
Menuju siang hari, makan siang hampir siap. Reda masih sibuk di dapur seorang diri, sedangkan rubah kecil masih bersama tuannya di ruang pribadinya, sibuk bercerita banyak hal.
Nagi dan Ginko yang sebelumnya pergi dari dapur karena kegaduhan sebelumnya memutuskan untuk pergi ke hutan lagi. Tepatnya, ke tempat dimana bekas tanah kegare itu berada.
“Ini benar-benar parah. Saat tadi malam kita ke sini, aku tidak begitu menyadarinya. Namun saat siang hari begini, ini benar-benar seperti terbakar.”
“Kamu benar, Nagi. Namun aku tidak merasakan aura hitam dari kegare milik Ara-mitama lagi. Aku rasa semua auranya telah diserap oleh tanah hutan ini, karena itu mereka menghitam seperti ini.”
Nagi melompat ke sisi hutan yang selamat di sekitar tempat itu dan melompat ke atas pohon. Tinggi dan semakin tinggi untuk melihat keseluruhan hutan.
“Tidak ada apapun di sini. Tanda-tanda hewan liar atau semacamnya juga tidak terlihat. Tapi kenapa aku merasa kami masih belum selesai diawasi.”
Dari bawah, Ginko berteriak kepada Nagi.
“Menemukan sesuatu, Nagi?”
“Tidak ada! Aku turun!”
Dengan mudahnya, Nagi turun begitu saja seperti terjun bebas tanpa pengaman. Dengan reflek silumannya yang hebat, dia bisa mendarat dengan baik tanpa terluka.
“Ada sesuatu di atas?”
“Tidak ada. Ginko, apa kau tidak merasa kita sedang diawasi?”
“Mungkinkah ada Ara-mitama di sekitar sini?”
“Benar. Tapi aku tidak bisa mencium aromanya. Ini bisa gawat jika dia mengincar Reda-sama kembali.”
“Nushi-sama sedang bersama Reda-sama. Aku rasa tidak apa-apa. Selama Reda-sama tidak keluar dari kekkai, semua aman.”
Meskipun Ginko berkata demikian, hati kecil Nagi masih dihantui rasa cemas dan curiga. Sejak dia adalah yang pertama kali sadar selain Aragaki soal sosok yang mengikuti Reda ketika di pasar, dia jadi semakin cemas.
Waktu makan siang sudah dekat dan kedua youko tersebut bergegas kembali.
**
Hakuren dan Kuroto terbang ke sekitar hutan juga di sisi yang berbeda dengan kedua youko. Tampaknya Hakuren sendiri masih belum menyerah tentang iblis Nue.
Hal itu disadari oleh Kuroto yang mengikutinya.
“Arah ini…”
Kuroto memanggil Hakuren, “Hakuren, berhenti!”
“…!!” Hakuren berhenti dan menengok ke belakangnya. Kuroto langsung menariknya dan turun.
“Kau gila! Ini arah menuju sisi lain hutan, kan? Kau mau apa?!”
“Kita sudah tau pelakunya, aku ingin pergi ke sana dan memperingatkan Nue untuk tidak mencoba membuat Aragaki-sama marah.”
“Kalau mau mati, jangan ajak aku! Iblis Nue itu merupakan iblis tingkat tinggi yang hampir sama kuatnya dengan Aragaki-sama!”
“Dia tidak lebih kuat dari Aragaki-sama! Dia hanya kuat karena memakan darah manusia, ingat itu!”
“Terserah! Kita kembali! Jika sampai seenaknya saja dan Aragaki-sama mengetahuinya, pikirkan akan semarah apa beliau.”
Hakuren terdiam dan mulai berusaha menahan dirinya sendiri.
“Maafkan aku.”
“Haah~aku mengerti kau begitu khawatir pada keselamatan gadis desa itu, tapi perintah Aragaki-sama itu mutlak. Sebaiknya kita tidak mencarinya ke dalam hutan lagi.”
“Lalu, kemana menurutmu kita harus mencarinya?”
“Jika dugaanku benar, mungkin dia mencari celah untuk masuk. Akan lebih baik jika kita melihat di depan pintu masuk atau daerah belakang yang sering dilalui oleh gadis desa itu.”
“Kau benar. Aku mengerti. Selain itu, tampaknya waktu makan siang hampir tiba. Sebaiknya kita pulang dulu.”
Keduanya pulang kembali menuju kediaman Aragaki.
**
Waktu makan siang tiba, Reda menyiapkan makan siangnya sendiri kali ini. Tampaknya, rubah kecil manisnya sedang menghabiskan banyak waktu untuk menceritakan semua aksinya hari ini pada sang majikan.
Saat Aragaki bergandengan tangan dengan rubah kecilnya, rubah itu sedang bernyanyi lagu yang diciptakannya sendiri.
“Ryuunosuke makan cemilan hari ini, la~la~la~”
“Cemilannya hanya untuk Ryuunosuke saja? Aku tidak dibagi?” tanya Aragaki dengan senyum lembutnya”
“Aragaki-sama dapat satu, sisanya untuk Ryuunosuke dan Reda-sama.”
“Begitu. Aku boleh minta lagi tidak?”
“Hmm~kalau mau memeluk Reda-sama lagi nanti akan Ryuunosuke berikan cemilan Ryuunosuke. Ehehehe~
Aragaki tidak berkata apapun dan hanya tersenyum pada rubah kecilnya sambil menyembunyikan perasaan kagetnya.
“Anak ini sepertinya sengaja mengatakan itu untuk memancingku.”
“Ryuunosuke mau membantu Reda-sama!” rubah kecil itu melepaskan genggaman tangannya dan langsung berlari ke arah gadis kesayangannya. Ekor dan telinganya bergoyang-goyang karena senang, kemudian dia langsung berlari ke dapur untuk mengambil makanan lainnya.
Aragaki sekarang berada di depan gadis itu.
“Selamat siang.”
“Selamat siang, Nushi-sama.”
Wajah Reda memerah. Aragaki juga tampak tidak bisa melihat gadis itu membawa makanan itu sendirian dan langsung memegang tangan sang gadis desa untuk membantu membawakan makanannya.
“Nushi-sama?!”
“Aku yang akan membawanya ke dalam. Jangan khawatir, aku akan membantumu.”
“Tapi ini bukan pekerjaan Nushi-sama!”
“Tidak apa-apa.”
Reda tidak bisa membantahnya dan memberikan makanannya pada sang penguasa. Dari belakang, rubah kecil datang membawa nampan lain berisi makanan.
Saat hendak melewati tuannya, dengan suara lantang dan penuh percaya diri, rubah kecil itu seperti sedang menantang sang penguasa. Atau bisa dibilang menggodanya dengan bentuk sindiran.
“Ryuunosuke membantu Reda-sama tanpa tujuan menjadi genit seperti Aragaki-sama. Aragaki-sama membantu Reda-sama hanya untuk menjadi genit di depan Reda-sama.”
“Aragaki-sama sudah jadi genit, Ryuunosuke yang malu.”
“…”
“Ryuunosuke…” Reda jadi malu sendiri
Tampaknya Aragaki sudah salah menilai anak kesayangannya itu.
“Anak itu sepertinya sudah terlalu lama bergaul dengan Nagi dan Kuroto.”
“Eh?”
“Bukan apa-apa, ayo masuk. Yang lainnya akan datang. Aku harap kamu tidak memasukkan kata-kata rubah kecilku dalam hati ya.”
Senyum Aragaki yang manis membuat Reda hanya bisa mengangguk karena pesonanya.
Keempat pelayan Aragaki tiba tidak lama setelah itu. Meskipun sebenarnya mereka datang sedikit lebih lama dari biasanya, tapi keempatnya datang tidak waktu lama setelah makanan selesai ditata.
Di meja makan, Reda sibuk makan di samping sang penguasa sambil menyuapi rubah kecilnya makan. Entah kenapa, terkadang, Ryuunosuke jadi sedikit manja sejak Reda duduk di samping sang penguasa.
Ini seperti rubah kecil mulai menganggap gadis kesayangannya itu sebagai ibunya sendiri.
“Ini telurnya sudah aku potong-potong, Ryuunosuke. Nanti dimakannya pelan-pelan ya.”
“Ryuunosuke mau makan tahunya, Reda-sama. Tolong tiupkan ini untuk Ryuunosuke.”
“Baiklah. Fuuh~fuuh~ayo buka mulutnya.”
“Aaa~mmph. Mmh~”
“Enak?”
“Enak!! Ryuunosuke disuapi oleh Reda-sama. Aragaki-sama jangan iri pada Ryuunosuke ya. Nanti Aragaki-sama minta disuapinya kalau sudah menikah saja.”
“Sluurp–Bruugh! Uhuk…uhuk…uhuk!”
Semua orang termasuk Aragaki yang sedang meminum sup misonya langsung tersedang dan batuk bersamaan.
Nagi langsung meletakkan mangkuk sup misonya dan berteriak pada rubah kecil itu, “Uhuk! Rubah kecil, kau ini!!”
“Uhuk…uhuk…Ryuunosuke, tidak baik…uhuk…berbicara saat makan seperti itu.” Ginko juga ikut menasihati Ryuunosuke
“Um, sebaiknya jangan katakan hal seperti itu lagi ya. Kami sedikit…terkejut.” Hakuren mencoba memaklumi dengan senyum, meskipun dia sendiri kaget
Kuroto sepertinya punya pemikiran lain, “Kalau mau mengatakannya, setidaknya jangan saat kami minum supnya, mengerti tidak?”
Tentu saja kalimatnya itu mengundang pertanyaan polos dari rubah kecil.
“Jadi kalau tidak sedang meminum sup, boleh?”
“Tentu saja bo…” Kuroto langsung melihat ke arah teman-teman dan tuannya yang memperhatikannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia dikepung. “Se–sebaiknya jangan, rubah kecil. Itu…tidak baik.” nadanya langsung terdengar pasrah dan lesu
Di siang hari itu, makan siang terasa begitu menyenangkan dengan tawa dan sikap malu-malu Reda setelah rubah kecilnya menggodanya habis-habisan.
**
Di luar pintu kediaman Aragaki-sama, Ara-mitama tersenyum lebar sambil berkata dengan tawa lebarnya.
“Ahahaha, sebentar lagi! Malam ini…benar, malam ini Aruji-sama akan mendapatkan gadis itu!”
****