The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 54. Bentuk Sebuah Perhatian yang Disebut Pengkhianatan



Aragaki yang telah berjalan masuk ke dalam kediamannya terlihat begitu emosi. Dia mengabaikan semua kalimat dan kata-katanya dia katakan di depan batu nisan milik mendiang ibu Ryuunosuke, Ryoko.


Dari arah belakang, Nagi dan Ginko berlari mengejar tuannya yang hendak masuk ke ruangannya.


“Aragaki-sama, kami mohon tunggu sebentar!”


Seperti mengabaikan kedua pelayannya yang setia, Aragaki masuk tanpa memedulikan kedua youko tersebut.


“Aragaki-sama!”


“Nagi, tunggu!” Ginko menghentikan Nagi yang hendak mengetuk pintu kamar Aragaki


Ginko menarik Nagi sedikit ke dalam rumah dan masuk ke ruangan lain.


“Kenapa menahanku?!” tanya Nagi dengan nada kesal


“Kamu harus tenang. Nushi-sama sedang tidak sedang ramah. Kalau sampai beliau marah, kita mungkin tidak akan bisa menghentikan amarahnya seperti kemarin.”


“Tapi–”


“Nushi-sama mungkin membutuhkan waktu. Jangan melakukan hal yang bodoh. Kita akan pikirkan caranya bersama. Sebaiknya, kita coba membujuk Reda-sama kembali agar mau masuk. Lukanya itu akan serius jika dibiarkan.”


Nagi yang mendengar hal itu langsung keluar dari ruangan dan berlari menuju pintu keluar.


Di tengah menuju pintu keluar, dia melihat kedua tengu yang masuk.


“Kenapa kalian ada di sini? Bagaimana dengan gadis desa itu?” tanya Nagi panik


“Reda-sama sendirian di luar. Kami bermaksud untuk bicara dengan Aragaki-sama.” kata Hakuren


“Sendirian?!” Nagi langsung mendekati Hakuren, “Lalu dimana rubah kecil itu sekarang?!”


“Aku rasa dia masih di luar bersama Reda-sama.”


“Kh…” Nagi langsung melewati Hakuren dan menuju pintu keluar. Baru mulai berlari, rubah kecil itu muncul dan berlari sambil terlihat sangat terburu-buru.


“Rubah kecil!!” Nagi memanggilnya.


Namun seperti tidak mendengarnya, Ryuunosuke mengabaikan keempat pelayan setia Aragaki dan berlari menuju ruangan Aragaki sendirian.


“Anak itu!”


-Braak


Rubah kecil itu membuka pintu ruangan Aragaki dan masuk sambil menangis.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke mohon tolong jangan marah lagi. Reda-sama tidak salah, Reda-sama tidak salah! Ryuunosuke berani bersumpah!”


“Rubah kecil!” Nagi berlari dan melihat Ryuunosuke menangis di dekat Aragaki yang duduk. Sang penguasa benar-benar mengabaikan rubah kesayangannya kali ini.


Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, keempat pelayannya terdiam dan mematung.


“Aragaki-sama mengabaikan Ryuunosuke?”


“Ini bukan hal yang biasa terjadi. Tidak, ini adalah pertama kalinya hal seperti ini terjadi!”


“Kenapa? Kenapa Nushi-sama mengabaikannya?”


“Aragaki-sama…”


Rubah kecil itu terus menarik-narik pakaian Aragaki sambil menangis layaknya seorang anak kecil yang merengek pada orang tuannya.


“Aragaki-sama…hiks…Ryuunosuke mohon, Ryuunosuke mohon! Reda-sama terluka dan tidak mau bangun sampai Aragaki-sama melihatnya. Ayo ikut Ryuunosuke, ikut Ryuunosuke. Hiks hiks.”


“Lepaskan aku, Ryuunosuke. Aku masih mencoba bersabar padamu.”


“Ryuunosuke mohon, Ryuunosuke mohon. Hiks…Reda-sama tidak bersalah, Ryuunosuke bersumpah.”


Karena sudah cukup kesal, Aragaki mulai sedikit membentaknya.


“Sampai kapan kamu mau terus-menerus membelanya?! Dia hanya gadis kotor yang tidak berguna!”


“Reda-sama bukan gadis kotor! Reda-sama mencintai Aragaki-sama!”


“Dia bukan gadis baik-baik!”


“Reda-sama baik! Reda-sama begitu memperhatikan Aragaki-sama! Reda-sama sangat mencintaimu, kenapa Aragaki-sama begitu jahat padanya!”


Kali ini Aragaki benar-benar marah sampai mendorong rubah kecilnya hingga terjatuh.


“Ryuunosuke!” keempat pelayan Aragaki masuk tanpa seizin tuannya demi menolong rubah kecil itu


Melihat betapa membangkangnya semua pelayan miliknya kini, Aragaki berdiri dan mulai memperlihatkan emosinya yang kemarin ditunjukkan olehnya.


“Kalian semua benar-benar membuatku marah. Aku tau kalian sudah mulai melawanku. Beginikah cara kalian memperlakukan tuan kalian? Beginikah cara kalian membalas semua yang aku lakukan untuk kalian?”


“Di belakangku, kalian semua mulai mendukung rubah kecilku dan membohongiku.”


“Kalian membela gadis kotor itu dan berusaha untuk membuatku menerimanya. Apakah aku begitu bodoh di mata kalian? Jawab aku!!”


-Deg


Wajah pucat dan rasa dingin mulai dirasakan mereka berlima. Tubuh mereka gemetar karena takut. Bukan hanya itu, keringat dingin akibat rasa takut berlebihan yang tercipta membuat kedua kaki mereka lemas.


“Kalian sudah berkhianat padaku. Kalian membela darah dari pembunuh teman-teman kita di masa lalu. Apa kalian pikir aku akan memaafkan kalian atas semua pengkhianatan ini?”


Mereka tidak bisa mengatakan apapun. Ini seperti mereka harus siap mati di tangan tuan mereka sendiri.


Tapi, tampaknya Nagi sudah memutuskan untuk melakukan apa yang pernah dia katakan.


[Sejak Aragaki-sama sendiri mengatakan bahwa beliau kecewa pada kita. Kenapa tidak sekalian kita tunjukkan pada Aragaki-sama, sejauh apa ‘pengkhianatan’ kita padanya]


[Jika saat Aragaki-sama kembali, beliau masih mengingkari semua tentang gadis desa itu…aku mungkin akan mengorbankan kesetiaanku demi menyadarkan Aragaki-sama. Kita berempat adalah saksi dari semua yang dilakukan gadis desa itu]


Nagi terlihat begitu menyesal. Dia berkata di dalam hati, “Maafkan aku, Aragaki-sama. Semua kami lakukan karena kami begitu peduli padamu. Dan juga…kami mengakui perasaan jujur gadis desa itu.”


Nagi mulai menarik napasnya dan bicara serius.


“Aragaki-sama. Kami mungkin telah membuatmu kecewa. Tapi, ini semua kami lakukan karena kami peduli padamu.”


“Peduli? Tidak ada bentuk rasa peduli yang baik jika bersamaan dengan sebuah pengkhianatan.” Aragaki mulai terlihat semakin dingin dan sinis. Kalimatnya mulai terlihat menusuk hati. Namun hal itu tidak menjadi hal yang ditakutkan Nagi.


“Aragaki-sama, ada hal yang harus Anda tau. Selama ini, rubah kecil tidak memasak masakan yang Anda sukai.”


“Apa?” Aragaki terkejut. Aura miliknya kembali seperti semula. Sang penguasa terlihat syok.


“Aragaki-sama, yang membuat semua masakan itu adalah gadis desa itu. Reda-sama yang memasaknya. Dia yang memasak semuanya demi bisa membuatmu tersenyum.”


Untuk pertama kalinya Nagi memanggil nama Reda dengan mulutnya. Ginko, Hakuren dan Kuroto awalnya terlihat terkejut. Mereka khawatir dan takut jika sang penguasa marah, tapi tampaknya Nagi tidak melihat itu sebagai masalah.


Dia dan mulutnya terus bicara.


“Sejak awal, Reda-sama begitu memperhatikan rubah kecil ini. Dia melakukan semuanya agar rubah kecil ini tidak dihukum olehmu, dia membuatkan masakan lezat demi bisa melihat senyum Aragaki-sama saat memakannya.”


“Dia mengajari rubah kecil ini mengolah sayuran liar dan memasak agar suatu saat nanti, jika dia mati, rasa kesukaan milik Aragaki-sama masih bisa dirasakan olehmu.”


“Aku, bukan…kami berempat sudah mengetahuinya dan diam-diam merahasiakan hal ini padamu. Kami menyadarinya, sejak rasa lezat yang dia buat disajikan penuh di atas meja, Aragaki-sama tidak pernah berhenti tersenyum saat memakannya.”


Nagi tidak berhenti. Demi membuka semuanya, dia terus bicara dan tidak memberikan kesempatan pada sang majikan untuk memotong kalimatnya.


“Anda terlihat begitu menikmatinya. Itu membuktikan bahwa Reda-sama berhasil membuat Aragaki-sama merasa senang. Demi agar bisa membuat Aragaki-sama tersenyum, rubah kecil berbohong padamu.”


“Dengan mengatakan makan itu adalah buatan rubah kecil, hal itu demi agar makanan yang dibuat olehnya tidak lagi ditolak olehmu.”


“Sejujurnya, kami semua menyukai rasa masakan itu. Rasa itu…mirip dengan rasa masakan yang dibuat oleh Ryoko-san, bahkan mungkin lebih hangat dan penuh perasaan cinta di dalamnya.”


“Selain itu…selain itu, rubah kecil tidak berbohong. Gadis desa itu, Reda-sama benar-benar mencintaimu.”


Nagi mulai mengangkat kepalanya dan melihat sang penguasa dengan tatapan penuh keyakinan.


“Jika memang ini adalah bentuk pengkhianatan untukmu maka *nanao no kitsune (rubah ekor tujuh*), Nagi ini sudah melakukan pengkhianatan. Tapi, aku melakukan ini karena aku adalah pelayan setiamu.”


“Perasaan rubah kecil itu, aku mulai menyadarinya. Aragaki-sama, kami hanya ingin Anda bahagia dan dengan cinta dari gadis itu…kami berharap rasa sakit Anda bisa terobati.”


“…”


Aragaki kini benar-benar tidak bisa mengatakan apapun. Kini, bukan hanya rubah kecilnya yang memihak gadis desa yang dianggapnya kotor.


Keempat pelayan setia yang ada di depannya kini mulai mengatakan hal yang selama ini tidak pernah diketahui olehnya sejak kedatangan sang calon ‘pengantin’.


****