TINI SUKETI

TINI SUKETI
116. Hari Halal Tini Wibi (2)



Semua tetangga yang berada di sekitar rumah Tini keluar rumah terang-terangan. Tak hanya sekedar mengintip dari balik pagar atau pintu rumah mereka. Rasa penasaran mereka sama. Bagaimana tampilan Tini di hari pernikahan yang membuat mereka memaklumi dan mau bekerja sama menitipkan kendaraan mereka di tepi jalan yang dijaga keamanan selama empat hari sampai semua tenda dibongkar.


Ibu-ibu muda teman Tini yang sudah menikah lebih dulu, menggendong atau menggandeng anaknya di depan rumah. Yang lebih tua sudah berduyun-duyun pergi ke simpang jalan untuk menghadiri undangan akad nikah Tini. Sekilas bisik-bisik yang didengar Dayat dari para tetangga, semua antusias hadir karena mengetahui kalau menu acara pernikahan dan acara resepsi disajikan berbeda.


Sebagian juga penasaran dengan calon suami Tini. Dayat melaporkan bahwa dia sudah mengembuskan kabar kalau kakak iparnya adalah seorang pengusaha travel di Surabaya yang sangat gagah.


Saat Tini menuju Alphard yang dihias cantik dengan bunga segar, seorang wanita muda melambai pada Tini. “Tin! Slamet, Yo! Mengko awan aku teko,” seru wanita itu. (Tin! Selamat, ya! Siang nanti aku datang)


Tini tersenyum pada teman masa kecilnya dan naik ke mobil yang pintunya sudah dibukakan Dayat. Perjalanan ke simpang terasa sangat lama bagi Tini. Sepanjang perjalanan dia memahami kejutan apa yang dimaksudkan oleh Dayat. Dari kejauhan, Tini melihat lokasi pestanya menyerupai kotak putih besar yang tertutup.


Pintu masuknya dibuat dua sisi. Dari sisi simpang jalan besar, dan dari sisi dalam jalan. Pelaminan terbentang memanjang di lahan yang dibeli Tini. Semuanya dilantai triplek dan dilapisi karpet merah. Dan unit AC standing 5PK banyak tersebar untuk menyejukkan suhu di dalam tenda itu. Tini melangkahkan kaki perlahan dengan tangan yang digandeng perias pengantin dan Evi di sebelahnya.


Semua tamu sudah menunggu kehadirannya untuk duduk di sebelah Wibisono. Dari kejauhan Tini melihat Wibisono duduk dengan gagah menunggunya. Menatap ke arahnya dengan sorot mata paling teduh. Berbalut beskap putih dengan perhiasan leher untaian melati, saat ia mendekat, pria itu membenarkan letak kursi yang akan didudukinya.


Sedetik kemudian, pandangan Tini terangkat. Tatapannya langsung tertumbuk pada sekumpulan orang yang menempati kursi beberapa meter dari tempat ia dan Wibisono duduk.


Dijah duduk di sebelah Bara yang sedang memangku Mima. Dul duduk tak jauh dari Dijah, bersebelahan dengan Robin yang hari itu ditemani orang tua lengkapnya. Ternyata Pak Robin ikut hadir ke Desa Cokro.


Asti duduk berdampingan dengan Bayu di belakang Bara dan Dijah. Di sebelah mereka duduk Boy dan Dara. Di sisi paling kanan, Heru dan Fifi datang dengan anak laki-laki semata wayang mereka. Dan tak jauh dari tempat Heru duduk, Agus hadir bersama Ayu. Di belakang mantan bosnya itu, juga hadir Dwi, Bowo dan Mail yang tampil sangat rapi.


Saat duduk dan melihat tangannya yang merah berhias, Tini ingat akan maskawinnya. Apa saja, pikirnya. Maskawin apa saja ia akan menerimanya dengan sepenuh hati. Penasaran, berdebar, dan sangat bahagia. Tini merasa tangannya gemetar. Tamu yang menghadiri pernikahan pagi itu larut dalam suasana syahdu penuh kekhusyukan.


Lalu untaian acara itu terdengar mengalun lamat-lamat di telinga Tini. Dengan ekor matanya, ia melirik Wibi yang memegang mic. Lalu … kepalanya kembali tertunduk memandang tautan tangannya. Terdengar Wibi menarik napas saat seorang pria mengatakan sederet kalimat yang membuat Tini membelalak. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, kemudian Wibisono mengulangi perkataan pria itu dalam satu napas.


“Saya terima nikahnya Tini Suketi binti Joko Sansoko dengan maskawin satu hektar kebun pisang dan seperangkat perhiasan emas dibayar tunai.”


Semua tamu yang hadir menghela napas lega saat kata ‘Sah’ diucapkan nyaris bersamaan oleh beberapa orang tetua. Saat itulah ia tak kuasa menahan tangisnya. Tak hanya menghalalkan dirinya, Wibisono juga turut menghalalkan kebun pisang untuknya.


“Kejutan untukmu. Kebun pisang Wis halal. Daunnya nggak perlu nyolong lagi,” bisik Evi pada Tini saat menyodorkan lipatan tisu untuk menyeka sudut mata kakaknya.


Tini tak sanggup untuk tertawa. Ia menjawab perkataan Evi dengan air mata baru yang seketika menetes.


“Mbak—Mbak,” bisik Dayat lagi di sebelahnya. “Liat itu di pintu masuk. Kejutan lainnya. Souvenir pernikahan kamu, seorang tamu dapat satu tandan pisang.” Dayat menunjuk pintu masuk di mana terletak tiga mobil pick up yang dihias dengan meriah. Mobil-mobil itu berisi penuh dengan pisang bertandan-tandan.


Untuk kali pertama, Tini menjabat tangan Wibi dan meletakkan punggung tangan pria itu menyentuh hidung dan dahinya. Suami yang diharapkan bisa menjadi napas kehidupan, serta mendidiknya menjadi seorang istri yang baik.


“Ayo, Mbak, sungkeman dulu.” Seorang wanita memakai berseragam jas serba hitam mendekati Tini mengatakan hal itu. Di dada kiri wanita itu tersemat tulisan, ‘Sugarpie Wedding Organizer’.


Kedua orang tua mereka duduk berjajar di kursi yang sudah diatur sedemikian rupa. Wibi sungkem dan mendapat wejangan lembut oleh bapaknya. Sedangkan Tini menyalami tangan Pak Joko yang duduk sendiri. Air mata pria itu tak henti sejak Tini datang dengan kebaya putih dan duduk di sebelah Wibi.


"Pak, Kulo nyuwun dungo kagem kulo kaliyan Mas Wibi. Pangapuntene bilih kulo gadhah lepat. Mugi kulo kalih Mas Wibi langgeng sak terasipun. Matur nuwun Bapak sampun mbiyantu kulo kangge acara niki. Saestu kulo bungah." (Pak … aku mohon doa restu untuk pernikahanku dengan Mas Wibi. Minta maaf kalau selama ini aku ada salah. Doakan rumah tanggaku langgeng dan bahagia. Terima kasih karena sudah mengurus semua persiapan pernikahanku sampai sempurna seperti ini. Aku bahagia.)


Pagi itu, Tini dan Wibi resmi menjadi pasangan suami istri. Acara utama dan paling penting telah mereka lewati dengan lancar. Beberapa saat Tini dan Wibi menyempatkan berfoto dalam balutan busana pertama mereka. Usai foto keluarga yang seakan tak henti-henti, Tini langsung memanggil sahabat-sahabatnya.


“Aku duluan bepoto sama si Tini dan Wibi,” ucap Mak Robin.


“Apa nggak sekalian aja?” Boy ikut berdiri.


Menjelang siang, Tini berganti pakaian. Pulang dan pergi ke rumahnya menumpangi mobil mewah yang dihias meriah. Pesta Tini terlihat sangat mencolok. Tak ada tetangga yang bisa mengabaikan pesta Tini. Semuanya dipaksa untuk tetap keluar masuk melewati megahnya acara. Tini tak tahu itu ide siapa. Jalanan menuju simpang Desa Cokro, dipenuhi oleh jajaran parkir mobil para tamu. Dari tepi jalan, karpet merah sudah dibentangkan sampai ke bagian meja penerima tamu.


Saat Tini sudah kembali berdiri bersisian dengan tangan yang tak lekang dari suaminya, semua penghuni kos kandang ayam kembali berfoto bersama. Mereka saling melemparkan candaan.


Wibisono yang berkali-kali mendapat sindiran dari Heru, menanggapinya dengan tertawa kecil. Lalu saat tengah sedang asyik bercanda, Tini melihat pemandangan langka. Coki dan Siti terlihat melintas di bagian karpet merah. Sepasang suami istri itu tidak hadir ke resepsi, hanya melintas berjalan kaki dari dalam ke tepi jalan.


Coki menoleh dan memandang ke arah pelaminan. Sedangkan Siti terlihat menggandeng tangan suaminya dan berkata sesuatu yang membuat Coki mengalihkan pandangan dari Tini.


Selama ini, semua penghuni kos-kosan sudah tahu soal mantan Tini yang ceritanya paling booming. Tini ingin memberitahu para penghuni kos, soal Coki yang sedang melintas.


“Mak! Boy! Itu ….” Tini mendelik dan melihat ke arah Coki dan Siti.


“Apa?” tanya Mak Robin belum mengerti.


Tini menatap Mak Robin dengan tatapan penuh arti, tapi sahabatnya belum juga mengerti. Boy dan Asti juga sama bingungnya. Apalagi Dijah. Wanita itu menatap Tini, menuntut penjelasan segera.


“Siapa?” ulang Mak Robin.


Tini melirik Wibi di sebelahnya. “Bagudung, Mak … bagudung,” sahut Tini.


Saat mendengar hal itu, Mak Robin, Boy, Asti dan Dara yang pernah bercerita soal bagudung (tikus), seketika melihat ke arah Coki yang sekali lagi menoleh ke arah pelaminan.


“Iihhh, kesel. Aku ketinggalan berita lagi,” kesal Dijah, ikut memandang ke arah Coki sambil ikut menebak-nebak apa yang sedang dibicarakan.


“Kasi tau istriku, Tin. Jangan sampai Dijah ketinggalan berita,” kata Bara, memeluk pundak Dijah.


“Sekarang informasi dalam bahasa apa pun terbatas, Mas.” Tini melirik Wibi yang kebetulan juga menoleh padanya. Ia seketika mendekap lengan Wibi sambil nyengir pada Bara dan Dijah yang terlihat sebal.


To Be Continued


PS.


Video resepsi Boebooo dipost di akun Instagram @juskelapa_ dan akun Facebook Anda Juskelapa


Simak seluruh videonya dengan mengklik profil karena ada total 9 video Boeboo.


Oh ya, Desa Cokro itu juskelapa ambil dari Kabupaten Magelang. Hanya memakai namanya saja. Selebihnya semua hanya fiksi dan imajinasi.


Buat yang merasa masih kurang ini-itu, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kita semua hanya manusia biasa yang tidak bisa membahagiakan semua orang.


Selamat Tahun Baru Boebooo, sehat-sehat selalu dan tetap semangat berjuang di pertempuran kehidupan masing-masing. Tetap menjadi ibu, anak, istri atau yang pasti, wanita yang kuat. Semoga di tahun 2022, apa yang kita inginkan/targetkan bisa tercapai.


Buat yang sedang sakit, semoga cepat sembuh dan diangkat penyakitnya. Buat yang lagi ada masalah, semoga segera diberi jalan keluarnya. Emmmaaahh ❤️


Oh, ya. Part resepsi ini belum selesai. Nanti dilanjutkan lagi sebegitu ada waktu. Happy Holiday 💐