The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 99. Sosok Angin Hitam yang Mengincar Calon Pengantin bag. 1



Ini adalah kejadian di pasar, terjadi sebelum Nagi dan Ginko pulang. Mereka sedang berbelanja dan membeli beberapa peralatan yang menjadi tujuan utama keduanya ke pasar.


“Ini bagus. Mau beli yang ini?” tanya Ginko


“Terserah saja. Yang mana saja tidak masalah karena kita hanya pakai itu untuk wadah makanan bukan untuk dimakan.”


“Baiklah.”


Keduanya berbelanja dan setelah menghabiskan beberapa waktu, mereka memutuskan kembali ke kediaman Aragaki.


Tiba-tiba langkah keduanya melambat.


“Ginko, merasakan hawa keberadaan lain?”


“Aku tau. Kita sedang diikuti.”


“Aku tidak yakin dimana dia berada sekarang, tapi jelas ini tidak berbeda dengan yang mengikuti Reda-sama dan si rubah kecil pagi ini.”


Ucapan Nagi begitu meyakinkan hingga membuat Ginko sempat terkejut. Meskipun begitu, dia tidak menunjukkan banyak ekspresinya agar tidak ada yang curiga.


“Apa kamu yakin, Nagi?”


“Yakin. Mau melihat ke belakang?”


Ginko mengangguk dan berpura-pura memainkan perannya. “Ah, sepertinya ada yang tertinggal. Nagi, aku akan ke tempat sebelumnya untuk membeli cemilan manis Ryuunosuke ya.”


“Kalau begitu cepatlah ya. Aku akan menunggu di toko depan. Aragaki-sama juga sepertinya ingin sesuatu.”


Itu adalah sandiwara karena pada kenyataannya kedua youko tersebut sudah membeli semuanya. Termasuk makanan manis yang diinginkan oleh si rubah kecil.


Seperti memiliki rencana, mereka berpencar.


Nagi mencoba mencari di sisi depan sedangkan Ginko mencari di sisi belakang. Dengan kemampuan spiritual kedua youko tersebut, mereka mencari sosok mencurigakan yang diduga adalah siluman yang mengincar Reda.


Tidak ada tanda-tanda aneh di sekitar tempat itu.


Di tempat Ginko sekarang, dia melihat kerumunan orang-orang yang lewat.


“Tidak ada yang aneh tapi bukan berarti tidak aneh sama sekali. Aku tidak percaya bahwa ini yang dimaksud oleh Nagi.”


“Kami jelas diikuti tapi kami tidak bisa melacaknya. Kenapa?”


Di sisi lain pasar, di tempat Nagi…


“Aku tau itu. Ini adalah siluman itu. Haruskah aku mencarinya sampai ke setiap sudut? Tapi dengan barang sebanyak ini, aku tidak punya waktu.”


Kedua youko itu secara bersamaan saling mencari, bahkan sampai melompat dan naik ke atas atap bangunan.


Hasil yang didapatkan tetap nihil. Tidak ada tanda-tanda kehadiran siluman yang dimaksud. Mereka bertemu di salah satu atap bangunan.


“Nagi, menemukan sesuatu?”


“Tidak. Tapi dia pasti belum jauh.”


Ginko berpikir sejenak. Setelah selesai dengan pemikirannya, dia berkata pada Nagi, “Aku rasa kita tidak bisa mencarinya lagi karena kita membawa semua barang-barang ini. Akan lebih baik jika kita kembali dan melaporkan hal ini dulu pada Nushi-sama. Bagaimana?”


“Tidak ada pilihan, semua benda ini juga menggangguku. Kita kembali sekarang.”


Keduanya memilih kembali pulang. Saat mulai kembali berjalan, mereka sempat membicarakan beberapa hal.


“Menurutmu, apakah dia masih mengikuti kita?” bisik Nagi


“Aku tidak tau. Tapi sepertinya begitu. Aku sepertinya mengenal sosok itu tapi aku sendiri lupa. Apakah ada siluman yang seperti itu di Higashi no Mori?”


Nagi bicara dengan nada serius dan ekspresi dinginnya, “Entahlah. Karena kita tidak mengingatnya, mustahil juga kita tau seperti apa wujud dan namanya. Yang jelas, dia benar-benar mengincar Reda-sama dan karena kita tinggal bersamanya maka kita juga tidak luput darinya.”


Nagi berhenti dan menurunkan semua barang yang dibawanya. Dia meletakkan mereka di tanah dan langsung mengeluarkan teknik rubah silumannya ke arah belakang.


“Kitsune no Seika (api rubah suci)”


-Whoooosh


Sebuah semburan api merah besar mulai keluar dari mulut Nagi. Dia mengeluarkan kekuatan spiritual miliknya untuk memancing sosok yang mengikutinya.


Radius api tersebut cukup panjang dan juga lebar. Hampir semua tanaman terkena semburan api tersebut. Namun uniknya, tidak ada satupun dari daun atau pepohonan di sana yang terbakar.


Nagi berulang kali menyemburkan api dari mulutnya.


“Api ini hanya akan membunuh siluman dan manusia, selain itu tidak akan ada yang terbakar. Sebuah teknik yang paling ampuh untuk membuat mereka yang mengikuti kami berdua keluar.”


Tidak lama kemudian, ada sesuatu yang mengeluarkan asap. Posisinya cukup jauh dari tempat mereka berdua.


“Nagi, jangan berhenti. Terus lakukan itu!” teriak Ginko sebelum pergi


Nagi berhenti sejenak dan mulai ikut berlari. Demi bisa menjaga jarak dengan rekannya dan target yang mulai terlihat, Nagi melakukan tekniknya sekali lagi.


Ginko yang berada di depan mengejar asap yang bergerak cepat. “Sosoknya tidak begitu jelas terlihat. Aku harus lakukan sesuatu agar bisa melihatnya.” katanya dalam hati. Dengan tidak menurunkan kecepatan berlarinya, Ginko juga mulai mengeluarkan tekniknya.


“Fukikudo yami (teknik menghapus kegelapan)”


Dari tangan Ginko yang membentuk sebuah gerakan tertentu, dia mengeluarkan sebuah cahaya terang yang akhirnya menerangi sosok tersebut.


Sedikit terlihat, akhirnya Nagi dan Ginko melihat bagian yang berasap sampai ke bawah kakinya.


“Itu kan…” Nagi berhenti menyemburkan apinya. Bukan hanya dia, namun Ginko juga.


“Nagi, apa kamu melihatnya juga?”


“Meskipun tidak begitu jelas, tapi aku yakin itu seperti mitama. Apakah mungkin?”


Keduanya tidak yakin dan memutuskan untuk bergegas kembali untuk melapor.


Sesampainya di kediaman Aragaki, kedua youko tersebut meletakkan semua barang-barang yang dibelinya di bagian depan pintu rumah dan langsung berjalan menuju ruangan sang majikan.


“Kita harus melaporkan ini pada Aragaki-sama.”


“Kau benar, Ginko. Jika itu benar sosok mitama atau sejenisnya, maka bisa jadi yang mengawasi Reda-sama adalah sosok yang tinggal di bagian paling dalam hutan.”


“Tapi kita tidak bisa mengambil kesimpulan seperti itu dan kita harus meminta pengelihatan Nushi-sama, Nagi.”


“Aku yakin Aragaki-sama mungkin akan menyadari sesuatu. Ayo.”


Begitu bergegasnya kedua youko tersebut sampai saat keduanya bertemu dengan Reda dan Ryuunosuke, mereka sama sekali tidak memedulikannya.


“Ah, Nagi-sama, Ginko-sama…”


Keduanya melewati mereka dan tidak merespon apapun.


“Reda-sama, tampaknya Nagi-sama dan Ginko-sama sedang terburu-buru.”  kata si rubah kecil


“Sepertinya begitu. Kalau begitu, kita bersih-bersih saja ya. Ayo, Ryuunosuke.”


Keduanya pergi ke dapur bersama. Di sisi belakang Reda dan Ryuunosuke, kedua youko itu sedikit merasa aneh.


“Menurutmu bukankah kita terlalu berlebihan? Mengabaikan Reda-sama seperti itu” ucap Ginko lirih


“Aku tau, kita akan minta maaf padanya nanti. Sekarang kita harus melaporkan hal ini dulu pada Aragaki-sama.”


**


Di bagian luar, di sebuah tempat yang tidak diketahui di dalam hutan.


Tempat itu tidak begitu jauh dari lokasi kediaman Aragaki, namun bisa dikatakan berada di tengah-tengahnya.


Sosok yang terluka itu mulai berhenti berlari dan menengok ke setiap sisi di hutan.


Pepohonan di sana menjadi sebuah sudut yang bisa dipercaya atau mungkin justru berbahaya untuknya.


Dia memotong bagian tubuhnya yang mengeluarkan asap dan meninggalkannya di hutan. Kemudian dia berlari kembali.


Bagian dari tubuhnya yang tertinggal itu seakan meleleh dan menghilang, mengeluarkan sesuatu seperti


asap hitam dan menyebar ke beberapa sudut.


Pohon dan daun yang terkena asap tersebut mulai layu perlahan sedikit demi sedikit dan mati.


Sedikit asap itu telah menghilang, namun asap hitam lainnya tertiup angin hingga mengakibatkan sisi lain dari hutan ada yang mati karena asap tersebut. Angin dengan asap hitam yang membuat pohon, tanaman dan tanah kehilangan kekuatan hidupnya.


Si pemilik tubuh tadi berhenti dan menengok ke belakang.


“Ini semua karena aku gegabah. Aku tidak bisa sampai gagal. Kalau begini, Aruji-sama tidak akan mendapatkan gadis itu. Sial!”


Tubuh yang terpotong tadi akhirnya kembali tumbuh.


“Aku, Ara-mitama tidak akan menyerah. Pertama, aku akan mencari tau bagaimana caranya untuk membuat gadis itu keluar dari kediaman Aragaki-sama.”


“Setelah itu, aku akan membuat perhitungan dengan rubah-rubah busuk itu.”


Sosok bayangan yang telah diketahui, Ara-mitama yang mengincar calon ‘pengantin’ sang penguasa akan mulai menjadi angin hitam yang berbahaya.


****