
Keesokan hari setelah hadiah itu di berikan, Reda sedang mencoba memberanikan diri untuk mengenakan pakaian yang telah diberikan oleh Aragaki.
"Rasanya malu. Tapi, Nushi-sama pasti senang jika aku memakainya pagi ini."
Sambil memilih pakaian yang ada di dalam lemarinya, dia ingat kejadian kemarin sore saat seluruh pakaiannya benar-benar datang.
**
Sore itu, seperti kata Jorogumo bahwa dirinya benar-benar datang dengan sisa pakaian yang belum di antar.
Semua orang termasuk keempat pelayan Aragaki saat itu ada di ruangan juga.
"Huwaaa~bagus sekali! Gadis desa, kau harus memiliki lemari di kamarmu jika ingin menyimpan seluruh pakaian ini." kata Kuroto
"Aku rasa itu benar. Reda-sama membutuhkan lemari pakaian yang lebih besar untuk menyimpan seluruhnya." Hakuren menimpali
Gadis itu merasa malu mendengar ucapan yang dikatakan oleh para pelayan setia Aragaki.
Namun dia berpikir apa yang dikatakan oleh mereka itu benar, sejak pakaian yang diterima itu memang sangat banyak.
"Nushi-sama, ini terlalu banyak." kata gadis itu pada sang penguasa yang duduk di sampingnya
"Kenapa tidak? Ini tidak sebanyak itu, percayalah. Benar kan, Jorogumo?"
Jorogumo dan pelayannya yang ikut saat itu hanya bisa tersenyum mendengar kalimat dari sang penguasa.
Keempat pelayan setianya pikirannya masing-masing
"Jelas sekali ini sudah banyak! Apanya yang tidak banyak?" pikir Nagi
"Nushi-sama, sebenarnya ingin mencoba membohongi siapa?" pikir Ginko
"Tampaknya Aragaki-sama masih sangat malu mengakuinya." pikir Hakuren
"Jangan katakan Aragaki-sama berpikir kalau dirinya bisa membeli beberapa potong pakaian lagi. Mau diletakkan di mana sisanya?" pikir Kuroto
Rubah kecil berada dalam tumpukan pakaian di dekat Reda.
Sambil senyum sendiri, dia mulai berkata, "Reda-sama, nanti langsung di pakai ya. Aragaki-sama pasti akan langsung bermimpi indah kalau Reda-sama memakainya. Ehehe~"
Tampaknya mendengar itu, semua orang yang ada di sana termasuk para pelayan Aragaki langsung terdiam menahan tawa.
Gadis itu begitu senang dengan wajah merah meronanya.
**
Di saat ini, di pagi hari, setelah menyisir rambutnya dan mengingat kejadian kemarin sore, Reda memutuskan untuk memakai pakaian yang dibeli oleh Aragaki untuk.
Warna cerah hijau berbalut pita keorenan dan hakama yang memudahkannya bergerak membuatnya cukup percaya diri.
"Aku harap Nushi-sama menyukainya."
Tidak lama setelah itu, rubah kecil datang ke kamarnya.
"Reda-sama, selamat pagi."
Saat dibuka, rubah kecil teriak melihat gadis itu.
"Kyaaa!!"
"Ryuunosuke?!" Reda terkejut dan menghampirinya
Teriakan itu cukup membuat kaget keempat pelayan Aragaki yang akhirnya menghampiri sumber suara tersebut.
"Oi! Apa yang terjadi rubah ke–"
Nagi yang sudah hampir mencubit pipi rubah kecil di depan kamar Reda langsung terdiam melihat penampilan gadis desa di depannya.
"..."
Bukan hanya Nagi tapi Ginko dan kedua tengu yang ada di sana juga terpesona dengan penampilan segar dari gadis itu di pagi hari.
"Reda...-sama?"
"Ginko-sama, se–selamat pagi. Nagi-sama juga, Hakuren-sama juga, Kuroto-sama juga. Selamat pagi."
"..."
Tidak ada yang menjawab karena mereka begitu terpana dan terpesona. Penampilan cantik gadis itu membuat keempat pelayan Aragaki tidak berkedip.
Rubah kecil itu memecah keheningan sesaat.
"Kyaaa! Reda-sama cantik sekali! Aragaki-sama akan senang melihatnya! Kyaa~ayo bangunkan Aragaki-sama, bangunkan Aragaki-sama!"
Dengan cepat, Ryuunosuke menarik tangan Reda dan berjalan cepat untuk menuju ruangan sang majikan.
"R–Ryuunosuke, tolong pelan-pelan sedikit. Nanti kamu terjatuh."
"Ryuunosuke mau mendengar Aragaki-sama memuji Reda-sama lagi! Ryuunosuke mau Aragaki-sama melihat penampilan cantik Reda-sama pagi ini!!"
Mendengar kalimat rubah kecilnya, Reda hanya bisa merasa bahagia dan berbinar-binar.
Setelah berdiri di depan ruangan Aragaki, rubah kecil itu seperti lupa caranya tata krama kesopanan saat memasuki ruangan sang majikan dan langsung membuka pintunya begitu saja.
-Braaak
"Aragaki-sama, lihat Reda-sama sekarang!"
"Ryuunosuke, ini tidak sopan!" Reda panik sekarang
Saat mata Reda melihat ke depan, dia melihat pemandangan tidak biasa.
Sang penguasa baru saja selesai memakai obi miliknya dan semua pandangan itu hanya terfokus pada sosok cantik gadis desa itu.
Ekspresi wajah yang tersipu itu membuat pikirannya mengabaikan pakaiannya yang lain untuk sementara dan mendekati gadis itu.
Rubah kecil terlihat senang sekali.
"Aragaki-sama, lihat! Reda-sama cantik sekali kan?! Ryuunosuke sangat kaget melihatnya!"
Wajah Reda memerah begitu Aragaki ada di hadapannya saat ini.
"Nu–Nushi-sama...selamat pagi."
Bukannya membalas salamnya, sang penguasa justru mengeluarkan kalimat yang tidak bisa dipercaya, "Kamu sangat cantik pagi ini."
"Eh?"
-Bluuuuuush
Di pagi hari, Reda sudah mengalami debaran jantung yang sangat kencang.
Tidak ada balasan dari gadis cantik itu karena dia terlalu malu untuk menjawab. Dan rubah kecil itu bertindak sebagai juru bicara mereka.
Dia menirukan kalimat Reda dan memperagakan kalimat yang 'mungkin' akan dikeluarkan oleh sang penguasa.
"Terima kasih Nushi-sama."
"Kamu suka pakaian dariku?"
"Sangat suka Nushi-sama."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Nushi-sama."
"Mau menikah denganku hari ini?"
"Tentu saja mau, Nushi-sama!"
Mendengar rubah kecil itu bicara hal yang aneh-aneh, kedua tokoh yang diperankan olehnya menengok secara bersamaan melihatnya asyik sendiri.
"Ryuunosuke..." wajah Reda malu mendengarnya
"Rubah kecil, kamu sudah jadi anak nakal ya." Aragaki mulai melihatnya sambil tersenyum
"Ryuunosuke tidak nakal, Ryuunosuke bicara hal yang sesungguhnya! Reda-sama cantik, kan?"
Sang penguasa tidak bisa membalas perkataan rubah kecilnya.
Dia melihat penampilan gadis itu kembali.
Seperti warna baru, penampilan dengan pakaian baru darinya merupakan hal yang menyegarkan mata.
"Kamu suka pakaian barunya?"
"Su–suka. Terima kasih banyak, Nushi-sama."
"Apakah pakaian itu nyaman dipakai?"
"Nyaman. Pakaiannya sangat nyaman. Terima kasih banyak, Nushi-sama."
"Apa pita kemarin kamu pakai?"
"Maafkan aku, pitanya masih...disimpan."
"Begitu, tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang kamu memakai pakaian dariku. Aku harap semua nyaman dikenakan."
Aragaki tidak berhenti melihat gadis itu.
"Dia jadi sangat cantik. Ternyata benar, pakaian bisa membuat penampilan seseorang berubah."
"Mataku menjadi segar, dia sangat cocok dengan pakaian itu. Aku ingin sekali terus melihatnya."
Keheningan itu berakhir dengan suara rubah kecil.
"Ehem ehem, di sini hanya ada dua orang. Ryuunosuke hanya hiasan di ruangan Aragaki-sama."
Keduanya menengok. Reda panik, "Ma–maafkan aku, Nushi-sama. Kami akan keluar sekarang. Sa–sarapan akan segera disiapkan."
Reda memberi salam dan hormat pada sang penguasa. Keduanya langsung membawa rubah kecil itu keluar ruangan Aragaki.
Begitu pintu kamar ditutup, Aragaki menghela napasnya panjang.
"Haaa~aku benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata."
"Rasanya...dia jadi sangat berbeda."
Debaran yang dirasakannya begitu nyata dan sang penguasa tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.
"Dia cantik sekali."
Sementara itu, Reda dengan malu berjalan menggandeng tangan rubah kecilnya.
"Reda-sama, Reda-sama senang iya kan?"
Reda berhenti dan melihat rubah kecil manisnya.
"Ryuunosuke... aku harus bagaimana? Telinga ini dipenuhi dengan suara Nushi-sama."
"Tidak apa-apa, Reda-sama. Aragaki-sama akan menyukaimu perlahan-lahan.'
Senyum rubah kecil itu membuat sang gadis ceria. Mereka menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
****