
Selesai makan, Reda bermaksud membereskan semua peralatan makan itu namun tampaknya keempat pelayan Aragaki lebih baik dalam menghargai wanita.
Ginko menahan tangan Reda yang sudah mengambil beberapa piring di meja.
“Reda-sama pergilah bersama Ryuunosuke. Kami yang akan membersihkannya.”
“Eh? Tapi itu sudah menjadi tugasku. Nushi-sama sudah memberikan semua tugas Ryuunosuke sejak aku datang, jadi–”
“Akh! Berisik sekali! Sudah sudah sana! Rubah kecil, bawa gadis desa ini ke tempat lain dan jangan biarkan dia menyentuh kain lap atau ember air! Pergi sana, hush hush!”
Nagi membuat wajah kesal demi bisa mengusir Reda dari sana. Tampaknya Ryuunosuke mengerti dan menggandeng tangan gadis lugu itu.
“Reda-sama, ayo. Biarkan saja Nagi-sama dan yang lain membersihkan itu. Nagi-sama sedang rajin hari ini, ini keberuntungan dari langit. Ayo ayo.”
Begitu keduanya keluar, Nagi yang nyaris meledak karena emosi mendengar rubah kecil itu akhirnya mulai menghela napas berat.
“Rubah itu…awas dia nanti. Akan kutarik telinganya agar tidak bisa diputar lagi!” gerutunya
“Nagi, jangan berkata kasar seperti itu. Kamu harus menahan diri. Ryuunosuke sedang senang karena Reda-sama akhirnya mau menginjakkan kaki di sini dan makan bersama kita.”
“Ginko benar, Nagi. Awas saja kalau sampai dia menangis karena ulahmu. Akan aku terbangkan dan kujatuhkan kau dari atas.”
Hakuren sedikit meledek Nagi yang kesal. Tampaknya dia berusaha menahan emosinya kembali. Mereka membawa piring dan mangkuk makan itu ke dapur dan membagi tugasnya.
**
Sementara itu, Ryuunosuke menarik Reda pergi menuju taman.
“Ryuunosuke, apa kita benar-benar tidak perlu membantu mereka?”
“Tidak perlu. Nagi-sama yang mengatakannya jadi itu pasti sudah diniatkan dalam hati mereka. Selain itu, Reda-sama janji mau mengajari Ryuunosuke kan?”
“Ikebana ya. Ryuunosuke mau membuatnya sekarang?”
Rubah kecil itu berhenti. Dia melepaskan tangan Reda dan berbalik melihat Reda.
“Ryuunosuke ingin memberikannya pada Aragaki-sama agar tidak marah lagi pada Reda-sama dan Ryuunosuke. Selain itu, siapa tau Aragaki-sama menyukainya!”
“Reda-sama juga nanti buat satu agar Aragaki-sama senang!”
Kata-kata polos rubah kecil itu sungguh mengejutkan. Jelas hal kedua yang dikatakan oleh rubah kecil itu sangat mustahil untuk dibayangkan.
“Nushi-sama akan membuangnya seperti kemarin. Itu pasti. Tapi, jika itu adalah milik Ryuunosuke mungkin Nushi-sama akan jauh lebih senang. Lagipula, Ryuunosuke sangat sayang pada Nushi-sama.”
Reda tersenyum setelahnya, “Ryuunosuke, kita cari tempatnya dulu ya. Kalau itu adalah hadiah untuk Nushi-sama, hiasanya harus yang istimewa dan cantik.”
“Kalau begitu, kita pergi ke pasar lagi ya!”
“Baiklah.”
Keduanya memutuskan untuk pergi ke pasar. Setelah mengatakan pada yang lain bahwa mereka akan pergi, Hakuren memberikan sedikit koin lagi kepada rubah kecil.
“Belilah yang kamu suka, Ryuunosuke. Reda-sama juga.”
“Huwaaa~Reda-sama, kita dapat koin lagi! Terima kasih banyak, Hakuren-sama!”
“Terima kasih banyak, Hakuren-sama. Kami permisi dulu.”
“Hati-hati ya.”
Selesai memberikan koin dan mengatar kepergian mereka, tampaknya kedua tengu itu lebih senang menjadi pengawal pribadi yang bekerja secara diam-diam.
“Kalian berdua jaga rumah karena aku dan Hakuren akan mengikuti mereka berdua.” kata Kuroto
“Hati-hati.”
“Kami pergi dulu.”
Kedua tengu itu terbang. “Mereka sudah pergi.” kata Ginko sambil melihat ke atas
“Mereka terlalu khawatiran seperti orang tua yang baru melepas anaknya ke alam liar.” Nagi memberikan komentarnya
“Tapi itu tidak salah. Reda-sam adalah manusia dan semua penduduk Higashi no Mori masih menganggapnya jahat seperti yang Nushi-sama pikirkan.”
“Aku tidak akan melupakan hal yang dilakukan oleh mereka di malam saat Reda-sama baru tiba di tempat ini. Mereka melemparinya dengan telur. Kamu juga ingat itu dengan baik kan, Nagi?”
“…”
Nagi tertunduk dengan ekspresi wajah serius mendengar perkataan Ginko kemudian dia masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.
**
Di jalan, seperti yang sudah-sudah, rubah kecil itu tampak bahagian dengan kantong kecil berisi koinnya.
“Reda-sama, kita beli barang yang Reda-sama suka nanti.”
“Ryuunosuke, kita akan membeli tempat untuk hiasan bunga Nushi-sama. Jangan lupakan hal itu, mengerti?”
“Tapi kita tetap akan membeli barang yang Reda-sama sukai. Itu harus!”
Sebelum sampai di pasar, rubah kecil itu berhenti.
“Ada apa, Ryuunosuke?”
“Ryuunosuke mau pergi duluan. Reda-sama tunggu di sini ya.” Rubah kecilnya itu berlari meninggalkannya sendiri. Reda terlihat bingung, tetapi tidak lama setelah itu dia menyadari sesuatu.
“Aku lupa aroma tubuhku mungkin tercium oleh siluman lain.” gumamnya pelan
Tapi, meskipun pelan tetap saja ada yang mendengarnya. Itu adalah dua pengawalnya yang diam-diam mengawasinya.
“Untung saja rubah kecil itu peka.” kata Kuroto
“Aku berharap Reda-sama tidak akan mengalami hal buruk di pasar. Kita juga masih tidak tau, apakah ada hal yang tidak menyenangkan sejak Reda-sama tiba.”
“Aku tau itu. Karena itu kita mengikuti gadis desa dan si rubah kecil, kan?”
“Kau benar, Kuroto.”
Reda menunggu Ryuunosuke dengan tenang. Tidak lama kemudian, dia kembali.
“Reda-sama! Ryuunosuke bawa ini untukmu!”
Ketika rubah kecil itu datang, dia membawa sesuatu yang sangat tidak biasa. Selain kain, dia juga membawa sesuatu seperti topi jerami.
“Apa itu, Ryuunosuke?”
“Ini topi agar Reda-sama tidak kepanasan.”
Sungguh perhatian yang manis sekali dari rubah kecilnya itu. Reda menerima topi tersebut dan memakainya. “Terima kasih banyak, rubah kecil.”
“Ehehehe~”
Keduanya pergi ke pasar setelah Reda mengenakan semua yang diberikan rubah kecil tersebut. Dari belakangnya, Hakuren dan Kuroto terbang diam-diam mengawasi mereka.
Cukup lama keduanya pergi berkeliling pasar. Kedua tengu itu tidak begitu tau apa saja yang dikatakan oleh semua orang di bawah.
Yang terlihat jelas adalah rubah kecil itu terus menarik gadis desa yang cantik itu untuk mengunjungi satu per satu toko dan lapak milik pedagang.
“Anak nakal itu benar-benar tidak bisa dipercaya!” ucap Kuroto kesal dari atas. “Harusnya tidak perlu diberikan uang koin sebanyak itu, Hakuren! Lihat itu! Dia membeli sesuatu yang tidak jelas!”
“Dia hanya memegangnya, Kuroto. Jangan bicara dengan nada seperti itu.”
“Lihat itu! Apa lagi yang dibelinya itu? Pita dan tusukkan daging? Kenapa beli benda aneh itu lagi? Dan apa lagi itu? Batu berwarna?! Mataku pasti salah lihat.”
“Mereka pasti ingin melakukan sesuatu dengan semua itu. Tidak bisakah kau tenang sedikit, Kuroto?”
“Kalau tau begini, lebih baik kita berdua saja yang belanja!”
“Aku rasa tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Lihat di bawah itu.” Hakuren menunjuk ke arah kedua orang itu. “Reda-sama bisa tersenyum senang. Aku rasa Ryuunosuke ingin Reda-sama bisa melupakan kejadian kemarin.”
Kuroto kembali memperhatikan keduanya. Tapi semakin lama, dia melihat tampaknya rubah kecil itu memiliki masalah dengan sesuatu.
“Aku mau turun!”
“Apa? Tu…Kuroto!”
Kuroto langsung mengabaikan panggilan Hakuren dan pergi ke bawah. Begitu banyak kerumunan orang di bawah sana hingga tidak akan disadari oleh keduanya.
Hakuren terpaksa ikut turun dan mengikuti Kuroto. Dia berhasil mengejar Kuroto di kerumunan orang di pasar.
“Kuroto!” panggilnya, “Kau harus menjaga jarakmu dengan mereka!”
“Aku tau, aku tau! Lihat itu, benar kan dugaanku. Mereka memang ada masalah sedikit!”
Di depan mereka, tepatnya di jarak yang cukup jauh di kios mangkuk tanah liat, tampaknya rubah kecil itu tidak bisa menawar harga.
“Tuan, aku mau yang ini. Harganya turunkan sedikit ya.”
“Tidak bisa, rubah kecil. Ini sudah paling maksimal. Ini barang bagus jadi harganya tinggi. 10 koin atau cari mangkuk lain saja.”
“Ryuunosuke, tidak apa-apa. Kita lihat yang lain saja ya.” Reda berusaha membujuk rubah kecil itu
“Tapi, Ryuunosuke suka mangkuk ini. Ini ada corak bunga sakuranya, Reda-sama. Ryuunosuke mau pakai ini untuk mangkuk hiasnya.” rubah kecil itu merengek
“Ah sudah sudah, kalau tidak bisa beli, pergi saja sana! Masih banyak pelangganku yang lain. Sana pergi!”
Pedagang itu membentak dan mengusir rubah kecil itu. Reda menggandeng tangannya. Tentu saja rubah itu menahan air matanya dan pergi dengan semua belanjaan yang dibawanya.
Suara pedagang yang membentak Ryuunosuke terdengar sampai ke telinga Hakuren dan Kuroto. Seketika kedua tengu itu langsung tersulut emosi.
“Pedagang itu mau cari masalah rupanya.”
****