
Mata Nagi yang penuh keseriusan menandakan bahwa dia tidak berbohong. Tidak ada yang disembunyikan dari Aragaki. Semua dikatakan dengan sangat jujur.
Namun karena kerasnya hati Aragaki untuk memaafkan manusia, dia masih mengingkari semua itu.
“Aku tidak percaya pada semua yang kamu katakan. Aku tidak akan pernah mempercayai apa yang kalian katakan tentangnya. Kalian mencoba mengelabui tuan kalian?!”
“Kami tidak berbohong, Nushi-sama. Apa yang Nagi katakan itu benar adanya. Selain itu, mangkuk berisi hadiah hiasan ikebana itu memang benar buatan Ryuunosuke. Aku dan Nagi melihatnya sendiri.”
Kali ini Ginko yang bicara, “Saat mereka mencari bunga untukmu di taman, mereka mengambil kelopak sakura yang jatuh di tanah dan saat itu tiba-tiba ada dua dahan kecil penuh bunga yang jatuh.”
“Reda-sama dan Ryuunosuke mengambil dahan itu. Mereka tidak memetiknya secara paksa melainkan mengambilnya karena dahan itu jatuh dengan sendirinya.”
“Selain itu, pohon sakura seribu harapan itu adalah wujud dari semua yang telah pergi. Ryuunosuke tidak mungkin mengambilnya, begitu pula Reda-sama.”
“Nushi-sama, mungkin Anda tidak tau tapi Reda-sama benar-benar memegang dan melakukan semua yang Anda katakan. Tidak ada satupun dari kata-kata maupun perintahmu yang dilanggarnya.”
“Bahkan, hanya untuk sekedar memakan makanan sisa dari tempat ini saja, Reda-sama lebih memilih menahan rasa laparnya dibandingkan melanggar perintahmu.”
“Aku, gekkou no kitsune (rubah cahaya bulan) Ginko, berani bersumpah atas nama langit bahwa kami tidak berbohong.”
“…” Aragaki semakin tidak bisa bicara. Bukan hanya Nagi, kali ini Ginko juga mengatakan pembelaannya.
“Aragaki-sama, kuro no tengu (tengu hitam), Kuroto bersumpah atas nama langit dan Higashi no Mori bahwa gadis desa bernama Reda itu benar-benar melakukan semuanya untuk Anda. Itu karena aku bersama Hakuren selalu mengawasi mereka bahkan di saat mereka pergi ke pasar.”
“Shiro no tengu (tengu putih), Hakuren juga bersumpah atas nama langit dan Higashi no Mori bahwa semua itu benar. Sama seperti Nagi, kami berdua juga mungkin telah berkhianat padamu. Kami memberikan pakaian untuk Reda-sama dan selalu berusaha menyembunyikan kenyataan itu darimu.”
“Jika Anda ingat kejadian di ruang makan waktu itu, itu bukanlah kebohongan. Sup miso dan semua masakan yang dimakan oleh kami semua termasuk yang Anda makan adalah buatan tangan Reda-sama.”
“Kami bahkan membantunya membeli bahan makanan dan daging demi bisa menyuguhkan masakan baru untukmu ketika kembali pulang.”
“Kalian…melakukannya?” Aragaki tertegun
“Benar.”
-Deg
Aragaki seperti terkena sebuah tusukkan di jantungnya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa semua pelayannya benar-benar membela gadis itu.
Rubah kecil yang masih menangis berjalan mendekati tuannya. Dia bersujud di kaki sang penguasa dengan berderai air mata.
“Hiks, Aragaki-sama…Ryuunosuke mohon tolong Reda-sama. Hiks…Ryuunosuke menyukai Reda-sama. Reda-sama hangat seperti ibu.”
Aragaki melihat rubah kecilnya yang bersujud di kakinya, “Ryuunosuke…”
“Hiks…Reda-sama tidak jahat, Ryuunosuke tau itu. Reda-sama sangat baik pada Ryuunosuke. Reda-sama tidak pernah memperlakukan Ryuunosuke dengan buruk. Reda-sama selalu memelukku seperti yang selalu dilakukan ibu. Hiks…”
“Aragaki-sama, Ryuunosuke mohon tolong lihat Reda-sama baik-baik. Reda-sama begitu mencintaimu, Reda-sama begitu mencintai Aragaki-sama.”
“Ryuunosuke mohon, tolong selamatkan Reda-sama. Ryuunosuke…hiks, Ryuunosuke tidak ingin Reda-sama mati. Ryuunosuke tidak ingin kehilangan sosok seperti ibu lagi. Hiks…huwaa…huwaaa….ibu.”
“Hiks, ibu…” tangisan itu pecah. Keempat pelayan Aragaki yang masih tertunduk dan berlutut mulai memperlihatkan ekspresi lirihnya.
Rubah kecil itu seperti seorang anak yang begitu sedih, begitu malang dan begitu menyedihkan. Dia begitu lemah dan rapuh hingga hanya bisa memohon dan menangis pada sang penguasa.
Di dalam hati Aragaki, sebuah kalimat yang telah muncul untuk kesekian kalinya kembali terdengar jelas.
[Anggaplah gadis itu sebagai bunga yang berjuang tumbuh untuk memperindah hatimu yang kering akan cinta]
[Terkadang, kita tidak menyadarinya. Orang yang paling kamu benci, bisa jadi orang yang paling mencintaimu]
Aragaki berbalik dan pergi dari ruangannya melalui engawa luar. Dia meninggalkan semua pelayannya dan berjalan tanpa mengatakan apapun.
Keempat pelayannya hanya bisa pasrah dan mendekati rubah kecil yang terus menangis.
“Ryuunosuke, jangan menangis. Kita tolong Reda-sama ya.” Hakuren memeluk rubah kecil itu. Tentu saja rubah itu tidak langsung berhenti menangis. Dia terus memanggil nama Reda dan ibunya secara bergantian.
**
Reda yang duduk sambil melihat hiasan bunga sakura itu mulai terlihat pucat. Luka di punggungnya terus mengeluarkan darah. Yukata bagian punggung yang terluka mulai terlihat merah akibat darahnya.
Pandangannya mulai kabur dan buram, namun dia mencoba tetap terjaga dan lebih khawatir pada bunga sakura di hiasan ikebananya.
“Bunganya…tidak layu, kan? Jika Nushi-sama menerimanya, aku ingin beliau mendapati bunganya masih segar.”
Reda menyentuh salah satu bunga sakuranya.
“Ini…jiwa yang selalu melindungi Nushi-sama. Kalian pasti begitu mencintai Nushi-sama. Terima kasih banyak, karena mau selalu bersamanya selama ini.”
Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Reda tidak tau siapa yang mendekat. Begitu dia menengok ke atas, dia melihat sosok yang begitu dia kagumi.
Matanya langsung terlihat hidup, wajah cantiknya berubah merona. Bagaikan sebuah mimpi, dia melihat sosok Aragaki ada di hadapannya sekarang.
Reda yang awalnya mendapati tubuhnya begitu lemah karena terluka, mulai berdiri tanpa memikirkan rasa sakitnya.
Dengan kaki gemetar dan usahannya agar tubuhnya tetap berdiri, dia mundur ke belakang dan membungkuk untuk memberi hormat.
“Nushi…-sama.”
Aragaki tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat dan hanya menatap lurus ke arah gadis desa di hadapannya. Sedangkan Reda hanya memandangi wajah orang yang begitu dicintainya dalam diam.
Mungkin karena begitu polos dan lugu, Reda berpikir bahwa sang penguasa terus menatapnya sehingga dia tertunduk malu dengan wajah merona.
“Kenapa…”
“Eh?”
“Kenapa kamu masih di tempat ini?”
Reda terkejut dengan pertanyaan itu, tapi dia terlihat begitu senang.
“Suara Nushi-sama lembut sekali.” katanya dalam hati
“Kenapa masih diam di tempat ini? Apa yang kamu harapkan? Apa kamu pikir aku akan kembali ke tempat ini dan menerima hadiah itu?”
Reda melihat sang penguasa dan tersenyum padanya.
“Ini hadiah dari Ryuunosuke. Rubah kecil itu, membuatnya dengan penuh semangat siang ini. Bunga sakuranya…bunganya kami kumpulkan sendiri dari tanah dan aku menemukan dahan sakura yang jatuh.”
“Rubah kecil itu bahkan memilih mangkuk bergambar pohon sakura ini karena mengatakan bahwa Nushi-sama sangat menyukai sakura. Lihat ini, cantik bukan?”
“…”
“Sebenarnya hari ini, saat kami ke pasar dan hendak membeli mangkuk ini, uang yang kami miliki kurang sehingga rubah kecil itu sempat menangis. Dia merasa kalau hadiah istimewanya tidak lengkap tanpa mangkuk ini.”
“Tapi, Kuroto-sama memberikan ini padanya. Ryuunosuke juga memilih pita ini sendiri.”
Reda mulai berjalan perlahan mendekati sang penguasa dan memberikan mangkuk berisi hiasan ikebana pada Aragaki.
“Ini dibuat dengan doa agar Nushi-sama selalu tersenyum. Maafkan aku karena menyentuhnya, tapi aku ingin rubah kecil itu senang karena hadiahnya diterima oleh Nushi-sama.”
“Dia begitu menyayangimu. Setidaknya, aku mohon…tolong terimalah, Nushi-sama. Demi senyuman rubah kecil yang manis itu, tolong terimalah ini.”
Tangan Reda gemetar dan berkeringat menahan sakit di punggungnya, tapi dia berusaha untuk tetap memperlihatkan senyumannya.
“Ini adalah hadiah terbaik untuk Nushi-sama. Aku mohon, tolong terimalah.”
[Reda-sama sangat baik pada Ryuunosuke. Reda-sama tidak pernah memperlakukan Ryuunosuke dengan buruk. Reda-sama selalu memelukku seperti yang selalu dilakukan ibu]
[Aragaki-sama, Ryuunosuke mohon tolong lihat Reda-sama baik-baik. Reda-sama begitu mencintaimu, Reda-sama begitu mencintai Aragaki-sama]
Kalimat itu terngiang di telinganya. Aragaki mengulurkan tangannya dan menerima hadiah itu.
“Aku akan mengucapkan terima kasihku pada rubah kecil itu.”
Seperti mimpi, gadis itu tidak pernah menyangka bahwa Aragaki mau menerimanya. Air mata Reda saat itu menetes tanpa disadarinya. Dia terlihat begitu senang.
Senyuman indah yang cantik terlihat menghiasi.
Bersamaan dengan itu, angin sore mulai berhembus lembut. Kelopak bunga sakura di pohon banyak yang berterbangan.
“Nushi-sama, terima kasih banyak. Ryuunosuke pasti akan senang jika mengetahuinya.”
Aragaki melihat bunga sakura pada hiasan ikebana tersebut. Meskipun hanya sebentar, Aragaki memperlihatkan senyum tipisnya.
Reda tersenyum melihatnya. “Syukurlah, Ryuunosuke. Nushi-sama mau menerimanya.”
Kesadaran Reda mulai menghilang, pandangannya mulai gelap hingga akhirnya Reda pingsan karena rasa sakit dari luka di punggungnya. Akan tetapi, ada hal yang tidak terduga.
Tanpa diketahui oleh gadis desa itu, dia terjatuh dalam pelukan sang Dewa Pelindung yang dicintainya.
Hal tersebut juga merupakan sebuah kejutan untuk kelima pelayannya yang setia. Dari kejauhan, mereka adalah saksi bahwa untuk pertama kalinya, Aragaki mau menyentuh manusia kembali.
****