
Luka di punggung Reda semakin hilang. Meskipun tidak sekaligus, namun Nagi melihat bahwa semakin lama darah yang menetes berhenti, lukanya mongering kemudian hilang tanpa bekas.
“Ini…Ryoko-san yang melakukannya?”
Di sekitar Aragaki saat ini, ribuan kelopak sakura jelas sedang mengelilinginya. Sinar dari kelopak tersebut seperti kekuatan magis yang sangat kuat.
“Ryoko…”Aragaki kemudian melihat wajah pucat sang gadis yang ada dalam dekapannya. “Semua sudah tidak apa-apa. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu.”
Nue yang mencoba untuk menyerang Aragaki ditahan oleh Nagi yang mengeluarkan senjatanya kali ini.
Dengan menggigit ibu jarinya dan mengusapkannya pada telapak tangan lainnya, dia menepuk tangannya sendiri kemudian mengucapkan sebuah sebuah mantra sakanagi.
“Azuma no hi, chi no kiba-Tenma no Yari (api dari timur, darah pada taring-Tenma no Yari)”
Sebuah semburan api muncul dan bersamaan dengan itu, sebuah tombak merah dengan ujung lancip berapi keluar.
“Aragaki-sama, kami bertiga akan mengurus mereka. Keselamatan Reda-sama harus yang utama. Bawa Reda-sama dan bersembunyilah dulu.”
“Aku mengerti.”
Aragaki berlari dan membiarkan pedangnya menancap pada Nue.
“Aku akan mencabut pedangku beserta kepalanya setelah ini.”
Saat Aragaki pergi dari sana, Nue lalu mengaung dan mengamuk.
“Kembalikan makananku!!!”
-Bruuuush
Sebuah semburan api menyerang Nue. Itu adalah sebuah serangan jarak jauh dari tombak api milik Nagi.
“Aku tidak akan membiarkanmu mengikuti tuanku dan calon istrinya. Beraninya kau membuat Reda-sama seperti sampah tidak berarti. Kematianmu adalah bayarannya, Nue!!”
“Diam kau, anjing kampung! Aragaki-sama mengkhianati perjanjian kami!”
Nagi langsung mengeluarkan aura membunuhnya dan berteriak ke arah Nue, “Diam kau, iblis!”
“Aragaki-sama tidak pernah berjanji apapun padamu! Selama ini kami memberikan para gadis itu karena mereka memang harus mati, tapi Aragaki-sama tidak pernah berjanji akan memberikan manusia setiap tahun padamu!”
“Apalagi memberikan gadis yang akan menjadi istrinya sebentar lagi!”
Nagi langsung berlari dan menyerangnya dengan tombaknya.
“Enyahlah dari dunia ini dan matilah dengan penyesalan!!”
**
Aragaki membawa Reda ke lokasi yang lebih jauh dari sana. Dia membawa Reda ke sebuah tempat indah yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya.
Sebuah taman bunga indah di dalam hutan, taman bunga nemophila. Salah satu bunga kesukaan sang penguasa selain bunga sakura.
Aragaki membawa Reda ke sebuah tempat di tengah-tengah taman bunga tersebut. Dia menurunkan Reda perlahan. Hanya bulan yang menyinari malam bersama bintang saat itu.
Sang penguasa melihat dan membelai rambut sang gadis dengan lembut.
“Aku mohon, tunggulah di sini. Aku akan kembali menjemputmu. Setelah itu…” Aragaki memegang tangan Reda dan menciumnya, “Setelah itu aku akan mengatakan semua perasaanku yang aku miliki kepadamu.”
“Aku akan menghabiskan semua waktuku denganmu, aku akan membayar semua air matamu yang jatuh dan…aku akan mengatakan bahwa aku ingin bersamamu.”
Wajah Aragaki begitu lembut saat menatap Reda. Kalimat itu seperti kalimat yang selalu ditahan olehnya, berada di ujung lidahnya namun tidak pernah bisa tersampaikan dengan baik.
Sekarang, kalimat itu telah keluar meskipun masih belum terdengar oleh gadis desa tersebut.
Dengan hati-hati, Aragaki membaringkan gadis itu di atas rerumputan. Dia melepas lapisan luar pakaiannya dan memakaikannya kepada gadis itu.
Ribuan kelopak sakura seribu harapan entah kenapa masih berada di sekitar mereka.
“Ryoko…tolong jaga gadis ini untukku.”
Di saat Aragaki pergi, ribuan kelopak sakura itu berkumpul menjadi sosok wanita cantik itu kembali, Ryoko.
Namun kali ini, bukan sosok sakura yang menyerupainya melainkan ribuan kelopak sakura itu menjadi tubuh fisik dari mendiang ibu Ryuunosuke.
Sosok cantik berambut panjang dengan warna telinga dan ekor yang mirip dengan rubah kecil manis itu.
Dia menyentuh wajah pucat sang gadis dan mengelus-elus pipinya dengan lembut. Kepala Reda diangkat sedikit olehnya dan diletakkan di atas paha Ryoko yang sedang duduk bersimpuh saat itu.
“Ryuunosuke sering menyebutkan namamu sebelum tidur. Sejak kamu datang, Ryuunosuke menjadi sangat ceria.”
“Sungguh malang nasibmu di desa itu, sayangku. Aku sangat menyesal mendengarnya.”
“Maafkan perlakuan buruk tuanku yang keras kepala itu ya. Beliau memang sedikit menyebalkan, tapi sebenarnya beliau sangat baik.”
Sambil mengelus-elus rambut Reda, Ryoko melihat pita miliknya. Dia tersenyum manis sekali, “Aku senang kamu menyukainya.”
“Aku berharap Nushi-sama bisa bahagia bersamamu. Ryuunosuke begitu gembira sekali. Dia selalu memintaku untuk memperhatikanmu selalu.”
“Aku merasa bersalah karena pergi meninggalkannya saat dia masih sangat kecil. Sejak aku pergi, anakku yang manis itu selalu menangis sendirian di pojok ruangannya. Itu membuatku benar-benar tidak bisa mengabaikannya.”
“Saat dia memutuskan untuk membuat tuan kami yang keras kepala itu tersenyum lagi, dia selalu mendapatkan perlakuan yang buruk dari gadis-gadis desa yang datang.”
“Memang tidak semua adalah murni karena ketidaksukaan mereka, sebagian berubah karena pengaruh Nue yang menginginkan semua itu. Namun, aku masih tidak bisa melakukan apapun saat itu.”
“200 tahun aku terus menahan diriku dalam kesedihan melihat anakku yang manis menangis dan tersiksa. Dan selama itu pula aku harus melihat tuanku semakin tenggelam dalam dendamnya.”
“Hingga kamu datang dan membawa cahaya baru ke Higashi no Mori.”
Ryoko mengusap bagian punggung Reda yang terluka dan menghilangkan seluruh bekas lukanya. Sedikit demi sedikit, wajah Reda kembali segar. Tangan dan kaki Reda yang penuh goresan dan luka kembali menutup dan menghilang.
“Kamu memberikan anakku hadiah, iya kan? Sebuah bola temari kecil yang sangat lucu. Anakku senang sekali dengan hadiah itu. Dia bahkan memeluknya saat tidur dan selalu mengatakan bahwa itu menjadi barang kesayangannya sekarang.”
“Anakku menemukan sosok ibu lain dalam dirimu dan dia mendapatkan banyak cinta yang lebih daripada yang aku berikan.”
“Waktuku yang pendek membuatnya terus dalam kesedihan yang dalam, namun kehadiranmu membuatnya ceria layaknya anak kecil normal.”
“Aku sangat mencintai anakku dan tuanku yang keras kepala itu dan aku sangat senang jika kamu menjadi bagian dari mereka.”
“Reda-sama…terima kasih banyak telah menjaga anakku dengan baik.”
“Terima kasih banyak sudah mau mencintai tuanku dengan tulus dan murni. Kamu akan mendapatkan semua kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan.”
“Dan akan aku pastikan, semua cinta akan datang hanya untukmu seorang.”
Mata Reda mulai sedikit terbuka. Dia melihat sosok yang buram dalam pandangannya dan memanggilnya.
“I…bu?”
Sosok yang dilihatnya tersenyum. Tangan hangat dan lembut mengelus kepala dan pipinya.
“Tidurlah, semua akan baik-baik saja. Terima kasih banyak karena telah berjuang sampai sejauh ini.”
“Apa Reda…sudah membuatmu…bangga?”
“Sangat bangga. Kebahagiaanmu akan datang, percayalah.”
Reda tersenyum dan seakan menceritakan hal yang begitu membuatnya senang.
“Ibu, Reda…mencintai Nushi-sama. Bisakah…Ibu menungguku sedikit lagi? Reda ingin…menyatakan perasaan Reda…sebelum mati nanti.”
“Jangan khawatir. Semua cinta itu akan terbalaskan. Semua cinta Nushi-sama akan menjadi milikmu seorang.”
Air mata Reda menetes dan matanya kembali tertutup. Gadis desa itu tidur dalam pangkuan sosok Ryoko yang tidak henti-hentinya mengelus rambutnya dengan lembut.
****