
Reda yang baru saja selesai makan, merapikan semua mangkuknya dan duduk menunggu rubah kecil itu datang.
“Apa Ryuunosuke masih lama ya? Rasanya aku tidak sabar untuk pergi ke pasar. Di sana pasti banyak daging yang disukai Nushi-sama. Aku harap aku bisa memberikan banyak daging untuknya.”
Senyum di bibir gadis itu terlihat mempesona. Dia membayangkan banyak hal yang ingin dibuat olehnya untuk sang penguasa.
“Kalau harus menangkap kelinci di hutan lagi, rasanya akan sulit. Selain itu, aku juga tidak pandai berburu. Memang yang terbaik adalah membeli…” Reda terdiam. Dia mengingat hal penting. “Aku…tidak punya koin.”
Wajahnya menjadi begitu sedih sekarang. Tampaknya untuk Reda saat ini, membeli sesuatu tidak akan pernah bisa dilakukan.
“Sepertinya aku harus mengatakan kepada rubah kecil itu. Aku benar-benar tidak memiliki apapun di tempat ini.”
**
Ryuunosuke yang berjalan menuju pintu belakang untuk pergi ke gubuk tua dihampiri oleh Hakuren dan Kuroto.
“Ryuunosuke!” Kuroto memanggil nama rubah kecil
Rubah kecil itu melihat ke atas. Begitu kedua tengu itu mendekatinya, rubah kecil itu segera memasang senyuman di wajahnya agar tidak terlihat menangis.
“Ha–Hakuren-sama, Kuroto-sama, selamat pagi.”
Keduanya sudah tau apa yang terjadi. Mereka berlutut dan mengusap-usap kepala si rubah kecil.
“Ryuunosuke, tidak apa-apa. Kami sudah tau semuanya. Jangan mencoba memaksakan dirimu untuk tersenyum seperti itu.”
Mendengar itu, Ryuunosuke jadi murung kembali dan hampir saja menangis.
“Ryuunosuke…tidak boleh terlihat sedih di depan Reda-sama. Reda-sama tidak boleh tau apa yang dikatakan Aragaki-sama barusan. Reda-sama harus tersenyum.” kata rubah kecil itu sambil menggenggam erat pakaiannya kembali
Hakuren dan Kuroto tau apa yang menjadi masalah untuk rubah kecil itu.
“Kami mengerti. Kami hanya ingin Ryuunosuke tau bahwa aku dan Kuroto tidak akan lagi memikirkan hal buruk tentang Reda-sama.”
“Kami tidak bisa banyak membantumu, tapi setidaknya kami akan mencoba yang terbaik. Untuk saat ini, yang bisa menyemangati gadis itu dari dekat adalah Ryuunosuke sendiri. Berjuanglah, Ryuunosuke.”
Hakuren mengeluarkan sesuatu. Seperti sebuah kantong dengan bunyi suara di dalamnya.
“Ini…”
“Ini koin untukmu. Kami dengar Ryuunosuke akan pergi untuk belanja, kan? Pakai ini untuk membeli barang yang kau suka.” Hakuren berbisik, “Belilah pakaian untuk Reda-sama juga. Mungkin dengan itu, Aragaki-sama akan berubah pikiran.”
Mendengar itu, rubah kecil itu menjadi bersemangat. Telinganya dan ekornya juga bergoyang-goyang mengikuti suasana hatinya saat ini.
“Boleh?!”
“Tentu. Benar kan, Kuroto?” Hakuren melihat ke arah temannya
“Terserah saja. Kami juga akan merahasiakannya dari Aragaki-sama jadi jangan khawatir. Cepat pergilah ke tempat gadis itu. Dia pasti menunggumu.”
Ryuunosuke mengangguk dan memberi salam kepada keduanya. Mereka melihat rubah kecil itu pergi.
“Kau yakin ini akan baik-baik saja, Hakuren? Kurasa kita sudah menentang banyak sekali perintah Aragaki-sama jika terus seperti ini. Aku yakin kita akan dihukum jika ketauan.”
“Jangan cemas. Bukan kau sendiri yang akan dihukum oleh Nushi-sama, Kuroto.”
Dari belakang, Ginko berjalan mendekati kedua tengu itu bersama Nagi.
“Nagi, Ginko.”
“Aku tau mungkin Nushi-sama akan menyadari hal ini cepat atau lambat dan hidup gadis itu mungkin hanya akan bertahan kurang dari 3 bulan. Tapi, jika ada kemungkinan untuk berhasil…aku memutuskan untuk bertaruh pada semua itu.”
“Paling tidak, aku berharap Nushi-sama bisa kembali lagi seperti Nushi-sama yang dulu. Perasaan rubah kecil itu…aku cukup memahaminya.”
Ucapan Ginko tidak ditanggapi oleh Kuroto yang hanya menghela napas panjang.
“Aku harap…Reda-sama adalah orang yang tepat untuk mencairkan hati Nushi-sama yang telah membeku.”pikirnya Ginko dalam hatinya
Rubah kecil itu berlari dengan membawa kantong kecil tersebut. Senyuman dan perasaan senang menyelimutinya. Dia mengingat ucapan Hakuren barusan.
[Belilah pakaian untuk Reda-sama juga. Mungkin dengan itu, Aragaki-sama akan berubah pikiran]
“Ryuunosuke tidak terpikirkan hal semacam itu. Benar juga, Reda-sama itu cantik. Kalau Reda-sama berdandan sedikit, Aragaki-sama pasti akan menyukainya.”
Begitu rubah itu sampai, dia langsung berteriak.
“Reda-sama! Ayo kita pergi belanja!”
“Ah, Ryuunosuke. Selamat datang.”
Dengan menunjukkan kantong kecil berisi koin yang banyak, Ryuunosuke tersenyum riang sekali. Ekornya tidak bisa berhenti bergoyang dan berputar.
“Reda-sama, Ryuunosuke membawa koin banyak sekali untuk kita belanja. Kita bisa beli daging dan ikan. Reda-sama juga bisa membeli pakaian yang cantik untuk menarik hati Aragaki-sama!”
Reda bingung melihat koin itu. Dia baru berpikir bahwa dia tidak punya koin untuk membeli bahan makanan di pasar nanti dan sekarang, rubah kecil itu bagaikan bisa membaca pikirannya.
“Dari mana semua koin itu, Ryuunosuke?”
“Hakuren-sama dan Kuroto-sama yang memberikannya padaku! Katanya ini boleh digunakan untuk membeli pakaian Reda-sama juga supaya Aragaki-sama menyukaimu!”
Reda tersipu malu mendengar itu dan berubah panik.
“Ja–jangan bicara begitu, Ryuunosuke! Nu–Nushi-sama tidak akan menyukaiku!”
“Jangan bicara begitu! Reda-sama tidak ingin menikah dengan Aragaki-sama?”
-Bluush
“Reda-sama?” Ryuunosuke memanggil gadis itu
Reda hanya mengangguk pelan.
“Kenapa diam? Reda-sama belum menjawab pertanyaan Ryuunosuke.” Sungguh rubah kecil yang penuh dengan rasa ingin tau. Reda hanya berhenti dan berlutut sambil memeluknya.
“Ryuunosuke…”
“Hmm?”
“Aku selalu berharap bisa bicara dan melihat Nushi-sama tersenyum. Aku mencintai Nushi-sama, Ryuunosuke. Tapi, perasaan ini mungkin tidak akan pernah tersampaikan pada beliau hingga aku mati nanti. Jadi, tolong simpan dan ingat baik-baik perasaan cintaku untuk Nushi-sama ya.”
Mendengar itu, rubah kecil itu menangis lagi.
“Jangan bicara begitu! Ryuunosuke selalu berdoa pada ibu agar membantuku juga dari langit. Reda-sama jangan menyerah, ya. Ryuunosuke ingin Reda-sama dan Aragaki-sama…” Ryuunosuke tiba-tiba terdiam.
Rubah kecil itu mengingat kalimat menusuk hati yang dikatakan oleh tuannya beberapa waktu lalu mengenai gadis desa ini.
[Aku tidak akan pernah mengakui gadis kotor itu. Bahkan jika dia adalah manusia terkutuk yang kamu sukai, aku tidak akan pernah menerimanya sebagai apapun di tempat ini]
[Higashi no Mori tidak membutuhkan darah kotor penduduk Kamakura dan aku tidak membutuhkan pengabdian dari manusia hina seperti dia]
Air mata rubah kecil itu semakin banyak sampai membasahi pakaian gadis desa yang memeluknya. Dia terus berdoa dalam hatinya.
“Hiks…ibu, tolong bantu Ryuunosuke. Reda-sama tidak boleh dibenci lebih dari ini oleh Aragaki-sama. Tolong bantu perjuanganku, ibu. Hiks…”
Angin kencang bertiup di pagi hari. Hembusan angin yang berasal entah dari mana, membelai rambut indah sang gadis desa yang malang dan rubah kecil yang menangis dalam doanya.
**
Di ruangannya, Aragaki memandangi ikebana pemberian rubah kecil dan dua youko itu sambil mengingat wajah sedih rubah kecilnya.
Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya itu dan tidak ada penyesalan akan pikirannya terhadap gadis desa itu.
Selama tiga hari terakhir, sejak dia mengizinkan rubah kecil kesayangannya bersama gadis desa itu lagi, dia merasa bahwa perubahan perasaan yang dialaminya tidak akan membuat hubungannya dengan rubah kecil itu memburuk.
Namun apa yang terjadi sangat berbeda dari kenyataan. Melihat betapa senangnya si rubah kecil itu bersama gadis dari desa yang amat dibencinya membuat Aragaki begitu marah.
Bukan hanya marah, kebencian terhadap gadis desa yang tidak pernah dia anggap ada itu semakin membesar.
“Apa yang disukai Ryuunosuke darinya? Kenapa dia begitu terobsesi pada kebohongan manusia?”
“Selama ini, tidak ada calon ‘pengantin’ yang melakukan tugasnya dengan benar dan berkali-kali mencoba membunuhku demi keselamatan mereka.”
“Kenapa rubah kecil itu masih belum menyerah pada pemikiran yang dibuat-buat seperti itu?”
“Gadis kotor dari desa itu sama saja seperti yang lain. Tipu muslihat yang dibuatnya tidak akan pernah mempan padaku."
"Mereka akan mati cepat atau lambat dan aku tidak bermaksud untuk memaafkan semua yang terjadi di masa lalu. Aku...”
Tiba-tiba, angin kencang bertiup di luar. Tiupan angin kencang itu cukup untuk membuat kelopak bunga sakura di pohon mulai bertebaran. Semakin banyak dan semakin banyak yang terbang terbawa hembusan angin.
Sebuah pertanda dari mereka yang telah pergi. Bagaikan mengarah ke suatu tempat, kelopak itu terlihat seperti memberikan pesan tersiratnya.
Beberapa kelopak bunga sakura masuk ke dalam ruangan Aragaki yang terbuka. Saat ada aroma yang tercium, Aragaki menengok dan berjalan menuju engawa luar dengan wajah terkejut. Dia melihat bunga sakura di pohon itu mulai tertiup angin.
Begitu banyak kelopak sakura yang bertebaran hingga Aragaki kembali mencium aroma yang begitu familiar.
“Aroma ini…apakah itu kamu, Ryoko?”
**
Reda yang memeluk Ryuunosuke dengan air mata membisikkan sesuatu.
“Tolong ingat perasaan cintaku kepada Nushi-sama, Ryuunosuke. Biarpun Nushi-sama tidak akan menyadarinya sampai kapanpun, suatu saat nanti…akan ada gadis beruntung yang akan menjadi cinta sejatinya.”
“Sampai saat itu tiba, aku akan berjuang. Kita akan berjuang bersama demi datangnya hari dimana Nushi-sama akan tersenyum kembali.”
Rubah kecil itu memeluk erat Reda. Tiba-tiba, angin datang mengantarkan kelopak bunga sakura yang jatuh. Kelopak sakura itu membuat sang gadis terkejut dan terpesona.
Dia melepaskan pelukannya dari rubah kecil dan memandangi bunga sakura itu.
“Bunga…sakura…”
Ryuunosuke mengendus sakura yang melewatinya dan terkejut.
“Ibu…?” gumamnya pelan
Aroma yang begitu dikenalnya. Seperti sebuah semangat baru untuk rubah kecil yang berjuang, dia menghapus air matanya dan memegang tangan Reda.
“Reda-sama! Jika Reda-sam mencintai Aragaki-sama, maka Reda-sama yang harus mengatakan itu kepadanya! Ryuunosuke akan mendukungmu! Apapun yang terjadi, hanya Reda-sama yang boleh menjadi pendamping untuk Aragaki-sama!”
“Ryuunosuke…Ryuunosuke yakin bahwa semua juga akan mendukung. Ibuku di langit juga akan mendukung kita! Ibu mendukung Ryuunosuke! Ibu juga menyukai Reda-sama!!”
Mata sang rubah kecil yang penuh percaya diri itu membuat Reda terharu.
“Ryuunosuke, terima kasih banyak rubah kecilku yang manis.”
Rubah kecil itu tersenyum dan menghapus air mata di pipi Reda. Setelah itu, mereka bergandengan tangan menuju pasar.
“Ibu, terima kasih untuk dukunganmu. Ryuunosuke masih belum menyerah! Apapun yang terjadi, Reda-sama adalah takdir yang tepat untuk Aragaki-sama. Ibu juga setuju denganku, kan?”
Keduanya berjalan meninggalkan kediaman Aragaki menuju pasar.
****