
Sudah tiga hari berlalu sejak Aragaki mengatakan bahwa rubah kecilnya bisa melayani Reda kembali. Ryuunosuke tampak begitu semangat berlari menuju gubuk tua tempat Reda tinggal pagi-pagi sekali.
Begitu dia sampai di gubuk tua tersebut, rubah kecil itu melihat Reda yang baru melipat kasurnya di atas tatami. Rubah itu langsung menghampirinya.
“Reda-sama, Reda-sama!!”
“Selamat pagi, Ryuunosuke.” katanya sambil tersenyum
“Selamat pagi, Reda-sama.”
Ryuunosuke tampak begitu senang. Tidak ada yang membuatnya senang karena dia bisa melayani Reda kembali.
***
Ini terjadi tiga hari lalu ketika makan siang. Saat itu, Ryuunosuke yang dengan berani mengatakan keinginannya kepada sang majikan.
“Ryuunosuke ingin bisa membantu Reda-sama lagi!”
“Hah?!” keempat pelayannya kini berteriak bersamaan
Aragaki awalnya begitu terkejut mendengar permintaan dari rubah kecilnya itu.
“Dari semua hal, aku sudah menduga dia akan meminta hal ini.” pikir Aragaki
Tentu saja matanya berubah menjadi begitu tajam. Sorot mata itu menunjukkan betapa bencinya dia mendengar permintaan itu, sekalipun datang dari rubah kecil kesayangannya.
Tapi, Aragaki mengingat hal yang dia lihat beberapa waktu lalu sebelum ini.
Dia melihat bagaimana repotnya Ryuunosuke mengurus semuanya sendiri di dapur. Selain itu, dia juga merasa bahwa akhir-akhir ini rubah kecilnya itu jadi semakin semangat bangun lebih pagi demi bisa bekerja bersama gadis manusia itu.
Aragaki terdiam sesaat dan mengingat semua yang dikatakan oleh gadis manusia yang sekarang ada di balik pintu shoji ruang makan.
[Mohon maaf, Nushi-sama, tolong ampuni Ryuunosuke. Aku yang salah. Ini semua karena semalam aku yang diam-diam memintanya membawakanku makanan karena aku belum sempat ke hutan untuk mencari makanan, jadi Ryuunosuke hanya melakukan permintaanku]
Tidak mau banyak berdebat, siapa yang menyangka bahwa Aragaki akan menyetujui hal tersebut dengan cepat.
“Baiklah. Ryuunosuke boleh membantunya lagi.”
“Apa?!” keempat pelayannya kembali tertegun
“Benarkah?! Benarkah Ryuunosuke bisa membantu Reda-sama lagi?!” rubah kecil itu terlihat begitu senang
“Sebenarnya aku salah mengatakan kalimatnya. Bukan Ryuunosuke yang akan membantunya, tapi gadis kotor itu yang harus membantumu. Dia harus mengerjakan semua pekerjaanmu. Aku sudah katakan sejak awal kalau dia yang mengambil alih semua tugasmu, bukan?”
“Tapi…tapi…”
Sekarang senyum Ryuunosuke menghilang. Melihat rubah kecilnya kembali menunjukkan ekspresi ingin menangis, Aragaki melanjutkan kalimatnya.
“Karena gadis kotor itu harus membantumu, pastikan dia yang harus lebih dulu bangun. Jika dia terlambat bangun, maka Ryuunosuke yang harus bertanggung jawab. Sejak kamulah yang ingin agar gadis kotor itu bersamamu”
Sekilas itu seperti sebuah kalimat perintah yang kejam untuk Ryuunosuke. Namun, ada makna tersendiri.
“Ryuunosuke yang…bertanggung jawab. Itu artinya Ryuunosuke bisa menjemput Reda-sama lagi seperti saat pertama kali datang. Ryuunosuke bisa…Ryuunosuke bisa bekerja dengan Reda-sama lagi. Horee~”
Reda tidak mengerti kenapa rubah kecil itu begitu senang. Tapi tiba-tiba rubah kecil itu keluar dan mengajak gadis itu ikut melompat senang dengannya.
“Reda-sama, Reda-sama, Ryuunosuke dan Reda-sama bisa melakukan tugas lagi bersama~”
“Ryuunosuke?”
“Nanti, kita bisa memetik sayur bersama lagi, menyiapkan makan bersama lagi dan melakukan pekerjaan bersama lagi. Horee~Ryuunosuke akan membangunkan Reda-sama lagi setiap pagi, jadi Reda-sama sebaiknya bangun siang agar Ryuunosuke jemput.”
“Ryuunosuke, itu tidak boleh kan?” Reda mulai malu dan bingung dengan ucapan rubah kecil itu
“Tentu saja boleh.” Rubah kecil itu menengok ke dalam ruang makan dan bertanya kepada tuannya. “Kalau Reda-sama bangun kesiangan, Ryuunosuke bisa membangunkan Reda-sama, iya kan? Ryuunosuke boleh ke tempat Reda-sama. Iya kan, Aragaki-sama?”
Rubah kecil itu bertanya dengan nada santai kepada sang penguasa.
“Kalau sampai gadis kotor itu bangun kesiangan, tetap dia yang akan dihukum. Ingat itu.”
“Tapi, Ryuunosuke tetap boleh pergi ke tempat Reda-sama. Iya, kan?”
Rubah kecil itu bertanya hal yang sama untuk kedua kalinya. Tampaknya dia ingin memberikan sedikit penekanan pada kalimat tuannya. Memastikan agar tuannya tidak ingkar janji.
“Hmm.” Sebuah deheman keluar dari mulut Aragaki. Dia tidak mau mengatakan apapun dan meminta semua pelayannya makan siang dengan tenang.
Rubah kecil itu lagi-lagi mengajak Reda berputar-putar dan terlihat senang sekali.
“Horee, horee. Kita berhasil, Reda-sama! Kita berhasil! Reda-sama dan Ryuunosuke akan bersama lagi. Horee~”
“Syukurlah ya, Ryuunosuke.”
Reda ingin sekali melihat ke dalam ruang makan, namun dia tidak berani melakukannya. Dia memilih untuk memberikan hormat di balik shoji yang membatasinya sekarang.
“Nu–Nushi-sama, aku mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikanmu. Terima kasih banyak karena mau mendengarkan permintaan Ryuunosuke yang mungkin sedikit egois. Terima kasih banyak karena tidak menghukumnya.”
Aragaki tidak mengatakan apapun dan tidak ingin mendengar apapun lagi darinya. Ryuunosuke memberi hormat kepada tuannya dan menarik gadis itu dengan perasaan senang.
Belum sampai di dapur, rubah kecil itu berhenti dan memeluk Reda kembali.
“Reda-sama, syukurlah. Syukurlah Ryuunosuke dan Reda-sama bisa sama-sama lagi. Kita bisa melakukan banyak hal lagi agar Aragaki-sama mau menerima kehadiran Reda-sama. Ini bagus, ini sangat bagus. Ryuunosuke senang.”
Reda hanya bisa tersenyum. Matanya mulai berkaca-kaca karena senang, tapi dia tidak ingin menangis. Rubah kecil itu memeluknya dengan menggoyangkan ekor tebalnya miliknya dan Reda menjawabnya dengan senyuman indah untuk sang rubah kecil.
“Kita berjuang ya, Ryuunosuke. Ini adalah hal yang baik. Kita akan berjuang agar Nushi-sama mau tersenyum kepada manusia lagi seperti dulu.”
***
Itulah yang terjadi. Sudah tiga hari Ryuunosuke datang membangunkan Reda.
Memang tidak ada izin untuk membawakan barang seperti pakaian atau sejenisnya. Tapi, karena rubah kecil itu ingat Hakuren dan Kuroto saja bisa memberikan benda yang dikatakan pribadi miliknya, Ryuunosuke jadi mencoba melakukannya.
Rubah kecil itu mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya.
“Reda-sama, Ryuunosuke membawakan ini.”
“Apa ini?”
“Ini pita milik mendiang ibuku.”
Reda melihat pita cantik berwarna biru di tangan Ryuunosuke. Pita itu panjang dan saat coba disentuh olehnya, rasanya begitu lembut.
“Cantik sekali…”
“Ini terbuat dari sutra yang dihasilkan oleh Jorogumo. Dia memberikan ini kepada mendiang ibu Ryuunosuke 500 tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahun.”
“Joro…gumo?”
“Siluman laba-laba wanita. Mereka biasa membunuh orang jahat. Tapi, karena Aragaki-sama mengenalnya dengan baik, jorogumo itu sering sekali membuatkan pakaian untuk Aragaki-sama. pita ini salah satunya.”
“Bukankah itu kenang-kenangan. Kenapa diberikan kepadaku?”
“Karena Ryuunosuke yakin mendiang ibu Ryuunosuke akan menyukai Reda-sama juga.”
“Ryuunosuke….” Reda begitu terharu mendengarnya
Rubah kecil itu memiliki harapan lain terhadap hadiah yang diberikannya.
“Ini harapan Ryuunosuke. Ryuunosuke berharap Aragaki-sama dan Reda-sama bisa bersama selamanya. Ibu, Ryuunosuke percaya bahwa dalam waktu 3 bulan, Aragaki-sama akan mencintai Reda-sama.”
“Pita milik ibu akan Ryuunosuke berikan untuk Reda-sama. Ryuunosuke mohon, lindungi Reda-sama juga, ibu. Aragaki-sama harus menikah dengan Reda-sama! Harus!!”
Reda menerima pita itu dan mencoba memakainya sendiri.
“Bagaimana? Apakah ini cocok untukku?”
“Cocok! Reda-sama jadi semakin cantik~”
Reda tersipu mendengarnya dan mengelus-elus rubah kecilnya itu.
“Terima kasih karena sudah mau melakukan hal ini untukku. Aku menyayangimu, Ryuunosuke.”
Rubah kecil itu tersipu malu dan bertingkah seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan pujian.
Setelah itu, keduanya memutuskan untuk pergi ke dalam hutan untuk mencari sayuran liar lagi.
“Reda-sama…”
“Hmm?”
“Reda-sama semakin cantik dengan pita itu. Ehehe~”
Reda tersenyum sambil menggandeng tangan rubah kecil yang manis itu. Tidak ada di antara kedua orang itu yang menyadari bahwa di balik setiap pohon yang ada di dekat mereka, keduanya diawasi oleh empat pelayan setia Aragaki.
****