The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 82. Lebih Banyak Hadiah Indah Untuknya



Setelah selesai membeli cermin itu, Reda terlihat bahagia. Dia tidak bisa berhenti tersenyum karena Aragaki membeli benda itu untuknya.


Kedua tangannya memeluk erat cermin bulat yang terbungkus oleh kain.


"Nushi-sama, terima kasih hadiahnya. Ini benar-benar sangat cantik."


"Aku senang kamu menyukainya."


Wajah bahagia Reda menjadi nilai berharga untuk Aragaki.


Di belakang keduanya, di jarak yang cukup jauh, Ryuunosuke bersama kedua youko itu berhenti sejenak.


"Di tengah keramaian seperti ini, rasanya akan sulit jika mengikuti tanpa ketauan." kata Nagi


Ryuunosuke mengingat wajah bahagia Reda dan perlakuan Aragaki pada gadis kesayangannya itu.


Wajah saat dirinya mendapatkan hadiah dan tersenyum bersama Aragaki adalah hal yang begitu berharga bagi gadis kesayangannya itu.


"Ryuunosuke ingin memberikan Reda-sama waktu yang berharga."


Rubah kecil itu tersenyum dan berkata pada kedua youko tersebut, "Nagi-sama, Ginko-sama, ayo kita pulang."


Nagi kaget dan bingung, "Apa? Rubah kecil, kau serius ingin pulang sekarang? Kita belum selesai dan kenapa tiba-tiba kau mengajak pulang?"


"Ryuunosuke, apa perutmu sakit?" Ginko terlihat cemas


"Oi, rubah kecil?! Tadi kau yang bersemangat ingin mengikuti mereka ya. Bahkan sampai berencana menciptakan lagi aneh lagi."


"Kenapa sekarang jadi kau yang berubah ingin kembali?"


Rubah kecil itu menjawab, "Ryuunosuke...Ryuunosuke ingin hari ini menjadi hari yang paling spesial untuk mereka berdua."


"Kalau Ryuunosuke ikuti, itu tidak akan menjadi waktu indah berdua."


"Ini adalah hari paling indah dalam hidup Reda-sama. Ryuunosuke ingin Aragaki-sama dan Reda-sama semakin dekat dan dipenuhi dengan cinta."


"Ryuunosuke ingin waktu yang mereka habiskan adalah waktu pribadi yang hanya keduanya yang tau."


Nagi dan Ginko saling melihat.


Mereka akhirnya menyadari bahwa ini adalah kali pertama sang penguasa mau menghabiskan waktu untuk pergi dengan calon 'pengantin' dari desa itu.


"Waktu pribadi..."


"Sebuah momen indah yang menjadi rahasia bagi keduanya ya..."


Akhirnya kedua youko itu sepakat untuk mengikuti keinginan si rubah kecil.


Nagi berjalan kembali, sedangkan Ginko melompat ke atap bangunan untuk mencari Hakuren dan Kuroto.


Para tengu itu terlihat dan Ginko langsung menghampiri keduanya.


"Hakuren, Kuroto!" Ginko berteriak


Keduanya menengok saat akan kembali terbang mengikuti tuannya.


Ginko memberitau mereka apa yang dipikirkan rubah kecil itu dan keduanya mengerti.


"Begitu. Aku mengerti. Kalau begitu, sebaiknya kita menunggu kepulangan keduanya." kata Hakuren tersenyum


Mereka kembali dan kali ini benar-benar menjadi waktu bagi Aragaki dan Reda berdua.


**


Aragaki merasakan kehadiran para pelayan pribadinya sudah tidak ada lagi.


Sang penguasa melihat gadis yang sedang berjalan dengan perasaan bahagia di sampingnya.


"Meskipun aku tau mereka mengikutiku, aku mencoba tetap tenang karena aku ingin lebih memperhatikannya."


Reda sama sekali tidak menyadari bahwa Aragaki sedang memperhatikannya.


Sang penguasa memang ingin sekali menggenggam tangan gadis itu, namun dia menahan dirinya demi bisa melihat gadis itu merasa senang dengan hadiah pemberiannya.


Setelah berjalan beberapa waktu, mereka tiba di sebuah toko.


"Kita sudah sampai."


Reda melihat tempat tersebut. "Ini tempat apa, Nushi-sama?"


"Ini tempat tinggal Jorogumo sekaligus toko kain dan pakaian. Ayo masuk."


Reda begitu cemas awalnya, namun senyuman yang lembut dari Aragaki mulai membuatnya tenang.


"Permisi."


"Selamat datang. Ah, Aragaki-sama!" Jorogumo datang. Terlihat wanita cantik itu sedang memegang kain indah sambil menyambut kedatangan sang penguasa.


"Jorogumo, tampaknya kamu sibuk sekali."


"Ahahaha, tidak juga. Hmm?" Jorogumo melihat ke arah gadis manusia di samping Aragaki. "Dia kan..."


"Selamat pagi, Jorogumo-sama."


"Oh! Selamat pagi. Kamu...Reda-sama kan. Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah baikan?"


"Sudah. Terima kasih banyak sudah mau merawatku, Jorogumo-sama."


"Tidak apa-apa. Oh! Ayo masuk. Lebih baik kita bicara di dalam."


Jorogumo menyerahkan kainnya kepada karyawannya dan mengantar kedua tamu pentingnya ke dalam.


"Terima kasih. Ini, ada sedikit oleh-oleh untukmu."


"Huwaa~apa ini?"


"Aburage dan makanan manis lain dari toko milik Nakuru."


"Nakuru-san punya menu makanan asin? Huwaa, tidak kusangka."


"Semua itu adalah makanan yang menurutnya enak. Benar, kan?"


Aragaki dan Reda saling melihat satu sama lain dengan senyum manis mereka. Hal tersebut mengundang perhatian Jorogumo.


"Aragaki-sama tersenyum pada manusia?! Ini sebuah hal lain. Ternyata apa yang dikatakan Hakuren saat itu benar rupanya."


Aragaki melihat Jorogumo yang menatap dirinya dengan tatapan wajah yang tidak biasa.


"Ada apa denganmu?" tanya sang penguasa


"Eh?! Tidak ada! Ahahaha. Apa aku boleh tau ada keperluan apa sehingga Aragaki-sama datang ke tempat ini?"


"Begini, sebenarnya aku bermaksud mengucapkan banyak terima kasih untuk bantuanmu beberapa hari lalu."


"Tidak tidak, itu tidak perlu. Aku memang penghuni Higashi no Mori dan perintah Aragaki-sama adalah hal mutlak yang harus dipatuhi."


Jorogumo memberi hormat dengan bersujud, "Suatu kehormatan bisa membantu Anda, Aragaki-sama. Reda-sama juga, sebuah hal yang menyenangkan bisa bertemu denganmu."


Reda ikut bersujud, "Terima kasih banyak, Jorogumo-sama."


Aragaki mulai melihat beberapa kain di sekitar ruangan itu.


"Jorogumo, apakah aku bisa membicarakan hal penting?"


"Hal penting? Tentu saja, Aragaki-sama."


Aragaki melihat ke arah Reda, "Apakah ada yang ingin kamu lihat dulu?"


"Hal yang ingin...aku lihat?"


"Di sini banyak pakaian yang cantik. Cobalah berkeliling sebentar."


Reda tidak begitu mengerti, tapi sepertinya Jorogumo melihat sang penguasa ingin membahas hal yang berhubungan dengan gadis itu.


"Reda-sama, cobalah melihat-lihat sebentar. Aku akan meminta karyawanku untuk menemanimu."


"Tapi..."


Tanpa diduga, Aragaki memegang tangan gadis itu.


"Aku memberimu izin untuk melihat-lihat. Nanti jika urusanku selesai, kita akan pergi bersama lagi."


Gadis itu menjadi sedikit lebih tenang sejak mendapatkan hadiah dari sang penguasa.


Dia memperlihatkan senyumannya pada sang penguasa.


Akhirnya Reda mengangguk dan diantar pergi untuk berkeliling oleh karyawan Jorogumo.


Di dalam ruangan itu akhirnya hanya sang penguasa dan Jorogumo sendiri.


Sang wanita laba-laba itu mulai tersenyum menggoda sang penguasa.


"Jadi... apakah seorang Aragaki-sama mulai menaruh rasa perhatian dan tertarik dengan gadis manusia?"


Aragaki tidak memperlihatkan gerak-gerik yang aneh dan tidak juga memperlihatkan sebuah penolakan atau mengelak.


Jorogumo akhirnya mulai menyadari bahwa sang penguasa itu sedang jatuh cinta, meskipun sang penguasa masih belum sepenuhnya mengaku.


"Jadi, apakah ada sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu?" tanya Jorogumo


"Aku bermaksud untuk memberikan pakaian bagus agar dia bisa memakainya setiap hari."


"Apakah ada saran mengenai warna yang cocok untuknya?"


Jorogumo tersenyum, "Untuk Reda-sama, semuanya sangat pantas dan cantik jika dikenakan."


"Karena warna kulitnya yang bersih dan beliau memang sangat cantik."


Aragaki terlihat senang mendengarnya, "Kalau begitu, tolong buatkan aku banyak pakaian indah untuk dikenakan olehnya."


"Aku ingin dia menjadi lebih percaya diri dan... "


"Mengenakan semua hadiah dariku setiap hari. Aku ingin dia memakai dan menggunakan semua yang aku berikan."


"Lalu, dia akan lebih sering memperlihatkan senyumannya padaku."


Itulah yang dipikirkan Aragaki dalam hatinya.


"Aku tidak peduli berapa banyak yang bisa kamu buat untuknya. Tolong buatkan semua yang terbaik untuk gadis itu."


"Aku ingin memberikan lebih banyak hadiah kepadanya."


"Hadiah terbaik sebagai tanda bahwa aku ingin mengenalnya lebih jauh."


Jorogumo terlihat begitu senang dan wanita itu langsung menyetujui permintaan sang penguasa.


Tanpa diketahui oleh Reda, ada lebih banyak kejutan untuknya dari sang penguasa.


Sebuah hasil manis lain dari semua harapan dan doanya untuk kebahagiaan orang yang dicintainya dalam diam.


****