The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 72. Momen Manis Saat di Hutan bag. 1



Keesokan paginya, Reda bangun lebih pagi seperti biasanya. Kali in, bukan Ryuunosuke yang membangunkannya, namun Reda yang pergi ke kamar Ryuunosuke untuk membangunkannya.


"Ryuunosuke..."


"Iya." rubah kecil itu menjawab. Dia membuka pintunya dan tersenyum. "Selamat pagi, Reda-sama!" ucapnya sambil tersenyum.


"Selamat pagi, Ryuunosuke. Bagaimana tidurnya semalam?"


"Nyenyak! Ryuunosuke tidur nyenyak sekali. Reda-sama tidur nyenyak tidak tadi malam?"


"Aku..."


-Bluuuush


Reda tidak bisa menghilangkan apa yang terjadi semalam.


"Aku... aku tidak mungkin mengatakannya pada Ryuunosuke tentang semalam, kan? Ba–bagaimana ini?! Aku jadi malu sekarang."


Hari itu masih pagi dan gadis itu itu sudah berpikir dengan keras.


Wajah merah merona menghiasi dan kedua tangannya yang memegangi pipinya menandakan dia malu.


"Reda-sama?"


"Eh?!" gadis itu terkejut. Dia berusaha tenang. "Ma–maafkan aku, Ryuunosuke. Tadi sampai dimana kita?"


"Hmm? Ryuunosuke tanya apa Reda-sama tidur nyenyak malam ini?"


"O–oh, i–iya. Nyenyak, sangat nyenyak. Terima kasih sudah bertanya, rubah kecilku."


Reda mengusap kepala rubah kecil itu dengan lembut. Keduanya berjalan untuk pergi ke dapur.


Sejak Reda menunjukkan caranya menyambut pagi, kedua orang itu terbiasa membuat teh saat membangunkan Aragaki.


Teh hangat menjadi hal yang cukup disukai Aragaki saat mengawali pagi.


Meskipun di luar kebiasaan normal, namun sang penguasa cukup menikmati kebiasaan tersebut.


Reda dan Ryuunosuke membangunkan sang penguasa.


"Selamat pagi, Aragaki-sama. Ryuunosuke datang membangunkanmu."


"Tunggu sebentar."


Ketika pintu dibuka, sang penguasa disambut oleh kedua orang yang bersimpuh dan memberi hormat padanya.


"Selamat pagi, Nushi-sama." Reda memberanikan diri untuk menyapa sang penguasa


Tidak disangka, respon Aragaki begitu ramah pada gadis itu sekarang.


Sebuah senyum di pagi hari mulai diperlihatkan oleh Aragaki.


"Selamat pagi."


Ryuunosuke tampaknya begitu senang dengan sambutan hangat dari sang majikan. Rubah kecil itu memberikan teh yang ada di atas nampan.


"Selamat pagi, Aragaki-sama. Ryuunosuke membawakan teh hijau hangat untukmu."


Aragaki menerima dan meminumnya di tempat.


Sang penguasa yang seharusnya tidak minum di depan pintu kamarnya, rela melanggar hal tersebut demi bisa melihat wajah gadis di depannya.


Dia mundur satu langkah, duduk bersimpuh dan meminum tehnya di hadapan kedua orang tersebut.


Sambil tersenyum, dia mengatakannya, "Ini enak."


Tentu saja keduanya tersenyum dan dari senyum Reda itulah, Aragaki menemukan warna lain di pagi hari yang cerah itu.


"Aku merasa pagi ini sedikit menyenangkan."


Setelah selesai membangunkan Aragaki, keduanya hendak kembali ke dapur.


Mereka bermaksud untuk memasak sarapan, namun sepertinya sang penguasa masih belum ingin melepaskan senyuman itu.


"Kalian mau ke dapur sekarang?" tanya sang penguasa


"Ryuunosuke ingin memasak sarapan." kata rubah itu demikian, namun bola matanya melirik ke arah Reda.


Aragaki melihat mata rubah kecil itu. Dia mengerti bahwa Reda akan membuat sarapannya, namun itu masih dianggap terlalu cepat untuk Aragaki.


Lebih tepatnya, terlalu cepat untuknya melihat senyum gadis itu pergi.


"Aku ingin jamur tumis untuk sarapanku pagi ini." kata sang penguasa


"Jamur?"


"Benar. Jamur yang...pernah dibuat oleh Ryuunosuke sangat enak dan aku ingin memakannya lagi."


Gadis itu terdiam. Dia bertanya pada Ryuunosuke, "Ryuunosuke, apakah jamurnya masih ada?"


"Jamur hiiratake di dapur sudah tidak ada lagi. Ryuunosuke dan Reda-sama mendapatkan itu di hutan, Aragaki-sama."


"Berarti kalian harus pergi ke dalam hutan?"


"Benar." jawab rubah kecil itu. Reda berpikir mungkin akan lebih baik jika dirinya yang pergi sendiri mencarinya.


Tapi tampaknya rubah kecil itu menolak, "Ryuunosuke ingin ikut. Ryuunosuke akan membantu Reda-sama mencari ke hutan."


Reda melihat Aragaki. Dia tau bahwa mungkin sang penguasa masih enggan dengannya. Reda mencoba membujuk rubah kecilnya.


"Ryuunosuke, aku tidak apa-apa. Nanti Ryuunosuke bisa mencucinya bersamaku."


"Tidak mau!"


"Tapi–"


"Kenapa tidak? Aku juga sedikit penasaran dengan keadaan hutan di sekitar rumah ini. Bagaimana jika aku menemani kalian juga?"


"Eh?!" keduanya terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa Aragaki akan mengajukan diri untuk ikut.


Ryuunosuke melihat pandangan mata sang majikan terus menatap Reda. Sesaat setelah itu, Aragaki melihat Ryuunosuke.


Tampaknya rubah itu menyadari sesuatu.


Ekor dan telinganya bergoyang tanda dia sedang senang dan dengan antusias dia mendukung ide majikannya itu.


"Aragaki-sama boleh ikut!"


"Ryu–Ryuunosuke?" gadis itu bingung sekarang


"Kenapa? Aku tidak bisa pergi bersama kalian berdua?"


Reda senang tetapi juga bingung. Meski begitu, terlihat jelas dari wajahnya bahwa lebih banyak perasaan senang dari bingung saat ini.


Dengan senyum, Reda mengatakan bahwa Aragaki bisa ikut dengannya.


Hal itu pula yang membuat detak jantung sang penguasa menjadi sangat cepat sekarang.


"Inikah rasanya bahagia saat mendapatkan hal yang diinginkan? Pada akhinya aku masih bisa melihat senyuman itu."


Pada akhirnya mereka pergi ke hutan bersama.


Di belakang mereka, keempat pelayan setia Aragaki terlihat tidak percaya namun juga senang.


"Aku bersumpah mata ini masih berfungsi dengan baik. Telinga rubah milikku masih bisa mendengar suara pelan dari kejauhan. Aragaki-sama benar-benar menawarkan dirinya untuk ikut?!" Nagi masih sangat terkejut


"Tapi ini kejadian paling pesat. Nushi-sama perlahan menjadi sosok yang penasaran dengan Reda-sama." kata Ginko


Hakuren langsung bersiap untuk terbang, "Kuroto, kita ikuti dari atas."


"Aku mengerti." Kuroto terbang menyusul Hakuren


Nagi dan Ginko memutuskan untuk pergi mengikutinya juga.


**


Di dalam sisi depan hutan, melewati jalan ke arah gubuk tua tempat Reda tinggal dulu, ketiganya berjalan bersama.


Tapi, ada yang unik. Kali ini Ryuunosuke menolak untuk berada di tengah-tengah mereka melainkan berada di depan mereka.


Itu artinya sekarang Reda berjalan tepat di samping Aragaki.


Wajah merah merona yang manis kembali terlihat dari gadis cantik dan polos itu.


"Aku berjalan bersama Nushi-sama sekarang. Kami berjalan bersama sekarang."


"Reda, tenanglah. Jangan sampai sikapmu membuat Nushi-sama tidak nyaman."


Mencoba menyemangati dirinya sendiri, Reda menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan tanpa suara.


Sejauh ini, belum ada obrolan yang terjadi. Ryuunosuke bahkan masih menunggu sampai ada interaksi antara mereka.


"Ukh, Aragaki-sama...kenapa tidak coba bicara dengan Reda-sama? Ibu, kenapa tuan kita ini sangat tidak peka? Ryuunosuke sudah kesal!"


Akhirnya rubah kecil itu memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Reda-sama, bukankah dulu pernah bilang ingin coba berjalan-jalan ke sungai di dalam hutan?"


"Ah..." Reda ingat kalimatnya itu. Dia memang ingin sekali pergi dan melihat pemandangan indah di dalam hutan yang belum pernah dikunjunginya.


"Benar. Ryuunosuke bilang ada air terjun di sana, benar kan?"


"Ehehe~"


Aragaki mulai menyadari bahwa itu adalah kode dari rubah kecilnya dan kesempatan untuknya.


"Karena masih pagi, bagaimana jika pergi ke sana sebentar."


"Apa tidak apa-apa?" Reda melihat ke arah sang penguasa. Seketika, jantungnya berdebar kembali.


Senyuman hangat dan lembut ditunjukkan untuk gadis itu dari Aragaki.


"Aku tidak keberatan mengantarkanmu pergi melihatnya. Tempat itu tidak begitu jauh."


Tidak akan pernah ada pilihan selain menjawab iya dalam hati Reda jika sudah berhubungan dengan pria yang begitu dicintainya itu.


"Aku...aku berharap aku bisa pergi bersama Nushi-sama."


****