The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 12. Tugas Berat dan Sebuah Apel di Siang Hari



Sementara itu, Reda berusaha tetap semangat untuk mengepel lantai kayu engawa tersebut.


Gerakan tubuhnya masih belum terbiasa untuk melakukan pekerjaan tersebut, namun mengingat perjuangan hidup yang dilakukannya saat di desa, membuatnya ingin menghargai usahanya yang sekarang.


“Aku sudah berjanji kepada Ryuunosuke untuk membuat Aragaki-sama tersenyum. Meskipun untuk hari ini aku membuatnya marah, tapi aku hanya perlu berusaha lagi.”


“Aku tidak boleh membuat Ryuunosuke khawatir dan menangis lagi seperti pagi ini. Paling tidak, aku harus menahan air mataku sampai di gubuk nanti. Aku juga harus memikirkan cara yang baik untuk membuat Aragaki-sama mau menerimaku sedikit demi sedikit.”


“Reda, semangatlah! Setidaknya dalam 3 bulan ini, kamu harus hidup tanpa penyesalan. Setidaknya dalam 3 bulan ini juga, kamu harus bisa melakukan sesuatu untuk menepati janjimu. Saat bertemu ayah dan ibu nanti di akhirat, aku jadi bisa bercerita dengan bangga karena aku berhasil menepati janjiku.”


Sungguh pikiran yang terlalu jauh. Hari pertama belum berakhir dan Reda sudah memikirkan hal apa yang ingin dia lakukan setelah mati.


Namun, tekadnya untuk bisa berjuang memberikannya sedikit keberanian untuk tersenyum. Dia mengepel lantai itu dengan penuh senyum untuk menghibur dirinya sendiri.


Sedikitnya, separuh dari luar ruangan makan tadi telah selesai dibersihkan.


Reda yang hendak mengganti air di ember kayu melihat Ryuunosuke datang dengan membawa nampan dengan mata merah. Gadis itu meletakkan kembali embernya dan berlutut menghibur rubah kecilnya itu.


“Ada apa? Kenapa lagi-lagi menangis?”


“Itu karena Ryuunosuke…Ryuunosuke tidak boleh membuatkan makan siang untuk Reda-sama."


“Ryuunosuke juga tidak boleh lagi membawakan apapun untuk Reda-sama mulai hari ini. Aragaki-sama mengatakan kalau Ryuunosuke dilarang membantu Reda-sama meski hanya setetes air atau Ryuunosuke akan dihukum.”


Reda menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terkejut. Hatinya terpukul mendengarnya hingga telapak tangan gadis itu menjadi dingin, namun dia berusaha untuk tenang. Dia memberikan senyumannya kembali.


“Ryuunosuke, tidak apa-apa. Semua itu tidak masalah. Ingat kan, aku dibuang oleh penduduk desa. Aku hanya bisa makan hasil sisaan dari penduduk yang dibuang ke jalan, aku tidur di kandang anjing bersama hewan lain, aku tidak memiliki pakaian ganti dan terlihat sangat bau dan kotor.”


“Tapi, lihat aku sekarang? Aku memakai pakaian bersih pemberian Ryuunosuke, aku bisa mandi dan membersihkan tubuhku, aku bisa makan nasi dengan acar serta tidur di tempat yang hangat. Ryuunosuke sudah sangat membantuku.”


“Setelah ini, aku akan berjuang. Perintah Aragaki-sama itu mutlak, ingat? Ryuunosuke jangan bersedih hanya karena diperintahkan untuk melakukannya. Kita harus berjuang. Ayo semangat!” Reda menghibur rubah itu


Nada penuh semangat itu sama sekali tidak membuat rubah kecil itu membaik, namun Reda terus menyemangatinya. Dengan memberikan pelukan dan sedikit usapan di ekor dan telinganya yang turun karena sedih, rubah kecil itu kembali tersenyum.


Setelah itu, Reda hanya perlu membuat rubah kecil itu berhenti khawatir dengan melakukan tugas berat yang dibebankan padanya dengan senyuman.


Sementara Ryuunosuke ke dapur untuk menyiapkan sayuran, Reda pergi untuk mengambil air. Air itu ada di sumur di belakang. Di sana terdapat kayu bakar dan ranting-ranting pohon yang tersebar.


Dengan hati-hati, dia membuang airnya ke saluran yang ada di dekat sumur kemudian menimbanya kembali untuk mengisi ember. Dia membawa air itu sendirian lalu mengepel kembali lantainya.


Dari atas langit, kedua tengu itu memperhatikan kerja gadis desa tersebut.


“Dia benar-benar melakukannya sampai sejauh ini. Aku terkesan.” Hakuren memujinya


Kuroto hanya diam memperhatikan gadis desa itu mengepel lantai. Dia tidak memujinya dari mulut, namun mengatakan pujian itu dalam hati.


“Dia melakukannya dengan hati-hati. Selain itu, meski gerakannya lambat tapi dia memastikan pegangan pada engawa dan sudut lainnya tidak kotor. Aku terkejut melihat ini. Untuk pertama kalinya, aku melihat dengan mata kepalaku ada calon ‘pengantin’ dari desa itu yang benar-benar bisa disebut calon ‘pengantin’ sekarang.”


Kedua tengu itu memang tidak diperintahkan oleh sang majikan untuk mengawasinya, namun mereka melakukannya untuk membuktikan hal apa yang sampai membuat Ryuunosuke begitu membelanya.


Sudah lebih dari satu jam Reda mengepel lantai kayu tersebut dengan pakaian yang basah karena harus bolak-balik mengambil air di sumur. Dia juga menghapus keringatnya dengan pakaiannya sekarang.


Gadis desa itu tidak mengeluh sama sekali dan memasang wajah senyum di bibirnya.


Hampir tiba waktunya makan siang dan Aragaki keluar dari ruangannya. Saat baru membuka pintu, dia yang hendak melangkahkan kakinya berhenti karena melihat gadis itu mengepel area di dekat ruangannya.


Dia melihat gadis itu dengan tatapan penuh kebencian dan berjalan melewatinya.


Reda melihat tuannya datang dan segera memberinya salam dengan bersujud sambil berkata, “Selamat siang, Aragaki-sama. Semoga harimu menyenangkan siang ini.”


Mendengar ucapannya itu, hati Aragaki kesal dan dengan ekornya yang besar dia menyenggol ember berisi air kotor di dekat gadis itu hingga airnya membasahi pakaian dan lantai tempatnya bersujud.


Reda terkejut dengan tindakan tuannya dan melihatnya. Sepasang mata dingin penuh rasa benci menatap Reda. Suara dingin dari mulut Aragaki seakan mencekiknya.


“Gadis kotor, jangan pernah bersikap ramah dengan senyum palsumu itu dan jangan pernah sesekali memanggil namaku dengan mulutmu.”


Aragaki tidak memedulikan hal itu dan pergi sambil mengibaskan ekornya yang sempat basah terkena sedikit cipratan air.


Melihat lantai yang telah susah payah dipelnya menjadi kotor, Reda dengan mata merah karena menahan tangis mulai mengambil kain kering di dapur untuk mengeringkan lantainya. Kemudian, gadis itu kembali menimba air di sumur untuk kembali mengepel lantai.


**


Di ruang makan, Ryuunosuke yang telah memasak mulai menyajikan makanannya kepada Aragaki dan keempat pelayannya yang lain.


“Ryuunosuke, makanlah dengan kami semua.” Kata Aragaki dengan lembut


“Ryuunosuke akan makan di dapur sendiri. Karena Aragaki-sama melarang Ryuunosuke untuk makan dengan Reda-sama, Ryuunosuke akan makan sendiri di dapur.”


“Haa…” Aragaki menghela napasnya pelan


Dia hanya tidak habis pikir bahwa kedatangan gadis calon ‘pengantin’ kali ini bisa membawa perubahan besar pada pelayan kecil kesayangannya itu.


Setelah Ryuunosuke pergi kembali menuju dapur, Aragaki dan keempat pelayannya memakan masakan yang dibuat oleh Ryuunosuke.


Di dapur, Ryuunosuke tidak memiliki nafsu makan karena memikirkan Reda.


“Reda-sama pasti lapar saat ini. Ryuunosuke ingin sekali membawakan nasi kepal isi acar lagi untuknya.” gumam rubah kecil itu sambil melihat nasi di mangkuknya.


Dengan perasaan sedih, dia mulai memakan makanannya, namun dia tidak menghabiskannya. Nafsu makannya hilang dan dia memilih menyimpannya.


**


Terlihat hari mulai siang dan Reda sendiri sudah mulai lapar.


“Mungkin aku bisa beristirahat sedikit dan pergi ke hutan untuk mencari buah.” pikirnya


Reda meninggalkan embernya di dekat sumur dan pergi lewat pintu belakang. Dia berjalan menyusuri jalan menuju gubuk tua tempatnya tinggal sekarang sambil melihat kanan dan kirinya.


Hampir tidak ada apapun di dalam hutan itu kecuali rerumputan dan pohon tanpa buah. Reda masih belum menyerah dan mencarinya sedikit lagi. Masuk kembali ke hutan sedikit lebih dalam, dia melihat ada buah segar jatuh di tanah.


“Buah!”


Dengan wajah senang, Reda mengambil buah tersebut. Dia melihat buah tersebut dan membersihkannya dengan pakaian yang dia kenakan. Gigitan pertama, buah tersebut seperti buah apel hutan yang terasa manis asam segar.


“Syukurlah, aku masih bisa menemukan buah. Mungkin jika masuk lebih dalam lagi, aku bisa menemukan lebih banyak dan menyimpannya di gubuk. Sebelum makan siang selesai, sebaiknya aku coba mencarinya.”


Reda memanfaatkan sedikit waktunya untuk mencari buah kembali. Namun sampai sejauh yang dia masuki, tidak ada buah lain di sekitarnya. Dia harus menelan perasaan kecewanya dan berakhir dengan memakan satu buah apel sebagai makan siangnya.


Tidak ingin sampai membuat masalah, Reda berlari kembali untuk menimba air untuk mengepel kembali.


Aragaki dan yang lain baru saja selesai makan siang dan meninggalkan ruangan. Masih tidak terlihat kemana gadis itu, namun Aragaki tidak peduli.


Lain hal dengan tuannya, para pelayannya justru penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu. Mereka mencari dan menemukannya baru selesai menimba air di sumur.


Dengan sembunyi-sembunyi, keempatnya mulai bertanya-tanya


“Apa dia sudah makan siang? Aragaki-sama melarangnya untuk makan apa yang berasal dari tempat ini kan?” Hakuren menjadi sedikit penasaran


Hal itu juga sama seperti Kuroto.


“Entahlah. Aku tidak tau. Tapi mungkin saja sudah. Ada sedikit daun di kepalanya.”


“Itu berarti dia baru saja dari hutan untuk mencari makan. Memang apa yang ada di hutan? Di dalam sana tidak ada apapun, kecuali kalau dia masuk lebih dalam lagi.” kata Nagi


“Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum dia mengetahuinya.”


Mereka pergi dari tempat itu tanpa sedikit pun maksud untuk menunjukkan empatinya.


****