The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 115. Kematian Sang Iblis dan Menjemputmu Pulang



“Aku akan membuatmu membayar semua yang telah kamu lakukan, Nue. Gadis itu terluka, menangis dan ketakutan…aku harap kamu merasakan hal yang sama. Aku tidak akan memberikan kematian yang mudah untukmu.”


“Kamu akan berakhir bersama malam dan tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi besok.”


Aragaki tidak menghabiskan waktu untuk mendengarkan omongan Nue. Dia langsung menyerangnya dengan cepat, bahkan sebelum Nue selesai bernapas.


-Baaaang!!


Sebuah serangan berhasil mengenai Nue dan meskipun tubuh besarnya itu berusaha menahan serangan Aragaki, Nue terlempar cukup jauh dari tempatnya berpijak sebelumnya dan menghancurkan beberapa pohon besar di sana hingga akhirnya berhenti menabrak sebuah pohon paling besar di sana.


“Aragaki…-sama…beraninya kau–”


“Ini untuk luka yang kamu berikan pada tubuh gadis itu.”


Aragaki langsung memberikan ‘hiasan’ terbaik miliknya berupa sayangan pedang panjang yang akhirnya memotong salah satu telinga Nue.


“Gaaaaaakh!!”


Teriakan Nue terdengar begitu keras sampai Nagi dan kedua tengu yang tertinggal jauh tidak bisa melakukan apapun.


“Aragaki-sama sudah marah.” Hakuren mulai menyimpan kembali senjatanya


Nagi juga melakukan hal yang sama sambil berjalan mendekati kedua tengu di depannya, “Tapi beliau tidak langsung menghabisinya. Sepertinya Aragaki-sama ingin menyiksanya terlebih dahulu.”


Kuroto menatap tajam ke arah suara tersebut berasal.


“Padahal akan lebih cepat jika membuatnya langsung hilang dari muka bumi ini seperti yang pernah beliau lakukan pada manusia terkutuk dari desa itu.”


“Tidak. Itu masih belum cukup, Kuroto.”


“Nagi?” Hakuren menatap wajah Nagi yang penuh kemarahan. Emosi Nagi terlihat jelas dari mata dan ucapan dingin penuh emosi.


“Nue tidak boleh mati dengan tenang. Sejak dia membuat Reda-sama terlihat seperti sampah tak berarti, dia harus merasakan rasa sakit yang lebih dari ini.”


Hakuren merasakan bahwa Kuroto juga memiliki perasaan yang sama dengan Nagi dan tentu saja Hakuren juga tidak keberatan dengan itu.


“Apapun itu, Nue tidak akan lepas dari Aragaki-sama.”


-Baaaang!!


Sebuah angin besar kembali datang bersamaan dengan suara besar seperti ada sesuatu yang baru terkena pukulan telak.


Tentu saja itu adalah Nue.


“Kaaakh!”


Nue terbaring tak berdaya menerima serangan Aragaki yang masih belum ingin menghabisinya.


“Katakan padaku, sejak aku membiarkanmu tinggal di sini, aku tidak pernah ingat membuat janji padamu untuk selalu memberikan gadis desa dari tempat terkutuk itu untuk dijadikan makanan.”


“Aku melakukan hal itu saat mereka mencoba untuk kabur atau menyakiti rubah kesayanganku. Tapi, aku selalu merasa bahwa ada perasaan aneh yang membuatku melakukannya.”


“Rasa jijik dan sikap mereka yang bisa berpikir untuk meracuniku di masa lalu…apakah semua itu juga kamu yang melakukannya, Nue?”


Tidak ada ruang berdebat untuk ini.


Aragaki merasa begitu kesal dan marah hingga ekspresi dan aura membunuhnya tidak ditekan sama sekali, melainkan terus keluar sampai membuat angin besar datang dan menggoyang semua pepohonan hingga ada beberapa yang tumbang akibat tidak kuat menahannya.


“Aku ingin mendengar semuanya dari mulutmu sebelum kamu mati. Jawab aku sekarang.”


Nue tidak merespon dan terus mencoba berdiri dengan rasa sakitnya, hingga Aragaki kesal dan menendangnya kemudian berteriak, “Aku bilang jawab aku sekarang!!”


Aragaki menendang Nue hingga dia tidak bisa melawan. Dia terpental kembali melewati bebatuan. Sang penguasa tidak mau melepaskannya begitu saja.


“Aku tidak akan berkompromi denganmu. Jawab aku sekarang…kamu yang telah memberikan racun itu pada mereka, memerintahkan mereka untuk menyiksa rubah kecilku yang malang dan membuat mereka berani melakukan kerusakan agar aku melempar mereka sebagai makananmu, benar begitu?”


“He…ahahahahaha! Apa gunanya mengetahui semua itu sekarang, Aragaki-sama? Pada akhirnya, mereka memang harus mati. Tidak ada yang boleh hidup dan mengotori Higashi no Mori, itu yang kau perintahkan padaku!”


“Tapi sekarang, justru kau, sang agung dan penguasa di sini yang mulai jatuh cinta pada gadis kotor itu!!”


“Kau memberikannya kenyamanan dan perlindungan sehingga akan menghancurkan ikatan rantai makanan yang seharusnya tidak pernah lepas!”


“Aku tidak akan mendapatkan manusia untuk kumakan kembali dan semua itu akan hilang! Semuanya berakhir karena gadis itu!”


“Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi! Desa itu memang harus terus memberikan tumbal mereka untuk Higashi no Mori! Mereka harus melakukannya untukmu, untukku juga!”


Aragaki mengerti sekarang. Hal yang diinginkan Nue hanyalah satu.


“Kamu hanya ingin memakan manusia. Dan menggunakan kebencian serta janji desa terkutuk itu padaku untuk mendapatkan manusia. Selama ini, itulah yang kamu lakukan.”


“Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan manusia dan memakannya.”


Aragaki langsung memperlihatkan wujud lainnya.


Wujud dirinya dengan ekor besar dan telinga serigala berwarna perak seperti rembulan dan rambut putih yang begitu bersinar. Mata keemasan dan tanda merah di keningnya membuat dia terlihat lebih mendominasi dalam soal kekuatan.


Dengan pedang yang diarahkan kepada sang iblis, Aragaki mulai mengatakan kalimatnya dengan nada tenang.


“Ternyata kamu memang iblis. Aku tidak tau kalau menerimamu sebagai bagian dari Higashi no Mori akan membuatku menyesalinya.”


Aragaki tidak menunggu untuk mendengarkan Nue.


Saat Nue berhasil bangun dan membuka mulutnya, dia mencoba untuk menyerangnya meski mulut sampai lehernya terluka.


Dari mulutnya, keluar sebuah cahaya yang terlihat seperti semburan api. Namun, itu adalah petir yang siap mengenai sang penguasa.


“Aku berterima kasih pada Aragaki-sama karena telah memberikanku semua gadis-gadis itu. Dan karena itu, aku tidak akan membiarkanmu menghentikan semua yang telah terjadi selama ini! Gadis itu harus tetap menjadi makananku seperti yang lainnya!”


Aragaki dengan tenang mengangkat pedangnya ke atas dan berkata, “Tidak. Dia tidak akan berakhir seperti yang lain.”


“Dia…akan menjadi istriku. Dia akan menjadi istri dari penguasa Higashi no Mori.”


-Slaaaash


Sebuah sayatan ringan dan tipis terlihat. Namun ternyata, itu tidak seperti yang terlihat.


Bersamaan dengan menghilangnya petir yang hendak menyerang Aragaki, pandangan Nue tiba-tiba miring seperti ada yang tidak benar.


“Ini…tidak mungkin.” Nue terbelah menjadi dua. Bukan hanya Nue, tapi hampir seluruh tanah yang berada di lurusan miliknya juga ikut terbelah.


Angin kencang keluar dan mulai membuat semua sisa-sisa pohon yang tumbang lenyap, menjauh sehingga daerah itu tampak bersih.


Hanya tinggal mayat Nue yang terbelah menjadi dua dengan darah yang membasahi hingga menggenangi tempat itu.


“Aku sudah cukup dengan semua ini.” Aragaki perlahan kembali menjadi wujud aslinya. Dia memasukkan pedangnya kembali lalu berjalan ke arah mayat tersebut.


“Sudah cukup dengan semua hal buruk yang kamu timbulkan, Nue. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari tempat ini.”


“Higashi no Mori dan aku…telah menemukan sebuah tanda cinta lain untuk mengobati masa laluku. Dan aku memutuskan untuk menerima gadis itu.”


Ketiga pelayan sang penguasa datang dengan terburu-buru.


“Aragaki-sama!”


Mereka melihat sosok sang penguasa yang tersenyum.


“Aragaki…-sama?”


“Aku ingin bertemu dengan gadis itu sekarang.”


Mayat Nue dibiarkan membusuk dengan sendirinya. Dari dalam tubuhnya, keluar asap kegare yang segera setelah itu dimurnikan oleh Aragaki. Tubuh Nue menghilang tak tersisa.


Aragaki berlari ke taman bunga nemophila bersama ketiga pelayannya. Saat sampai di sana, mereka melihat pemandangan yang sangat tidak biasa.


Ribuan kelopak sakura mengelilingi tempat dimana Reda tertidur. Reda tidur di pangkuan sosok Ryoko yang masih mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


“Ryoko…-san?” Nagi hampir menangis melihat sosok itu


“Nagi?”


“…!!” Nagi terkejut. Sebuah suara lembut yang sangat familiar di telinganya. Itu adalah suara Ryoko.


“Hakuren dan Kuroto juga ada.”


“Ryoko-san…Ryoko-san!!” Kuroto berteriak memanggil nama Ryoko


Sosok Ryoko tersenyum dan melihat tuannya.


“Nushi-sama…”


“Terima kasih sudah mau menjaganya untukku, Ryoko.”


“Nushi-sama sudah membuat gadis ini bersedih. Ryoko melihat semuanya. Ryuunosuke kecil menangis karena ulahmu. Dasar tuan yang tidak bertanggung jawab!”


“Itulah sebabnya tidak ada wanita yang mau menikah denganmu bahkan saat Ryoko masih hidup dulu.”


“…” Aragaki tidak membalasnya


Para pelayan Aragaki ikut terdiam mendengarnya. Dalam hati, mereka ingin sekali tertawa, tapi tidak berani.


“Ryoko-san memarahi Aragaki-sama.”


“Ryoko-san melakukannya.”


“Saat masih hidup, memang hanya Ryoko-san yang bisa memarahi Aragaki-sama. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya.”


Ryoko tersenyum dan melihat wajah Reda yang terlihat begitu nyenyak.


“Nushi-sama…jaga gadis ini dengan baik.”


“…!!!” ketiga pelayan Aragaki terkejut mendengarnya


“Dia adalah gadis yang sangat tepat untukmu. Semua orang juga berpikir demikian. Karena itu mereka semua datang ke tempat ini karena khawatir padanya.”


“Gadis ini akan mengisi semua kekosongan dalam hatimu, mencairkan kebekuan hatimu, membuat harimu berwarna dan akan memberikan senyuman terindah di wajahmu.”


“Dia sangat mencintai Nushi-sama.”


“Dan Ryoko berharap Nushi-sama akan…mencintainya juga.”


Aragaki berjalan mendekati Ryoko. Dia melihat Reda yang sudah terlihat lebih baik dan memindahkannya ke dalam dekapannya.


Sang penguasa membelai rambut indah Reda dan tersenyum.


“Aku mencintainya dan akan belajar untuk mencintainya.”


Ketiga pelayannya seperti sedang bermimpi. Kalimat itu terucap begitu mudah tanpa beban.


Aragaki melihat sosok Ryoko dan berkata, “Aku akan memberikan semua cintaku untuknya, membalas semua air matanya dan akan terus berada di sisinya.”


“Tolong…teruslah melihat tuanmu yang menyedihkan ini. Tuanmu akan berusaha membuat gadis yang dicintainya tersenyum. Aku berjanji.”


Ryoko tersenyum sebelum akhirnya menghilang menjadi ribuan kelopak bunga sakura kembali.


Semua yang ada di sana adalah saksi dari kalimat Aragaki. Sang penguasa melihat wajah gadis itu kembali dan berkata, “Kita pulang, Reda. Kita kembali ke rumah.”


Tanpa disadari oleh gadis desa itu, pertama kalinya sang penguasa, Aragaki memanggil namanya.


******