
Nagi dan Ginko yang memperhatikan Reda dari belakang tembok rumah mulai berjalan pergi dari tempat itu dan masuk ke rumah.
“Kau yakin yang kita lakukan ini tepat, Ginko? Aku tidak berpikiran buruk tentang rencanamu itu tapi aku tidak bisa percaya kita memberikan sisa makanan kita untuknya.”
“Sst! Jangan berisik atau ada yang dengar nanti!” Ginko memperingatkan Nagi
“Aku tau, aku tau!” Nagi mulai bicara dengan suara kecil
Nagi mulai mengingat apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu.
***
Ini terjadi ketika dia melihat Ryuunosuke memberikan nasi kepal sisa yang dibuatnya untuk sarapan gadis desa itu sebelumnya.
Saat itu, Nagi dan Ginko terlihat sedikit tersentuh. Mereka memperhatikan gadis itu makan dengan lahap semua sisa makanan yang dibuat oleh Ryuunosuke.
“Aku ingat gadis bernama Reda-sama itu tinggal di kandang anjing milik penduduk desa dan makan makanan sisa yang dibuang oleh penduduk.”
“Aku pikir itu hanya bualan awalnya, tapi melihatnya sampai menangis karena makanan sisa yang dia makan membuatku merasa kalau dia tidak berbohong.”
Itulah yang ada dalam pikiran Ginko. Sama seperti Ginko, Nagi juga merasa bahwa gadis itu mungkin saja berbeda.
“Dia bisa memperlakukan rubah kecil itu dengan baik. Semua di tempat ini tau bahwa Ryuunosuke adalah kesayangan Aragaki-sama karena dia yang paling muda di antara kami berlima yang tersisa.”
“Berbeda dengan calon ‘pengantin’ lainnya yang begitu takut dan membenci siluman, dia begitu perhatian pada rubah kecil itu. Apa aku terlalu menganggapnya remeh? Atau mungkin saja dia itu memang baik pada Ryuunosuke?”
Setelah selesai makan, kedua youko itu melihat Ryuunosuke pergi ke dapur lagi.
Nagi dan Ginko melihat Reda yang langsung menghapus air matanya untuk kembali bekerja dengan penuh senyum. Kedua youko itu kembali ke engawa dan berdiskusi.
“Nagi, apakan menurutmua sebaiknya kita memberinya makan diam-diam dari sisa makanan kita siang ini?”
Nagi terdiam mendengar usulan Ginko saat itu. Tapi dia benar-benar melihat bahwa gadis desa yang dianggapnya kotor itu memeluk Ryuunosuke dengan penuh rasa haru.
Setelah berpikir begitu keras, Nagi hanya bisa menghela napas.
“Aku ingin lihat bagaimana perkembangan ini. Meskipun aku tidak tertarik padanya, tapi mengingat rubah kecil itu membelanya, mungkin aku bisa melihat sifat asli dari gadis desa itu.”pikir Nagi dalam hati
Selang beberapa saat, dia menjawab usulan Ginko.
“Sebenarnya aku tidak setuju dengan ide itu karena aku masih meragukan kredebilitasnya. Tapi melihat rubah kecil itu cukup baik padanya sampai seperti itu, aku pikir aku akan mengalah kali ini dan melihat perkembangannya.”
“Jadi…”
“Kurasa kita lakukan idemu itu. Tapi untuk sekarang cukup kau dan aku saja yang mengetahuinya, Ginko. Jangan sampai terlalu mencolok hingga Aragaki-sama curiga.”
Itulah alasan kenapa keduanya menyisakan setengah dari lauk makan siang yang mereka makan termasuk nasi dan ayam karaage tersebut.
Kembali ke waktu saat ini, Nagi dan Ginko yang berhenti di depan ruangan Aragaki mulai berlutut memberi salam.
“Aragaki-sama, Nagi dan Ginko di sini.”
“Masuk.”
Keduanya membuka pintu ruangan Aragaki dan masuk ke dalam. Aragaki saat itu sedang duduk bersimpuh di ruangannya sambil melihat bunga sakura di halaman.
“Nagi, Ginko, apa ada sesuatu?”
“Kami hanya ingin menemani Nushi-sama.” kata Ginko
“Begitu. Kalau begitu, duduklah di dalam dan lihatlah bunga sakura itu bersamaku.”
Keduanya masuk setelah menutup pintunya. Mereka diam beberapa saat tanpa bicara. Suasana begitu hening meskipun hal itu tidak bertahan lama.
“Nagi, Ginko…”
“Ya?”
“Aku tidak tau kalau Ryuunosuke begitu sering disentuh oleh gadis kotor itu.”
Wajah keduanya mulai serius. Tentu yang dimaksud dengan gadis kotor adalah Reda dan maksud disentuh dalam kalimat tersebut adalah hal yang selalu dilakukan oleh keduanya yaitu berpelukan dan mengusap-usap kepala si rubah kecil.
Aragaki bicara tanpa melihat kedua pelayannya.
“Aku mengusap kepala rubah kecilku beberapa waktu lalu dan aku bisa mencium dengan jelas aroma milik gadis kotor itu. Dia sudah terlalu banyak memberikan aroma busuk miliknya pada anak itu.”
“Aragaki-sama juga tau bahwa sejak pertama calon ‘pengantin’ itu datang, rubah kecil itu yang begitu bersemangat menyambutnya. Selain itu, dia juga bisa menentang perintah Aragaki-sama dan–”
-Deg
Nagi dan Ginko terlihat pucat. Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka akan mendengar hal itu dari mulut tuannya. Siapa yang mengira bahwa Aragaki bisa langsung membungkam mulut kedua pelayannya itu.
“Kalian yakin hanya Ryuunosuke yang mencoba melakukan pelanggaran dan membela gadis kotor itu?” Aragaki kembali bertanya
Kali ini, dia menengok ke arah keduanya dengan mata keemasan yang menyalah.
“Aku tau kalau mungkin ini terdengar mustahil, tapi aku berharap tidak ada yang membantu gadis kotor itu lagi.”
“Aku memaklumi Ryuunosuke yang terobsesi pada hal yang disebut calon ‘pengantin’ dari desa terkutuk itu sejak pertama kali istilah itu ada. Tapi aku tidak akan melupakan apa yang telah leluhurnya lakukan pada semua pelayanku yang setia.”
“Jangan kalian pikir aku tidak tau apa yang dilakukan oleh semua orang di sini. Satu-satunya yang tidak aku pedulikan hanyalah keadaan gadis kotor itu.”
“…” keduanya terdiam
Seperti mendapat sebuah teguran serius, mereka sadar bahwa Aragaki telah mengetahui semua yang mereka lakukan pada gadis itu.
“Aragaki-sama menyadari bahwa aku dan Ginko sengaja memberikan makanan sisa itu.”
“Kalau begini, artinya kami berdua sudah tidak bisa lagi memberikan makanan sisa untuk Reda-sama. Aku tau sejak awal kalau hampir mustahil membuat Nushi-sama tidak menyadari hal yang kami lakukan. Aku tidak menyangka akan ketahuan secepat ini.”
Pikiran keduanya tampak begitu jelas terlihat pada ekspresi wajahnya.
“Aku tidak menuduh kalian karena aku tau kalian tidak mungkin melakukannya, benar kan?”
“Be–benar. Itu memang benar, Nushi-sama.”
“Kami berdua tidak akan melakukan hal yang menguntungkan gadis itu.”
Aragaki terdiam setelah mendengar kalimat Ginko. Tidak ada lagi hal yang dibahas olehnya.
Di sore harinya, pekerjaan Reda yang awalnya menumpuk mulai sedikit berkurang. Namun tetap saja dia belum menyelesaikannya.
Engawa bagian luar belum seluruhnya dipel, jemuran yang siang hari dijemur olehnya belum diangkat dan dia juga belum membantu Ryuunsouke menyiapkan piring untuk makan malam.
“Aku harus cepat melakukannya agar aku bisa mengolah sayuran liar yang ada di gubuk. Setidaknya aku bisa makan malam dengan itu mumpung masih segar.” pikirnya
Reda masih berusaha melakukan semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Ketika dia baru saja selesai mengangkat jemuran dan memasukkannya ke dalam keranjang, dia melihat Aragaki di sore hari.
Hal yang tidak biasa terjadi di hari keduanya bekerja sebagai pelayan.
Dia menyadarinya bahwa dua hari ini, tidak ada perubahan apapun padanya. Semua yang dia lakukan hanya melakukan pekerjaan di belakang rumah dan taman. Hampir semua pekerjaan itu tidak membiarkannya melihat Aragaki sama sekali.
“Aku rasa Nushi-sama memang tidak ingin melihatku.” gumamnya dengan suara pelan
Ada tiupan angin di sore hari yang membuat kelopak bunga sakura yang dilihatnya berterbangan.
Layaknya sebuah lukisan indah, Reda melihat sosok Dewa Pelindung desanya itu begitu tampan dan menakjubkan.
Wajah merah Reda tidak bisa disembunyikan. Dia benar-benar mengagumi Aragaki. Sosoknya yang terlihat oleh Reda dari kejauhan itu tampak sangat indah untuknya.
“Nushi-sama…benar-benar menakjubkan. Andai suatu saat nanti beliau mau tersenyum pada manusia lagi. Betapa beruntungnya manusia yang benar-benar akan menjadi istrinya nanti.”
Itulah isi pikiran Reda. Mungkin bukan rasa cinta yang tumbuh untuk saat ini, tapi perasaan Reda pada Aragaki sungguhlah murni.
Gadis desa itu melihat sosok paling agung dari kejauhan. Senyum cantiknya terus melihat Aragaki, menandakan dia begitu bahagia bisa menatapnya walau dari kejauhan.
“Dewa, aku tidak akan meminta lebih. Aku hanya berharap Aragaki-sama mau tersenyum padaku yang merupakan manusia ini. Aku berharap aku bisa membuat Aragaki-sama mau menerima manusia kembali.”
“Suatu saat nanti, aku ingin Aragaki-sama bisa bertemu cinta sejatinya. Jika setelah aku mati nanti, Aragaki-sama bisa memaafkan manusia yang pernah menyakiti hatinya…aku mohon padamu, ya Dewa…jadikan 3 bulan sisa hidupku ini berharga.”
“Aku ingin melihat senyuman Aragaki-sama walau hanya sekali. Aku ingin bisa membawa kenangan itu bersamaku sebelum aku mati nanti. Aku ingin rubah kecil yang manis itu melihat tuannya yang dia sayangi mencintai manusia kembali.”
“Aku mohon, meskipun mungkin semua itu nyaris mustahil terjadi. Aku berharap aku bisa melihat saat itu.”
Reda berdoa sambil menatap Aragaki dari kejauhan. Wajahnya semakin merah karena terpesona dengan ketampanan sang Dewa Pelindung tersebut.
Hatinya merasa sangat hangat dan dengan begitu mudahnya, semua rasa sakit yang dirasakan oleh gadis lugu itu hilang.
Bagaikan tidak pernah menerima kalimat kasar dari Aragaki, tidak ada hal yang memenuhi hatinya saat ini kecuali rasa bahagia karena dapat melihat sosoknya di kejauhan.
****