaat mereka berhenti di luar pagar rumah keluarga Bara.
Wibi sedang memunguti ponselnya dari kompartemen dasbor saat baru mau menjawab ucapan Tini. Namun wanita itu sudah melompat turun dari mobil.
“Diiijaaaah,” teriak Tini dari luar. Hatinya lega melihat mobil dan motor Bara berada di carport. Padahal biasanya ia sedikit berharap kalau Bara sedang bekerja tiap ia berkunjung ke rumah itu.
Tak lama sesudah jeritannya itu, Dijah muncul bersama Bara yang menggendong Mima. Dijah berlari ke pagar dan membuka pintunya lebar-lebar. Kepalanya celingukan mencari siapa sosok pria yang dikabarkan Tini sebagai rahasianya. Evi dan Dayat muncul dari balik mobil. Dan saat Dijah sedang terkejut melihat kedatangan Wibisono, Tini buru-buru menariknya.
“Eh, ada Budhe Tin—” Ucapan Bara terhenti.
“Iya, Mima … ini Budhe Tini. Tapi Budhe mau ngomong urjen (urgent/darurat) sama ibu Mima. Permisi—” Tini menyeruak ke dalam rumah. Bara terbengong. Mima yang heran melihat wajah ayahnya, langsung menyapu pipi Bara dengan tangan mungilnya.
"Budhe Tini sekarang makin sombong, Nak," gumam Bara pada Mima.
"Tin, wingi kae meh omong opo karo aku masalah rahasia. Rahasia opo meneh to?” (Tin! Kemarin mau ngomong ke aku soal rahasia. Apa rahasianya?)
Dijah yang sudah tak sabar sejak kemarin-kemarin, langsung memberondong Tini dengan pertanyaan.
"Wis ora rahasia meneh, Jah. Wes do ngerti kabeh." (Udah nggak rahasia lagi, Jah. Semua udah tau.) Tini tertawa tertahan menutup mulutnya.
"Heleh gething aku. Saiki mesti aku sek paling keri dewe ngerti rahasiamu. Kudune pas wingi kae teko ngomong. Ethok-ethok nyimpen rahasia kuwi rame lho. Wit mbiyen seneng aku." (Ih gemes aku. Sekarang aku selalu kebagian tau rahasia kamu paling akhir. Harusnya kemarin langsung ngomong. Pura-pura nyimpen rahasia itu seru. Dari dulu aku suka.)
“Hush, cangkemmu, Jah!" (Hush, mulutmu, Jah!)
“Cangkemku bener, Tin. Cangkemmu kuwi sek ora bener." (Mulutku bener, Tin. Mulutmu yang nggak bener.)
To Be Continued