The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 50. Dua Penjaga yang Begitu Perhatian bag. 2



“Pedagang itu mau cari masalah rupanya.” gumam Kuroto dengan kesal


“Coba kita hampiri sebentar.”


Keduanya berjalan ke arah pedagang tadi. Tentu saja saat kedua tengu itu datang, pedagang tersebut terlihat senang.


“Ah, selamat datang tuan. Silahkan silahkan.” Begitu ramah pedagang itu menjajakan dagangannya. Tapi tampaknya hal itu tidak membuat suasana hati Kuroto senang.


“Oi, rubah kecil tadi ingin membeli mangkuk yang mana?”


“Rubah kecil tadi? Oh, mangkuk ini.”


“Berapa harganya?”


“Harganya 10 koin. Tapi mereka hanya punya 8 koin. Tentu saja tidak bisa aku berikan.”


Mendengar itu, Kuroto tampaknya tidak mau menahan emosinya lagi.


“Hanya kurang dua koin dan kau masih perhitungan, dasar pedagang pelit!”


“Hei, tuan! Kalau tidak berniat membeli jangan menghina ya! Kita ini pembisnis, mana boleh rugi! Satu koin itu berharga. Kalau tidak mampu beli, pergi saja sana!”


“Hoo, hebat juga mulutmu itu. Berapa lama kau tinggal di Higashi no Mori ini? Datang dari mana kau, siluman pelit?”


“Apa maksudmu? Aku sudah di sini satu minggu! Memang siapa kau yang berlagak sok seperti itu?!” pedagang itu terlihat lebih galak dari Kuroto. Tapi hal itu tidak berlangsung lama.


“Dengar, namaku adalah kuro no tengu (tengu hitam), Kuroto. Pelayan dari Dewa Pelindung sekaligus penguasa Higashi no Mori, Aragaki-sama. Aku penjaga keamanan daerah perbatasan tempat ini.”


“A–apa?!”


“Dan sedikit informasi, yang baru saja kau usir itu adalah rubah kecil kesayangan tuan kami, Ryuunosuke serta pelayan baru tuan kami. Hebat juga kau masih berani berada di sini tanpa mengetahui semua itu.”


“A–aku tidak percaya! Kalian tidak bisa membohongiku!”


Baru bicara seperti itu, ada seorang penduduk yang datang ke lapak pedagang itu dan menyapa kedua tengu di tempat tersebut.


“Hakuren-sama, Kuroto-sama, jarang sekali kami melihat kalian.”


Penduduk tersebut memberi hormat kepada keduanya. Melihat penduduk itu memberi hormat, pedagang itu berubah pucat.


“Kami hanya mampir, tapi tampaknya kami baru diusir oleh pedagang ini.” kata Hakuren dengan senyum santainya


“Apa? Jahat sekali, tuan! Kalau begitu, aku tidak jadi membeli!”


“Jangan pergi, nyonya!”


Pembeli itu memberi salam dengan hormat pada kedua tengu itu kemudian pergi begitu saja. Wajah Kuroto tampak begitu puas sekarang.


“Jadi? Bagaimana? Mau meninggalkan Higashi no Mori lebih cepat lagi? Aku bisa membuat bisnismu hancur di sini. Berani sekali kau membuat rubah kecil menangis seperti itu!”


“Tu–tu–tuan, ja–ja–jangan usir aku, tuan! Aku mohon! Aku salah, aku salah!”


“Maaf saja tidak cukup! Kau harus memberikanku sesuatu.”


“Ba–bagaimana dengan mangkuk yang ini? Ini, tuan berdua boleh ambil masing-masing satu.”


Hakuren menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tidak mau yang itu. Kami berdua mau mangkuk dengan corak lukisan pohon dan bunga sakura yang kau pegang. Jangan khawatir, kami akan membelinya.”


“Baiklah, ini. akan aku beri harga khusus 8 koin untuk tuan.”


“Hah?! Harga khusus 8 koin katamu? Jangan bercanda. Aku ingin mangkuk itu tanpa mengeluarkan se-peser pun koinku!”


Kuroto langsung mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan Hakuren.


Mendengar itu, Hakuren awalnya ingin menghentikan temannya. Tapi sepertinya alasan Kuroto membuat Hakuren mengurungkan niatnya.


“Kau sudah mengusirku, sudah mengatakan aku pembohong dan yang paling penting kau sudah mengusir rubah kecil sampai dia menangis meskipun dia menawar 8 koin untuk mangkukmu. Lucu sekali.”


“Kau kira aku bodoh? Aku ingin mangkuk itu gratis atau kau yang pergi dari Higashi no Mori sekarang.”


“…” pedagang itu pucat. Bukan kebohongan, mangkuk keramik itu memang bagus dan antik. Dia tampaknya masih tidak rela melepasnya.


“Tapi tuan, kalau gratis–”


“Kalau begitu pergi. Bereskan semua barang-barangmu. Akan kami tunggu kau merapikannya sekarang.”


“…!!”


Dalam sekejap, mereka menjadi tontonan. Akhirnya, karena malu dan merasa takut, pedagang itu memberi mangkuk yang diinginkan rubah kecil itu gratis.


Hakuren dan Kuroto pergi meninggalkan lapak pedagang itu. Mereka berjalan ke arah Reda dan Ryuunosuke pergi.


“Kalau begini dari awal, kita tidak perlu jadi tontonan.” kata Kuroto puas sambil memegang mangkuknya


“Kau mengejutkanku, Kuroto.”


“Kau juga bodoh, Hakuren. Kenapa menawarkan diri untuk membelinya? Jelas-jelas dia yang salah. Sudah begitu memberi kita harga yang sebelumnya rubah kecil itu tawar, dia pikir kita apa?”


Saat sedang  mendengarkan Kuroto bicara, Hakuren menarik tangan Kuroto ke belakang.


“Ada apa?”


“Kuroto, kecilkan suaramu.”


Kuroto melihat ke arah yang dituju Hakuren. Dia melihat Reda dan Ryuunosuke berhenti di salah satu penjual mangkuk lainnya.


“Bagaimana kalau yang ini saja, Ryuunosuke?” tanya Reda


“Tapi–”


“Ayo, Reda-sama…”


Ryuunosuke memegang tangan Reda dan berjalan pulang. Melihat itu, kedua tengu tersebut langsung terbang dengan cepat ke atas. Mereka bersembunyi di balik atap rumah warga dan memperhatikan kedua orang itu.


“Mereka menuju kediaman Aragaki-sama. Kita kembali sekarang, Hakuren.”


“Aku setuju. Aku yakin, kita bisa memberikan mangkuk ini sebagai hadiah.”


Keduanya langsung kembali lebih dulu ke tempat Aragaki-sama.


Sepanjang jalan, Ryuunosuke tampak murung sekali. Hal itu membuat Reda begitu sedih melihatnya.


“Kasihan sekali Ryuunosuke…”


Saat mereka berada di jalan yang langsung lurus mengarah ke tempat tinggal Aragaki-sama, Reda berhenti berjalan. Hal itu membuat rubah kecil itu ikut berhenti.


“Reda-sama, ada apa?”


Gadis itu berlutut dan memeluk rubah kecilnya.


“Rubah kecilku yang manis, jangan sedih seperti itu. Nanti kita cari mangkuk lain yang lebih bagus dari itu ya.”


“Hiks…” rubah kecil itu menangis, “Ryuunosuke suka yang itu. Aragaki-sama menyukai bunga sakura. Aragaki-sama pasti akan senang melihat mangkuknya. Itu untuk hadiah Aragaki-sama. Hiks…”


“Jangan menangis. Aku juga minta maaf karena membuatmu membeli topi dan kain ini untukku. Harusnya aku membawanya sendiri dari rumah. Maafkan aku ya.”


“Reda-sama tidak salah! Kalau sampai ada yang tau bahwa Reda-sama manusia, mereka akan menyakitimu!”


“Tapi, gara-gara itu uang kita jadi kurang.”


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ryuunosuke sudah baikan.” Rubah kecil itu mencoba terlihat ceria dan tersenyum lagi. Tapi, Reda tau itu hanya sebuah usaha terbaiknya.


Karena tidak ingin membuatnya larut dalam kesedihan, Reda hanya memberinya senyuman dan usapan di wajah untuk menghapus air matanya.


Mereka berjalan pulang.


Sesampainya di pintu masuk besar, mereka melihat Hakuren dan Kuroto yang menyambut mereka terlebih dahulu.


“Selamat datang kembali, kalian berdua.”


“Hakuren-sama, Kuroto-sama. Terima kasih sambutannya.” kata Reda dengan senyum


Rubah kecil itu memasang wajah penuh senyum. Tidak lama setelah itu, Kuroto yang menyembunyikan kedua tangannya memberikan sesuatu yang dibungkus kain kepada rubah kecil.


“Rubah kecil, ini. Kau melupakan sesuatu di pasar tadi.”


“Eh? Lupa apa?”


“Tidak tau. Coba saja lihat.”


Ryuunosuke bingung dan membukanya. Betapa terkejutnya dia melihat isi dari bungkusan kain itu.


“Kuroto-sama, kenapa bisa?!”


“Aku tidak tau. Tadi, ada pedagang yang memanggil kami berdua saat kami berpatroli di pasar dan mengatakan ada rubah kecil yang melupakan belanjaanya. Benar kan, Hakuren?”


“Itu benar. Karena rubah kecil yang kami tau hanya Ryuunosuke jadi kami pikir ini pasti milikmu.”


“Tapi…tapi Ryuunosuke tidak bisa membeli ini karena uangnya kurang!”


“Kami tidak tau., itu bukan urusan kami. Karena kami yang dipanggil, siapa lagi sebutan rubah kecil yang orang lain tau?” Kuroto masih mengelak dan berbohong


“Kuroto-sama…tidak bohong, kan?” rubah kecil itu terlihat sulit mempercayainya


“Ryuunosuke, kami tidak bohong. Kalau kau ragu pada Kuroto, apa kau akan ragu padaku juga? Aku pergi dengan Kuroto saat patroli tadi. Apa aku orang yang suka berbohong?”


“…” sekarang Ryuunosuke terdiam


“Yah, anggap saja pedagang itu menyesal. Mungkin dia menyesal karena sudah mengusir dan membentakmu tadi. Sudah ah, aku pergi!”


Kuroto terbang lebih dulu. Setelah memberi senyumannya, Hakuren terbang meninggalkan keduanya.


Reaksi Ryuunosuke terpaku beberapa saat. Kemudian dia terlihat senang sampai berlari memutari Reda.


“Reda-sama, lihat ini! Mangkuk cantik yang tadi! Senangnya, senangnya! Huwaaa~”


“Syukurlah, Ryuunosuke.” Reda ikut tertawa dan tersenyum. Sekilas, dia mengingat kalimat terakhir Kuroto.


[Yah, anggap saja pedagang itu menyesal. Mungkin dia menyesal karena sudah mengusir dan membentakmu tadi.]


“…”


Reda menyadarinya. “Kuroto-sama berbohong. Ternyata Hakuren-sama dan Kuroto-sama melihat semua yang terjadi pada kami di pasar.”


Tapi, Reda melihat rubah kecilnya itu terlalu senang dan melupakan fakta pentingnya.


“Tampaknya Ryuunosuke tidak menyadari kebohongan itu. Biarlah, yang penting dia tidak menangis lagi. Syukurlah, Dewa. Terima kasih banyak.”


Keduanya masuk dengan perasaan senang. Kedua tengu yang melihat itu dari atas ikut tersenyum senang.


****