
“Aku akan membunuh mereka malam ini.”
Itulah kalimat yang dikeluarkan Aragaki dengan penuh emosi dan kemarahan.
Bukan hanya membuat tekanan di seluruh tempat itu, namun juga membuat keempat pelayan setianya merasa takut.
“Jika dibiarkan, Aragaki-sama akan benar-benar serius menghancurkan Ara-mitama!” kata Nagi pada yang lain
“Nushi-sama! Tenangkan dirimu! Nushi-sama!” Ginko mencoba berteriak pada sang penguasa namun angin dan tekanan aura kemarahan itu terlalu kuat. Ginko bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya hanya untuk sekedar berdiri.
“Kita harus bagaimana, Hakuren?” tanya Kuroto yang ada di sampingnya
“Kita harus menghentikan Aragaki-sama. Apapun yang terjadi, Aragaki-sama tidak boleh keluar dari tempat–”
Baru disebutkan, Aragaki langsung melangkahkan kakinya dan dengan cepat pergi ke dalam hutan.
“Aragaki-sama!!!”
“Nushi-sama!!!”
Tekanan aura itu masih terasa walau Aragaki telah berada jauh di depan mereka. Kedua kaki para pelayan setianya masih sulit bergerak. Gemetar karena takut masih terasa, namun mereka harus menghentikan sang penguasa mengamuk.
“Kita tidak boleh diam saja! Aragaki-sama akan meratakan tempat Ara-mitama!” ucap Nagi yang akhirnya bisa berdiri
“Kami akan mengejar Aragaki-sama. Kalian jangan lupa menyusul! Kuroto, ayo!”
Hakuren dan Kuroto akhirnya langsung terbang dengan kecepatan tinggi ke dalam hutan mengejar sang penguasa.
Gelapnya hutan tidak menjadi masalah besar untuk kedua tengu itu.
Nagi dan Ginko langsung berlari dan menyusul sang penguasa. Mereka bahkan menggunakan energi spiritual
siluman mereka untuk meningkatkan kecepatan lari mereka menjadi beberapa kali lipat dari kecepatan normal seekor siluman rubah.
Nagi sempat bergumam sepanjang jalan pengejarannya.
“Ginko…”
“Ada apa, Nagi? Ini bukan waktunya untuk berdiskusi!”
“Aku ingin tau, apakah Aragaki-sama akan membunuh Ara-mitama saja atau mungkin akan membunuh iblis Nue juga?”
Ginko tidak menjawab pertanyaan tersebut, namun besar kemungkinan tuannya akan membunuh Nue setelah melihat hal itu.
Nagi kembali bicara.
“Kegare itu memang hanya bisa dihasilkan oleh Ara-mitama, tapi itu baru akan terjadi jika Ara-mitama terluka.”
“Apa yang membuat Ara-mitama terluka dan kenapa bisa ada di hutan? Tidakah kau memikirkan sesuatu?”
“…” Ginko mendengarkan. Jelas dia seperti sudah bisa menebak beberapa kemungkinan.
“Hari ini kami mengejar sosok mitama yang terluka. Itu pasti Ara-mitama. Serangan Nagi mengenainya saat itu dan tubuh terluka itu dipotong di hutan. Kegare itu berasal dari anggota tubuhnya yang terpotong.”
“Setidaknya itu yang paling masuk akal. Dan dengan semua ini, Nushi-sama mengetahui bahwa kemungkinan Ara-mitama yang mengawasi Reda-sama.”
“Ara-mitama bekerja untuk iblis Nue. Jika benar semua ini terhubung, maka Nue bermaksud untuk memastikan gadis yang biasa jadi makanannya.”
“Ini sudah keterlaluan. Reda-sama benar-benar dalam bahaya jika tujuan Nue ingin memakannya.”
Ginko tidak salah, semua dugaannya itu benar. Tidak disangka, Nagi juga mengatakan hal yang serupa dengan pikiran Ginko.
“Iblis Nue mengincar Reda-sama dan yang terkena seranganku itu adalah Ara-mitama. Kau juga berpikir begitu kan, Ginko?”
“Kita bahas ini nanti, Nagi. Kita kejar Nushi-sama dulu!!”
**
Di depan sana, Aragaki tidak menurunkan kecepatannya sedikitpun.
“Aku akan membunuhnya. Beraninya mereka merusak hutanku. Beraninya mereka mencoba mengikuti gadis itu. Aku akan membunuhnya.”
“Akan kubunuh, akan kubunuh, akan kubunuh…”
Di belakang, Hakuren dan Kuroto belum bisa mengimbangi kecepatan sang penguasa.
Kuroto sudah mulai putus asa, “Kalau begini, hanya tinggal waktu saja sampai Aragaki-sama sampai di tempat Nue!”
“Aragaki-sama! Tolong berhentilah!” Hakuren berteriak dari belakang sang penguasa. Namun hal tersebut tidak didengarkan.
Di belakang kedua tengu tersebut, ada youko, Nagi dan Ginko yang mengejar. Akhirnya mereka berhasil menyusul.
“Aragaki-sama!! Berhenti! Berhentilah, kami mohon padamu!”
Teriakan Nagi sama sekali tidak didengarkan olehnya. Seperti sudah putus asa, Ginko teringat wajah takut rubah kecil yang memeluk Reda.
“Ryoko-san, tolong bantu aku!”
Ginko mulai berteriak, “Nushi-sama, Ryuunosuke menangis ketakutan! Ryuunosuke ketakutan sama seperti hari penuh darah itu! Aku mohon tolong berhentilah!”
-Deg
Sebuah ingatan muncul di kepala Aragaki. Suara tangis anak-anak dan rintihannya memanggil nama orang yang paling dicintainya.
[Hiks…ibu…ibu…Ryuunosuke ingin bersama ibu. Ryuunosuke ingin ibu kembali. Ryuunosuke tidak ingin ibu pergi. Hiks…]
Aragaki berhenti berlari dan mulai sedikit tenang. Aura kemarahan dan kebenciannya mulai menipis dan rambut panjangnya kembali seperti semula.
Hanya ekor besar dan tanda merah di keningnya yang belum hilang.
“Ryuunosuke…” itulah kalimat yang dikatakan oleh sang penguasa yang mencoba menekan emosinya kembali.
Saat dirinya menengok ke belakang, dia mendapati semua pelayan setianya.
“Nushi-sama, tolong tenangkan dirimu. Kami akan mencari tau semuanya, tapi tolong tahan amarah itu. Ryuunosuke menangis sebelum kami berusaha menemukanmu.”
“Menangis…rubah kecilku menangis?”
“Benar. Aku dan Nagi tidak berbohong. Kami mohon tolong tenang dan kembalilah. Kami akan membantu, kami setia padamu.”
Aragaki mulai mau mendengarkan dan akhirnya semuanya kembali seperti semula. Tanda di kening itu mulai hilang, ekor besarnya kembali seperti ukuran semula.
“Kita kembali sekarang. Aku ingin melihat keadaan rubah kecilku.”
**
Sementara itu di kediaman Aragaki, terlihat Reda yang sedang menyiapkan tempat tidur tambahan.
“Ini aku ambil dari kamar Ryuunosuke. Dengan begitu, kita tidur bersama malam ini agar Ryuunosuke tidak takut.”
“Apa benar tidak apa-apa?”
“Tentu saja tidak apa-apa. Memang kenapa? Ryuunosuke tidak akan mimpi buruk jika tidak bersama seseorang. Ini, bolanya.” Reda memberikan bola kecil yang pernah dibeli untuk rubah kecil. Itu adalah salah satu benda yang dipeluk oleh rubah kecil saat tidur.
“Huwaaa~bola Ryuunosuke. Ehehehe~” rubah kecil itu terlihat senang dan memeluk bola temari kecilnya. Ekor dan telinga yang bergoyang saat dia senang menjadi tanda bahwa dia sudah lebih baik.
“Ayo tidur.”
Reda mematikan lilin dan menyelimuti rubah kecil di sampingnya.
“Reda-sama…”
“Ya?”
“Ryuunosuke kalau tidur selalu bergerak dan berputar-putar.”
“Ahahaha, benarkah? Aku juga.”
“Reda-sama tidak pernah berputar-putar. Ryuunosuke selalu berputar-putar. Ryuunosuke tidak bohong”
Gadis itu tersenyum, “Baiklah, aku percaya Ryuunosuke selalu berputar-putar saat tidur. Kalau begitu, aku akan memeluk Ryuunosuke agar Ryuunosuke tidak bergerak dan berputar-putar. Sini, kemarilah.”
Rubah kecil itu memeluk gadis kesayangannya.
“Hangatnya~” itulah yang dipikirkan oleh si rubah kecil yang manis
Reda melihat rubah kecilnya sudah lebih baik sekarang.
“Ryuunosuke sudah lebih baik?”
“Sudah, terima kasih Reda-sama.”
“Syukurlah. Tidur yang nyenyak ya, rubah kecil. Semua akan baik-baik saja. Jangan cemas.”
“Mmmm~”
Seperti anak kecil yang ingin tidur di samping sang ibu, Ryuunosuke memeluk bola kesayangan dan gadis kesayangannya itu secara bersamaan.
“Rasanya…sudah lama sekali Ryuunosuke tidak tidur bersama seseorang.”
“Ryuunosuke…selalu kesepian sejak tidak ada ibu. Tapi sekarang…Ryuunosuke senang Reda-sama datang ke tempat ini.”
“Ibu, Reda-sama hangat dan lembut seperti ibu. Ryuunosuke menyukai aroma Reda-sama.”
“Ryuunosuke ingin Aragaki-sama menyukai aroma Reda-sama juga, ibu.”
Keduanya tidur sambil berpelukan.
“Reda-sama…”
“Ada apa?”
“Ryuunosuke menyayangi Reda-sama.”
“Aku juga sangat sayang padamu, Ryuunosuke. Mimpi indah ya.”
Reda tidak bertanya apapun lagi pada rubah kecil itu dan mereka tidur bersama di malam penuh dengan aura yang tidak menentu.
**
Aragaki sampai di kediamannya setelah berlari dengan cepat menelusuri hutan. Dia tidak berpikir dua kali dan langsung masuk ke rumahnya diikuti oleh keempat pelayan setianya.
“Rubah kecil ada di kamar Reda-sama, Aragaki-sama.”
Langkah Aragaki terhenti dan menengok ke belakang, “Ada di kamarnya?”
Begitu cepat langkah kaki sang penguasa dan saat sampai di depan pintu kamar gadis desa itu, dia menarik napasnya.
“Permisi, aku minta maaf tapi izinkan aku masuk.”
Pintu dibuka perlahan dan begitu indah sebuah pemandangan yang dilihatnya.
“…” mata Aragaki terbelalak melihatnya.
Dengan suara pelan, Aragaki masuk dan duduk bersimpuh melihat kedua orang yang tertidur.
Ada sebuah perasaan damai di hatinya. Mungkin ini adalah saat yang berbeda, tapi Aragaki melihat wajah damai rubah kecilnya saat dipeluk oleh gadis itu. Dan wajah gadis itu, terlihat begitu cantik dan menawan saat tertidur.
“Kapan terakhir kali aku memandangi hal yang menakjubkan seperti ini?” gumamnya pelan
Tanpa sadar, Aragaki menyentuh sedikit rambut gadis desa yang terurai saat tidur.
“Terima kasih sudah mau memberi rubah kecilku cinta.”
Itulah kalimat pelan yang terucap dari mulut sang penguasa dan di luar ruangan tersebut, para pelayan Aragaki hanya mendengarkan tanpa melihat semuanya.
Mereka merasakan betapa banyak perubahan pada diri sang majikan dan ada sebuah perasaan kuat dari setiap emosi yang dikeluarkan oleh tuan mereka terhadap gadis itu.
Aragaki membiarkan dirinya berada di kamar gadis itu dan memandangi wajah kedua orang yang tertidur. Hampir sepanjang malam, dia terus duduk di samping keduanya.
Memastikan mereka tidur dengan nyenyak dan seakan membisikkan sesuatu yang indah pada gadis desa cantik yang tertidur.
Sebuah senyuman hangat dan suara yang lembut, Aragaki berbisik di telinga sang gadis, “Mimpilah yang indah. Aku akan melindungimu mulai sekarang.”
****