TINI SUKETI

TINI SUKETI
126. Tetangga Misterius



Tini dan Wibi memang merencanakan menghabiskan Sabtu pertama mereka sebagai pengantin baru di Jakarta. Dua hari lagi Tini harus kembali ke kantor dan Wibi membenahi cabang travel barunya di Jakarta.


Pukul tujuh pagi, Tini keluar rumah sendirian. Meninggalkan Wibi yang sedang asyik bertukang memasang selang penyemprot tanaman. Saat ditanya Wibi mau ke mana, jawabannya, “Aku mau keliling nyari warung dan yang dagang sarapan pagi. Kalau ada warung mau belanja sedikit dan ngelewatin rumah Dijah.”


Tini menemukan satu rumah di ujung jalan yang menjual bahan masakan. Tak terlalu banyak variasi, tapi untuk memasak makan siang sederhana Tini berhasil menemukan semua bahan yang dibutuhkannya. Beberapa rumah dari tempatnya belanja, ada penjual bubur ayam dan cakwe. Tini merasa menemukan harta karun, karena tak perlu memasak sarapan pagi di saat tubuhnya masih pegal-pegal.


Dengan tentengan di kedua tangannya, Tini kembali melewati rumah Dijah tanpa mampir. Sekilas ia melihat ke dalam rumah yang pintunya terbuka. Ia hanya bisa melihat pintu rumah yang terbuka dari atas pagar batu yang memagari taman kecil rumah Dijah. Untuk melihat ke dalam rumah, Tini terhalang tinggi badannya.


Sementara itu setelah Tini melintas, di dalam rumah, Bara kembali tersentak. Ia baru saja keluar dari ruang keluarga sambil menggandeng Mima yang baru saja mandi pagi.


“Mirip Tini … tapi masa iya, sih?” gumam Bara sendirian.


“Kenapa, Mas?” tanya Dijah yang muncul dari belakang. Ia ikut penasaran karena melihat Bara bergegas menggendong Mima untuk melongok ke luar pagar.


“Udah ilang. Enggak ada lagi,” ucap Bara.


“Ada apa? Tini lagi?” tanya Dijah.


Bara mengangguk.


“Aku, kok, jadi penasaran juga. Sebentar aku telfon dia,” kata Dijah, memutar tubuh ke dalam rumah.


Bara dengan cepat menangkap tangan istrinya. “Jangan—jangan. Nanti Tini malah ngetawain aku. Ketawanya ngeselin,” kata Bara.


Dijah tertawa. “Abis dari kemarin Tini terus,” kata Dijah.


“Mungkin ini karena aku jadi sponsor biduan tari ular di resepsi Tini, Jah.” Bara ikut-ikutan terkekeh, lalu menciumi pipi Mima yang putih seperti donat gula dingin.


Sementara itu, Tini sudah tiba di rumahnya.


“Aku dapet bubur ayam, Mas. Sarapan dulu, ya.” Tini menunjukkan bawaannya pada Wibi yang sedang mencoba selang air baru dengan menyirami taman kecil di depan rumah mereka.


“Sarapan aja nggak masalah. Yang penting pagi tadi udah kenyang,” jawab Wibi.


Tini mencibir, namun bahagia karena gombal sederhana yang dilontarkan suaminya.


“Semua yang ada di dapur ini udah aku sesuaikan dengan kamu,” ucap Wibi saat masuk ke ruang makan. Ia menarik dua kursi dan duduk menunggu Tini memindahkan bubur ayam yang baru dibeli ke dalam mangkok.


“Disesuaikan dengan apa, Mas?” tanya Tini, mengedarkan pandangannya sekilas ke sekeliling dapur. Namun, ia belum memahami maksud suaminya.


“Dengan tinggi kamu,” sahut Wibi, menarik tempat sendok ke arahnya.


Tini kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur dengan seksama. Ia baru menyadari kalau kitchen set dapur didesain dengan rak yang tidak terlalu tinggi. Meja tempat kompor gas berada pun, tidak setinggi yang berada di rumah Dijah.


“Udah kayak rumah kurcaci, ya, Mas.” Tini mengagumi dan menyukai dapur mungilnya.


Wibisono tergelak, “Kamu nggak suka?” tanya Wibi, mengusap lengan Tini yang masih berdiri di sebelahnya.


Dengan satu tangan memegang sendok dan satunya lagi memegang mangkok, Tini mendekatkan tubuhnya pada Wibi dan mengecup kepala pria itu. Seketika, wajah Wibi kembali terbenam di dada istrinya. Dan sepertinya Wibi menyukai kebiasaan baru itu. Karena ia langsung mendekap Tini dan menempelkan wajahnya di dada sang istri.


“Selesai makan siang nanti kita ke rumah Dijah, ya, Mas. Aku mau bikin gorengan buat ngunjungin tetangga baru. Biasanya siang mereka masih di rumah. Sabtu sore, mereka sering ke rumah orang tuanya Mas Bara, ke rumah kakangnya Dijah, atau jalan-jalan bawa anak-anaknya makan.” Tini berada di kamar sedang membongkar koper dan menyusun pakaian mereka. Sedangkan Wibi, bergulung memeluk guling memandangi Tini yang sejak tadi tak henti bergerak ke sana kemari.


“Kamu nggak capek? Dari tadi bergerak terus. Abis masak langsung bongkar koper. Harusnya besok juga bisa,” kata Wibi.


“Besok atau sekarang sama aja. Tetep harus dikerjain. Aku mau semuanya cepat beres biar kita bisa santai,” kata Tini, membuka-buka lipatan pakaian yang baru diletakkannya ke dalam lemari. Ia mengambil selembar dress baru yang belum pernah dipakainya.


“Motifnya bagus. Nanti ke rumah Dijah pakai itu aja,” saran Wibi, memandang Tini meletakkan dress itu ke tubuhnya.


“Ya, udah. Aku pake sekarang aja,” kata Tini langsung melepaskan pakaiannya dan mencoba dress baru. Wibisono berbaring menumpukan satu tangannya di kepala memandang istrinya.


“Gimana, Mas? Cocok, nggak? Apa aku gemukan? Gemuk, ya, Mas?” tanya Tini, memutar tubuhnya dari depan cermin dan berbalik menatap Wibisono.


Wibi tersenyum memandang istrinya. “Enggak gemuk, kok. Itu udah pas. Pas untuk ukuran panda dewasa,” sahut Wibi, mengatupkan bibirnya menahan agar tak menyemburkan tawa.


“Jahatnya …,” kesal Tini, menatap Wibi. “Kamu jahat, Mas.” Tini menerkam Wibi yang tertawa menutup wajahnya dengan bantal.


Pengantin baru itu bergumul di ranjang beberapa lama. Saling gelitik dan tangan saling mencoba meraih pinggang masing-masing untuk mencubit manja.


Selesai makan siang, Tini dan Wibi tiba di pagar rumah Dijah dan melihat dua kendaraan Bara lengkap berada di balik pagar. Tini menyelipkan tangannya untuk menekan bel di sisi kiri tembok.


“Helo …. Helo …. Enibadi home? (Anybody home/apa ada orang di rumah)” Tini berjinjit berteriak dari luar pagar. Tangannya memegang wadah plastikware berisi dua macem gorengan yang baru dibuatnya untuk cemilan bertandang.


Tak terdengar sahutan beberapa lama. Tini kembali menekan bel dan tak lama wajah Dijah muncul di pintu ruang tamunya yang terbuka.


“Tini! Panjang umur! Dari kemarin Ayah Mima sibuk liat penampakan kamu. Sampe pagi tadi dia juga bilang liat kamu. Apa Mas-ku sekarang udah punya indera keenam, ya?” Dijah buru-buru membuka pintu pagar untuk temannya.


Bara yang sedang dibicarakan pun, muncul di depan pintu. “Nah, dari mana Budhe? Naik apa ke sini?” tanya Bara curiga. Ia berjalan ke pagar dan menoleh ke kanan kiri mencari kendaraan. “Naik apa, Budhe? Taksi?” desak Bara.


“Numpak sikil, (Jalan kaki/idiom) Mas,” jawab Tini terkekeh.


“Hah? Itu maksudnya jalan kaki, ya, Jah?” tanya Bara.


Wibi tertawa melihat kehebohan Bara. “Iya, Ra. Kita sekarang tinggal di sana. Seratus meter aja dari sini,” jelas Wibi, menunjuk arah tempat tinggal mereka.


“Nah, kan, Jah …. Bener! Memang Budhe Mima. Aku nggak salah liat,” tandas Bara dengan wajah puas. “Kemarin aku liat-liat penampilannya tapi ragu,” ujar Bara.


“Makanya … jangan menilai penampilan dari luar aja. Kayak Gudang Garam itu ternyata isinya rokok, bukan garam.” Tini terkikik-kikik menggandeng lengan Wibi masuk ke dalam rumah.


To Be Continued


Kalau ada typo dimaklumi dulu, ya. Take-off dulu :*