The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 62. Aroma Lembut dan Keinginan untuk Melihatnya dari Dekat



“Aku ingin tau, sejak rubah kecilku memintaku untuk melihat gadis desa itu lebih dekat, apa yang harus aku lakukan?”


Apa yang harus aku lakukan untuk melihatnya lebih dekat?”


“…!!”


Pertanyaan sang penguasa itu membuat keempat pelayannya terkejut.


Mereka memikirkan hal yang sama, “Aragaki-sama/Nushi-sama ingin melihat Reda-sama lebih dekat?”


Ginko bahkan menyadari sesuatu yang membuatnya memikirkan hal lain selain pertanyaan tuannya.


“Nushi-sama juga tidak lagi memanggilnya dengan sebutan gadis kotor?! Ini pertanda bagus. Haruskah aku mulai memberikan jawaban yang selalu aku pikirkan untuk Reda-sama kepada Nushi-sama setelah ini?”


Sang penguasa melanjutkan kalimatnya kembali, “Aku ingin mendengar pendapat kalian. Sejak kalian menerimanya sampai membelanya seperti itu, aku ingin melihat sisi lain yang selalu aku abaikan darinya.”


“Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan agar bisa melihatnya lebih dekat seperti keinginan rubah kesayanganku itu?”


Terlihat di mata keempat pelayannya, Aragaki serius. Mereka saling memandang satu sama lain dan tersenyum.


Nagi bicara dengan memberikan senyumannya kepada sang penguasa, “Aragaki-sama, mungkin kami lancang memberikan pendapat ini kepadamu. Tapi sejak Anda meminta pendapat kami, kami akan jujur.”


Hal tersebut juga dilakukan oleh Hakuren, “Kami berharap Anda bisa menatap dan mengambil semua hal baik yang dilakukan Reda-sama untuk Anda.”


Ginko melihat kesempatan dan akhirnya dia langsung memberikan masukan ide untuk sang penguasa.


“Mungkin, membiarkannya tinggal di sini akan membantu Nushi-sama untuk mengenal semua sisi baik Reda-sama.”


“Aragaki-sama, tidak ada satupun dari kami yang akan berbohong padamu. Jika Anda ingin melihatnya lebih dekat, Anda harus ada di sekitarnya dan gadis desa itu harus ada di sekitar Anda.” Kuroto menambahkan


Sang penguasa terdiam mendengar saran tersebut. Dia tidak yakin dengan ide tersebut dan ketidakyakinan itu tergambar jelas di wajahnya.


“Membiarkannya tinggal di sini, ya…”


Namun, ini bukan bentuk penolakan. Sejujurnya, Aragaki mulai bisa menerima kehadiran gadis itu meski belum sepenuhnya dan tampaknya keempat pelayannya mencoba memanfaatkan keraguan tuannya.


“Aragaki-sama, Reda-sama akan melakukan apapun yang Anda perintahkan dan itulah yang kami lihat sejauh ini.”


Kalimat Nagi didukung oleh pernyataan Hakuren.


“Apa yang dikatakan Nagi benar, Aragaki-sama. Kami yakin jika Aragaki-sama memintanya untuk tinggal, maka dia akan tinggal dan jika Aragaki-sama memintanya untuk pergi, dia akan pergi. Karena itu tidak perlu ragu.”


“…”


Aragaki terlihat serius sekarang. Tampaknya dia benar-benar memikirkan ide tersebut lebih dalam lagi.


**


Sementara itu, Reda yang baru selesai mengelap tatami dan tungku masak mulai sedikit merasa lelah.


“Luka di punggung memang masih terasa sakit, tapi aku tidak boleh membuat Ryuunosuke dan yang lain khawatir. Selain itu…”


Wajah Reda memerah kembali. Dia malu dan merona saat mengingat Aragaki yang selalu datang ke ruangannya dan menyuapinya makan selama dirinya sakit.


Gadis lugu itu langsung duduk di tatami sambil memegangi pipinya yang merah.


“Oh Dewa, rasanya malu sekali. Wajah Nushi-sama begitu dekat saat itu. Senang sekali~”


Rubah kecil yang baru selesai mencuci dan menjemur pakaian Reda bermaksud masuk, namun langkahnya terhenti mendengar gadis itu seperti bicara sendiri. Rubah kecil mendengarkan.


“Rasanya bahagia melihat Nushi-sama dari dekat. Wajah Nushi-sama indah sekali, senyuman dan suaranya lembut dan aromanya sangat wangi seperti bunga musim semi.”


“Aku masih tidak percaya Nushi-sama mau menolong dan menyuapiku makan, bahkan pagi ini Nushi-sama menggandeng tanganku untuk makan bersama.”


“Apa ini yang disebut kebahagiaan sebelum mati? Dewa, rasanya aku ingin sekali terus di sisinya. Reda ingin sekali berada terus di samping Nushi-sama.”


“Meskipun mungkin sangat mustahil, hati ini benar-benar sangat mencintai Nushi-sama. Bagimana ini? Rasanya…Reda tidak ingin mati…Hiks…”


Mengingat hidupnya di tempat itu hanya 3 bulan, air mata Reda menetes dan membuatnya menangis.


“Reda ingin bersama Nushi-sama. Hiks, aku tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin berada di sampingnya. Dewa, apakah itu mungkin? Gadis kotor sepertiku…apakah mungkin bisa bersama Nushi-sama? Hiks…”


Ryuunosuke langsung berlari menuju kediaman Nushi-sama. Dia menangis sambil berlari dengan ekspresi serius.


“Reda-sama tidak akan mati! Ryuunosuke tidak akan membiarkan Reda-sama jauh dari Aragaki-sama! Jangan khawatir, Reda-sama! Ryuunosuke juga berjuang!”


Rubah kecil itu berlari ke ruangan Aragaki. Di sana terlihat Aragaki bersama dengan keempat pelayannya berkumpul.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke mohon izinkan Reda-sama tinggal di sini!”


“…!!”


“Ryuunosuke mohon, tolong izinkan Reda-sama tinggal di tempat ini! Reda-sama…Reda-sama sangat kesepian dan Reda-sama sangat ingin berada di samping Aragaki-sama!”


“…” Aragaki terdiam dengan menatap rubah kecilnya


Dia melihat mata rubah kecilnya yang merah, “Ryuunosuke habis menangis…”


Mendengar itu, keempat pelayannya yang lain saling melihat dan mengangguk.  Mereka bersujud dan memohon pada sang penguasa.


“Aragaki-sama, kami juga memohon agar Reda-sama diizinkan untuk tinggal di sini.”


“Kami akan mengawasinya jika Nushi-sama khawatir akan sesuatu yang buruk.”


“Kami berharap Aragaki-sama mau mempertimbangkannya.”


“Tidak ada dari kami yang akan membantah perintah Aragaki-sama, namun kami berharap Aragaki-sama mau mempertimbangkan keinginan kami dan rubah kecil itu.”


Aragaki melihat rubah kecilnya yang terlihat menahan air matanya. Dia memberikan sebuah elusan lembut kepada si rubah kecil sambil berkata, “Aku akan memikirkannya, jangan menangis lagi.”


“Benarkah!”


“Benar. Selain itu…” Aragaki menggendong rubah kecil dan memeluknya, “Maafkan atas sikapku sebelumnya, Ryuunosuke. Tolong maafkan aku ya. Jika Ryuunosuke menangis lagi, Ryoko mungkin akan mengutuk tuannya ini dari langit.”


Saat memeluk Ryuunosuke, ada aroma pekat yang menempel di tubuh rubah kecil itu.


“Aroma gadis itu…aromanya sangat pekat di tubuh Ryuunosuke.”


Aragaki tampak tidak melepaskan rubah kecilnya. Rubah kecilnya memeluk erat sang majikan, namun tampaknya sang majikan memiliki maksud lain.


Dia menghirup aroma yang menempel pada tubuh rubah kecilnya dalam-dalam.


“Aroma pekat miliknya…awalnya aku merasa sangat jijik dengan aroma ini. Aroma dari darah penduduk desa terkutuk yang kotor itu.”


“Tapi sekarang, entah kenapa aku merasa aromanya begitu…lembut.”


Tanpa disadari, Aragaki begitu menyukai aroma yang melekat pada pakaian dan tubuh rubah kecilnya.


Setelah akal sehatnya kembali, Aragaki melepaskan pelukannya. Dia tersenyum pada rubah kecilnya. Melihat ekornya bergoyang dan telinga yang bergerak, Aragaki tau rubahnya sangat senang.


Rubah kecilnya pamit dan berlari lagi keluar menuju gubuk tua.


Di dalam ruangan itu, Aragaki menarik napasnya pelan dan melihat ke arah pelayannya.


“Kalian berempat…”


“Ya, Aragaki-sama?”


“Maafkan perlakuanku sebelumnya.”


Keempat pelayan setianya hanya tersenyum dan memberi hormat kembali pada sang majikan.


“Sekarang, pergilah. Aku akan memikirkan saran kalian.”


Sama ketika saat mereka datang sebelumnya, keempatnya pergi dengan cepat.


Aragaki terdiam di ruangannya sambil mengingat aroma yang menempel pada tubuh rubah kecil itu.


“Aroma yang lembut…” gumamnya pelan


Angin yang berhembus di luar membawa ribuan kelopak bunga sakura di halaman. Tercium aroma yang tidak asing untuk Aragaki.


“Ryoko!” Aragaki keluar dari ruanganya dan melihat ribuan kelopak bunga sakura yang menari di udara bersama angin. Angin tersebut seperti membawa aroma yang begitu dikenalnya.


“Ryoko, apa kamu mencoba memberitauku sesuatu? Apa Ryuunosuke selalu bercerita dan memintamu untuk membantunya?”


Aragaki memejamkan matanya dan mengingat ucapan Kuroto sebelumnya.


[Jika Anda ingin melihatnya lebih dekat, Anda harus ada di sekitarnya dan gadis desa itu harus ada di sekitar Anda]


“Aku rasa…aku akan mengizinkannya tinggal di sini.”


****