The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 111. Aku Datang untuk Menjemput Calon Pengantiku



Air mata akhirnya mulai menetes. Dia menangis dengan wajah merah penuh penyesalan.


“Nushi-sama…maafkan aku. Maafkan aku…”


Penyesalan mulai menyelimuti gadis desa yang ketakutan itu. Reda yang baru saja sadar dan menemukan dirinya ada di dalam ruangan yang gelap dan lembab hanya bisa menangis dan mencoba menyemangati dirinya sendiri terlebih dahulu.


“Aku harus bisa menemukan jalan keluar dan minta maaf pada Nushi-sama.”


Gadis itu menghapus air matanya dan berjalan menyusuri jalan berbatu yang tidak rata tersebut. Saat mencoba berjalan sedikit, dia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.


“Apa itu?”


Tentu saja wajah khawatir dan takut terlihat. Di tempat gelap seperti itu, mustahil dia bisa melihat semuanya.


Hanya suara air dan juga bebatuan basah di sana.


Reda yang mulai merasa dirinya benar-benar diawasi dari suatu tempat mulai pucat dan memaksakan diri untuk berlari.


Semakin jauh dia berlari, tempat yang dimasukinya semakin tidak menentu. Selain itu, Reda juga semakin jauh dari cahaya bulan yang muncul dari lubang di atas tempat itu.


“Aku ingin pulang! Aku ingin keluar dari sini dan bertemu lagi dengan semuanya! Aku ingin bertemu Ryuunosuke lagi dan Nushi-sama!”


Sosok besar yang melihat Reda dengan mata menyala itu seperti bersembunyi dalam bayangan.


“Siapa di sana? Aku takut!"gumamnya dalam hati


Reda mulai tidak bisa menghentikan air matanya.


Di saat dia ada di sebuah sisi lain dari tempat gelap itu, dia seperti tersandung sesuatu dan terjatuh.


“Aah!”


-Bruuk


Reda terjatuh. Pakaian indah yang dipakainya langsung penuh sobekan dan kotor. Kakinya menjadi lecet dan terdapat luka di telapak tangannya. Dia mencoba bangun dan melihat apa yang membuatnya terjatuh.


Sebuah teriakan terdengar keras sekali.


“Tidak!!!”


Reda mundur dengan panik. Air mata tidak henti-hentinya keluar dan tubuh  gemetarnya tidak tidak bisa berhenti ketakutan.


“Tidak, tidak! Apa itu?! Kenapa ada tengkorak dan tulang di sana?!”


Reda menangis ketakutan sekarang. Pasalnya, bukan hanya satu tulang yang dilihatnya namun ada lebih dari itu. Puluhan bahkan ratusan tulang dan tengkorak manusia di sana. Baik yang masih utuh maupun yang sudah tidak lagi berbentuk.


“Nushi-sama…tolong aku!”


“Ahahahaha!!”


“Siapa di sana?”


Suara tawa yang entah datang dari mana membuat Reda sangat takut sekarang. Reda yang belum bisa berdiri melihat sekeliling tempat luas tersebut.


Suara itu akhirnya semakin mendekat dan sosok yang bagaikan bayangan hitam akhirnya mulai menampakkan diri.


Tubuh besar dengan empat kaki besar, cakar yang tajam, ekor yang berbentuk seperti ular dan wajah hewan buas yang seperti monyet atau harimau yang tidak jelas itu membuat Reda takut.


“Kyaaa!!!”


Reda mencoba bangun namun dia terjatuh kembali. Dia tidak ingin melihatnya dan menangis.


“Tolong aku! Siapa saja, aku mohon tolong aku!”


Reda merangkak dan akhirnya bisa berdiri. Namun baru saja berhasil berdiri, Reda kembali terjatuh.


“Akh!”


Terjatuh bukan karena kecerobohannya, melainkan karena punggung bagian belakangnya ditendang dan diinjak oleh makhluk besar itu.


“Manusia, gadis terkutuk dari desa kotor itu…kau pikir kau mau pergi ke mana calon makananku?”


“…”  Reda menangis


“Aku tidak akan menunggu 3 bulan untuk memakanmu karena Aragaki-sama tidak akan memberikanmu lagi padaku.”


“Hiks…jangan bunuh aku…hiks…”


Betapa putus asanya gadis itu sekarang. Dia begitu takut karena akan mati sebentar lagi.


Kaki besar penuh cakaran dari makhluk tersebut telah mendarat di punggung sang gadis dan sebuah cakaran panjang dari sisi kaki depan yang satu lagi mendarat di punggung Reda kali ini.


-Slaaash


-Craaat


“Kyaaaa!!!”


Suara teriakan keras Reda menggema. Pakaian Reda sobek dan darah dari punggungnya mulai mengalir. Warna pakaiannya menjadi warna merah karena darah yang mengalir.


Jahatnya makhluk tersebut, dengan santai dia menjilati cakarnya yang penuh darah segar Reda. Dia menjilatinya dengan sangat nikmat dan mata merah menyala miliknya mulai terlihat semakin merah.


“Ahahaha! Darah ini, darah ini yang aku suka! Ini adalah darah gadis muda yang masih suci! Aku senang tahun ini aku bisa mendapatkannya kembali!”


“Aku tidak akan pernah membiarkan ada manusia yang berhasil membuat Aragaki-sama jatuh cinta dan menerima kalian! Aku akan membunuh semuanya! Semua para gadis manusia termasuk kau harus menjadi makananku!”


Reda yang menahan rasa sakit hingga hampir pingsan mulai terlihat kehilangan kesadarannya.


“Nushi-sama…”


Di saat mata Reda hampir menutup, sebuah cakaran lain mendarat di tubuh bagian belakang gadis itu. Punggungnya kembali menjadi sasaran makhluk tersebut.


-Craaat


“Kyaaa!!!”


Reda berteriak dan menangis. Jeritan itu seperti sebuah melodi indah di telinga Nue.


“Ahahaha! Berteriaklah! Berteriaklah agar aku bisa melihatmu mati perlahan dan dengan begitu, dagingmu akan semakin segar.”


Darah mulai banyak yang mengalir dari punggung sang gadis desa.


“Jangan…bunuh aku…”


Ekor ular sang makhluk mengerikan itu melilit kaki sang gadis. Alhasil, tubuh Reda berada dalam posisi terbalik.


Wajah Reda mulai pucat sekarang dan dia mulai melihat sebuah mulut lebar dengan taring besar terbuka.


“Nushi-sama…maafkan aku…”


Gadis desa itu terus meneteskan air mata. Dirinya tidak lagi melihat kemungkinan dirinya akan hidup.


Akibat luka di punggungnya yang begitu parah, Reda kehilangan seluruh kesadaran miliknya dan hanya berpasrahkan diri pada nasib.


“Akhirnya aku akan makan dan kekuatanku akan semakin besar. Selamat makan dan selamat tinggal, gadis kotor!”


Seperti aroma sakura yang sangat tipis namun semakin kuat, Nue seperti merasakan ada sesuatu yang mendekat.


“Aroma apa ini?”


Hanya selang beberapa detik sebelum kepala Reda masuk ke dalam mulutnya, Nue berhenti. Dia melihat sebuah angin kuat datang.


“Apa yang–”


Sebuah serangan berbentuk tebasan angin berwarna hitam menyerangnya dan…


-Booom


Terdapat ledakan besar yang terdengar dari dalam tempat seperti gua tersebut. Hampir setengah dari bagian dindingnya hancur. Nue mundur dan melompat ke belakang.


Namun, serangan besar lainnya yang lebih cepat dan bertubi-tubi kali ini dilancarkan kembali. Akibatnya sekarang, gua itu benar-benar hancur dan Nue yang sedang membawa tubuh Reda secara terbalik melompat ke luar.


“Sial! Siapa yang–”


“Matilah kau, Nue!!”


Dari atas langit, Hakuren dan Kuroto yang sudah siap dengan pedangnya mulai menukik turun dan menyerang Nue.


Nue menyadari hal itu dan langsung melompat menjauhi mereka.


“Kuro no Tengu dan Shiro no Tengu…mau apa kalian kemari?! Berani sekali kalian menghancurkan tempat tinggalku!”


Hakuren dan Kuroto tidak ingin berdebat dengannya dan langsung menyerangnya kembali. Tapi, muncul beberapa bentuk Ara-mitama dari bayangan Nue. Mereka seperti perisai yang menahan serangan Hakuren dan Kuroto.


“Sial! Jangan kabur!” teriak Kuroto


Nue yang berhasil menghindari serangan tersebut dengan membawa tubuh Reda berlari kembali. Dia mencoba masuk ke sisi lain hutan yang lebih dalam.


Dari sisi samping, Nagi berlari dan melompat sambil menyemburkan apinya.


-Bruuuust


Api besar mulai mengenai sebagian tubuh Nue, namun Nue seakan tidak terbakar dengan api tersebut. Kekuatan Nue jauh lebih kuat dari itu.


“Beraninya menyerangku seperti ini! Tunjukkan sosokmu!” teriak Nue


Dari dalam hutan, Nagi dengan tatapan penuh emosi keluar. Betapa terkejutnya dia melihat Nue yang membawa tubuh Reda dengan ekornya dalam kondisi terbalik seperti itu.


“Beraninya kau…beraninya kau membawa tubuh Reda-sama seperti sampah!! Berikan Reda-sama pada kami!”


Nue menyerang Nagi dengan api hitam dari mulutnya dan Nagi berusaha menahan api tersebut dengan apinya.


“Aku tidak akan membiarkanmu memakan Reda-sama, Nue! Kembalikan Reda-sama!”


Api milik Nagi semakin besar, namun kekuatan Nagi tidak sebanding dengan Nue. Dorongan api Nue lebih besar darinya sehingga Nagi terus terdorong mundur.


“Kh…”


Tetesan darah dari punggung Reda semakin banyak.


Merasa dirinya menang, Nue menggerakkan ekornya dan mendekatkan tubuh Reda ke sisi mulutnya seperti akan memakannya dengan cepat begitu semburan api yang dilancarkannya berhenti nanti.


Saat sudah ada di sampingnya, sebuah pedang meluncur tajam dan memutus ekor Nue serta menusuk bagian samping mulutnya.


-Jleeeb


Serangan api Nue langsung berhenti dan rasa sakit dirasakan olehnya.


Tubuh Reda hampir terjatuh sampai akhirnya ditangkap dan dibawa dengan cepat oleh sosok pria yang begitu erat menggendongnya.


Sosok pria itu mengatakan dengan nada marah dan aura yang mengerikan.


“Aku datang untuk menjemput calon pengantinku.”


Dia melihat Nue yang kesakitan dan kesulitan melepaskan mulutnya dari pedang miliknya, “Beraninya kamu menculik dan melukainya seperti  ini, Nue. Sepertinya kamu sudah bosan hidup malam ini.”


“Aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari terbit besok.”


Nada penuh kemarahan Aragaki yang menggendong Reda seperti tidak bisa dibendung. Angin kuat mulai berhembus dan bersamaan dengan itu, sosok Aragaki yang murka telah sepenuhnya terlihat.


****