
Reda bersama rubah kecilnya keluar dengan membawa pakaian kotor di dalam keranjang pakaian. Dari kejauhan, keempat pelayan setia Aragaki melihat ke belakang mereka kedua.
“Aragaki-sama tidak mengawasi mereka lagi. Apa yang terjadi?” tanya Nagi
Ginko memperhatikan lebih detail dan memang tidak menemukan bayangan sang majikan.
“Aku tidak tau. Mungkin Nushi-sama tidak melihat keanehan pada keduanya.”
“Apa benar begitu? Aku jadi merasa aneh.”
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Nagi! Kita harus tetap mengawasi mereka.” ujar Kuroto
Hakuren merasakan sesuatu yang tidak biasa. Entah apa itu, tapi dia jadi sedikit penasaran dan memilih memisahkan diri.
“Aku titip Reda-sama dan Ryuunosuke. Aku akan melihat Aragaki-sama berada ke dalam.”
Hakuren terbang meninggalkan temannya yang lain. Dia terlihat serius dan sulit untuk dijelaskan, hanya saja hatinya sedikit tidak tenang hingga memutuskan untuk melihatnya sendiri.
Di sumur, Reda dan rubah kecil bersiap-siap untuk mencuci pakaian.
“Ryuunosuke, apakah di dalam hutan ada sungai?”
“Sungai? Ada. Di dalam hutan ada air terjun juga, Reda-sama. Air terjunnya sejuk sekali. Kalau musim panas, Ryuunosuke bersama Aragaki-sama dan yang lain berendam tepi sungai di dekat air terjun.”
“Sepertinya menyenangkan. Apa ada ikannya juga?”
“Ada! Ryuunosuke sering memancing juga bersama Aragaki-sama!” katanya dengan senang. “Banyak ikannya dan di dalam hutan juga ada danau yang indah sekali. Ada bunganya yang banyak seperti tanaman bunga liar juga di sana.”
“Benarkah?! Sepertinya menyenangkan. Kapan-kapan mau menunjukkannya padaku, tidak?”
“Ryuunosuke akan menunjukkannya pada Reda-sama. Kita pergi bersama juga ya!”
Rubah kecil itu tampak senang sekali sambil melompat-lompat. Tampaknya dia cukup senang walau sebenarnya belum tentu hal itu bisa terjadi dalam waktu dekat.
Reda hanya melihatnya sambil tertawa dan mencuci pakaian yang kotor. Dari kejauhan, ketiga pelayan setia Aragaki melihat tanpa berkomentar apapun.
Saat Reda melihat keranjang milik Aragaki yang harus dibilas, dia berpikir untuk melakukan sesuatu.
“Ryuunosuke, tolong tunggu di sini ya.”
“Reda-sama?” rubah kecil itu melihat gadis desa itu pergi meninggalkannya. Gadis itu pergi ke dapur dan mengambil beberapa sendok garam ke mangkuk kecil lalu kembali.
“Ryuunosuke, kita buat pakaian Nushi-sama dan yang lainnya lebih bersih dengan ini ya.”
“Apa itu?”
“Garam.”
“Eh? Memang bisa?”
Gadis itu tersenyum dan menunjukkan caranya pada si rubah kecil. “Dulu mendiang ayah dan ibuku pernah melakukannya untuk menghilangkan keringat dan aroma amis. Ini pasti bisa membantu.”
“Huwaa~Ryuunosuke baru tau!”
Bukan hanya rubah kecil itu saja, tapi ketiga orang yang melihat dari jauh juga baru tau.
“Memang bisa?” tanya Nagi kepada dua temannya
“Tidak tau.” Ginko menggelengkan kepalanya
“Gadis desa itu aneh-aneh saja.” gumam Kuroto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Tapi, tampaknya hal itu cukup berhasil. Hasilnya membuat semua terkejut dan begitu dijemur, Ryuunosuke melihat perubahannya.
“Huwaaa~” ucapnya sampai terlihat berbinar. “Jadi terlihat segar, Reda-sama!”
“Syukurlah. Ayo, kita pergi sambil menunggu jemurannya kering. Kita siram taman dan kita petik beberapa bunga ya. Aku akan mengajari Ryuunosuke membuat ikebana.”
Rubah kecil itu menggandeng tangan Reda sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
**
Sementara itu, Hakuren berhenti dan mengintip di balik salah satu pohon sakura yang ada di seberang ruangan Aragaki.
Pintu ruangan Aragaki terbuka lebar dan Hakuren melihat sang majikan tampak sedang memperhatikan sesuatu.
“Kenapa beliau hanya berdiri di sana? Apa yang dilihatnya itu?”
Sejak berpisah dari teman-temannya dan memilih untuk melihat tuannya, Hakuren memperhatikan Aragaki hampir lebih dari dua puluh menit.
“Aragaki-sama tidak bereaksi dan hanya mematung seperti itu. Aku merasa firasat buruk milikku tepat. Apakah ada sesuatu?”
Kecemasan terlihat di wajahnya, sampai akhirnya dia terkejut.
-Praang
Aragaki melempar kedua hiasan ikebana itu dari ruangannya keluar kamarnya. Semuanya hancur dan sontak hal tersebut membuat Hakuren menghampirinya.
“Aragaki-sama! Apa yang Anda lakukan?!” Hakuren terlihat panik
Namun ternyata, kepanikkan Hakuren menjadi semakin parah saat melihat ekspresi dingin serta aura menakutkan dari sang majikan.
“Berat! Aura apa ini? Apa yang terjadi?”
Hakuren melihat ke bawah. Itu adalah mangkuk dengan bebatuan dan bunga-bunga yang berserakan. Dia tidak mengerti apa yang terjadi di sana, tapi dia tau bahwa saat ini tuannya sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
“Apakah Aragaki-sama marah? Tapi apa alasannya? Kenapa bisa sampai semarah itu?”
Hakuren tidak mengetahui alasannya. Saat matanya dan mata sang majikan bertemu, Aragaki mendekatinya dan menatapnya.
“Katakan padaku, apakah kamu tau rasanya dibohongi oleh orang yang paling kamu sayangi, Hakuren?”
-Deg
“A–Aragaki-sama, apa yang–”
“Apa kamu tau rasa sakit yang ditimbulkan dari kebohongan itu akan benar-benar terasa perih? Ini bukan pertama kalinya aku dikhianati dan kamu tau itu juga, benar kan?”
Di saat yang sangat tidak terduga, Reda dan rubah kecil datang melewati engawa yang mengarah ke ruangan Aragaki. Mereka melihat Aragaki berdiri di engawa luar dengan Hakuren yang ada di hadapannya.
“Reda-sama, itu Aragaki-sama! Ada Hakuren-sama juga! Ayo kita berikan salam untuknya!”
Reda tersenyum. Namun, baru berlari sedikit, rubah kecil itu berhenti dan gemetar. Dia merasa takut.
“Aragaki…-sama.” rubah kecil itu memanggil pelan nama tuannya sambil berkeringat
“Ryuunosuke?”
Reda kebingungan. Dia tidak bisa merasakan aura siluman secara langsung karena tingkat kepekaan manusia berbeda dengan siluman. Saat matanya melihat ke depan, pandangan Reda bertemu dengan mata Aragaki.
Mata indah milik Aragaki begitu membuatnya terpesona. Wajah merah gadis itu terlihat dan dia begitu berharap bisa mendengar suara lembut sang penguasa yang dia cintai.
Namun, keberuntungan memang tidak selalu datang.
Aragaki mengeluarkan anginnya dan melempar Reda seperti yang pertama kali dia lakukan saat Reda datang ke Higashi no Mori.
“Aah!”
Reda terhempas sampai air yang dibawanya untuk menyirami tanaman tumpah ke lantai engawa. Rasa sakit di tubuhnya tidak bisa membohonginya.
“Reda-sama!”
Ryuunosuke dan Hakuren berteriak, namun tidak ada satupun dari mereka yang mendekati atau menolongnya karena takut pada aura kemarahan Aragaki.
Nagi, Ginko dan Kuroto yang awalnya bersembunyi demi bisa mengawasi gadis itu akhirnya keluar begitu melihat Reda terlempar.
“Nushi…-sama…” Reda berusaha untuk bangun dengan pakaian basah
Gadis itu melihat ada pecahan mangkuk dengan bunga-bunga yang tidak asing untuknya.
“Itu…mungkinkah Nushi-sama…” wajahnya berubah panik
Pandangan Aragaki melihatnya lurus. Bukan mata penuh cahaya yang dilihat Reda, melainkan mata penuh kebencian. Tatapan kebencian itu juga ditunjukkan oleh Nagi dan Ginko yang sekarang berada di hadapan Aragaki.
“…!!!” Keduanya tidak bisa bergerak. Aura kebencian itu begitu kuat hingga tanpa sadar ekornya membesar dengan kuku yang sangat panjang dan tanda merah di keningnya muncul.
Hal ini mirip dengan saat pertama kali Reda bertemu dengannya.
“Gadis kotor yang tidak tau batasan diri. Padahal aku cukup memuji karena kamu memiliki kesadaran untuk tidak melewati batas yang seharusnya tidak kamu lewati. Berani sekali kamu bersikap tidak sopan.”
“Ma–maafkan kelancanganku, Nushi-sama. Tapi sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang–”
“Jangan berani menjawabku, gadis kotor!!”
Teriakan Aragaki begitu memekikan telinganya. Ryuunosuke menjadi semakin takut sampai kakinya tidak kuat lagi untuk berdiri. Dia menangis.
“Apa kamu tuli! Aku sudah katakan sejak awal untuk jangan pernah bicara denganku dan muncul di depanku! Jangan kalian semua kira aku tidak tau apa yang kalian lakukan di belakangku!”
“Kalian yang begitu aku percaya, ternyata bisa mengkhianatiku seperti ini! Sejak kapan aku sudi menerima pemberian keturunan darah kotor dari desa terkutuk itu?! Sudah cukup dengan kebohongan ini!”
Siang itu, Aragaki bagaikan badai yang mustahil untuk dihindari.
“Jangan kalian pikir aku tidak tau bahwa hiasan ikebana itu adalah buatan tangan gadis kotor itu. Nagi, Ginko…tampaknya pikiran naif rubah kecil kesayanganku sudah mempengaruhi kalian terlalu dalam.”
-Deg
Kedua youko itu tau bahwa kalimat tersebut adalah bentuk rasa kecewa yang sangat dalam dari tuannya. Mereka berdua berlari dan bersujud pada Aragaki dengan telinga turun tanda ketakutan mereka.
“Maafkan kami, wahai tuan kami yang agung. Kami melakukan hal tersebut bukan demi membohongimu.”
“Kami bersumpah kami hanya setia padamu, Nushi-sama. Saat itu, kami hanya ingin membuat Ryuunosuke bahagia dan tidak lagi menangis jadi…”
“Tutup mulut kalian berdua sebelum aku menutupnya sendiri dengan tanganku.” kata Aragaki dengan nada dingin
Aragaki mendekati rubah kecilnya, berdiri di depannya dan menatapnya dengan rendah.
“Aku begitu menyayangimu, rubah kecilku. Tapi aku tidak menyangka bahwa kamu akan membohongiku seperti ini. Hadiah itu bukan darimu, benar kan?”
“Aragaki…-sama…”
“Ryuunosuke, aku begitu kecewa padamu. Aku kecewa pada kalian juga, Nagi, Ginko. Dan…”
Aragaki menatap Reda yang masih belum bisa berdiri, “Aku benci pada siapapun yang membantunya. Siapapun itu, tidak peduli caranya. Gadis kotor itu akan tetap mati kurang dari 3 bulan dan aku tidak akan pernah menerimanya di tempat ini.”
Sang penguasa agung itu berjalan melewati Reda dan dengan sekali kibasan ekornya yang besar, dia mendorong Reda hingga jatuh dari engawa ke taman.
“Akh!”
“Reda-sama!!” rubah kecil itu langsung berdiri dan membantu Reda sambil menangis memeluknya
Pelayan lain tidak bisa berbuat apa-apa karena sangat takut pada kemarahan sang majikan.
Aragaki melewati Kuroto yang menundukkan kepala tanpa mengangkatnya. Tengu hitam itu terlalu syok dengan aura kemarahan sang majikan.
Siang itu, harapan Reda untuk dekat dengan pria yang dicintainya bagaikan hancur berkeping-keping.
**
Di saat Aragaki sudah jauh dari keberadaan mereka semua, dia kembali menekan semua aura kebenciannya dan kembali seperti semula. Sambil memegang dadanya, dia mengernyitkan dahinya.
“Kenapa kalian membohongiku seperti ini? Kenapa kalian tidak mengerti rasa sakit ini? Manusia kotor itu telah merebut semuanya dariku, tapi kenapa kalian begitu mudah menerimanya?”
Aragaki merasakan hatinya seperti hancur untuk yang kesekian kalinya. Ini seperti, dia harus menerima kenyataan bahwa pelayan setianya telah berkhianat dan membela orang yang paling dibencinya saat ini.
****