TINI SUKETI

TINI SUKETI
93. Rencana Pamer



Ternyata Pak Joko membeli ikan tidak tanggung-tanggung. Langsung tiga jenis ikan dengan berat masing-masing sekilo. Ternyata pria itu benar-benar berniat menjamu tamu di rumahnya dengan sangat spesial.


Di rumah Tini terdapat kulkas kecil satu pintu. Hari sudah beranjak sore, kakak beradik itu duduk berhadapan membersihkan ikan dan memotong-motongnya ke ukuran kecil. Evi mencucinya dan memberi asam sebelum dimasukkan ke wadah-wadah kecil untuk diletakkan di kulkas.


“Malam nanti, kita goreng ikan sama bikin sambel aja. Aku baru masak nasi lagi.” Tini berdiri membawa talenan dan pisau ke tempat pencucian yang berada di luar rumah.


Evi menyusun kotak-kotak berisi ikan ke dalam freezer dan kembali menyusul kakaknya ke luar.


“Nanti mantenan pakai jasa Bu Atun aja, Mbak. Makeup-nya bagus. Enggak medhok. Enggak mahal juga. Kamu bisa jadi pengantin Jawa yang kalem,” ucap Evi.


“Aku mau yang meriah. Enggak mau kalem. Kalau perlu pakai kereta kencana kayak lukisan Nyi Roro Kidul. Aku mau pamer, Vi. Seumur hidup aku nggak pernah pamer apa-apa. Hidupku di desa ini udah terlalu kalem,” sahut Tini seraya mencuci tangannya.


“Kalemnya segitu, nggak kalemnya segimana?” Dayat tiba-tiba muncul di belakang mereka sambil mendorong motornya. “Kalian berdua ngomong di sini, memangnya Mas Wibi di mana?” tanya Dayat, meletakkan sepeda motornya dan ikut berjongkok di sebelah Tini.


“Mas Wibi katanya numpang istirahat sebentar di kamar. Kecapekan, Yat,” sahut Tini.


“Oh, lagi tidur,” sambung Dayat lagi.


“Iya. Nyetir sendirian lima jam. Kamu pikir nggak capek?” Tini memandang Dayat.


“Aku nggak mikir apa-apa, kok. Aku cuma mikir, nyetir ya harus sendirian. Kalau rame-rame nggak bisa. Apa harus pangku-pangkuan?” Dayat nyengir membalas tatapan kakaknya.


“Nanti mulutmu aku kasi asam garam kayak ikan-ikan itu,” sungut Tini.


“Pestanya di sini, kan, Mbak? Kamar pengantinnya pakai kamar depan aja. Ranjang dan lemari ibu masih bagus. Kalau dihias pasti cantik,” kata Evi.


“Aku sama Bapak tidur di mana?” Dayat ikut menimpali.


“Di kandang Puput masih banyak tempat. Kamu di kandang yang atas aja. Aku perhatiin Puput kurang suka di sana,” jawab Evi. “Kita lagi ngomongin kamar pengantin yang untuk satu malem. Kamu repot mikirin matamu aja,” omel Evi.


Tini terkekeh-kekeh melihat Dayat langsung terdiam.


“Cuma satu malem? Enggak usah pakai yang repot-repot. Mbak Tini pasti nggak akan lama-lama di sini. Langsung ke Jakarta, kan?” tanya Dayat.


“Meski satu malem, tapi itu adalah titik kulminasi yang harus dipikirkan matang-matang. Aku nggak mau hiburan sampai tengah malam. Enggak jamannya lagi. Mengganggu orang lain. Aku nggak suka,” ujar Tini.


“Mengganggu orang lain atau mengganggu kamu?” Evi menepuk bahu kakaknya.


“Aku mau malam pengantin yang khusyu dan syahdu. Kalau perlu aku mau sewa keamanan khusus buat jaga sekitar kamar.” Tini kembali tertawa karena ucapannya sendiri.


“Jangan lupa, Mbak. Pakai organ tunggal,” kata Dayat.


“Itu pasti! Enggak mungkin pake organ vital. Bisa gaduh hiruk-pikuk riuh rendah pestaku nanti,” jawab Tini.


Tiga bersaudara itu tertawa terbahak-bahak saling dorong bahu.


“Ehem!” Wibisono sudah berdeham tiga kali, tapi tak ada yang menyadari kehadirannya. Deham keempat, dia tekankan lebih keras. Alhasil, tiga bersaudara itu terdiam dan mendongak menatapnya.


“Mas mau minta minum,” ucap Wibi, mengangkat gelas kosong di tangannya.


Tini langsung berdiri dan menyeka tangannya ke daster. “Mas udah lama berdiri di sana?” tanya Tini mengambil gelas dari tangan Wibi.


“Baru, kok,” jawab Wibi tersenyum.


Dayat dan Evi masih tertawa-tawa di luar dapur. Tini mengisi gelas dengan air putih dari ceret stainless steel. “Ini minumnya.” Tini menyodorkan air minum pada Wibi. Mereka berdua sedang berdiri di tengah dapur.


Wibi mengambil gelas itu dari tangan Tini dan meneguknya hingga tuntas. Pria itu lalu memandang Tini, lalu sedikit membungkuk mendekatkan bibir di telinga calon istrinya.


“Kalau memang mau sewa keamanan, aku ada kenalan outsourcing penyalur security.” Wibi kembali menegakkan tubuhnya dan menahan tawa.


“Oalah, isin aku,” ucap Tini, menutup pipinya dengan kedua tangan. Wibisono tertawa melihat reaksi Tini.


Di luar dapur Evi dan Dayat mencibir. “Isin katanya. Kamu percaya?” tanya Evi, menyenggol bahu Dayat dengan bahunya.


“Kalau orang lain yang ngomong, aku percaya. Tapi karena kakakku, aku nggak percaya.”


PLAKK


“Aku juga kakakmu,” cetus Evi usai menepuk punggung Dayat dengan keras.


***


Senin pagi pukul delapan, mereka semua sudah bersiap-siap untuk pergi ke makam Bu Suparni, almarhumah istri Pak Joko dan ibu dari Tini, Evi dan Dayat.


Subuh setelah bangun tidur, Tini dan Evi pergi berkeliling ke halaman dan menyusuri lembah dangkal. Mereka memetik bunga dan pandan untuk meraciknya menjadi bunga taburan di makam ibu mereka.


Wibi sudah masuk ke mobil lebih dulu. Pria itu mengajak Pak Joko untuk duduk di sebelahnya dalam perjalanan mereka. Para tetangga kembali keluar saat mendengar suara mesin mobil yang menyala. Namun, lagi-lagi mereka tak bisa melihat seperti apa rupa calon suami Tini yang berasal dari kota.


Sebelum naik ke mobil, Dayat sempat berbisik pada kakak-kakaknya. “Mbak Tini harus rajin latihan pernapasan mulai sekarang.”


“Kenapa?” tanya Tini dan Evi bersamaan.


“Mas Wibi nggak ngorok. Kemarin malem aku tidur di sebelahnya malah anteng. Padahal aku udah siap-siap pakai head set,” bisik Dayat.


“Wah, kasian Mas Wibi kalau gitu. Iket mulutmu pakai karet mulai sekarang, Mbak. Itung-itung latihan,” pesan Evi, menepuk punggung kakaknya kemudian masuk ke mobil.


Tini meringis dan masuk ke mobil. Ia duduk di belakang Pak Joko dan bisa melihat wajah Wibi dari samping. Kenapa semua-semuanya dari pria itu terasa terlalu bagus untuknya? Ia jadi makin minder. Apa jadinya kalau Wibi syok saat tidur di sebelahnya nanti.


Perjalanan menuju makam Bu Suparni ditempuh hampir setengah jam. Memang sangat jauh karena itu satu-satunya pemakaman umum di kabupaten itu.


“Liat yang bener. Jangan sampai salah lagi,” pesan Pak Joko dari belakang anak-anaknya.


“Aku nggak pernah salah makam, kok.” Dayat menyahut dari depan.


“Itu Mbak Tini,” ujar Evi.


“Ya, makanya makam itu dibenerin. Tulisan di pusaranya udah nggak jelas tapi masa nggak ada yang mau benerin. Padahal kalian semua bisa sering ke sini,” jawab Tini, membela diri.


Wibisono tersenyum mengingat cerita Tini yang pernah salah makam saat berziarah ke tempat ibunya.


Setelah jalan berkelok-kelok, akhirnya mereka tiba di sebuah makam yang warna batunya memang sudah memudar. Dayat langsung membersihkan makam ibu mereka. Pak Joko duduk mengusap pusara istrinya berkali-kali. Pria itu tersenyum.


“Ni … aku datang bawa calon mantu kita,” ucap Pak Joko.


To Be Continued