The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 79. Kencan Sempurna bag. 1



Reda hanya mengangguk tanpa bertanya mengenai alasan kunjungan sang penguasa tersebut.


Di pintu keluar, kepergian keduanya diantar oleh para youko termasuk Ryuunosuke.


"Ryuunosuke, apa benar-benar tidak mau ikut denganku? Kita bisa pergi melihat pasar lagi."


Gadis itu tampak berlutut dan merayu rubah kecilnya untuk ikut dengannya.


Tapi, rubah kecil itu menolaknya. Benar-benar tidak mau menemaninya kali ini.


"Ryuunosuke ada pekerjaan lain. Ryuunosuke mau...mau merapikan kamar Ryuunosuke!"


"Kamar?"


"Benar! Reda-sama pergilah dengan Aragaki-sama ya. Aragaki-sama, Ryuunosuke titip Reda-sama."


"Aku mengerti. Rapikan kamarmu ya." Aragaki mengetahui bahwa rubah kecilnya sedang memberinya dukungan


Dia tersenyum dan memberikan sebuah usapan lembut di kepala rubah kecilnya.


Setelah sudah selesai dengan usapan di kepala rubah kecilnya, Aragaki pergi dengan gadis itu meninggalkan kediamannya.


Begitu keduanya keluar, rubah kecil itu langsung berlari dan melompat dengan senang.


"Hore~Reda-sama kencan berdua dengan Aragaki-sama! Ryuunosuke akan menciptakan lagu pernikahan lagi!"


Nagi langsung menolaknya mentah-mentah, "Jangan ada lagu pernikahan aneh itu lagi, mengerti?"


"Lagu buatan Ryuunosuke bagus! Tidak aneh! Nagi-sama belum dengar semuanya!"


Nagi hanya bisa menutupi wajahnya sambil menahan emosi.


"Telinga rubahku mungkin akan kehilangan fungsinya setelah ini. Haduh."


Ginko hanya bisa memasang senyumannya.


Ginko berkata dengan senyumannya, "Dengar, Hakuren dan Kuroto mungkin akan mengawasi mereka. Jadi, sebaiknya kita tu–"


"Kita ikuti!"


"Eh?!" Ginko spontan terkejut


"Ryuunosuke mau mengendap-endap seperti Ginko-sama dan yang lain!"


"Aa..."


Nagi tampaknya bisa sependapat, "Bagus sekali idemu itu, rubah kecil! Kita ikuti mereka. Ayo!"


"Tapi, yang jaga rumah–"


"Kemarin juga tidak pernah ada yang menjaga. Kau tidak penasaran kencan indah bagaimana yang akan terjadi pada mereka?"


Telinga dan ekor Ginko bergoyang cepat tanda dia bersemangat. Wajahnya terlihat tidak yakin, tapi ekor dan telinganya mewakili isi hatinya.


Nagi melihat itu dan tersenyum, "Lihat, kau penasaran kan? Kita pergi sekarang. Rubah kecil, naik ke punggung ku."


"Horeee~" rubah kecil itu melompat ke atas punggung Nagi dan menggoyang-goyangkan ekornya.


Akhirnya ketiga youko itu mengikuti sang majikan yang berkencan dengan gadis desa lugu yang cantik.


**


Sementara itu, Reda yang berjalan sedikit di belakang Aragaki tampak malu dan mencoba untuk tenang.


"Ini...ini pertama kalinya aku pergi berdua dengan Nushi-sama. Bagaimana ini? Aku malu." gumamnya dalam hati


Reda tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Wajah merona itu adalah bukti bahwa dirinya sangat malu.


Sang penguasa menengoknya dan bertanya, "Kenapa memperlambat langkahmu seperti itu?"


"Eh?!" Reda terkejut. Tidak disangka olehnya bahwa sang penguasa akan bertanya dan menegurnya seperti itu.


Yang membuat Reda lebih terkejut lagi adalah uluran tangan sang penguasa yang dicintainya dalam diam yang hendak menggenggam tangannya kembali.


"Jika kamu berjalan lambat begitu, kamu akan mudah lelah. Peganglah tanganku."


Reda memerah. Dia merasa malu karena kebaikan dan perhatian sang penguasa padanya.


Awalnya dia hanya menatap tangan lembut itu dan berkata pada hatinya, "Dewa, apakah aku boleh...menggenggam tangan itu lagi?"


Namun, keinginan Aragaki saat ini untuk bersama gadis itu lebih kuat.


Karena tidak ingin melihat keraguan gadis itu, dialah yang langsung menggenggam tangan gadis itu.


"Nushi...-sama!"


"Ayo jalan." ucapnya dengan senyum lembut


Reda akhirnya menggenggam tangan sang penguasa.


Sepanjang perjalanan, belum ada pembicaraan yang dimulai. Reda terlalu malu dan tampaknya sang penguasa sendiri belum menemukan momen yang tepat.


Semuanya hanya berlalu bersamaan dengan hembusan angin lembut di sekitar pepohonan.


Ketika hampir sampai di dekat kerumunan pasar, gadis itu berhenti. Hal tersebut membuat sang penguasa ikut berhenti.


"Apa ada sesuatu?" tanya sang penguasa


"Aku...aku tidak memiliki sesuatu untuk menutupi aroma manusia ini."


Reda menjadi takut dan panik. Dia melihat ke bawah dengan wajah pucat meskipun bersama dengan sang penguasa sendiri.


"Aku tidak ingin...membuat Nushi-sama dalam masalah."


Namun, sesuatu yang seperti sebuah hal yang mustahil terjadi.


Entah mimpi apa yang dilihat Reda, dirinya tidak menyangka akan mendapatkan sebuah pelukan lembut dari sang penguasa.


"Nu–Nushi..."


-Bluuuush


Sudah tidak bisa berkata apapun, wajah Reda berubah merah seakan bisa pingsan setelah ini.


Di jarak yang cukup jauh, di balik pohon besar, Ginko berusaha menutup mulut rubah kecil yang terlihat sangat semangat.


"Hmmmph...hmmmp!! Hmmmmph!!" Ryuunosuke seperti ingin berteriak meskipun mulutnya sudah ditutup. Dia jadi tidak bisa dikendalikan.


Telinga rubah kecil itu seperti sayap kecil yang mengepak. Begitu cepat bergoyang bersama ekornya saat melihat adegan romantis antara tuannya dan gadis kesayangannya.


Nagi dan Ginko sendiri tidak bisa percaya tuan mereka bisa menjadi agresif dari yang sebelumnya begitu keras menolak gadis yang dipeluknya.


"Astaga...jadi Aragaki-sama bisa seperti laki-laki yang sangat nekat..." ujar Nagi


"Nagi, jangan katakan itu lagi. Ryuunosuke akan teriak nanti. Aku masih berusaha keras menutup mulutnya"


"Tapi aku benar kan?"


"Sst!! Kalian berdua diamlah! Kalau sampai ketauan, kita akan merusak kencan sempurna Nushi-sama!"


Ginko sudah mulai sedikit kesal dengan keduanya. Ryuunosuke mencoba diam tapi tidak dengan telinga dan ekornya.


Sementara di sisi Aragaki dan Reda, suasana pagi itu terasa begitu sejuk. Meskipun matahari mulai tinggi sedikit demi sedikit, terasa begitu indah di sekitar mereka.


Tentu saja, karena mereka sedang berpelukan sekarang.


Detak jantung Reda semakin cepat. Bahkan kali ini, dengan jarak sedekat itu akhirnya Aragaki bisa mendengar suara jantung sang gadis lugu dalam pelukannya.


"Apa dia benar-benar sedang panik? Aku bisa mendengar suara jantungnya."


"Selain itu, rasanya aroma tubuhnya benar-benar melekat padaku sekarang."


Aragaki seperti menikmati saat itu. "Aku harap aku tidak perlu melepaskannya sementara."


Tapi kemudian dia sadar bahwa bukan demi itu dirinya memeluk gadis itu.


"Jangan panik. Aku melakukannya agar aroma tubuhku menempel pada pakaianmu."


"Eh?" Reda merespon dengan pelan karena mulutnya gemetar


"Aroma tubuhku bisa sedikit menyamarkan aroma manusia milikmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika ada yang mengetahuinya."


"Sekalipun ada, aku sendiri yang akan memberikan penjelasan. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Apa kamu mengerti?"


Suara lembut Aragaki saat mencoba menenangkan Reda begitu nyaman. Perlahan-lahan, Reda mulai sedikit tenang.


Gadis itu memejamkan matanya sambil mendengarkan semua kalimat yang dikatakan oleh sang penguasa.


"Reda benar-benar menyukai suara Nushi-sama. Rasanya seperti suara dari surga. Lembut dan membuatku tenang."


Begitu terhanyut dalam lembutnya suara dari pria yang disukainya, perlahan detak jantungnya kembali normal.


Aragaki tersenyum mengetahui gadis yang ada dalam pelukannya berangsur membaik.


Dia melepaskan pelukannya walau sebenarnya masih belum ingin.


"Sudah lebih baik?"


"Te–terima kasih banyak, Nushi-sama."


Senyuman dari Reda begitu cantik sehingga membuat perasaan Aragaki terasa aneh. Sekarang giliran dirinya yang sulit mengendalikan detak jantungnya.


"Tenanglah. Ini baru dimulai. Aku akan memberikan banyak perhatianku padanya untuk mengenal gadis ini dengan baik."


"Ini baru dimulai, kamu harus tenang. Jangan berbuat dan bersikap aneh. Kali ini perlakukan dia dengan lembut."


Bagaikan menyemangati diri sendiri, Aragaki yang selesai bicara dalam hati kembali menggandeng tangan gadis itu.


Keduanya berjalan kembali menuju keramaian penduduk di depan mereka.


**


Sementara itu, setelah keduanya telah jalan jauh, Ginko menyerah dan melepaskan tangannya dari mulut rubah kecil yang penuh semangat.


"Horee~Aragaki-sama memeluk Reda-sama! Ibu, ibu, lihat dari langit! Aragaki-sama mulai menyukai gadis yang Ryuunosuke sukai!"


"Kyaaa~Aragaki-sama seperti yang ibu bilang! Aragaki-sama jadi tidak senonoh! Genit! Kyaa!!"


Menggoyang-goyangkan dirinya saat digendong di punggung Nagi membuat Nagi kesulitan mengatur si rubah kecil itu.


"Oi! Jangan bergerak seperti itu atau kujatuhkan kau ya! Jangan mencoba melompat-lompat di punggungku, anak nakal!"


"Kyaaa~Ryuunosuke melihat Aragaki-sama jadi genit! Jadi tidak senonoh! Malunya~ Kyaa~Ryuunosuke bisa tidur nyenyak nanti malam!"


Kedua youko itu harus menyiapkan energi dan kesabaran lebih sampai rubah kecil itu selesai dengan semangatnya.


"Ayo ikuti lagi, Nagi-sama!! Ryuunosuke mau lihat, Ryuunosuke mau lihat!"


"Kalau begitu diamlah!"


Seketika rubah kecil itu diam, tapi tidak dengan ekor dan telinganya.


"Haaa~" Nagi dan Ginko akhirnya bisa bernapas lega


Mereka mulai melompati pepohonan agar lebih cepat hingga akhirnya berada dalam jangkauan untuk melihat pasangan yang sedang berkencan itu.


****