
Aragaki berjalan ke sebuah jalan penuh dengan pepohonan.
Jalan tersebut melewati kawasan hutan yang tenang dan sepi. Ada sebuah torii (pintu gerbang kuil) yang terlihat.
Begitu sampai, ada ratusan batu nisan di sana. Di setiap nisannya, terdapat nama-nama asing yang sangat dikenal oleh sang penguasa. Benar, itu adalah makam dari para pelayannya yang setia.
“Maaf karena aku baru melihat kalian lagi. Tolong maafkan aku karena terlambat.”
Aragaki melangkah masuk menuju sebuah makam. Dia berhenti di sebuah makam dengan tulisan ‘Ryoko’.
Pita yang disimpannya, dikeluarkan dan diikatkan ke batu nisan tersebut.
“Ryoko, aku datang. Maaf karena aku melarang rubah kecil itu melihat tempat ini lagi. Bagaimanapun juga, Ryuunosuke masih sangat kecil saat itu dan aku tidak mau dia menangis karena kepergiaanmu.”
“Aku minta maaf karena sudah sering membuat anakmu menangis. Tolong maafkan tuanmu yang menyedihkan ini ya.”
“Terima kasih, karena kamu mau tetap mekar di atas bunga sakura seribu harapan. Aku selalu berharap, kamu mau tetap melihat tuanmu yang menyedihkan ini.”
Dari jarak yang cukup jauh, kedua tengu itu melihat tuannya berdiri di depan makam.
“Itu…makam Ryoko-san.” kata Kuroto pelan
“Aragaki-sama mengunjungi makam Ryoko-san. Mungkinkah Aragaki-sama merasa bersalah karena membuat Ryuunosuke menangis?”
“Mungkin saja. Kau tau kalau rubah kecil itu anak kesayangan, kan? Wajar saja jika Aragaki-sama merasa bersalah. Aku rasa kita harus kembali sekarang sebelum Aragaki-sama menyadari keberadaan kita.”
“Kau benar, Kuroto. Lagipula, kita tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh beliau. Ayo.”
Keduanya pergi dari sana.
Sementara di bawah, Aragaki terlihat sangat serius. Dia seperti melakukan sebuah pengakuan di depan makam tersebut.
“Ryoko, rubah kecilmu itu sudah tumbuh menjadi rubah kecil yang manis. Dia persis seperti ayahnya, Rantaro dan senyumannya mirip denganmu.”
“Sejak kematianmu, dia berusaha untuk selalu tersenyum. Semua hal yang dibutuhkan oleh kami semua diurus olehnya. Rubah kecil itu sangat rajin sepertimu. Akhir-akhir ini, dia bahkan mengalahkanmu dalam soal masakana.” Aragaki tersenyum sedikit
“Hari ini, aku pergi mengunjungi Shuen dan saat aku memakan menu yang dihidangkan olehnya, aku langsung merindukan masakan anakmu. Dia seorang koki yang hebat.”
“Baru-baru ini, sekitar seminggu lalu…’mereka yang berasal dari tanah pendosa’ mengirimkan gadis kotor lain untukku. Aku tidak tau apakah kamu sudah melihatnya atau tidak, tapi gadis ini cukup disukai oleh anakmu.”
“Aku tidak melihat ada yang bagus darinya. Dia kotor, sama seperti yang lain. Dia tidak melakukan apapun dengan benar dan…” Aragaki tidak melanjutkannya. Dia terdiam beberapa saat.
Sampai akhirnya, Aragaki mengatakan hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
“Gadis kotor itu…sudah membuat rubah kecil kesayanganku tertawa. Dia memperlakukan anak itu dengan baik dan mengajarinya melakukan hal yang belum pernah dilakukannya.”
“Dia bahkan memeluk dan memujinya hingga Ryuunosuke memberikan pita yang dulu kamu kenakan pada gadis kotor itu.”
“Gadis kotor itu membela kesalahan rubah kecilku dan menerima hukuman menggantikannya.”
“Aku tidak tau apa yang membuat Ryuunosuke menyukainya, tapi rubah kecilku sangat menyukai gadis kotor itu. Dia bahkan mau menangis dan berbohong padaku demi membelanya.”
“Ryuunosuke…tertawa seperti saat kamu masih hidup dulu, Ryoko. Sejak kedatangan gadis kotor itu, rubah kecilmu menjadi lebih hidup dan lebih bahagia. Aku tau ini terdengar konyol, tapi itulah kenyataannya.”
Aragaki terdiam sambil menundukkan kepalanya di depan makam Ryoko, mendiang ibu Ryuunosuke.
Di dalam pikiran sang penguasa, dia mengingat kalimat dari temannya.
[Aku tidak bermaksud menghinamu, Aragaki. Tapi aku rasa, sebenarnya kamu mengetahui hal apa yang berbeda dari gadis itu. Dan hal itu juga yang mulai dirasakan kelima pelayanmu sehingga mereka ingin menolongnya]
[Jujurlah, kamu tidak bisa menerima hal itu walaupun kamu mengetahui kebenarannya bukan?]
[Terkadang, kita tidak menyadarinya. Orang yang paling kamu benci, bisa jadi orang yang paling mencintaimu]
“Ryoko…aku tidak mau mempercayai apapun lagi sejak melihatmu dan semuanya mati di depan mataku. Aku hanya tidak mau…melupakan rasa sakit ini.”
“Apakah tuanmu ini bisa memiliki dirinya yang dulu? Apakah menurutmu, tuanmu yang menyedihkan ini bisa menjadi serigala yang melindungi kawanannya lagi?”
Siang itu, Aragaki hanya terus berdiri di depan makam Ryoko sambil terus menceritakan semuanya.
Bukan hal yang berguna memang, tapi setidaknya untuk saat ini hanya dengan cara tersebut Aragaki bisa membuat dirinya tenang.
Selesai itu, dia berjalan menuju rumahnya. Tidak ada hal yang membuatnya begitu aneh dari curahan isi hatinya sebelum ini.
Aragaki tampaknya masih tidak mau mengakui apapun. Dia terus mencoba menepis semuanya, meskipun beberapa waktu lalu dia baru mengatakannya di depan makam Ryoko.
Tanpa mencoba merenungkan apapun kembali, dia berjalan hingga hampir tiba di rumahnya.
**
Di kediaman Aragaki, sebelum sang penguasa tiba, rubah kecil itu begitu senang dengan hasil tangannya sendiri dan terus memandanginya.
Reda yang sebelumnya meninggalkannya sebentar akhirnya kembali membawa buah yang dikupas dengan teh.
“Ryuunosuke, makan cemilan dulu sebelum makan siang.”
“Reda-sama, ini cantik kan? Ryuunosuke akhirnya bisa seperti Reda-sama. Ehehe~”
“Ini pasti bunga sakura milik ibu dan teman-teman. Mereka pasti mendukung Ryuunosuke. Kalau melihat ini, Aragaki-sama pasti tersenyum. Ryuunosuke tidak sabar memberikan ini untuknya.”
Rubah kecil itu terlihat bersemangat sekali. Dia begitu tidak sabar untuk memberikan kejutan ini.
“Semoga Nushi-sama pulang cepat ya.” kata Reda
“Ryuunosuke juga–”
Belum selesai bicara, telinga Ryuunosuke bergoyang dan berdiri tegak. “Itu Aragaki-sama! Aragaki-sama akhirnya kembali!”
“Benarkah?!” Reda terkejut karena senang. Bagaikan telah lupa hal yang dialaminya kemarin, Reda terlihat begitu berbinar-binar mendengar orang yang dicintainya pulang.
“Reda-sama, Ryuunosuke mau memberikan ini sekarang!”
Dengan penuh semangat, rubah kecil itu berjalan cepat membawa mangkuk ikebana itu bersamanya. Reda mengikuti dari belakang untuk memastikan agar Ryuunosuke tidak jatuh saat membawanya.
Dari kejauhan, Nagi dan Ginko yang merasakan kepulangan tuannya ikut berjalan ke arah pintu utama untuk menyambut sang penguasa.
Begitu pintu dibuka, terlihat Aragaki kembali ke rumahnya disambut oleh dua tengu yang baru tiba dan turun dari atas.
“Selamat datang kembali, Aragaki-sama. Senang Anda kembali dengan selamat.”
“Aku pulang.”
Aragaki tampaknya sudah membaik. Dia mau menunjukkan senyumannya kepada kedua tengu itu. Tidak lama, terdengar suara kecil yang tidak asing.
“Aragaki-sama, Aragaki-sama, selamat datang!”
Sang penguasa melihat rubah kecilnya berlari. Senyum Aragaki terlihat saat rubah itu datang, namun senyumnya pudar begitu melihat gadis di belakangnya.
“Gadis kotor itu…”
Aragaki melupakan semua yang dikatakannya di depan makam Ryoko dan kembali menunjukkan tatapan dingin kepada gadis desa yang dianggapnya kotor. Namun, perhatiannya hanya sebentar.
Rubah kecil itu menyambutnya sambil membawa mangkuk ikebana di tangan.
“Aragaki-sama, lihat ini! Ryuunosuke membuatnya sendiri! Ryuunosuke benar-benar membuatnya sendiri sekarang! Ini untuk Aragaki-sama!”
Ekor rubah kecil bergoyang cepat karena terlalu senang. Di belakangnya, tidak jauh dari Ryuunosuke, Reda berdiri dengan senyuman sambil memandangi si rubah manis itu.
“Dia pasti senang sekali.”
Tanpa diduga olehnya, saat melihat Aragaki, mata mereka bertemu.
Reda memandangnya dengan tatapan penuh rasa bahagia, namun tampaknya itu tidak berlaku untuk Aragaki yang memandangnya dingin penuh prasangka.
Melihat apa yang dibawa oleh Ryuunosuke, Aragaki langsung memiliki pikiran lain. Dia bahkan jadi mengeluarkan nada dingin secara tiba-tiba.
“Ini…buatanmu? Apa itu benar?”
“Eh? Aragaki-sama?”
“Ryuunosuke, kamu sedang tidak berbohong dan menolong gadis kotor di belakangmu lagi untuk menipuku, kan?”
Keempat pelayannya begitu terkejut dan pucat mendengarnya.
Ekor Ryuunosuke berhenti bergoyang dan langsung turun ke bawah bersamaan dengan telinganya yang turun karena takut.
“Aragaki-sama, Ryuunosuke membuatnya sendiri. Reda-sama yang mengajarinya.”
“Sebelumnya kamu juga mengatakan bahwa itu buatanmu. Tapi, ternyata kamu dan kedua rubah dewasa itu berbohong padaku.”
Reda measa bahwa rubah kecilnya akan menangis setelah ini. Dia dengan panik langsung mendekati rubah kecilnya dan mencoba menjelaskannya pada sang penguasa.
“Nushi-sama, aku berani bersumpah atas nama Dewa bahwa ini benar-benar bukan buatanku. Rubah kecil yang membuatnya. Bunga yang digunakan adalah pilihannya sendiri karena ini adalah bunga kesukaan Nushi-sama.”
Mendengar kata ‘bunga kesukaan’, Aragaki melihat detail bunga itu.
Jelas itu adalah sakura, bunga yang sangat berarti bagi Aragaki karena melambangkan jiwa semua teman dan orang tercintanya yang telah mati.
Bunga di dalam mangkuk yang telah tersusun rapi itu semakin membuatnya naik pitam hingga berteriak.
“Sudah kuduga semua yang aku katakan di depan Ryoko itu adalah kebohongan. Beraninya kamu merusak jiwa tenang semua yang aku cintai. Beraninya tangan kotormu menyentuh jiwa mereka yang mekar indah di pohon sakura milikku!!”
Aragaki mengeluarkan angin yang ingin menghancurkan mangkuk di tangan Ryuunosuke. Keempat pelayan setianya bermaksud menghentikannya, namun tampaknya itu akan terlambat.
Sampai akhirnya, Reda dengan mengorbankan tubuhnya memeluk Ryuunosuke dan mangkuk itu untuk melindunginya.
“Ukh…” suara rintihan Reda akibat luka di punggungnya
Ada sedikit darah yang menetes dan bersamaan dengan itu, teriakan terdengar.
“Reda-sama!!!”
****