
Reda yang menggandeng tangan rubah kecil itu terus memasang wajah merah.
“Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu menangis, Ryuunosuke.”
“Ehehe~Ryuunosuke sudah lebih baik. Ryuunosuke sudah mendapat dukungan dari ibu.”
“Ibu?”
“Ibu Ryuunosuke tadi memberi kita dukungan. Ryuunosuke yakin kita akan berhasil! Reda-sama harus jadi semakin cantik dulu untuk menarik perhatian Aragaki-sama. Setelah itu, Reda-sama bisa menyatakan perasaan suka yang terpendam di hatimu.”
-Bluush
Wajah Reda kembali memerah. Siapa yang mengira rubah kecil ini bisa terang-terangan bicara begitu. Reda mencoba mengendalikan dirinya dan mengalihkan topik pembicaraan.
“R–Ryuunosuke, kalau aku tidak salah ingat saat kita membawakan makanan, ada banyak sekali bahan makanan baru.”
“Kastanye dan ubi serta buah. Tampaknya itu dari Aragaki-sama atau Nagi-sama dan Kuroto-sama. Ada aroma mereka di kantongnya. Kemungkinan didapat dari pasar.”
“Begitu. Tampaknya itu akan sangat enak jika dijadikan menu lain. Nanti kita olah sama-sama ya.”
Rubah kecil itu mengangguk senang sambil menggoyang-goyangkan ekor tebalnya sepanjang jalan dan Reda berhasil mengalihkan pembicaraannya.
“Syukurlah. Aku bisa malu kalau rubah manis ini terus mengatakan hal tadi. Tapi…aku tidak bisa membayangkan jika aku harus mengatakan perasaanku pada Nushi-sama. Dia mungkin akan langsung membunuhku.”
Pikiran Reda masih diselimuti pemikiran negatif, tapi pancaran di matanya berkata lain.
“Aku masih percaya Dewa masih memberikanku kesempatan. Waktu yang tersisa ini akan aku manfaatkan dengan baik.”
“Aku akan berjuang dan lebih memberanikan diriku untuk bisa berkomunikasi dengan Nushi-sama walaupun penuh dengan rasa sakit.”
Ketika hampir menuju pasar, keduanya berhenti. Genggaman tangan rubah kecil itu semakin kuat dan wajahnya terlihat serius. Dia lalu melihat ke gadis itu dan berkata.
“Reda-sama, tunggu di sini ya!”
“Ryuunosuke!!”
Rubah kecil itu berlari menuju desa sendirian meninggalkan gadis itu.
“Bukankah kita akan belanja bersama? Kenapa aku ditinggal sendirian?”
Setelah beberapa lama, rubah kecil itu berlari membawa sesuatu.
“Reda-sama!”
“Ryuunosuke? Ryuunosuke, dari mana saja kamu?”
“Ryuunosuke membawakan ini untukmu, Reda-sama.”
Reda menerima kain itu. Itu seperti kain tebal yang bisa menutupi hampir separuh dari tubuhnya.
“Apa ini, Ryuunosuke?”
“Kain ini bisa menutupi Reda-sama. Reda-sama akan aman memakainya.”
“Tapi kenapa?” Reda semakin bingung
Rubah kecil itu terlihat sedih ketika ingin mengatakannya.
“Ryuunosuke ingat saat pertama kali Reda-sama ada di kediaman Aragaki-sama, Reda-sama begitu kotor karena lemparan telur dan tomat busuk. Itu pasti dilakukan oleh penduduk lain.”
“Aku tau kalau mereka semua itu membenci manusia, jadi aku tidak akan heran jika mereka melakukannya. Semua itu sudah berlalu, Ryuunosuke. Aku sudah tidak apa-apa.”
“Tapi aroma tubuh Reda-sama akan tercium oleh mereka. Ryuunosuke tidak ingin Reda-sama diperlakukan seperti
itu lagi” kata Ryuunosuke dengan wajah cemas
Melihat rubah kecilnya begitu mencemaskannya, Reda tersenyum dan memakai kain itu dari kepala dan mengikatnya untuk menutupi bagian atas tubuhnya sampai perut.
“Ryuunosuke, terima kasih banyak. Aku akan memakainya. Jangan cemas seperti itu. Aku jadi merasa bersalah kalau kita sampai nangis lagi.” ucap gadis itu sambil tersenyum
Rubah itu mulai terlihat baik-baik saja.
“Reda-sama tenang saja! Kain itu buatan penjual siluman jadi aroman tubuh Reda-sama akan tertutup dengan kain tersebut.”
Reda mengangguk. Rubah kecil itu kembali menggandeng tangan gadis cantik itu untuk pergi ke pasar.
Seperti biasa, tempatnya begitu ramai. Untuk pertama kalinya sejak seminggu berlalu, Reda melihat banyak orang-orang di sana.
Mereka memang bukan manusia, semua memiliki wujud yang bermacam-macam sejak mereka adalah siluman. Akan tetapi, mereka bisa bicara, memakai pakaian dan melakukan perdagangan. Persis seperti yang manusia lakukan.
“Aku ingat malam dimana pertama kali aku datang, tempat ini begitu ramai. Tapi melihatnya di waktu matahari menyinari seperti ini, aku baru menyadari bahwa tempat ini begitu menyenangkan.”
Ada banyak penjual dan anak-anak yang berlarian di sana. Suasana yang lebih ramai dari yang dibayangkan Reda.
“Reda-sama, bagaimana Higashi no Mori menurutmu?” tanya rubah kecil itu
“Ramai dan penuh dengan kehangatan. Tempat ini jauh lebih ramai dari desaku, Ryuunosuke. Ini sangat menyenangkan.” kata gadis itu sambil tersenyum
“Ehehehe~syukurlah kalau Reda-sama menyukainya. Ini semua berkat Aragaki-sama. Meskipun tempat ini tidak seramai dahulu, tapi tempat ini tetap ada karena semua hal hebat yang dilakukan oleh Aragaki-sama.”
Reda berhenti sebentar.
“Ryuunosuke…”
“Hmm?”
“Aku benar-benar menyesal atas apa yang dilakukan leluhurku pada kalian di masa lalu. Maafkan aku, sudah membuat tempat ini merasakan kenangan buruk. Maafkan aku, karena sudah membuat luka yang begitu dalam pada Nushi-sama dan kalian semua.” Reda terlihat seperti menahan air matanya
Ryuunosuke dengan tegas menjawab, “Itu bukan salah Reda-sama! Reda-sama tidak bersalah, jadi jangan minta maaf! Ryuunosuke tidak membencimu. Reda-sama tidak sama dengan mereka semua yang jahat pada kami!”
Reda tersenyum mendengar itu. Mereka melanjutkan perjalanan. Tanpa disadari keduanya, dari atas langit ada dua tengu yang mengawasi.
“Rubah kecil itu benar-benar detail.” puji Kuroto
“Kita tau bahwa Ryuunosuke adalah yang paling menyukai Reda-sama saat ini. Tapi, kalau tidak melihat Ryuunosuke, aku mungkin tidak akan menyadari bahwa itu adalah Reda-sama. Kain itu benar-benar menutupi aroma manusianya.”
“Kau benar. Tapi, kenapa kita harus mengawasi mereka?”
“Aku hanya…merasa bahwa gadis desa itu tidak akan melalui jalan mudah di tempat yang hanya ada siluman di dalamnya.” Hakuren terlihat mencemaskan keduanya
“Kau tampaknya sudah terkontaminasi oleh air mata rubah itu ya, Hakuren.”
“Aku rasa bukan hanya aku.”
“Maksudmu?”
Kuroto hanya diam sambil mengacak-acak rambutnya. Dia sempat menutupi mulutnya dan bergumam sendiri.
“Apa boleh buat. Rasanya benar-benar enak. Lebih enak dari yang biasa kita makan. Aku tidak pernah memakan yang seperti itu.”
Meski hanya gumaman pelan, Hakuren jelas mendengarnya. Dia tersenyum dan memperhatikan lagi kemana kedua orang itu pergi.
Target yang dimaksud kedua tengu itu sedang melihat-lihat ikan di salah satu penjual di pasar.
“Yoo~ silahkan, silahkan. Ikan segar baru diantar.” Penjual itu adalah seekor siluman berkepala burung dengan paruh yang panjang. Dia menjual banyak sekali ikan segar berbagai ukuran.
“Ryuunosuke, ikannya terlihat segar. Lihat ini.”
“Benar, Reda-sama.”
Penjual itu tampaknya mengenal rubah kecil itu.
“Aa, Ryuunosuke. Lama tidak melihatmu.”
“Lama tidak berjumpa, paman Tori.”
“Nushi-sama baru saja datang pagi ini untuk berkeliling.”
“Benarkah? Pantas saja Aragaki-sama membawa sesuatu tadi.”
“Begitulah. Aku berniat memberinya ikan-ikan ini tadi, tapi beliau mengatakan sudah terlalu banyak jadi mungkin kau bisa membawa ikan ini bersamamu. Ah! Ini, kuberi yang paling besar.”
“Huwaa~terima kasih banyak, paman.”
“Oh iya, siapa ini? Apakah siluman baru?”
Penjual itu cukup penasaran dengan orang yang bersama rubah kecil itu. Reda sempat ketakutan, tapi akhirnya Ryuunosuke yang menjawabnya.
“Ini…pelayan baru Aragaki-sama.”
“Begitu.”
Reda cukup lega mendengarnya, tapi itu hanya sebuah awal dari kejadian lain. Penjual itu mengajak Ryuunosuke mengobrol.
“Oh iya, sekitar seminggu lalu Nagi-sama dan Ginko-sama membawa anak manusia lagi. Apakah itu calon ‘pengantin’ lainnya?”
“Begitulah.”
“Huh! Padahal berapa banyak pun yang datang hasilnya akan sama saja. Semua gadis-gadis manusia itu tidak ada yang berguna. Kau juga berpikir begitu, kan? Aku masih membenci mereka. Kenapa mereka masih mengirimkan manusia hanya untuk mati? Nushi-sama tidak akan pernah memaafkan mereka.!”
“Paman Tori!” Ryuunosuke mencoba menghentikan siluman burung itu mengatakan hal buruk, tapi itu tidak berguna. Datang seorang pelanggan lain yang mendengar hal itu dan ikut membahasnya.
“Ada apa, Tori-san?Oh, ada Ryuunosuke kecil.”
“Ah, aku sedang membicarakan tentang calon ‘pengantin’ yang datang seminggu lalu.”
“Oh, calon makanan Nue itu ya. Ahahaha, menyedihkan ya. Padahal tidak ada yang mengharapkan kehadiran gadis jelek itu.”
“Benar. Aku dengar gadis yang mati beberapa bulan lalu itu berusaha membunuh Nushi-sama. manusia memang tidak tau diri ya!”
“Aku yakin gadis yang sekarang datang juga memiliki niat buruk pada Nushi-sama. Dasar gadis licik yang hina! Wajahnya pasti sama jeleknya dengan sifat leluhurnya dulu!”
“Aku melihatnya saat dia datang. Dia lusuh seperti tidak terurus. Bahkan hewan saja lebih baik daripada dia. Ahahaha.”
“Kau tidak boleh dekat-dekat dengan wanita yang lebih licik dari siluman ya. Mereka itu jahat!”
Ryuunosuke ingin berteriak karena emosi mendengar hal itu, tapi Reda dengan lembut menghalangi mulut si rubah kecil tanpa menyentuhnya.
Ketika rubah kecil itu mendengarnya, gadis itu memberikan senyumannya dan menggerakkan bibirnya seraya berkata, “Tidak apa-apa.”
Reda mencoba mengalihkan pembicaraan penjual dan pembeli lain itu agar rubah kecilnya tidak marah.
“Paman, apakah ada ikan lain yang bisa kami beli? Rasanya tidak enak jika kami datang untuk mendapatkan ikan secara gratis.”
“Oh, kau benar. Ikan ini cocok untuk digoreng. Yang ini juga cocok untuk dibuat niboshi dashi (bumbu yang terbuat dari ikan kering dalam masakan Jepang).”
“Kalau begitu kami ambil ikan yang ini dan ini serta ikan niboshi keringnya.”
Setelah Ryuunosuke memberikan koin dan membawa belanjaannya, dia menarik tangan Reda dan pergi tanpa memberikan sepatah kata apapun. Penjual dan pembeli lain itu sedikit heran dengan si rubah kecil.
Ryuunosuke yang membawa keranjang anyaman kecil berisi ikan menarik Reda dan berjalan cepat.
“Ryuunosuke, jangan cepat-cepat. Di sini banyak orang, Ryuunosuke.”
Rubah kecil itu tampaknya tidak mau berhenti dan terus berjalan.
“Ryuunosuke…”
Panggilan itu diabaikan rubah kecil. Sampai akhirnya rubah kecil itu berhenti sendiri. Reda tampaknya mengerti apa yang terjadi dengan rubah kecilnya. Dia tersenyum dan berjalan bersamanya lagi.
“Ryuunosuke, jangan dipikirkan. Mereka mengatakan itu karena mereka tidak tau.”
“Tapi, Ryuunosuke tidak suka mendengar Reda-sama dihina seperti itu!” rubah kecil itu mulai menangis dengan wajah kesal
Reda menghapus air mata rubah kecil itu.
“Kita ke sini untuk belanja, ingat? Abaikan semua itu dan ayo kita lanjutkan. Aku menantikan pergi belanja dengan Ryuunosuke jadi aku harap Ryuunosuke juga tidak memasang wajah sedih seperti itu, ya?”
Mendengar itu, Ryuunosuke kembali tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan untuk berbelanja kembali.
Namun sesungguhnya, tanpa diketahui oleh si rubah kecil, Reda menahan air matanya.
Betapa hancurnya hati sang gadis desa yang malang mendengar berita kedatangannya menjadi penuh gosip buruk seperti itu.
“Reda-sama…”
“Ya?”
“Jangan…menangis ya.”
Gadis cantik itu tersenyum demi menyembunyikan rasa sakit dan sedihnya.
“Aku tidak menangis. Ryuunosuke juga jangan menangis lagi ya.”
Rubah kecil itu mengangguk dan demi senyuman kecil si rubah kecil, Reda menerima hinaan dan kabar buruk itu dengan senyuman.
****