The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 75. Godaan Cinta untuk Aragaki



Rubah kecil itu bermain air di tepi sungai sambil bernyanyi.


Tampaknya dia menciptakan lagu pernikahan untuk Reda dan Aragaki.


Di sisi lain, kedua orang yang ada dalam lirik lagunya itu sekarang berada dalam jarak yang sangat dekat.


"Nushi...-sama..."


Mendengar permintaan sang penguasa padanya, pikiran Reda dipenuhi rasa takut.


Wajahnya yang awal memerah berubah dalam sekejap menjadi ketakutan yang mungkin bisa membuatnya benar-benar pingsan kali ini.


"Apa yang Nushi-sama katakan padaku tadi? Kenapa tiba-tiba beliau berkata ingin memakan masakan buatanku?"


Ingatan saat pertama kali Reda menyuguhkan masakannya langsung muncul.


Belum dicicipi, makanan yang dimasaknya saat itu langsung dibuang begitu saja.


Selama ini, dia sengaja memasak diam-diam dengan bantuan Ryuunosuke agar aroma tangannya tidak menempel.


"Aku...aku tidak bisa...memasak untuk Nushi-sama."


"Kenapa?"


"Aroma...aroma tanganku akan merusak rasa masakannya."


Mendengar itu, Aragaki menyadari sesuatu. Gadis cantik di hadapannya itu ketakutan.


Sebuah ingatan muncul dalam benak Aragaki.


Ingatan dimana dia melempar sup yang dibuat gadis itu di hari pertamanya tiba di kediaman miliknya.


"Dia masih takut rupanya. Aku rasa aku harus minta maaf untuk itu." pikirnya


Saat mulutnya terbuka untuk mengatakan maaf pada gadis di depannya, gadis cantik itu melanjutkan kalimatnya.


"Masakan Ryuunosuke juga lezat, Nushi-sama! Bahkan, semua orang mengakuinya."


"Akan...akan lebih baik jika rubah manis itu yang membuatnya."


"Aku akan...memberikan resep milik mendiang orang tuaku dan biar Ryuunosuke yang memasaknya."


Gadis itu begitu yakin.


Reda belum mengetahui bahwa Aragaki yang ada di hadapannya sekarang sudah mengetahui semuanya.


Yang diketahui oleh dirinya adalah dia belum bisa mengatakan kepada orang yang dicintainya itu bahwa selama ini dialah yang memasaknya.


"Aku tidak boleh berkata jujur. Nushi-sama harus tersenyum saat memakannya."


"Tidak masalah jika seumur hidup Nushi-sama tidak mengetahui kenyataan. Selama Nushi-sama bahagia, itu sudah cukup."


Kalimat Reda menyadarkan Aragaki bahwa gadis itu masih benar-benar belum tau bahwa dia telah mengetahui semuanya.


"Aku rasa...aku harus menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis ini."


Aragaki hanya tersenyum lembut.


"Aku mengerti. Aku akan menantikan resep milik orang tuamu."


"Jika aku meminta masakan itu sebagai menu sarapan hari ini, apakah kamu mau mengajarkan Ryuunosuke resepnya?"


"Tentu saja, Nushi-sama! Aku akan mengajarinya. Terima kasih banyak, Nushi-sama."


-Deg


Dengan jarak sedekat itu, Aragaki melihat kemilau senyuman milik Reda.


Gadis cantik itu tersenyum bersama cahaya matahari yang mulai terbit.


Dengan tangan yang masih saling berpegangan, dia menatap lebih dalam ke dalam indahnya bola mata gadis itu.


Wajah merah gadis itu mulai memenuhi ingatannya.


"Nushi...-sama." malunya gadis itu saat ditatap begitu dekat oleh pria yang dicintainya dalam diam.


Hal yang menakjubkan lainnya adalah tangan halus Aragaki mulai menyentuh wajah Reda.


Dia mengelus pipinya yang merah sambil tersenyum.


Aragaki tersipu. "Kenapa wajahmu merah seperti buah tomat?"


"Eh?"


"Rasanya terlihat seperti tomat merah yang matang. Sungguh manis sekali."


-Bluuuuush


Reda benar-benar matang sekarang.


Aragaki sadar akan kalimatnya itu dan dengan sikap tenang miliknya, dia mencoba tidak panik.


"Maksudku, tomat merah itu manis dan wajahmu mirip dengan tomat manis jika memerah tiba-tiba."


"Be–begitu. Ma-maafkan aku."


"Aku tidak bermaksud begitu. Jangan minta maaf. Selain itu–"


"Kyaaa!" suara imut terdengar di dekat keduanya


Aragaki dan Reda melihat asal suara itu.


Itu adalah si rubah kecil yang terlihat menggoyang-goyangkan ekor miliknya dengan cepat, telinga yang baik turun dan senyum penuh binar-binar di sekitarnya.


"Aragaki-sama genit, Kyaa~Ryuunosuke malu!"


"Aragaki-sama genit. Pegang-pegang wajah Reda-sama seperti itu di dalam hutan. Kyaa~"


"Kalau Ryuunosuke tidak ada, Aragaki-sama pasti akan berbuat tidak senonoh. Kyaa~kyaa~"


Reda menjadi tertunduk dan memerah, sedangkan sang majikan dari rubah kecil itu hanya melihat tingkah lucu anak kesayangannya.


"Dari mana kamu belajar kata tidak senonoh? Apa Nagi yang mengajarimu? Atau Kuroto?"


"Buugh! Uhuk...uhuk...uhuk..." Nagi dan Kuroto di tempat yang berbeda langsung batuk tidak berhenti


"Nagi, kecilkan suaramu!" bisik Ginko yang ada di samping Nagi, di tempat yang cukup jauh dari Aragaki dan kedua orang itu


"Kuroto, kau baik-baik saja?" tanya Hakuren yang berada di atas pohon besar di samping Kuroto


Tampaknya keduanya mendengar ucapan sang majikan dan syok.


"Kenapa jadi aku yang dianggap membawa pengaruh buruk?" gerutu Nagi


"Aku tidak pernah mengajari anak nakal itu ucapan yang tidak baik. Aragaki-sama tidak boleh memberikan gambaran buruk Nagi padaku!" gerutu Kuroto


Sebenarnya, percuma juga mereka menggerutu karena tidak disadari rubah kecil itu.


Sementara si rubah kecil hanya tersenyum menyeringai sambil melihat tuannya dengan wajah penuh ledekan.


"Ryuunosuke belajar sendiri. Ibu pernah bilang laki-laki itu akan jadi genit dan senonoh kalau dekat dengan orang yang disukainya."


"Ryoko tidak akan mengajarimu begitu, rubah kecil."


"Ryuunosuke tidak berbohong. Ibu pernah bilang begitu dulu."


"Benarkah?" Aragaki balas menggoda rubah kecil manisnya


"Kyaa~Aragaki-sama mulai genit, Ryuunosuke jadi senang melihatnya. Ehehe~"


"Ryu–Ryuunosuke, jangan bicara begitu. Itu tidak sopan."


Reda mencoba menasihati si rubah kecilnya, namun dia sendiri juga tampak malu bercampur rasa bahagia.


"Kenapa aku malu sekali mendengar Ryuunosuke mengatakan itu. Aku jadi berharap sekarang. Dewa, kuatkan aku. Maafkan aku."


Wajah Reda merah sekali.


Aragaki tertawa kecil mendengar ledekan rubah kesayangannya itu.


Menyadari matahari sudah semakin tinggi, Reda mulai mengalihkan pembicaraan.


"Wa–waktu sarapannya sudah hampir tiba. Se–sebaiknya kita ambil semua sayuran liar ini, Ryuunosuke." seru Reda


"Baik~"


Reda yang masih dalam keadaan digenggam dengan erat oleh Aragaki mulai meminta izin padanya.


"Nushi-sama, bolehkah Nushi-sama...melepaskan tanganku sebentar?"


Dengan malu, Reda memberanikan diri untuk bertanya. Aragaki membantu gadis itu berdiri.


"Hati-hati ya."


Gadis itu tersenyum. Dia langsung menghampiri rubah kecilnya dan memetik sayuran liar di sekitar tempat itu bersama.


Namun, seperti belum rela melepaskan tangan itu, Aragaki mengikuti langkah gadis itu dari belakang.


Saat Reda hampir menginjak sisi licin, Aragaki reflek memeluknya dari belakang. Tentu saja itu semakin membuat Reda kaget.


Beberapa kali dia mendapat serangan kejutan itu sampai jantungnya berdetak semakin kencang seperti orang yang berlari.


Sampai akhirnya, yang Reda lakukan adalah berada di samping sang penguasa dan rubah kecil manisnya yang mengambil semua sayuran itu.


Mereka kembali ke kediaman Aragaki.


Saat berjalan pulang, hal yang sama terulang kembali.


Di saat Reda berjalan, dirinya nyaris tersandung dan jatuh ke pelukan sang penguasa.


"Ma–maafkan aku!" katanya panik


"Tidak apa-apa. Berjalanlah dengan menggandeng tanganku lagi ya. Ini akan lebih baik."


Reda mengangguk dengan malu.


Rubah kecilnya membawa sayuran dalam keranjang sambil menyanyikan lagu ciptaannya.


Sepanjang jalan, lagu Ryuunosuke yang terdengar sebagai pelengkap perjalan pulang mereka.


Bagaikan godaan anak kecil, hal tersebut sangat lucu. Namun, untuk Aragaki saat ini, hal itu adalah godaan untuknya.


Godaan yang mendominasi pikirannya, yang saat ini sedang dipenuhi oleh kebahagiaan bersama gadis itu.


Setelah kembali ke kediaman, Reda mengingat sesuatu.


"Jamurnya...tidak kita cari tadi."


Aragaki terlihat bingung, "Jamur?"


"Bukankah...Nushi-sama ingin makan sup jamur untuk sarapan pagi?"


Aragaki terdiam. Dia melupakan alasan yang dibuatnya demi bisa bersama gadis yang menarik perhatiannya sekarang.


"Aku sudah tidak mau makan sup jamur lagi. Sebagai gantinya, tolong buatkan resep dari orangtuamu itu ya."


Senandung lagu pernikahan ciptaan rubah kecil jadi semakin keras dinyanyikan olehnya.


****