
Reda menyiapkan dan memasak menu sarapannya sendiri. Tidak lagi takut menyentuh bahan masakan, dia akhirnya bisa mencuci beras dan memotong daging dan sayurannya tanpa khawatir lagi aroma tangannya menempel.
Rubah kecilnya begitu bahagia melihat perubahan gadis kesayangannya tersebut.
Dari yang awalnya begitu dibenci dan ditolak hingga akhirnya menjadi gadis yang mulai bisa menarik perhatian sang penguasa, rubah kecil itu mulai yakin pada pilihannya.
“Ryuunosuke yakin Reda-sama akan mendapatkan cinta Aragaki-sama seutuhnya. Apapun yang terjadi, ini adalah perubahan besar.”
“Aragaki-sama selalu enggan melihat, mendengar bahkan menyentuh para calon ‘pengantin’dari desa itu. Tapi, untuk pertama kali dalam 200 tahun Aragaki-sama mau mengeluarkan banyak uang demi Reda-sama.”
“Ibu, Ryuunosuke yakin Aragaki-sama akan kembali menjadi Aragaki-sama yang baik hati seperti dulu.”
Rubah kecil itu mendekati gadis kesayangannya dan memeluknya dari belakang.
“Hmm? Ryuunosuke? Ada apa?”
“Ryuunosuke senang Reda-sama selalu tersenyum saat dekat dengan Aragaki-sama.”
Reda tersenyum pada rubah kecilnya, “Aku juga, Ryuunosuke. Kita pasti akan melindungi senyuman Nushi-sama.”
Selesai memasak makanan, keduanya membawa makanan ke ruang makan dan makan bersama. Kejutan lain terjadi.
Saat gadis itu hendak duduk di tempatnya, rubah kecil itu menariknya ke depan.
“Reda-sama sebelah sini duduknya.”
“Ryuunosuke, kenapa?” gadis itu tampak begitu bingung. Akhirnya dia melihat kemana arah rubah kecilnya berjalan. Itu adalah tempat yang berada di samping Aragaki.
“Reda-sama mulai sekarang duduknya dekat Ryuunosuke saja.” kata rubah kecil tersebut
Kelihatannya memang seperti duduk di dekat si rubah kecil, tapi posisinya sekarang Reda berada tepat di samping Aragaki.
Jarak duduk mereka begitu dekat, hanya beda beberapa senti. Rubah itu mengerjai sang gadis lugu.
“Aku…duduk di sini? Ta–tapi ini tempat…” belum selesai Reda dengan kalimatnya, dia melihat pria yang dicintainya dalam diam menatapnya.
Tidak perlu ditanyakan bagaimana reaksi gadis cantik itu, dia mulai merah bagai tomat.
“Aku duduk di samping Nushi-sama?! Apakah ini diizinkan?! Ryuunosuke…”
Bagaikan teriak dalam hatinya, dia tidak bisa berhenti menatap si rubah kecil yang menggoyang-goyangkan ekornya dengan cepat. Senyum berbinar dengan mata lebar dan telinga yang naik turun seperti sayap kecil sudah sangat menggambarkan bahwa ini adalah rencananya.
“Ayo ayo duduk di sini, Reda-sama. Nanti kalau tidak duduk, makanannya dingin dan kita tidak bisa makan.”
Sekarang rubah kecil beralih profesi menjadi biro jodoh. Dia benar-benar memikirkan semuanya dengan sangat baik.
Gadis lugu yang cantik itu masih tidak bisa menahan dirinya. Dia malu.
“Duduk di samping Nushi-sama saat makan…rasanya…rasanya aku bisa pingsan!”
Keempat pelayan Aragaki hanya menjadi penonton sambil sesekali mendukung si rubah kecil.
“Duduk tinggal duduk, gadis desa. Kalau kau tidak duduk, kita tidak bisa makan.” kata Kuroto
“Reda-sama, tidak apa-apa. Sebaiknya duduk di sana saja. Makanannya juga sudah ada di depanmu. Benar kan, Nagi?” Ginko ikut menambahkan
Nagi memainkan peran seakan dia tidak sabar untuk sarapan, “Duduk di sana dan kita makan. Kalau sampai dingin, sup misonya akan mulai tidak enak lagi!”
“Itu benar, Reda-sama. Duduklah di dekat Aragaki-sama. Apakah Aragaki-sama keberatan?”
Pertanyaan Hakuren adalah yang paling kuat di antara seluruh argumen karena dia langsung melibatkan tuannya.
Tentu saja, jawaban dari sang penguasa sudah di luar kepala kelima pelayan setiannya.
Sang penguasa yang duduk memegang tangan sang gadis dengan lembut dan berkata, “Duduklah. Kita akan makan sekarang. Makananmu sudah ada di sini.”
-Bluuuush
Gadis itu langsung memerah dan seperti tidak bisa melawan ucapan sang penguasa, dia langsung duduk dengan patuh. Tentu hal itu dibarengi dengan wajah merah tomat yang manis.
“Apakah duduk di sampingku membuatmu tidak nyaman?” tanya Aragaki pada sang gadis
“I–itu tidak mungkin! Itu…” Reda melanjutkan kalimatnya dalam hati, “Duduk di samping Nushi-sama saat makan adalah hal terbaik dalam hidupku. Tentu saja aku senang bila bisa bersama Nushi-sama seperti ini terus.”
Aragaki tersenyum dan melepaskan tangannya, “Syukurlah. Kita mulai makan ya.”
Rubah kecil yang ada di sisi samping gadis itu merasa dia sudah menang. Wajah penuh kebanggaan terpancar dan senyum lebar membuatnya semakin lucu.
“Ryuunosuke menang, Ryuunosuke berhasil! Horee~horee~!” dia bersorak-sorai sendiri dalam hati
Waktu makan itu menjadi waktu makan yang terindah lain dalam hidup Reda. Semua pelayan Aragaki melihat bahwa kedua orang yang duduk bersanding di depan itu adalah pasangan yang sangat serasi.
“Jika pemandangan ini bisa terus terlihat, ini pasti akan semakin sempurna.” Itulah yang dipikirkan semuanya. Dan tanpa disadari oleh siapapun, harapan itu juga yang menjadi keinginan sang penguasa.
Meskipun dengan keadaan sangat gugup, namun Reda mulai bisa membiasakan dirinya. Semua hal yang sudah dilakukan bersama dengan pria yang dicintainya dalam diam membuatnya tenang sedikit demi sedikit.
Aragaki juga berusaha membuatnya nyaman berada di sampingnya. Memberikan senyuman untuk gadis itu membuat ekspresi gadis itu berubah.
Mereka terlihat seperti sebuah keluarga sekarang.
Selesai makan dan mencuci piring, Ryuunosuke memeriksa seluruh persediaan sayuran yang dimilikinya.
“Hmm? Reda-sama, kita kehabisan lobak dan kol. Di kebun sekarang sedang tidak panen.” kata rubah kecil itu
Reda yang saat itu sedang merapikan tempat bumbu dapur juga mendapati bumbu yang ada di sana habis.
“Kita tanyakan pada Aragaki-sama ya.”
**
Di ruangannya, Aragaki sedang melihat laporan yang diterimanya dari semua penduduk di Higashi no Mori. Seluruh laporan tersebut diberikan oleh keempat pelayannya yang selalu melakukan patroli.
Selama ini, belum ada yang mengatakan hal buruk pernah terjadi sejak 200 tahun terakhir. Setelah tragedi itu, Aragaki terus menjaga semua hutannya seorang diri dibantu oleh pelayannya.
“Sepertinya sejauh ini, semua berjalan lancar. Nishi no Mori dan Minami no Mori juga mengirimkan banyak pasokan makanan ke daerah Higashi no Mori.”
“Tampaknya beberapa bisnis perdagangan juga mulai baik. Syukurlah, mereka semua sedang dalam kondisi yang baik.”
Aragaki mendengar suara langkah kaki yang tidak asing untuknya. Dia berdiri sebelum suara tersebut mendekati pintu masuknya.
Itu adalah suara kaki rubah kecil dan tentu saja gadis desa yang menjadi perhatian sang penguasa akhir-akhir ini.
Aragaki langsung membuka pintu ruangannya begitu suara itu ada di dekat pintunya.
“Aragaki-sama?! Ryuunosuke kaget!” kata rubah kecil itu
“Maafkan aku.” Aragaki memang meminta maaf telah mengagetkan keduanya. Akan tapi matanya tertuju pada gadis desa yang cantik itu. Dia kembali bertanya pada mereka berdua, “Apa ada sesuatu?”
“Begini Nushi-sama. Kalau boleh, kami ingin meminta izin untuk pergi ke pasar.”
“Pasar? Kalian berdua saja? Kenapa?”
“Bu–bumbu dapurnya telah habis dan beberapa sayuran untuk memasak masih ada yang belum tumbuh di kebun jadi…kami ingin membelinya di pasar.”
Gadis itu sudah tidak begitu malu, namun tatapan manis dari Aragaki membuatnya tidak bisa terlalu lama menatapnya.
Aragaki tersenyum dan masuk sebentar ke ruangannya. Dia mengambil sebuah kantong kecil dan memberikannya pada gadis itu.
“Ini, pakailah. Kamu bisa membeli apapun dengan itu. Kembalilah sebelum makan siang, ya.”
Reda dan rubah kecil melihat begitu banyak koin yang ada di dalam kantong kecil tersebut. Lebih banyak dari yang pernah diberikan oleh Hakuren kepada si rubah kecil saat pergi ke pasar.
“Ini…ini terlalu banyak!”
“Tidak apa-apa. Kalian memakainya untuk kebutuhan dapur, jadi pakailah. Aku akan menantikan makan siangnya ya.”
Ucapan itu membuat Reda terlihat senang. Dia merasa bahwa untuk pertama kalinya sang penguasa begitu menantikan masakannya dan langsung mengatakan hal tersebut kepadanya.
Meskipun kenyataannya semua masakan selama ini adalah buatannya, namun yang kali ini berbeda. Reda bisa memasaknya secara terang-terangan dan itulah nilai lebih dari kalimat yang baru saja dikatakan oleh sang penguasa.
Rubah kecil sangat senang dengan pemberian tuannya tersebut dan melompat seperti anak kecil. Dia langsung menarik gadis kesayangannya itu untuk pergi keluar menuju pasar.
**
Di perjalanan, keduanya terlihat begitu bahagia.
“Bisa jajan, la~la~la~” rubah kecil itu bersenandung ceria, “Jajan dango untuk Ryuunosuke, la~la~la~beli manisan juga untuk Ryuunosuke la~la~la~Aragaki-sama tidak dibagi, hanya Ryuunosuke dan Reda-sam yang makan. Horee~”
Rasanya lagu itu begitu lucu hingga membuat gadis desa itu tertawa mendengarnya.
“Ryuunosuke senang membuat lagu ya.”
“Ryuunosuke sudah menyiapkan lagi pernikahan untuk Aragaki-sama dan Reda-sama. Jangan khawatir, ehehehe~”
“Ryuunosuke…” gadis itu malu
Tanpa disadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi kedua orang tersebut. Itu bukan Hakuren atau Kuroto, namun sosok yang lain.
“Itu dia, calon ‘pengantin’ baru Aragaki-sama. Aruji-sama, apa Anda melihatnya?” kata suara itu
“Aku lihat. Tidak disangka gadis kali ini lebih beruntung dan cerdas dibandingkan yang sebelumnya. Kalau begini, aku mungkin tidak akan makan. Aku harus membuat gadis itu seperti para calon ‘pengantin’ lainnya.”
**
Di ruangan Aragaki, dia merasakan sesuatu.
“Perasaan ini…”
Matanya mulai terlihat tajam dan memanggil kedua tengu yang sedang berpatroli.
“Hakuren, Kuroto.”
Keduanya datang, “Kami di sini, Aragaki-sama.”
“Ada sesuatu yang sepertinya sedang mengawasi tempat ini seperti sebelumnya. Bisa tolong kalian periksa?”
“Baik.”
“Aku juga ingin kalian mengawasi gadis desa itu dan rubah kecilku yang sedang pergi ke pasar. Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk pada mereka.”
Hakuren dan Kuroto terdiam. Mereka cukup terkejut mendengar kata ‘mereka’ yang dikatakan oleh sang penguasa. Namun mereka mengerti dan segera melaksanakan perintahnya.
“Aku harap aku tidak melakukan kesalahan kali ini. Perasaan ini…perasaan yang sama setiap kali ada gadis dari desa terkutuk itu yang datang ke tempat ini.”
“Perasaan yang membuat para gadis-gadis kotor itu menjadi semakin menjijikkan hingga membuatku harus membunuh mereka.”
Ada sebuah awal badai lain yang datang dan akan menjadi sebuah takdir lain untuk gadis lugu yang sedang mencoba memenangkan cintanya.
****