
Waktu makan siang telah tiba. Semuanya telah berkumpul untuk makan bersama seperti biasa dan sekarang, Reda duduk tepat di samping Aragaki.
Sebuah hal yang sangat tidak biasa untuknya, mengingat dirinya begitu malu saat pertama kali dekat dengan pria yang begitu dicintainya dalam diam.
Sekarang, duduk di samping sang penguasa adalah sebuah keharusan karena itu adalah perintah dari sang penguasa sendiri pada gadis itu.
“Mulai sekarang, kamu akan duduk di sampingku saat makan. Mengerti?”
-Bluuuush
Tentu tidak akan ada penolakan dari gadis itu jadi sudah dapat dipastikan bahwa dia akan mengangguk patuh.
Ryuunosuke yang mendengarnya juga jadi sangat senang, ditandai dengan bergoyangnya ekor tebal dan kedua telinganya.
Namun bagi keempat pelayan Aragaki, itu adalah sebuah peringatan. Karena, mereka mengetahui semuanya.
***
Ini terjadi sebelum makan siang.
Keempat pelayan Aragaki merasakan sesuatu.
“Ini…kekkai?”
Ginko mulai melihat langit. Di mata keempat para pelayan Aragaki sekarang, seluruh langit dan sekitar kediaman tempat itu sampai beberapa meter di depannya seperti dikelilingi oleh kaca.
“Reimei no Kekkai. Sepertinya Aragaki-sama yang melakukannya.” kata Kuroto
“Aku yakin, ini ada hubungannya dengan apa yang kita laporkan pada Nushi-sama. Tampaknya ini benar-benar serius.”
Nagi terlihat serius, “Tentu saja serius! Ini untuk melindungi gadis itu.”
“Tapi, Nagi…aku masih penasaran dengan aroma yang kamu katakan tadi. Sebenarnya aroma siluman apa yang sampai tidak bisa tercium oleh youko seperti kamu dan aku?” Ginko bertanya dengan ekspresi bingungnya
“Aku juga tidak tau kenapa, tapi aroma yang aku cium dari sekitar keduanya saat ada di pasar itu adalah aroma yang tidak asing. Hanya saja aku tidak ingat.”
Keempat pelayan setiap Aragaki tampak kesulitan. Hakuren bahkan bergumam dalam hatinya.
“Di saat Aragaki-sama telah mendapatkan sedikit perasaannya pada gadis itu dan mungkin saja akan berhasil merubahnya, kenapa bisa seperti ini? Ini seperti…ada seseorang yang memang ingin mencelakainya.”
“Tapi, berita buruk yang dikatakan oleh Aragaki-sama itu mungkin saja hanya sebuah gosip dari kalangan siluman lain.”
“Itu tidak mengherankan sejak manusia memang makhluk yang dibenci di sini.”
“Aku ingin tau, apakah mungkin…mereka ingin melakukan hal buruk pada Reda-sama seorang demi tujuan menyakiti Aragaki-sama? Atau mereka yang mengincar Reda-sama hanya menargetkannya seorang?”
“Yang jelas, dengan adanya penghalang yang dibuat oleh Aragaki-sama menandakan bahwa kali ini memang serius.”
Kuroto menyadari sesuatu.
“Kalian bertiga…jika ini memang reimei no kekkai, bukankah itu artinya target yang berada di dalam penghalang ini tidak bisa keluar dari tempat ini sementara waktu?”
“Mungkinkah Aragaki-sama melakukan ini untuk mengurung Reda-sama sementara waktu?”
Hakuren mencoba mengambil kesimpulan, “Reimei no Kekkai hanya diperuntukkan untuk seseorang yang saat penghalang ini dibuat oleh Aragaki-sama, orang itu ada dalam pikirannya.”
“Bisa saja itu benar.”
Mereka menjadi sedikit lega. Di dalam pikiran mereka, tuan mereka telah mencoba yang terbaik demi gadis itu.
“Walaupun Aragaki-sama masih belum mau mengakui perasaannya, tapi…”
“Beliau sampai melakukan hal sejauh ini untuk melindungi Reda-sama. Ini adalah hal yang paling luar biasa yang pernah Nushi-sama lakukan kepada calon ‘pengantin’-nya.”
“Aku harap ini adalah pertanda baik untuk keduanya.”
“Setidaknya, gadis desa itu harus selamat. Dia sudah berusaha sampai sejauh ini untuk bisa dekat dengan Aragaki-sama. Kami juga harus mencari tau siapa yang mencoba mengincarnya.”
***
Begitulah yang terjadi. Karena itu, keempat pelayan setia Aragaki tidak berpikir hal yang macam-macam.
Benar-benar berbeda dengan yang rubah kecil katakan dengan riang sekarang.
“Huwaaa~akhirnya Aragaki-sama jadi agresif! Kyaaa~Aragaki-sama makin tidak senonoh! Ryuunosuke jadi senang, Ryuunosuke jadi senang!”
Reda tampak panik dan malu, namun Aragaki sama sekali tidak memikirkannya. Dia justru menggenggam tangan gadis itu dan memintanya duduk.
Mereka makan bersama siang itu dengan Reda yang terlihat begitu senang.
Selama makan, rubah kecil itu membagikan aburage yang disimpannya kepada semua orang. Tentu saja dia benar-benar hanya membagi banyak aburage miliknya pada Reda.
Niat hati tidak ingin berbagi pada tuannya, dia jadi memberikan satu kotak penuh untuk Aragaki karena sudah bersikap ‘agresif’ pada gadis kesayangannya.
“Ini untuk Reda-sama dan Aragaki-sama. Ryuunosuke ingin kalian makan bersama ya. Kyaa~Ryuunosuke jadi malu.”
Reda hanya bisa tersenyum mendengar rubah kecil kesayangannya. Namun, rasa senang itu hanya dirasakan oleh kedua orang itu. Aragaki dan keempat pelayannya terlihat begitu serius dan cemas.
Tiba-tiba saat Reda baru selesai memberikan aburage kepada rubah kecil di sampingnya, Aragaki memegang tangannya.
“Nushi-sama!!” Reda terkejut. Wajahnya memerah ditatap begitu dekat oleh pria pujaannya. Namun, sang penguasa itu terlihat begitu serius.
“Mulai sekarang, jangan keluar dari rumah ini sebelum aku izinkan. Mengerti?”
Reda tidak bertanya karena malu. Dengan wajah merahnya, dia mengangguk tanda mengerti. Tidak ada kecurigaan sedikitpun kepada sang penguasa. Yang ada hanyalah pikiran malu dan sangat berdebar di dadanya.
“Nushi-sama dekat sekali, Nushi-sama dekat sekali, Nushi-sama dekat sekali! Harus kuat, jangan tegang dan harus kuat. Bagaimana ini?! Aku…benar-benar…”
Ketika matanya melirik ke arah sang penguasa, dia baru menyadari bahwa pria tampan yang menatapnya itu mulai terlihat aneh. Ekspresi itu adalah ekspresi cemas.
“Nushi-sama…baik-baik saja?”
Aragaki melepaskan tangannya dan tersenyum lembut pada gadis itu. “Aku baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak ada yang akan terjadi. Tolong ingat pesanku baik-baik ya.”
“Baik.”
Reda memang menjawabnya, namun ekspresi wajah Aragaki membuatnya sedikit khawatir.
“Apakah Nushi-sama sedang tidak enak badan? Wajahnya terlihat begitu cemas dan sedikit pucat.”
“Mungkin setelah ini, aku bisa membuatkan sesuatu untuknya.”
**
Di sebuah tempat yang gelap, dengan banyak sekali bebatuan di dalam sebuah hutan yang gelap. Sesuatu datang dan berjalan.
Di dalam sana, banyak sekali tulang belulang yang berserakan dimana-mana dan juga bekas darah yang sudah mengering.
Raungan yang cukup keras sesekali keluar dan aura kegelapan mulai menyelimuti tempat tersebut.
Sesuatu yang berjalan itu adalah makhluk kecil. Siluman kecil hitam yang disebut Ara-mitama (jiwa liar).
Dia menghadap sosok besar yang masih tertutup bayangan dan aura kegelapan yang kuat.
“Aruji-sama, aku datang melapor.”
Makhluk besar itu terlihat kesal sekali.
“Aku sudah melihatnya. Tidak kusangka akan jadi seperti ini. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengingat ‘beliau yang agung’ begitu membenci manusia.”
“Kenapa kali ini justru beliau sendiri yang mendekati calon ‘pengantin’ dari desa terkutuk itu?!”
“Kalau begini, seharusnya sejak awal dia datang, aku sudah memberikan kegare (aura kotor yang gelap) padanya seperti yang lain agar gadis itu dibenci dan dihukum oleh Aragaki-sama!”
Ara-mitama mencoba menenangkan sang majikan.
“Jangan cemas, Aruji-sama. Aku akan melakukan sesuatu agar gadis itu menjadi makanan Anda kembali.”
“Sebaiknya begitu. Aku tidak akan pernah membiarkan ada manusia yang diterima di tempat ini. Mereka harus berakhir menjadi kekuatanku. Darah segar itu…harus menjadi menu utamaku.”
Sang pelayan mulai berdiri.
“Aku akan mencoba melihat dari dekat kembali dan kali ini, akan aku pastikan gadis itu bernasib sama seperti yang lainnya.”
Di saat setitik kedamaian muncul, Reda yang masih harus berjuang sebelum waktu penentuan habis tidak menyadari bahwa ada awan mendung dan angin hitam yang mendekatinya.
Sesuatu yang penuh kegelapan mencoba menghancurkan surga kecil yang baru saja didapatkan oleh gadis desa yang cantik.
****