
Di antara semua penghuni kandang ayam, kampung halaman Asti bisa dikatakan tidak terlalu jauh. Hanya di Purwakarta. Gadis itu menghabiskan sisa cuti tahunannya menjelang resepsi pernikahan.
Sebelum berangkat ke pesta Asti, Mak Robin yang akan menumpang di mobil Dijah, datang pagi-pagi ke rumah sahabatnya. Rencana turut sertanya Pak Robin ke acara Asti harus dibatalkan karena pria itu harus membetulkan jembatan warga yang terperosok karena truk proyek perumahan yang melaluinya.
Sedangkan Boy, sudah berada di Purwakarta dari dua hari sebelumnya. Pria itu benar-benar menemani Asti di detik-detik akhir sahabatnya itu melepas masa lajang.
Langit masih gelap saat dua mobil berangkat dari komplek perumahan Dijah.
“Kok, nggak mau numpang di mobil Tini, Mak? Robin nggak apa-apa samaku aja. Pasti asik main sama Dul.” Dijah menoleh ke belakang melihat Mak Robin.
“Ah, tak maulah aku. Dia, kan, sama Wibi berdua aja. Mau jadi apa aku duduk di belakang orang itu sendirian?”
“Jadi penengah, Mak.” Dijah nyengir memandang Mak Robin. “Mas Heru udah berangkat, Mas?” tanya Dijah pada suaminya.
“Mas Heru udah ke kantor pagi-pagi bener. Ngumpul di kantor buat berangkat sama anak-anak yang lain,” jelas Bara.
Setelah melalui perjalanan hampir dua jam, mereka tergesa-gesa masuk ke lokasi resepsi karena khawatir akan ketinggalan. Untungnya prosesi belum dimulai. Boy melambai-lambai ke arah Tini dan menunjuk jajaran kursi di dekatnya.
Asti terlihat menoleh saat teman-temannya masuk satu persatu dan menduduki tempat yang sudah disediakan bagi mereka sebelumnya.
“Jah—Jah,” bisik Tini, mencolek paha Dijah yang duduk di sebelahnya.
Dijah menoleh dan mengangkat alisnya. Tini melirik seseorang lalu melirik seorang lainnya dan kembali menatapnya. Dijah mengerti dan ikut melakukan apa yang Tini lakukan.
“Bapak Asti? Masih duda?” bisik Dijah, memastikan bahwa mereka sedang memperhatikan hal yang sama.
“Iya, itu bapaknya Asti. Bener. Tapi kayaknya bakal nggak duda lagi,” ucap Tini.
“Yang mana?” tanya Dijah, melihat beberapa wanita di dekat Bapak Asti yang sedang menyambut tamu.
“Liat mana yang mukanya paling ngarep,” kata Tini, terkikik.
Tiga jam duduk di pesta Asti dan Bayu, mereka semua sudah dua kali makan dan berfoto bersama. Asti sangat manis dan anggun mengenakan siger Sunda. Menjelang pukul satu, Boy mendekati Tini dan mengajak berduet.
“Aku libur dulu dalam menghibur, Boy. Kamu aja. Aku ngasi semangat dari sini,” ujar Tini.
“Begitu banget sama temen. Ayo, besok-besok udah nggak ada lagi yang bakal pesta.” Boy berdiri di depan Dijah dan Tini dengan sedikit cemberut.
“Lah, kamu? Memangnya nggak mau pesta?” tanya Tini.
“Kalau aku yang pesta, aku nyanyi sama istriku. Ayo, satu lagu aja.” Boy menyeret lengan Tini.
“Ada Mas-ku. Enggak sopan,” kata Tini, mendelik. “Mas … liat, nih, si Boy narik-narik aku.”
“Satu lagu aja, ya, Mas?” Boy cengengesan memandang Wibi.
Wibi mengangguk dan tertawa kecil memegang punggung Tini.
“Memangnya mau nyanyi lagu apa?” tanya Tini.
“Lagu perpisahan. Yang judulnya ‘Kemesraan’ masa kamu nggak tau? Ayo,” ajak Boy lagi.
“Aku memang nggak hafal liriknya,” tukas Tini, berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Boy menuju pentas.
“Ngikutin aja. Pasti kamu bisa improvisasi,” kata Boy.
Asti dan Bayu sudah bertepuk tangan saat Tini dan Boy naik ke pentas. Musik sudah mengalun dan Boy menyerahkan mic pada Tini.
“Apa enggak ada lagu lain? Mending nyanyi yang lain,” sungut Tini dalam bisikan.
“Aku lagi pengen nyanyi lagu ini,” sahut Boy dengan mulut rapat.
Musik sudah mengalun, dan Boy menepuk Tini untuk mengikutinya. Sebenarnya pria itu hanya memerlukan seorang kawan untuk berdiri di pentas. Namun, sepertinya siang itu Tini yang sudah kenyang menjadi mengantuk dan kurang tanggap situasi.
Saat Boy menepuk lengan Tini, improvisasi Tini pun dimulai.
Boy mulai melantunkan lagu, “Suatu hari ….”
“Dua hari, tiga hari, empat hari …,” sambung Tini.
(Lirik asli lagu : Suatu hari ... di kala kita duduk di tepi pantai. Dan memandang ....)
Bara yang sedang duduk memangku Mima, meledak dalam tawanya. Pria itu sampai memeluk Mima dan mengguncang-guncang tubuh putrinya. “Ya, ampun, Jah …. Bisa sampe seratus hari kalo gitu liriknya,” ujar Bara.
***
“Mari aku bantu-bantu buat seleksi. Bantu-bantu dana liburannya aku belum bisa,” kata Dayat, duduk di sebelah kakaknya dan ikut mengambil beberapa brosur.
“Waaaah … luar biasa. Denmark, Amsterdam, London, Finlandia, Turki—eh, ada Cappadocia ini, Mbak! Your dream!” seru Dayat, menepuk bahu kakaknya.
“Aku nggak usah jauh-jauh kalau bikin impian. Bisa berenang di Umbul Ponggok aja udah termasuk my dream,” sahut Tini.
“Masalahnya Mbak Tini nggak bisa berenang. Jadi, di mana pun sama aja, ya?” Dayat kembali menepuk-nepuk bahu kakaknya.
“Naik motor nggak bisa, berenang nggak bisa, istri Mas kasian, ya, Yat? Apa diajarin nyetir mobil aja?” tanya Wibi, memandang wajah Tini.
Dayat membelalak. “Nyetir mobil? That’s my dream, Mas! Not her! (Itu mimpiku, Mas. Bukan dia!)” kata Dayat, menunjuk Tini.
“Your dream—your dream, belajar aja yang rajin buat semesteran minggu depan,” kata Tini.
“Ke mana maunya?” tanya Wibi lagi pada istrinya.
“Aku nggak tau. Semuanya belum pernah. Terserah Mas Wibi aja. Tapi jangan yang terlalu jauh. Aku masih penyesuaian,” sahut Tini.
“Yang deket?” tanya Wibi.
“Tapi kepingin yang dingin. Negara empat musim,” tukas Tini.
“Jepang? Korea?” Wibi memandang wajah Tini yang menunduk membalik-balik brosur di tangannya.
“Korea aja,” jawab Tini.
“Oke, Mas, Korea Utara,” sambung Dayat.
Tini menepuk punggung adiknya dengan cukup bertenaga dan membuat Dayat terdiam seketika. Beberapa saat lamanya Dayat terbatuk-batuk.
“Besok ke dokter, ya, Mas …. Hasil pemeriksaan lengkapnya keluar besok. Tadi pegawai laboratorium udah ngasi kabar,” ucap Tini, merapikan brosur di tangannya. Ia tak memandang wajah suaminya untuk melihat ekspresi yang dibuat Wibi.
“Besok pulang ngantor?”
“Jemput aku kayak biasa,” kata Tini, memandang suaminya.
Wibi mengangguk.
***
Mendatangi dokter kandungan pertama kali sejak tujuh bulan usia pernikahannya, membuat debaran tersendiri di dada Tini. Bagaimana tidak? Setelah melakukan pemeriksaan lengkap seminggu yang lalu, hari itu mereka harus menerima hasil apa pun yang akan dikatakan dokter.
Wibi terlihat duduk santai sambil bermain game kecil di ponselnya. Tak ada guratan kecemasan di wajah pria itu. Sedangkan Tini, sejak tadi tak henti mengira-ngira apa yang akan dikatakan dokter.
Setelah satu pasien keluar, mereka berdua masuk dengan amplop berisi hasil pemeriksaan laboratorium rumah sakit. Keduanya terdiam mengamati dokter membaca hasil tes lengkap.
Saat dokter mendongak, keduanya ikut mendongak dan mengangkat alis. Tak sabaran dengan hal yang akan dikatakan dokter. Wibi duduk dengan satu tangan berada di atas lutut Tini untuk menenangkan kaki istrinya yang sejak tadi tak henti bergoyang.
“Semuanya nggak ada masalah. Baik-baik saja. Minggu lalu, Bapak dan Ibu juga sudah lihat kalau hasil pemeriksaan USG tak menunjukkan masalah apa pun. Hasil tes Bapak,”—mengangkat amplop laboratorium—“juga nggak ada masalah. Untuk sebulan ini, saya kasi vitamin untuk dikonsumsi. Kalau sudah habis, datang lagi untuk periksa,” jelas Dokter.
Keduanya terlihat menarik napas lega, tapi tak puas.
"Omonge Dokter, kabeh sehat. Ning, kok ora ndang isi yo, Mas? Opo aku iki nduwe doso karo wong? Opo karo bapakku, yo? Bene aku njaluk ngapuro." (Kata dokter semuanya sehat. Tapi kenapa nggak isi juga ya, Mas? Apa aku ada salah sama orang? Atau sama bapakku, ya? Biar aku minta maaf.)
Mereka telah berada di mobil dan Tini menekuk wajahnya memegang amplop dari laboratorium.
"Karang urung wektune. Awakmu ojo mikir sing ora-ora. Sante wae." (Artinya memang belum waktunya. Kamu jangan mikir yang macem-macem. Santai aja.)
"Lha piye gak dipikir sing ora-ora. Masalahe aku yo cok ngrasani wong, Mas. Dadi aku wedi nek dirasani." (Gimana nggak mikir macem-macem. Soalnya aku juga kadang suka ngomongin orang, Mas. Jadi aku takut diomongin.)
"Mulakno, dikurangi leh ngrasani wong kuwi. Mending saiki awakke dewe nyobo gawe ngasi dadi." (Makanya kurang-kurangin ngomongin orang. Mending kita coba lagi sampai jadi.)
Tini masih menekuk wajah, menepuk-nepuk amplop di pangkuannya.
“Sing penting, aku cinta kamu,” kata Wibi, mencium kepala Tini, lalu memasukkan persneling dan melajukan mobilnya.
To Be Continued