
Setahun kemudian.
Anak kedua Tini bernama Bumi Pangestu Wibisono. Juga seorang putera. Tini tetap menjadi ratu di rumahnya. Tetap paling cantik dan tetap paling cerewet. Ia masih bekerja di Grup Cahaya Mas dan Pak Joko belum mau dipensiunkan menjaga kedua anaknya. Dua bayi laki-laki berusia dua dan setahun itu semakin lengket dengan mbahnya.
“Ayo, sini dua-duanya mandi sekalian. Kita siap-siap mau ke rumah Bulik Dijah. Ibu udah siapin bajunya. Biar Bapak yang pakein," kata Tini, menarik sebuah bangku dan membuka pakaian anaknya satu persatu.
Sabtu sore di Minggu terakhir, Pak Joko pergi ke kampung untuk melihat rumahnya dan menyambangi makam Puput. Ayam jago itu mangkat tiga hari yang lalu. Di akhir masa hidupnya Puput tak mau makan dan banyak termenung. Pak Joko baru saja memesan tiket busnya saat mendapat kabar dari temannya kalau Puput ditemukan berpulang di dalam kandangnya.
Karena lama tak pulang ke kampung dan sebagai ungkapan belasungkawa untuk Puput, Tini meminta bapaknya beristirahat sejenak dan ia mengambil cuti selama bapaknya di desa.
Awalnya Pak Joko tak mau meninggalkan Banyu dan Bumi. Tapi, Wibi membekali bapak mertuanya dengan banyak oleh-oleh untuk dibagikan pada anggota perkumpulan pecinta ayam jago yang selama ini turut membantu menjaga Puput. Wibi juga membekali bapak mertuanya dengan uang saku yang banyak untuk bersenang-senang.
Pak Joko akhirnya mau. Meski berangkat dengan berat hati melepas dua cucu laki-lakinya.
Sedangkan Dayat, sudah memasuki tahun akhirnya di bangku kuliah. Pemuda itu baru saja genap berusia dua puluh empat tahun dan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir.
Tini dan Wibi berdua saja menyiapkan dua anak laki-laki mereka untuk dibawa berkunjung ke rumah Dijah. Itu adalah kali pertama mereka ditinggal Pak Joko sejak memiliki anak.
“Mas … Banyu udah selesai ini,” seru Tini, memanggil Wibi. Satu tangannya memegangi tangan Banyu yang tubuhnya sudah terbalut handuk. Sedangkan Bumi masih berada di dalam ember.
“Bapak datang …,” seru Wibi dari arah kamar. Wibi muncul dan langsung mengangkat Banyu dari atas keset kaki. Memegang bayi dua tahun itu dengan posisi seperti kapal terbang menuju kamar.
“Pakai popok, kan, Tin?” Wibi bertanya lagi untuk memastikan.
“Iya, Mas. Pakai popok,” jawab Tini sambil menyabuni tubuh Bumi. “Kalau aku letak sarung baru nanya, Mas,” sambung Tini pelan.
Tiga menit kemudian. “Tin, celana Banyu yang warna apa? Yang besar, ya?” tanya Wibi lagi.
“Yang item, Mas. Iya, yang agak besar,” jawab Tini lagi. “Eh, tapi ada celana bapaknya juga di sana. Semoga anaknya nggak dipakein yang itu, ya,” gumam Tini sendirian.
Beberapa saat kemudian Tini menggendong Bumi dari kamar mandi. Setibanya di kamar dia mendapati Banyu bagai donat gula dan celana hitamnya penuh belepotan bedak.
“Kok, kayak gini, Mas?” tanya Tini, memandang Banyu yang langsung melesat keluar kamar saat pintu terbuka.
Wibi nyengir, “Anaknya enggak bisa diem, Tin.”
Pukul empat sore mereka tiba di depan rumah Dijah. Wibi menggendong Bumi dengan tangan satunya menenteng tas kecil perlengkapan bayi. Tini menggandeng Banyu dengan tangan satunya membawa satu plastik berisi cemilan dan satu plastik lainnya berisi kado untuk putra Dijah yang baru lahir.
“Inget, lho. Jangan manjat-manjat. Ini rumah temen Ibu. Bukan arena bermain. Kita mau liat adik bayi. Jadi, jangan teriak-teriak.” Tini menunduk berbicara pada Banyu yang sedang digandengnya.
Banyu yang diwanti-wanti ibunya terlihat mengangguk tanda mengerti. Wibi menekan bel yang berada di balik tembok pagar. Pintu rumah terbuka, dan ternyata Mima sedang berada di ambang pintu.
“Ayah … ada Budhe. Aku nggak bisa buka pagarnya, berat,” kata Mima dari depan pintu.
Bara tergopoh-gopoh datang dari dalam dan langsung menyongsong pagar. “Oh, ada Banyu dan Bumi,” seru Bara. “Masuk—masuk, yang lain belum dateng. Mungkin sebentar lagi,” sambungnya lagi.
“Hei, ada Banyu. Yuk, main sama Mas ke dalem,” ajak Dul yang muncul dari dalam karena mendengar keramaian di rumah. Dul mengulurkan tangannya pada Banyu dan disambut oleh batita itu. “Bumi nggak sekalian?” tanya Dul, menggoda Bumi yang anteng dalam gendongan Wibi.
“Bumi biar sama bapaknya aja, Mas Dul. Ibu mana?” tanya Tini.
“Ibu di ruang tv, Budhe. Udah nunggu dari tadi,” jelas Dul, menggandeng Banyu menuju ke dalam.
Tini berjalan langsung menuju ruang menonton televisi. Sedangkan Wibi duduk di ruang tamu sambil memangku Bumi yang belum mau turun dari gendongan. Bara duduk menemani Wibi di ruang tamu dengan Mima yang sedang sibuk menunjukkan mainan baru di channel Yutub.
“Mbak Mima sekolah kelas berapa?” tanya Wibi.
“Sebentar lagi aku SD,” kata Mima, mencibir membanggakan dirinya.
“Anak SD enggak ada lagi yang merengek minta mainan,” ujar Bara, memuntir ujung rambut Mima yang sedang bergelayut di pangkuannya.
“Kami datang … kami datang ….”
Suara dari depan pagar kembali terdengar. Bara mengangkat Mima dan bangkit menuju pagar. Asti dan Bayu tiba mengendarai sepeda motor dengan putri semata wayang mereka yang berusia dua tahun. Boy juga tiba dengan sepeda motor. Diikuti dengan Mak Robin yang membonceng anaknya.
“Wah, udah komplit. Ayo, masuk semua. Budhe Tini udah di dalem,” kata Bara, mempersilakan semua tamunya masuk.
Ruang televisi yang beralaskan permadani tebal, sekali lagi menjadi tempat mereka berkumpul dan bertukar cerita.
“Nama panggilannya siapa, Jah?” tanya Boy, mengusap rambut bayi laki-laki yang sedang dipangku Dijah.
“Panggilannya Ibra,” jawab Dijah. “Ganteng, nggak, Pakde?” tanya Dijah, memandang wajah putra bungsunya.
“Robin tadi mana, Mak?” tanya Asti.
“Langsung masuk ke kamar Dul,” jawab Mak Robin. “Di jalan tadi bising kali mulutnya. Harusnya Mamak aja yang kubonceng. Aku dah SMP. Badanku dah besar, katanya. Peninglah pokoknya. Macam yang malu kali dia kubonceng,” omel Mak Robin.
“Udah gede, Mak. Aku juga nggak kerasa Dul udah SMP kelas satu. Kayaknya baru kemarin kami semua sibuk dengan persiapannya ujian akhir. Tau-tau udah SMP aja,” kata Dijah.
“Caca, kok, diem aja?” tanya Tini, memandang putri Asti yang duduk anteng di pangkuan ibunya.
“Cocok, Tin. Wajar. Bapak dan ibunya kalem, anaknya kalem. Kalau anak kamu yang kalem, kita semua bingung,” sahut Boy.
“Bingung kenapa? Itu, Bumi anteng kayak bapaknya.” Tini mencibir pada Boy.
“Kalau Banyu, Mbak?” tanya Asti.
Tini menggeleng-geleng lemah.
“Pasti sebelas dua belas sama mamaknya,” sahut Mak Robin.
“Banyu dirawat oleh Pak Joko dan satu perguruan dengan Hidayat. Sulit kalau ditinggalkan berdua aja dengan adiknya. Kemarin, sepuluh menit ditinggal dengan adiknya yang lagi tidur. Adiknya habis diwarnai. Banyu dan Dayat ketawa sampai keluar air mata.” Tini menggeleng lemah.
“Enggak nambah anak cewe, Tin? Sebentar lagi kamu pulang kampung. Pertanyaan itu pasti akan ada,” kata Dijah, terkikik.
“Enggak, Jah. Aku udah punya jawaban untuk itu. Aku mau meniru dua Presiden Indonesia yang cuma punya dua anak laki-laki. Mas Wibi juga nggak masalah. Ada dua aja dia udah syukur. Sama aja,” kata Tini.
“Betullah itu. Sama aja. Ngikutin orang nggak ada cukupnya,” kata Mak Robin.
“Tetep aja rasanya kurang lengkap tanpa anak perempuan,” ujar Boy dengan maksud mengompori Tini.
“Diem, Boy. Ini percakapan untuk yang punya rahim aja,” cetus Tini. Boy langsung menepuk kaki Tini saat mendengar ucapan itu.
Bara masuk ke ruang keluarga dan berdiri memandang semua sahabat-sahabatnya. Wibi datang menyusul ke ruangan itu dan menyerahkan Bumi pada Tini, lalu duduk bersandar di dinding. Bayu duduk di dekat Wibi, dan segera didatangi oleh putrinya.
“Kita makan malem bareng-bareng, ya? Menu sederhana aja. Gimana, Jah?” tanya Bara, berjongkok di sebelah Dijah dengan Mima yang langsung bergelayut di belakang punggungnya.
“Iya. Boleh, Mas. Memangnya Mbok Jum masak banyak?” tanya Dijah.
“Mas pesen aja. Udah lama nggak kumpul-kumpul,” jawab Bara.
Malam itu, mereka berkumpul lengkap dan duduk berkeliling saling bertukar cerita soal pekerjaan, keluarga dan anak-anak yang telah hadir di antara mereka.
“Ganteng, ya, Jah,” ucap Tini, memandang Ibrahim di pangkuan Dijah.
“Aku juga cantik,” kata Mima yang sedang berada di pangkuan Tini.
“Kamu nggak mau kalah,” kata Tini pada Mima. “Ikut Budhe pulang, ya. Biar Ibu lebih konsentrasi merawat adik bayi,” ajak Tini pada Mima.
“Jangan. Nanti Ayah nangis,” jawab Mima, menunjuk Bara yang sedang mengobrol bersama Wibi.
“Hilih,” ucap Tini, mencubit pelan pipi Mima.
...TINI SUKETI...
...TAMAT...
...Dengan ini juskelapa menjamin bahwa tiap adegan, dialog, serta plot adalah murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada kesamaan dengan karya tulis lain dan ingin memberi informasi bisa hubungi juskelapa lewat private chat atau akun instagram @juskelapa_...
...Mauliate Godang...
...Jakarta Timur, Selasa, 15 Februari 2022...
...© copyright juskelapa...
...Semoga kisah Tini bisa diambil makna baiknya buat kita semua, ya. Bukan cuma haha-hihinya aja. Bahwa semua badai dalam hidup, pasti akan berganti dengan pelangi. Dengan berusaha dan berdoa, tentunya. Terima kasih yang sudah membersamai Tini Suketi selama ini. Maaf kalau endingnya terlalu lama. Karena mood dan badan sedang sama tak baiknya....
...Sehat-sehat Boeboo semuanya. Semoga kita semua bisa menjadi wanita-wanita hebat, kuat, dan bijaksana dalam bertutur maupun bertindak....
...Sampai jumpa di kisah juskelapa selanjutnya. Beberapa hari ini juskelapa istirahat dulu, ya. Kalau cerita baru udah naik, pasti ada notifikasi yang muncul. Mmuuaahh :*...