The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 56. Kuncup Bunga Hati yang Mulai Tumbuh



Reda pingsan dipelukan Aragaki. Ini bukan karena Reda yang memang berada dekat dengan sang penguasa, tapi sesaat setelah pingsan, sang penguasa menangkapnya sebelum tubuh gadis itu jatuh ke tanah.


Dari arah belakang, kelima pelayannya itu melihat dan entah kenapa tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekatinya.


Antara bingung dan syok, mereka melihat hal itu bahkan tanpa berkedip. Sebuah pemandangan langka yang mungkin tidak pernah terlihat sebelumnya.


Menyadari seluruh pelayannya melihat hal itu, Aragaki memanggil mereka.


“Kalian ingin gadis yang kalian bela habis-habisan ini mati? Dia terluka. Siapapun, panggilkan Jorogumo untuk datang ke tempat ini sekarang.”


Mendengar perintah itu, Hakuren dan Kuroto langsung terbang ke tempat Jorogumo. Ryuunosuke menghampiri sang majikan dan melihat keduanya.


“Aragaki-sama…”


Aragaki melihat rubah kecilnya dan memberikan mangkuk berisi ikebana itu padanya.


“Ryuunosuke, tolong letakkan ini di ruanganku. Letakkan di tempat paling mudah untuk aku lihat ya.”


Dengan senyumannya, rubah kecil itu terlihat senang sekali. Bukan hanya itu saja, dia juga memeluk tuannya yang sedang memegangi Reda yang tidak sadarkan diri.


Nagi dan Ginko menghampiri sang penguasa. Niatnya, mungkin saja Aragaki akan meminta salah satu dari mereka untuk membawa Reda ke dalam. Nyatanya tidak seperti itu.


“Kalian berdua, siapkan air hangat dan pakaian lain untuk gadis ko–…gadis desa ini.”


“Aragaki…-sama…”


Nagi seakan tidak percaya pada telinganya. Dia sempat diam beberapa saat karena masih meragukan pendengarannya barusan.


“Apa ucapanku kurang jelas? Kalian memaksaku untuk percaya pada kalian dan sekarang kalian yang seperti ini? Jika gadis ini mati, kalian tidak boleh menyalahkanku.”


Aragaki menggendong Reda untuk masuk ke dalam. Rubah kecil itu membukakan pintu masuk dan masuk bersama sang majikan. Nagi dan Ginko melakukan perintah Aragaki dengan cepat.


Sang penguasa menyadari sesuatu. Darah dari punggung Reda mulai mengotori pakaian yang dipakainya, namun tampaknya hal itu bukan masalah.


**


Sementara di desa, Jorogumo yang sedang menangani pelanggannya langsung dijemput paksa oleh kedua tengu yang tiba-tiba datang.


“Jorogumo-san!” teriak Kuroto


“Ah, selamat datang. Hakuren, Kuroto. Ada apa?”


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ikut sekarang, ini perintah Aragaki-sama!”


“Apa?”


Kuroto menggendong wanita bertangan empat itu bersamanya. “Kita mau ke tempat Aragaki-sama, memang kenapa?” tanya siluman laba-laba itu.


“Sudah jangan banyak tanya, nanti juga tau. Ini perintah Aragaki-sama.”


“Iya aku tau, tapi aku hanya tanya kenapa?”


“Itu namanya banyak tanya, nenek tua! Sudah, diam dan jangan berisik!”


Tampaknya kata ‘nenek tua’ yang dikatakan Kuroto itu cukup berdampak padanya hingga sepanjang jalan Jorogumo tidak henti-hentinya menarik rambut Kuroto.


**


Di kediaman Aragaki, Ginko yang sudah menyiapkan pakaian lain langsung menggelar futon (kasur lantai) untuk Reda.


Dia memperhatikan apa yang dilakukan Aragaki. Tampak jelas bahwa sang majikan membaringkan tubuh bagian bawah Reda di atas futon, namun masih menyandarkan kepala gadis itu pada dada Aragaki.


“Karena punggungnya terluka, tidak bisa langsung dibaringkan. Tunggu sampai Jorogumo datang.”


“Ba–baik…” Ginko hanya bisa memasang wajah terkejut


Sesampainya di kediaman Aragaki, Hakuren dan Kuroto mengantarkan Jorogumo ke tempat dimana Aragaki berada.


“Aragaki-sama, kami kembali.”


Bersamaan dengan itu, Nagi datang membawa air hangat dan handuk kecil sedangkan Ryuunosuke yang telah meletakkan hiasan ikebana di ruangan tuannya datang membawa perban dan obat.


“Aragaki-sama, ada apa ini?” Jorogumo bertanya. Awalnya panik, tapi wanita itu merasa sangat terkejut dengan pemandangan yang dia lihat. “Gadis itu…”


“Jorogumo, tolong obati lukanya dan gantikan pakaiannya.”


“…” wanita siluman laba-laba itu ingin bertanya, namun melihat kelima pelayan Aragaki sangat khawatir ada keadaan gadis itu, dia hanya mengangguk.


Mereka semua meninggalkan dia sendiri bersama Reda yang masih belum sadarkan diri. Di dalam


ruangan itu, Jorogumo melepas pakaian Reda dan mengobati luka di punggungnya.


“Ini luka karena terkena serangan angin. Mungkinkah Aragaki-sama yang melakukannya? Tapi, ini gadis manusia? Mungkinkah ini si calon ‘pengantin’ itu?”


Jorogumo membersihkan lukanya. Dia melihat pita yang terikat di rambut gadis itu.


“Pita milik Ryoko?”


Sejenak, wanita itu terdiam. Dia memperhatikan wajah dan tubuh gadis manusia yang terbaring lemah tak berdaya itu.


“Gadis ini benar-benar calon ‘pengantin’ Aragaki-sama…”


Setelah beberapa saat, Jorogumo keluar. Hal yang mengejutkan adalah dia melihat sang penguasa masih di luar menunggu bersama kelima pelayannya.


“Jorogumo-sama, bagaimana keadaan Reda-sama?!”


“Beliau tidak apa-apa. Lukanya tidak parah dan akan sembuh dalam waktu dekat. Pakaiannya yang sobek sudah aku perbaiki dengan jaring laba-laba milikku dan aku letakkan di sampingnya. Hanya perlu menunggunya sadar.”


Mendengar itu, semuanya merasa senang. Ryuunosuke bahkan langsung berlari masuk dan melihat wajah Reda yang sudah bersih tidur dengan nyenyak.


“Reda-sama tidak mati. Syukurlah~”


Rubah kecil itu langsung merebahkan kepalanya di dekat gadis itu dengan ekor yang bergoyang.


Aragaki hanya melihat itu dari kejauhan. Dia sempat melihat wajah gadis yang tertidur di dalam itu dari luar.


“Jorogumo, ikut denganku sebentar.”


“Baik, Aragaki-sama.”


Keduanya pergi. Keempat pelayan setianya masuk menemani si rubah kecil. Ginko mendekati rubah kecil yang sama sekali tidak mau jauh dari gadis yang sedang tertidur itu.


“Ryuunosuke, Reda-sama tidak apa-apa. Jangan menangis lagi dan biarkan Reda-sama istirahat.”


“Ryuunosuke mau bersama Reda-sama.”


“Iya, Ryuunosuke boleh di sini. Tapi, kita harus menyiapkan makan malam juga. Reda-sama pasti lapar saat bangun nanti.”


Nagi, Hakuren dan Kuroto masih merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Apa menurut kalian, Aragaki-sama sudah menerima Reda-sama?” tanya Hakuren


“Aku tidak yakin. Tapi, yang membuatku sangat tidak percaya sampai tidak bisa berkomentar adalah kenyataan bahwa Aragaki-sama sendiri yang membawa masuk Reda-sama.” ungkap Nagi


Kedua tengu yang mendengar hal tersebut menjadi sangat kaget. Tapi, melihat keadaan saat pertama mereka tiba di ruangan tersebut membuat keduanya yakin bahwa tuan mereka mulai mau merubah sikapnya.


Hakuren melihat wajah Reda yang tertidur damai dengan wajah cantiknya.


“Aku harap ini adalah hal yang baik untuk Reda-sama. Jika Reda-sama mengetahuinya, Reda-sama mungkin akan sangat senang sekali.”


**


Aragaki dan Jorogumo berjalan di engawa luar. Dengan takut, Jorogumo bertanya kepada sang penguasa.


“Aragaki-sama, maaf jika tidak sopan tapi itu gadis manusia…benar kan?”


“Bagaimana kamu melihatnya?”


“Itu…itu memang manusia. Tapi…” Jorogumo terdiam sejenak. Dia yakin apa yang dia lihat dengan matanya. Sang penguasa memeganginya ditambah lagi kedua tengu yang menjemputnya tampak begitu mengkhawatirkannya.


“Gadis itu cantik dan bersih, namun yang lebih membuatku terkejut adalah dia bisa memiliki pita Ryoko. Ryuunosuke kecil tadi…dia juga tampak begitu dekat dengan gadis itu.”


Meskipun wanita itu ingin sekali mengatakan semua isi pikirannya, dia sadar bahwa sang penguasa di depannya tidak ingin membahas hal itu.


“Jorogumo…”


“Ya, Aragaki-sama?”


“Terima kasih untuk hari ini. Apakah kamu merasa keberatan jika aku memanggilmu lagi besok?”


Wanita itu menunduk untuk menghormati sang penguasa, “Jorogumo akan melaksanakan perintah Aragaki-sama. Bagaimanapun juga, Aragaki-sama adalah penguasa Higashi no Mori dan Jorogumo ini juga akan mengabdikan diriku untuk Aragaki-sama.”


“Terima kasih. Dan satu hal lagi…”


“Ya?”


“Tolong jangan bahas apapun yang kamu lihat di sini.”


“Baik.”


“Aku akan meminta Hakuren dan Kuroto mengantarmu kembali.”


“Tidak perlu. Jorogumo ini akan kembali sendiri. Semoga hari Anda menyenangkan, Aragaki-sama.”


Wanita itu berjalan kembali untuk pergi ke pintu keluar. Sedikit penasaran, dia melihat ruangan gadis itu lagi. Dia hanya mengintip sedikit dan terlihat keempat pelayan Aragaki-sama sangat khawatir padanya.


Dia melihat rubah kecil yang sekarang menggenggam tangan sang gadis yang tertidur dengan erat sambil memanggil namanya, “Reda-sama.”


“Ini tidak sama seperti yang tersebar di desa. Semuanya tidak sama. Apakah artinya semua berita itu hanya kebohongan?”


Jorogumo berjalan pergi ke pintu keluar sendirian dan keluar dari kediaman Aragaki menuju rumahnya.


**


Aragaki yang masih berdiri di tempatnya saat ini melihat tangannya sendiri. Pakaian yang kotor akibat darah gadis itu menjadi saksi dari tindakan sangat tidak biasa yang pernah dilakukannya pada manusia.


“Kenapa aku mengangkap tubuh gadis itu? Kenapa aku tidak membiarkannya jatuh ke tanah saat itu?”


Hal lain yang menjadi warna baru di ingatan Aragaki adalah sebuah senyuman manis dengan wajah merona dari gadis itu saat Aragaki menerima ikebana yang diberikannya.


Ada sesuatu yang tumbuh, sebuah kuncup baru yang membasahi keringnya hati Aragaki. Seperti yang pernah dikatakan oleh temannya, sebuah kuncup bunga kecil di hati yang kering mulai terlihat.


****