The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 39. Kesempatan untuk Mendengar Suara Lembutnya



Reda yang menangis tanpa disadari olehnya bersembunyi di balik pintu ruangan lain. Dia meletakkan ember berisi air di lantai lalu berlutut untuk menghapus air matanya.


“Apa yang kamu pikirkan, Reda? Kuatkan dirimu. Jangan sampai membuat rubah kecil yang manis itu khawatir lagi.”


Reda memukul kedua pipinya kemudian kembali bersemangat.


“Harus berjuang sedikit lagi!” ucapnya untuk menyemangati dirinya


Gadis itu membawa ember berisi air itu kembali dan berdiri. Dengan mengendap-endap agar tidak diketahui, Reda cepat-cepat pergi dari sana. Dia memutuskan untuk menyirami bunga di sisi lain taman.


“Nushi-sama tidak boleh melihatku atau beliau akan marah nantinya.”


Begitu sampai di bagian lain dari taman, Reda berhenti dan menyadari sesuatu.


“Aku…tidak memiliki kesempatan untuk bicara dengan Nushi-sama sama sekali. Bahkan sekalipun ada, Nushi-sama hanya akan menolakku dan mungkin akan melemparku kembali seperti saat pertama kali kami bertemu.”


“Apa yang bisa aku lakukan agar bisa bicara dengannya walau hanya sebentar?”


“Penolakan darinya itu…membuat hati ini seperti tertusuk. Reda, jadi serakah sekarang. Aku ingin sekali mendengar suaranya lagi.”


Gadis desa itu menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya. Dia yang selama ini mencoba untuk bicara selalu mendapatkan penolakan yang begitu menyakitkan.


Dia juga ingat bahwa sang penguasa itu telah memperingatkannya untuk tidak muncul di hadapannya dan bicara dengannya.


“Aku benar-benar putus asa sekarang. Harus bagaimana untuk memperjuangkan perasaan cinta ini? Aku tidak tau kalau jatuh cinta bisa sangat membuat tertekan.”


Reda termenung beberapa saat, hingga akhirnya dia kembali berjalan pelan untuk pergi ke taman.


Siang hari pun berlalu dan mulai berganti sore. Taman telah disirami dan engawa luar sudah selesai dibersihkan.


Ketika Reda menimba air di sumur untuk mengepel lantai bagian dalam kediaman Aragaki, dia mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya.


“Suara ini…”


Begitu dia melihatnya, itu adalah Aragaki yang berjalan di dalam. Reda sempat melihat sang penguasa berjalan melewatinya. Bagaikan tidak melihat siapapun, Aragaki benar-benar mengabaikan gadis itu.


Dengan penuh keberanian, Reda mencoba menyapanya.


“Se–selamat sore, Nushi-sama.”


Aragaki sama sekali tidak melihatnya. Untuk mencoba berhenti dan menengok saja dia tidak mau. Reda hanya bisa melihat punggung sang penguasa semakin menjauh hingga akhirnya dia berbelok.


Reda mencoba untuk tersenyum walaupun dia merasa sangat sakit dan malu.


“Apakah aku…memang sehina itu di mata orang yang kucintai? Tapi, Nushi-sama tidak mengetahuinya. Aku harus berusaha meskipun hanya sedikit. Ayo coba sedikit lagi, Reda.”


Reda berdiri dan berlari mengejarnya. Begitu melihatnya, dia memanggil Aragaki.


“Nu–Nushi-sama…”


Aragaki menghentikan langkahnya dan melirik ke belakang. Reda menjaga jarak cukup jauh agar tidak membuat Aragaki marah. Dengan menelan ludahnya, dia memberanikan diri untuk bicara.


“Nu–Nushi…-sama, aku dengan Anda akan keluar sore ini. Apakah…apakah Anda akan makan malam di luar juga?”


Pertanyaan yang sebenarnya sangat tidak biasa untuk seorang Aragaki.


Niatnya, dia tidak ingin menjawab pertanyaan gadis desa yang dianggapnya kotor. Tapi, mengingat sikapnya terhadap Ryuunosuke di kebun membuatnya memberi sedikit kesempatan untuknya.


Meskipun tidak ada keinginan sedikit pun dari Aragaki untuk menjawab dengan nada baik.


“Kenapa gadis kotor sepertimu ingin sekali tau urusanku? Sejak kapan kamu memiliki hak untuk bertanya di sini?”


Reda terdiam. Dia bingung dengan pertanyaan lain yang justru dilontarkan untuknya. Sikap dingin Aragaki memang tidak berubah. Matanya penuh dengan kebencian dan tatapan dingin.


Dengan menenangkan dirinya, Reda mencoba untuk menunjukkan senyumannya.


“Ryuunosuke kecil baru saja memetik sayuran segar dan dia mencucinya sendiri hari ini. Aku yakin, dia pasti ingin menceritakan hal itu kepada Nushi-sama. Sayuran itu dipetiknya sendiri dan hasilnya sangat banyak.”


“Jika berkenan, aku harap Nushi-sama mau makan malam di rumah agar rubah kecil itu semangat memasak untukmu.”


“…” Aragaki terdiam


Gadis itu tidak tau bahwa Aragaki telah melihat semuanya. Sang penguasa mengingat kembali apa yang telah dilihatnya siang ini.


[Reda-sama, Ryuunosuke hampir dapat wortelnya. Yang ini besar…uum, susah sekali dicabut]


[Reda-sama, Ryuunosuke berhasil~]


Aragaki juga mengingat apa yang gadis desa itu katakan kepada rubah kecil kesayangannya.


[Ryuunosuke hebat. Kalau Nushi-sama mengetahuinya, dia pasti akan memujimu juga]


[Ehehe~nanti Ryuunosuke akan cerita pada Aragaki-sama!]


[Iya. Ayo kita ambil lagi yang lain. Nushi-sama pasti senang dengan hasil panennya. Semangat!]


Sang penguasa berpikir dalam hatinya.


Senyum di wajah Reda tidak hilang. Dia menunggu jawaban dari sang penguasa di depannya. Siapa yang menyangka, Aragaki berbalik dan melihatnya empat mata. Sebuah hal yang belum pernah terjadi bahkan selama satu minggu ini.


“Dimana rubah kecilku?”


“Ryuunosuke ada di dapur. Sepertinya dia sedang menyiapkan sayur untuk makan malam yang lain nanti.”


“Katakan padanya aku mungkin akan pulang larut malam.”


Reda tidak menyangka bahwa pria yang dingin padanya mau bicara dan menitipkan pesan. Tapi, sejujurnya besar harapan Reda agar tuannya mau kembali untuk makan di rumah.


“Apakah Anda tidak mau kembali lebih awal untuk mencicipi masakan Ryuunosuke, Nushi-sama?”


“Aku yakin telingamu itu tidak tuli, kecuali kalau kamu sengaja memintaku mengulangi kalimat yang telah aku katakan.”


“…” Reda terdiam mendengarnya


Meskipun wajahnya begitu dingin, dia masih bersyukur orang yang dicintainya dalam diam mau bicara dengannya.


“Maafkan aku. Aku mengerti. Nanti, aku akan menyampaikannya kepada Ryuunosuke.”


Reda membungkuk untuk memberi hormat. Namun sebelum dia mengangkat kepalanya, Aragaki tampak mengatakan hal lain.


“Buatkan aku nasi hangat dengan sup jamur dan wortel serta tamagoyaki ketika aku pulang.”


“Eh?”


“Aku bilang, buatkan aku nasi hangat dengan sup jamur dan wortel serta tamagoyaki ketika aku pulang. Katakan itu juga kepada rubah kecilku. Kalau kamu tuli, aku sendiri yang akan mengatakannya nanti.”


Reda tersenyum merona mendengarnya. Dia tidak menyangka sang penguasa bersedia makan malam ketika pulang nanti.


Senyuman itu terlihat cerah sekali. Ada sebuah perasaan aneh di dada Aragaki. Bukan perasaan suka atau perasaan cinta.


Dia hanya teringat senyum itu adalah senyum yang diberikannya kepada rubah kecilnya di kebun. Sebuah senyum yang membuat rubah kecilnya begitu bahagia seperti saat ibunya masih hidup.


Tanpa mengatakan apapun, Aragaki meninggalkan gadis desa itu sendirian. Reda langsung menjadi lemas hingga duduk di lantai. Wajahnya memerah karena malu.


“Aku…bicara dengan Nushi-sama? Apakah ini mimpi?”


Kedua tangannya digenggam erat di dada. Dia bisa merasakan betapa cepatnya jantung miliknya sendiri berdetak. Rasanya begitu berdebar-debar.


Bayangannya, dia mungkin akan dihempaskan seperti debu tidak berarti lagi oleh sang penguasa. Tapi tampaknya Dewa sedang tersenyum pada gadis itu.


“Rasanya seperti mimpi. Apakah bicara dengan orang yang dicintai itu terasa begitu membahagiakan seperti ini? Suara Nushi-sama…lembut sekali”


Dia tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.


“Dewa, apakah mungkin ada kesempatan bagiku untuk melihat senyumannya? Apakah ada kesempatan untukku melihat lebih banyak senyum dan mendengar suara lembut itu dari dekat? Aku benar-benar sangat senang~”


Tidak mau membuang waktu, Reda langsung melupakan tugasnya mengepel lantai bagian dalam dan berlari menuju dapur. Begitu sampai di dapur dia memeluk rubah kecil dan menceritakan semua yang dialaminya.


Sungguh senang hati sang rubah kecil mendengarnya. Dia bahkan mengajak gadis itu menari karena senang dengan ekor yang bergoyang-goyang tanpa henti.


“Syukurlah, Reda-sama! Syukurlah! Ryuunosuke ikut senang, Ryuunosuke ikut senang!”


“Terima kasih, Ryuunosuke. Kita harus semangat. Nanti malam saat Nushi-sama kembali, kita masak yang enak untuknya ya?”


“Ryuunosuke akan membantu juga. Kita akan masak yang enak untuk Aragaki-sama.”


Keduanya tampak senang sekali.


Waktu keberangkatan Aragaki tiba. Semua pelayannya termasuk Reda ikut mengantar kepergiaan sang penguasa. Yang membedakan, Reda berada di jarak yang sangat jauh, sehingga tidak bisa bicara dengan Aragaki karena takut dimarahi olehnya.


“Aragaki-sama akan makan di rumah, kan?” tanya Ryuunosuke dengan perasaan senang


“Kamu sudah dengar pesanku?”


“Uum! Nanti Ryuunosuke akan berjuang memasaknya!”


“Anak pintar. Terima kasih


ya.”


Aragaki melihat ke arah semua pelayannya, “Aku akan pergi sebentar ke desa sebentar dan mampir untuk mengobrol dengan Shuen dan Jorogumo. Aku akan kembali untuk makan malam bersama karena rubah kecilku ingin masak yang enak. Tolong jaga tempat ini sampai aku kembali ya.”


“Baik. Hati-hati di jalan, Aragaki-sama.”


Semua menunduk mengantarkannya. Termasuk Reda, gadis itu mengantarkan Aragaki dengan senyumannya.


“Semoga hari Anda menyenangkan, Nushi-sama.”


Biarpun tidak terdengar, Reda tetap mengatakannya dengan senyuman. Sore itu, sang penguasa pergi untuk bertemu teman lamanya dan keadaan di kediamannya akan sedikit berubah setelah ini.


****