TINI SUKETI

TINI SUKETI
102. Meningkatkan Kualitas Diri



Tini menunduk menekuni semua proposal yang ditinggalkan Larasati padanya. Wanita itu mengatakan pada Tini untuk bebas memilih yang mana saja. Mereka adalah Marketing Communication. Mereka bertugas membuat rencana pemasaran, mengorganisir, serta mengelola anggaran pemasaran.


Dan tentu saja semua hal itu dilakukan oleh para senior. Tini paham kalau sebagai anak baru, ia harus menunjukkan kemampuannya. Ada hal yang dilihat Pak Wimar darinya sampai-sampai pria itu menawarkan posisi itu padanya.


“Biodiesel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari kelapa sawit. Bisa sebagian, bisa seutuhnya yang dipakai. B20 artinya kandungan biodiesel 20% dan sisanya adalah minyak bumi.” Tini membaca kembali catatan kecil yang dibuatnya sendiri setelah meringkas informasi soal biodiesel dari internet.


“Hebat juga,” gumam Tini. “Seandainya minyak bumi semakin menipis dan semua kendaraan menggunakan biodiesel, emisi bahan bakar akan berkurang. Polusi bisa berkurang … eh, tapi kalau kebutuhan biodiesel meningkat, harganya semakin mahal, hutan juga bisa habis digunduli dan diubah jadi perkebunan kelapa sawit.” Tini berdecak-decak sambil memijat dahinya. Ternyata banyak tahu semakin memusingkan kepalanya. Semakin banyak tahu membuat Tini semakin merasa tak mengetahui apa-apa selama ini.


Tini mengambil proposal lain. “Minyak goreng, sampo, kosmetik, deterjen, margarin, mi instan. Mana, ya, yang tadi katanya insentifnya empat puluh juta? Aku nggak percaya dapet uang segitu bisa mudah. Harus jual berapa? Pasti ada targetnya,” gumam Tini sendirian.


“Pilih yang mana, Mbak?” tanya seorang gadis bernama Tiwi yang baru masuk ke ruangan tim marketing. “Aku ambil yang minyak goreng, Mbak. Sama mi instan. Keinget jaman kuliah dan kebutuhan mi instan tinggi,” ujar Tiwi tertawa.


“Kayaknya aku kepingin nyoba yang biodiesel. Hari ini aku baru belajar produknya dulu. Aku udah buat catatan dan nyusun strategi,” ucap Tini.


“Wah, biodiesel. Pasti sulit itu. Gimana strateginya?” tanya Tiwi, berjalan mendekat ke arah Tini.


“Kayaknya aku nggak bisa ngasi tau sekarang, deh. Ini juga belum pasti. Nanti kalau udah berjalan dan keliatan hasilnya, aku bakal kasi tau. Bukan pelit, aku cuma belum percaya diri.” Tini menutup buku dicoret-coretnya tadi, yang berisi ide.


Tiwi meringis saat Tini menutup bukunya. Tini memang mau tak mau harus berlaku seperti itu. Mereka masih sama-sama menjalani masa percobaan. Mereka sama-sama dibekali ilmu. Namun mencari strategi pemasaran yang tepat, dilakukan masing-masing.


Meski mengatakan, ‘Bukannya pelit’, Tini merasa ia memang pelit. Ia harus pelit. Semua orang sering mengatakan hal yang sama. ‘Bukannya aku cemburu’, ‘Bukannya aku iri’, padahal memang cemburu dan iri. Jadi, apa salahnya kali ini ia juga mengatakan hal yang serupa.


“Kamu udah berhasil? Dapat berapa kontrak?” tanya Tini pada temannya.


“Pelan-pelan aja, Mbak. Baru dapat dua kontrak. Ada kenalan Papa yang masukin penawaranku,” sahut Tiwi, tersenyum-senyum.


“Wah, syukur. Rejeki kamu bagus. Kalau gitu aku harus kerja lebih giat. Kalian baru balik, ya? Pasti lumayan hasil dua hari jalan ke luar. Karena sempat izin dua hari, aku jadi banyak ketinggalan. Aku mau pulang dulu.” Tini membereskan tas dan membawa semua proposal turut bersamanya.


Sudah pukul delapan malam dan Wibi mengatakan sudah menunggunya di luar.


“Ini semuanya? Kamu pilih yang mana?” tanya Wibi saat mereka duduk di sebuah restoran untuk makan malam.


“Biodiesel ini, Mas. Kayaknya sulit, tapi aku merasa ini patut dicoba. Lagipula katanya nggak ada target tertentu. Kerja di sana gaji pokoknya sudah lumayan. Beda dengan kerja di asuransi yang kalau kami sedikit jualnya, gajinya juga sedikit banget,” jelas Tini.


“Jadi kamu sudah punya rencana?” tanya Wibisono, memandang wajah lelah Tini.


Tini mengangguk. “Aku punya rencana dan punya ide dadakan. Aku harus nyoba. Nanti aku omongin dulu dengan kepala bagiannya.” Tini menatap proposal biodieselnya dengan antusias.


“Bagus kalau punya rencana. Aku suka kamu yang optimis kaya gini,” sahut Wibisono.


Malam terakhir bertemu dengan Wibisono, mereka berlama-lama di dalam mobil. Pikiran Tini sekarang lebih condong memikirkan soal keberhasilan rencananya. Dan sepertinya Wibisono bisa merasakan hal itu.


“Kamu jangan terlampau terbebani. Pokoknya kerjakan dengan maksimal. Apa pun hasil akhirnya, kamu harus terima,” pesan Wibisono.


“Enggak terbebani. Cuma sedikit deg-degan,” kata Tini.


“Yang penting, kamu harus percaya diri. Percaya diri kalau kamu bisa. Karena aku yakin kamu bisa,” ucap Wibisono, menggenggam tangan calon istrinya.


Tatapan Wibisono yang teduh benar-benar menambah rasa percaya diri Tini. Meski nanti saat mendatangi perusahaan yang dijadikannya target penjualan, Wibi tak akan ikut mendampingi, tapi perasaan mendapat dukungan itu sudah lebih dari cukup baginya.


Tini merasa memiliki teman berbagi sekarang. Wibisono yang sangat kalem, seperti ikut memberi efek ketenangan dalam dirinya.


Sebelum berpisah, Wibisono memeluknya dengan erat sambil mengusap punggungnya dan menepuk-nepuk pelan. Lelah fisiknya terasa berkurang setengah. Saat melepaskan pelukan, Wibi menangkup wajahnya. Pria itu meng-upgrade ciuman pipi yang dilakukannya pagi tadi.


Ciuman itu membuat Tini sangat terlena. Ia memejamkan mata menikmati lembut dan hangatnya bibir Wibisono. Tangannya ikut naik memegangi kedua lengan pria itu. Mengusapnya perlahan ke atas, sampai tiba di leher. Jemari Tini tiba di kedua sisi wajah Wibi. Ibu jarinya malam itu membelai cambang manis yang membingkai wajah Wibi.


Malam itu, Tini merasakan mimpinya semakin dekat. Segala usaha dan kepasrahan yang telah dijalaninya selama ini tanpa keluhan, mungkin akan terbayar sebentar lagi.


Wibisono mengantarnya sampai depan pintu kamar. Pria itu berpesan padanya untuk jangan terlalu capek. Tini melepaskan pria itu setelah beberapa saat berpelukan di dalam kegelapan. Tini menempelkan pipinya di dada Wibi dan melingkari pinggang pria itu dengan eratnya.


Tak ada lagi waktu untuk berleha-leha. Tini hadir keesokan harinya di kantor pagi-pagi benar. Ia langsung menuju ruangan Larasati saat mengetahui wanita itu sudah masuk kantor.


“Maaf mengganggu waktunya, Bu,” sapa Tini dari depan pintu.


“Enggak mengganggu. Ada apa itu?” tanya Larasati dengan wajah serius.


“Saya berencana ke daerah membawa proposal biodiesel. Ada pabrik-pabrik yang menjadi tujuan saya. Setelah saya pikirkan matang-matang, sepertinya saya perlu mengunjungi pabrik itu. Bagaimana, Bu? Apa bisa saya pergi paling lama dua hari ke daerah? Terus ... perihal keberangkatan ke daerah, apa saya bisa berangkat sendiri, atau bersama orang kantor, atau … ada orang lain dari tim marketing?” Tini menanyakan itu setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Wibisono mendukungnya, dan ia juga sudah menyiapkan segala sesuatu yang harus dilakukannya di daerah nanti.


“Mmmm, boleh. Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Larasati.


“Saya mau ke Desa Cokro, Bu. Kampung halaman saya. Di sana banyak pabrik yang bahan bakarnya menggunakan solar. Asapnya hitam membubung ke angkasa. Saya berencana mengunjungi pabrik tempat saya bekerja dulu. Hubungan saya dengan mandor dan pimpinan pabrik cukup baik. Juga pabrik-pabrik lain di sekitar sana,” jelas Tini. Ternyata menjelaskan itu tak sesulit yang dipikirkannya.


“Oh, oke. Maksimal dua hari, ya. Kamu berangkat dengan supir kantor aja. Ini proyek kamu dan sepenuhnya ini menjadi bagian kamu. Tapi mengunjungi pabrik besar itu saya sertakan satu karyawan senior. Namanya Reny. Dia akan menemani kamu selama dua hari. Kalian berangkat dengan supir kantor. Gimana? Besok berangkatnya?” tanya Larasati.


Tini mengangguk mantap. “Besok bisa, Bu.”


To Be Continued