
Wibisono menangkup wajah Tini yang bertumpu di atas lututnya dengan kedua tangan. “Sajakke aku iki urung tau omong ngene karo awakmu. Ora mergo aku kuwi pelit karo omongan sing romantis. Mung aku ngroso luwih becik mbuktek'ke dhisik. Tini, aku tresno marang awakmu sing bakal dadi bojoku." (Aku mungkin belum pernah ngomong ini ke kamu. Bukannya pelit dengan kata-kata romantis, tapi aku rasa lebih penting membuktikannya lebih dulu. Tini, aku sayang kamu sebagai calon istriku.)
Tini mengerjap. Perkataan Wibisono terasa hangat menyerap hingga dasar hatinya. "Matur nuwun, Mas. Matur nuwun sanget sampun tresno lan sayang marang aku. Iso nrimo opo sing ono nang awakku karo masa laluku." (Terima kasih, Mas. Terima kasih karena sudah sayang aku. Bisa menerima semua bagian dari hidupku. Termasuk masa lalu.)
"Aku yo matur nuwun mergo kowe kuwi ora rewel takon-takon mbiyenku kepiye. Maturnuwun wis gelem dadi sigaraning nyowoku." (Terima kasih juga karena kamu tidak rewel bertanya soal masa laluku. Terima kasih sudah memutuskan untuk menjadi teman hidupku.)
Wibisono menarik tubuh Tini dan memeluknya dengan erat. Hatinya sudah begitu mantap memperistri Tini. Juga menjadikan Evi dan Dayat sebagai adik-adiknya. Menjadikan Pak Joko sebagai salah satu bapaknya. Juga tak lupa Puput, ayam jago yang terlihat begitu penting di rumah itu.
Pelukan mereka cukup lama. Suara senyap dari dalam rumah membuat pelukan itu bergeser menjadi ciuman-ciuman kecil di pipi. Mereka meneruskan sentuhan ringan, namun intens dengan mengusap wajah satu sama lain. Mengabaikan dengung nyamuk di telinga mereka.
Wibisono mendekap Tini di bawah ketiaknya. Membawa kedua tangan wanita itu agar mau memeluknya lebih erat. Waktu mereka tak banyak. Lusa mereka pasti sudah kembali berpisah. Tak ada salahnya jika ia sedikit bermesraan dengan calon istrinya.
Kecupan-kecupan kecil kemudian perlahan merayap hingga ke bibir. Pernyataan cinta yang barusan didengarnya dari pria seganteng Wibi membuat Tini merasa terbakar. Terbakar oleh api asmara yang mungkin bisa menghanguskan seluruh desanya.
Matanya memejam dan tangannya secara naluriah mengusap pipi Wibisono dengan gemulai. Merasakan cambang di sisi telinga Wibi yang selalu menjadi penyebab liurnya menetes tiap melihatnya. Jemari Tini turun mengusap leher dan menyentuh tepi kerah kemeja Wibisono. Ia semakin hanyut akan sesapan lembut Wibi di bibirnya. Tak sadar, Tini mendesah halus.
“Mbak Tiiin, sesuk jam piro?” (Mbak Tiin, besok jam berapa?)
Suara Dayat terdengar mendekat ke arah dapur. Tini membelalak. Mau Evi, mau Dayat, sama saja, pikirnya. Dari kecil mereka memang diciptakan untuk merusuhinya.
Sedetik Tini beradu pandang dengan Wibi. Tangannya sudah terselip ke dalam kemeja Wibi, merasakan hangat kulit punggung pria itu. Namun kemudian Tini menyadari sesuatu. Ia menunduk. Dan ia melihat tangan Wibi sudah berada di atas dadanya.
Melihat kalau Tini sudah menyadari hal yang baru dilakukannya, Wibi tertawa. Demi mencairkan suasana, pria itu kembali menarik Tini ke dalam pelukannya sambil tertawa-tawa.
“Enggak apa-apa, Mas. Setidaknya aku nggak ragu dengan Mas Wibi. Awalnya aku kira Mas Wibi belum nikah di usia 36 tahun karena ada kelainan,” ujar Tini, meringis.
“Aku normal, Tin. Normal banget. Kamu udah bisa tanya-tanya soal sewa keamanan mulai dari sekarang,” sahut Wibi, mencubit pelan pipi Tini.
“Dayat! Ngapain? Ganggu orang aja. Mas Wibi sama Mbak Tini lagi ngobrol di belakang,” suara Evi terdengar sudah berada di dapur.
“Aku nggak tau. Aku cuma mau nanya, besok mereka pergi jam berapa. Rumah bakal sepi lagi,” kata Dayat.
Tini membuka pintu belakang dan masuk ke dapur masih sambil bergandengan dengan calon suaminya. “Kalian ini sama aja. Berisik," tukas Tini. “Aku ke depan dulu buat naruh kasur lipat.” Tini meninggalkan Wibisono bersama kedua adiknya di dapur.
“Udah malem. Tidur, Yat,” ajak Evi, menepuk pundak adiknya.
“Vi, Yat, Mas mau tanya sesuatu,” ujar Wibisono.
Perkataan itu menahan langkah Evi menuju ke depan. “Apa itu, Mas?” tanya Evi penasaran.
"Mas wis tekon nang mbakyumu. Meh njaluk opo nggo mas kawin. Jawabane terserah. Mas yo bingung. Ono pandangan ora kiro-kiro?” (Mas udah nanya ke Mbak kalian. Mau minta apa untuk maskawin. Jawabannya terserah. Mas bingung. Kalian ada usul?)
Dayat mengernyit dan menggeleng. “Aku nggak ada bayangan, Mas. Belum pernah menikah,” ucap Dayat.
“Hmmm, aku ada usul. Meski agak aneh, tapi layak diutarakan,” ucap Evi, menggerakkan ujung jarinya agar Wibisono sedikit menunduk untuk mendengarnya berbisik.
Beberapa saat lamanya, Wibisono berada di dapur berbicara dalam bisikan bersama Evi dan Dayat. Sesekali ia tergelak karena perkataan Dayat yang seringnya polos melantur tapi juga benar. Dua kakak beradik itu menyampaikan banyak usulan padanya. Dan keduanya sepakat akan saling memberi kabar segala sesuatu sedetil-detilnya akan hal yang diinginkan Tini.
Wibisono mau acara pernikahannya di desa itu berjalan dengan lancar dan meriah seperti kemauan Tini yang dicuri dengarnya kemarin.
Sampai larut malam, Dayat terlihat berlama-lama menahan kantuk di depan televisi. Pemuda itu sibuk menanyai Wibisono macam-macam. Seperti tak rela kalau calon kakak iparnya akan meninggalkan rumah mereka esok hari.
Saat semua penghuni rumah sudah tidur, Wibisono sedikit iseng bertanya soal mantan pacar Tini yang pernah diceritakan wanita itu sekilas padanya.
Ternyata mencari informasi lewat Dayat tak terlalu sulit. Pemuda itu senang karena merasa jadi orang penting yang mengetahui seluk beluk kakaknya.
Akhirnya Wibisono menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. “Jadi … Mbak Tini nutup jalan? Sabotase? Sendirian?” tanya Wibisono dengan wajah terperangah.
To Be Continued