The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 60. Mengajaknya Makan Bersama



Di dapur, Reda dan Ryuunosuke sedang menyiapkan sarapan.


“Selama aku sakit, Ryuunosuke memasak dengan baik.”


“Benarkah? Masakan Ryuunosuke enak tidak?”


“Enak. Rasanya enak sekali.” kata Reda sambil memberi senyum


Rubah kecil itu menghampiri Reda, “Tapi masakan Reda-sama jauh lebih enak. Aragaki-sama pasti merindukan rasa masakan Reda-sama.”


Reda menjadi panik mendengarnya, “Sst! Ryuunosuke, jangan keras-keras. Nushi-sama akan mendengarmu nanti.”


“Eh? Ah!” Ryuunosuke menyadari sesuatu, “Reda-sama masih belum tau bahwa kami semua sudah memberitau Aragaki-sama. Ryuunosuke harus tetap diam.”


“Dengar Ryuunosuke, Nushi-sama tidak boleh sampai tau. Ryuunosuke tidak lupa itu, kan?”


Rubah kecil itu mengangguk pelan. Melihat itu, Reda tersenyum dan mengusap-usap kepala rubah kecilnya. “Anak pintar. Tidak apa-apa. Meskipun Nushi-sama tidak akan mengetahuinya, kita buat Nushi-sama sehat dan makan yang banyak ya.”


“Iya!”


Reda masih belum mengetahui kalau semua orang telah mengatakan kepada Aragaki tentang masakan yang selama ini dibuatnya.


Gadis itu masih berpikir bahwa Aragaki akan marah dan membuang makanan buatannya jika tau, karena itu dia masih melakukan cara lama untuk memasak.


“Ryuunosuke, sayurannya sudah dipotong?” tanya Reda


“Sudah semua. Berasnya sudah dicuci juga, Reda-sama.”


“Baiklah. Tolong potong dagingnya ya. Aku mau membuat sup miso dengan daging ini.”


“Baik~”


Di luar, keempat pelayan Aragaki terlihat senang.


“Akhirnya masa libur 5 hari selesai~” kata Kuroto sambil tersenyum lebar


“Apa maksudnya itu, Kuroto?”


“Kau tidak merindukan masakan lezat buatan gadis desa itu? Aah~aku ingin sekali makan nasi dengan penuh rasa seperti biasanya. Akhirnya penantian penuh kesabaran selama 5 hari terbayarkan.”


“Kuroto, jangan bicara seakan-akan kamu hanya memikirkan makanannya.” Ginko mencoba menasihati. Tapi


dia sendiri tidak menepis rasa rindu akan masakan buatan Reda, “Meskipun begitu, jujur saja…aku juga rindu dengan masakan Reda-sama.”


Nagi melihat Aragaki berjalan menuju dapur, “Itu Aragaki-sama!”


Ketiga temannya menghampiri Aragaki dan berlutut di depannya sebelum sampai dapur.


“Selamat pagi, Aragaki-sama.”


“Nushi-sama, selamat pagi.”


“Selamat pagi.” Aragaki menjawabnya. Tampak terburu-buru, Aragaki melangkahkan kakinya kembali dan dihadang oleh Nagi yang langsung berdiri di hadapan sang penguasa.


“Aragaki-sama, apa yang ingin Anda lakukan?”


“Aku ingin melihatnya sendiri.”


“Melihat…sendiri?”


“Rubah kecilku mengatakan bahwa aku harus melihat sendiri apa yang dilakukannya selama ini, kalian tidak lupa itu kan?”


Nagi  terkejut, begitu pula tiga pelayan lainnya.


“Anda tidak bermaksud menerobos masuk, kan?” tanya Nagi dengan wajah cemas


“Aku hanya melihat, tidak lebih. Kalau sampai dia terluka lagi, aku bisa menebak kalian akan menerobos masuk ke ruanganku dan mengatakan semua hal baik tentangnya dengan sedikit drama air mata.”


“Geh! Aragaki-sama bahkan berpikir begitu?”


“Aku mengenalmu dengan baik, Nagi. Aku juga yang menjadi saksi hidup kalian.”


“Ukh…”


“Bahkan aku masih ingat saat kalian sekecil Ryuunosuke, kalian semua senang memanjat pohon sampai tidak bisa turun sendiri.”


“Aragaki-sama!!” Nagi berteriak


“Sudah, jangan berdiri di depanku.”


Aragaki mulai berjalan kembali. Dengan kemampuan supranaturalnya, dia menghilangkan hawa keberadaannya. Aroma, langkah kaki serta lainnya tidak bisa dirasakan oleh yang lain.


Dalam hati Hakuren berkata, “Padahal Aragaki-sama ada di depan kami, tapi kami tidak bisa merasakan aura kehadirannya sedikitpun.”


Hal tersebut dilakukan oleh sang penguasa agar rubah kecilnya tidak menyadari keberadaannya. Rasa khawatir tetap saja menghantui keempat pelayannya.


Mereka diam-diam mengikuti Aragaki yang hampir sama di dapur.


“Pokoknya jangan sampai Nushi-sama mengamuk di dapur dan membuat Reda-sama terluka lagi.”


Langkah Aragaki terhenti saat mendengar suara gadis itu.


“Ryuunosuke lihat, supnya sudah matang.”


Dia mengitip dan terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Gadis itu memberikan semangkuk sup untuk rubah kecilnya.


“Ini, ayo cicipi.”


“Terima kasih.” Ryuunosuke meminum supnya dan wajah bahagia terlihat. “Enak! Ryuunosuke merindukan rasa ini. Senangnya~”


“Syukurlah.” Reda tersenyum mendengarnya


“Aragaki-sama pasti menyukainya, Reda-sama.”


“Ssst, kita tidak boleh sampai ketauan.”


“Sst.” Ryuunosuke mengikuti yang Reda lakukan. Gadis itu membuka tutup nasi dan mencampurkan sedikit bumbu serta irisan jamur dan kacang edamame.


“Aku harap Nushi-sama mau memakannya.” Saat mengatakan itu, gadis desa itu memperlihatkan senyumannya yang begitu cantik merona.


“Reda-sama jangan khawatir, Aragaki-sama akan menyukainya.”


“Iya. Selama Nushi-sama tidak mencium aroma tanganku di masakan ini, aku berharap beliau mau menghabiskannya. Terima kasih sudah mau memotong sayurannya untukku, rubah kecilku sayang.”


“Ehehe~”


Reda memberikan pelukannya untuk si rubah kecil.


Aragaki melihat hal lainnya kembali. Dia melihat cara gadis itu memasak sayuran liar yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya.


“Ryuunosuke yang memetik semua sayuran liar ini?”


“Ryuunosuke dibantu oleh Nagi-sama dan yang lain. Meskipun rasa tempurannya tidak seenak buatan Reda-sama.”


“Itu tidak benar, buatan Ryuunosuke enak.”


“Tapi, Aragaki-sama bisa mengenalinya.”


“Eh?”


“Begitu. Kalau begitu, akan aku ajarkan caranya ya. Jadi, suatu saat nanti jika aku sudah tidak di sini, Nushi-sama masih bisa memakan rasa yang disukainya.”


“Reda-sama tidak boleh bicara begitu! Reda-sama akan tetap di sini!”


Aragaki yang melihat itu akhirnya paham dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Nagi.


[Dia mengajari rubah kecil ini mengolah sayuran liar dan memasak agar suatu saat nanti, jika dia mati, rasa kesukaan milik Aragaki-sama masih bisa dirasakan olehmu]


“Reda-sama tidak boleh bicara begitu! Ryuunosuke tidak mau Reda-sama pergi! Aragaki-sama juga sudah mulai berubah. Kita sudah mulai berhasil. Jangan begitu, jangan bicara seperti itu.”


Rubah kecil itu berlari sambil memeluk Reda. Terlihat begitu sedih, Reda hanya bisa tersenyum untuk menutupinya.


“Maafkan aku. Jangan sedih, Ryuunosuke. Aku minta maaf ya.”


“Uu~”


Reda tersenyum, “Benar. Nushi-sama juga mau menerima kehadiranku walau sedikit. Ini pasti tanda-tanda hal yang baik. Ayo berjuang, Reda. Demi janjimu pada Ryuunosuke dan demi senyuman Nushi-sama pada manusia.”


Keduanya membuat tempura dari sayuran liar yang disukai oleh Aragaki. Reda benar-benar mengajari rubah kecilnya.


Sambil menunggu, reda juga membuat tumisan daging dan irisan wortel.


“Semoga Nushi-sama dan semua yang memakannya senang hari ini. Ryuunosuke juga makan yang banyak ya.”


“Reda-sama juga.”


Reda baru ingat sesuatu. “Ah, Ryuunosuke. Aku sudah lama tidak kembali ke gubuk tua. Di sana pasti berdebu. Aku harus kembali nanti. Ryuunosuke sarapan dengan Nushi-sama ya.”


“Reda-sama belum sembuh.”


“Tidak apa-apa, Ryuunosuke. Lagipula di sana pasti sudah mulai kotor karena tidak kubersihkan. Setelah aku selesai mencuci dan menjemur pakaianku di sana, aku akan kembali lagi ya.”


Aragaki memutuskan untuk pergi. Keempat pelayannya hanya melihat tuannya pergi tanpa mengatakan apapun.


“Bagaimana ini? Aragaki-sama pergi begitu saja. Apakah menurutmu dia marah?” tanya Kuroto pada yang lain


“Aku tidak yakin. Hanya saja–”


Nagi tiba-tiba berkata, “Oi, kita pergi ke ruang makan! Mereka mau keluar!”


Semuanya langsung pergi dalam sekejap.


“Hmm?”


“Ada apa, Ryuunosuke?”


“Barusan seperti ada aroma yang tidak asing?”


“Aroma? Hmm…mungkin aroma dari sup yang kita buat.”


“Benar juga. Ayo, Reda-sama.”


Keduanya membawa makanan ke ruang makan. Mereka secara bergantian menyiapkan makanannya. Reda masih belum merubah sikapnya. Semua yang dilakukannya masih sama seperti sebelumnya.


Dia tidak menginjakkan kakinya sedikit pun ke dalam ruang makan dan tidak pula menunjukkan wajahnya kepada Aragaki seperti sebelumnya.


Saat semua makanan telah disediakan, Reda hanya tersenyum mendengar semua orang melihat menu sarapannya.


“Syukurlah aku bisa membuat makanan untuk Nushi-sama lagi. Aku harap Nushi-sama makan dengan lahap”


Ketika selesai memberikan makanan, Ryuunosuke duduk di dalam. Reda berdiri untuk pergi ke gubuk tempatnya tinggal, namun tampaknya dia harus menunggu.


Sebuah kejutan lain di dapatkan.


Aragaki yang sudah duduk di dalam ruangan itu berdiri dan keluar. Rubah kecil mengikuti sang majikan keluar diikuti empat pelayannya yang sangat ingin tau.


“Sebentar.” kata sang penguasa


Reda yang sudah berjalan sedikit kaget dan menengok ke belakang. Melihat sang penguasa mendekatinya, dia jadi salah tingkah dalam sekejap.


“Nu–Nushi-sama?!” gadis yang polos situ langsung membungkuk untuk memberi hormat. Wajah merahnya tidak bisa disembunyikan begitu mendengar suara lembut pria yang dicintainya tadi memintanya berhenti.


Aragaki berada di jarak yang dekat dengannya kali ini. Reda tidak berani menatapnya karena takut akan membuatnya marah, tapi tampaknya pikirannya itu salah.


“Angkat kepalamu.” Sang penguasa memintanya mengangkat kepalanya. Reda mengikuti perintah sang penguasa dan mengangkat kepalanya.


“Mau kemana?” tanya sang penguasa


“A–aku mau…kembali ke gubuk untuk membersihkan tempat itu. Se–selain itu, ini waktunya sarapan, jadi a–aku bermaksud untuk ke hutan untuk membuat sarapan di gubuk.”


Aragaki terdiam dan berkata dalam hati, “Dia masih mengingat semua yang aku perintahkan padanya.”


“Sosok gadis di depanku ini adalah orang yang datang dari desa terkutuk yang kotor itu. Tapi…dia memang berbeda.”


“Kenapa aku tidak menyadarinya sebelum ini?”


Rubah kecil yang berdiri di belakang Aragaki berdoa, “Ibu, tolong bantu Ryuunosuke. Aku mohon, semoga Aragaki-sama mau menerima Reda-sama, ibu. Ryuunosuke ingin Aragaki-sama menerima Reda-sama setelah ini. Tolong Ryuunosuke!”


Sungguh sangat tidak biasa, angin lembut bertiup membawa kelopak bunga sakura. Bagaikan hujan bunga sakura yang indah, ada aroma manis yang tercium.


Aragaki berjalan dan memegang tangan gadis di depannya.


“Eh?!” kelima pelayannya yang melihat itu seperti terkena serangan jantung bersama. Mereka benar-benar terkejut.


“Nushi…-sama?”


“Kamu baru bisa bergerak hari ini. Kalau kamu sampai sakit, rubah kecil di belakangku akan menangis lagi. Kita sarapan di dalam. Ayo, masuk ke dalam.”


Aragaki memegang tangan Reda dengan lembut dan menariknya ke dalam.


Ryuunosuke seperti melihat mimpi. Ekornya langsung bergoyang.


“Ryuunosuke akan mengambilkan bagian Reda-sama!!”


Rubah kecil itu dengan semangat berlari ke dapur untuk mengambilkan makanannya. Saat hendak masuk, Reda sempat ragu.


“Aku tidak ingin mengganggu Nushi-sama makan.”


“Tapi sekarang aku yang memintamu untuk masuk dan makan. Ada masalah dengan itu?”


“Itu…”


“Masuk dan duduklah. Rubah kecil akan membawakan makananmu.”


Aragaki melepaskan tangannya dan memintanya duduk. Tidak lama kemudian, rubah kecil datang membawa makanannya.


“Reda-sama, ini makanan Reda-sama.”


“Ryuunosuke…”


Rubah kecil itu terlihat senang, tergambar jelas dari ekornya yang bergoyang-goyang sangat cepat.


Setelah semua duduk di tempatnya masing-masing, mereka mulai makan bersama dalam satu ruangan.


Seperti mimpi indah, Reda bisa makan di ruangan yang sama dengan pria yang dikaguminya dalam diam.


****